
Kami duduk berdekatan dengan jarak beberapa jengkal saja. Dan aku pun masih menunggunya bicara. Kali-kali saja ada sesuatu yang kuketahui kejelasannya.
"Aku pernah bermimpi bertemu seorang gadis dan dia manis sekali," tutur Zu.
Akhirnya Zu melanjutkan perkataannya. Tapi ia tidak menatapku saat bicara, melainkan menatap pemandangan laut yang ada di hadapan kami.
"Apakah itu aku?" tanyaku tak tahu malu