Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Confusion


__ADS_3

Malam harinya di istana...


Cloud tampak menyendiri di teras istana, menikmati malam turun salju seorang diri. Ia menatap langit yang menurunkan butiran kristal es itu. Tatapannya sendu, seolah harapannya kian sirna.


"Aku telah memberikan apa yang kujaga selama ini. Tapi mengapa dia belum bisa menerimaku sepenuh hati?"


Cloud terluka dengan jawaban Ara tadi sore. Padahal ia telah menyerahkan segalanya kepada gadis itu.


"Aku telah merendahkan diri di hadapannya. Tidak sepantasnya aku melakukan hal itu. Tapi ... aku juga begitu menginginkannya."


Ia duduk di kursi teras. Menikmati secangkir air jahe untuk menghangatkan tubuhnya.


"Ara ... apa yang harus kuberikan agar dirimu menjadi milikku seutuhnya?" tanyanya sendiri.


Cloud termenung dalam lamunannya. Ia benar-benar mencintai gadis itu. Ia ingin memiliki sepenuhnya. Cloud berpikir apa yang harus dilakukannya lagi agar gadis itu menempatkan namanya seorang di dalam hati.


Lain Cloud, lain dengan Ara. Ara tampak pusing setelah kejadian tadi sore. Ia duduk di depan meja kerjanya dengan mengenakan gaun tidur berwarna krim. Pikirannya kalut, ia merasa telah salah ucap kepada Cloud.


Di kamar Ara...


"Aduhhh ... aku bingung!"


Aku tahu jika aku telah melakukan kesalahan. Tidak sepantasnya aku berbuat seperti ini. Kini aku dilanda kebimbangan. Setelah apa yang Cloud lakukan padaku, aku seperti kesulitan menentukan arah.


"Dia tidak mungkin berani melakukan hal itu jika tidak benar-benar mencintaiku. Tapi bagaimana dengan Rain?"


Kini aku merasa terikat dengan Cloud. Dia telah mencurahkan semua perasaannya kepadaku. Tapi aku masih memikirkan Rain.


"Bisa tidak sih keduanya saja?"


Aku tidak bisa memilih, aku ingin keduanya. Aku sangat bingung menentukan pilihan. Tubuhku ini serasa sudah dimiliki oleh keduanya. Sungguh, tidak ada maksudku untuk berbagi, aku hanya tidak ingin menyakiti salah satunya.


"Hah, sekarang apa yang harus aku lakukan? Cloud pasti marah denganku."


Aku memegang kepalaku, merasa bingung sendiri, masih mencari cara agar dapat meredakan amarah Cloud. Karena secara tak sengaja, aku telah menyinggung nama Rain saat sedang bersamanya.


"Mungkin lebih baik aku menemuinya saja."


Aku lalu bergegas mencarinya. Kugunakan mantel untuk membalut gaun tidurku ini. Dengan mengenakan sandal setinggi tiga senti, aku berjalan keluar kamar lalu menyusuri koridor. Rambut kubiarkan tergerai karena hari sudah malam. Rambut yang kini kucat pirang dengan model keriting gantung sepinggang.


"Dia di mana, ya?"


Aku mencoba bertanya kepada pelayan yang kutemui. Namun, tidak ada satupun yang tahu di mana gerangan Cloud. Aku lalu berjalan menuju gazebo, tapi tidak kutemukan juga dia di sana. Sampai bertemu dengan seorang pengawal yang melintas, aku mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


"Terima kasih."


Aku segera menuju ke tempat yang dituju. Dan kulihat Cloud sedang duduk menyendiri di balkon istana.


"Cloud!"


Aku berjalan cepat mendekatinya dengan perasaan harap-harap cemas. Cloud pun menyadari kehadiranku.


Di teras lantai dua istana...


"Cloud ...."


Aku mencoba menyapanya, tapi Cloud diam saja dan tidak mau beranjak dari duduknya. Aku jadi bingung harus bagaimana.


"Cloud ... maafkan aku." Aku mencoba membujuknya.


Kutarik kursi lalu duduk di depannya. Perlahan kupegang kedua tangannya itu. Cloud masih diam dan tidak menggubrisku sama sekali.


Aku tahu jika dia kecewa karena perkataanku. Tapi aku hanya mencoba untuk jujur. Ya, walaupun itu menyakitkan.


"Cloud, maafkan aku, ya."


Kupegang lembut pipinya seraya menatapnya sendu. Aku ingin kesenggangan ini segera berakhir. Cloud pun memegang tanganku yang berada di pipinya.


Aku mengangguk.


"Tapi kenapa belum bisa menempatkan diriku sepenuhnya di hatimu?"


Pertanyaan itu membuatku bingung untuk menjawabnya. Aku seperti tersudut. Apa yang harus kujawab agar Cloud tidak bersedih lagi?


"Cloud, aku menyayangimu."


"Tapi kau juga menyayangi Rain?"


"Cloud—"


Dia segera beranjak dari duduknya lalu berjalan menjauh dariku. Ucapanku seolah tidak mau didengarkan olehnya.


"Kau harus memilih, Ara. Jangan biarkan aku tenggelam dengan perasaan ini," katanya lagi seraya membelakangiku.


Sungguh aku jadi bingung sendiri. Kedua pangeran ini memintaku untuk menjadi pengantinnya. Apa mungkin aku menikah dengan keduanya? Apakah mereka mau menerima satu sama lain? Apa tidak akan terjadi pertengkaran nantinya? Apakah mereka mau saling berbagi?


Oh, Tuhan ... tolong aku.

__ADS_1


Aku lantas mendekatinya, memeluknya dari belakang dengan tanpa menjawab pertanyaannya itu. Kulingkarkan kedua tanganku di perutnya, dia lantas memegang kedua tanganku ini. Cloud lalu berbalik menghadapku.


"Ara ...."


Cloud memelukku. Dia mengecup kepalaku seraya mengusapnya.


"Aku akan menunggu jawabanmu. Tolong jangan kecewakan aku."


Aku hanya bisa mengangguk. Tidak ada yang bisa kulakukan selain itu. Kubiarkan dingin malam menerpa tubuhku. Kulupakan sejenak masalah yang sedang terjadi. Aku menikmati momen saat berada di pelukannya. Di pelukan seorang pangeran yang begitu kuharapkan di awal perjumpaan kami.


Pagi harinya...


Semalam aku tidur begitu cepat. Selepas bertemu Cloud, aku segera tidur di kamarku. Dan kini, aku terburu-buru berdandan sebelum pergi menemui raja. Ya, ayah Cloud memanggilku di pagi ini. Entah apa yang ingin dia bicarakan padaku.


Aku mandi cepat, setelahnya mengenakan kebaya merah hasil desainku sendiri. Beberapa sapuan make-up pun kugunakan untuk mempercantik wajahku dengan rambut yang kubiarkan tergerai. Tak lupa parfum beraroma mawar kusemprotkan ke sekujur tubuh. Ditambah sepatu setinggi lima sentimeter. Aku rasa kini telah siap untuk menemui raja.


"Non, sarapannya."


Mbok Asri membawakan sarapan pagi untukku. Dua potong roti dilapis abon sapi dan segelas susu hangat. Akupun segera menyantap hidangan sarapan pagi ini.


"Nona, apa ada yang Nona perlukan sebelum bertemu paduka?" tanya Mbok Asri kepadaku.


"Sepertinya tidak, Mbok. Aku rasa aku siap menemui paduka."


Aku berusaha bersikap biasa saja di hadapan Mbok Asri. Padahal di dalam hatiku sungguh kalang kabut menerima panggilan raja ini. Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakannya nanti. Namun, perasaanku mengatakan jika ini ada kaitan dengan kedua putranya. Ya, semoga saja perasaanku salah.


"Sudah, Mbok. Aku pergi dulu."


Setelah selesai menyantap semua hidangan, aku bergegas keluar kamar untuk menemui paduka raja. Tersirat raut khawatir di wajah Mbok Asri.


"Hati-hati, Non."


Aku terus saja melangkahkan kaki menuju ruang tamu kerajaan. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Aku berusaha menerimanya apapun itu. Syukuri saja pahit atau manisnya. Toh, aku sudah terlanjur tiba di sini.


...


Semakin mendekati ruang tamu kerajaan, jantungku semakin berdetak tidak karuan. Berulang kali kutarik napas dalam-dalam, mencoba menormalkan detak jantungku.


Semoga hal baik yang kudengar nantinya.


Kini aku sudah tiba di depan pintu masuk. Segera saja kuketuk pintu dua kali sebelum masuk ke dalam ruangan. Tak lama, seseorang membukakan pintu dari dalam. Dan ternyata, pelayan pria yang membukakan pintu.


"Silakan, Nona."

__ADS_1


Aku kemudian dipersilakan masuk olehnya. Dengan tersenyum, kulangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan yang mana paduka raja sudah menunggu.


__ADS_2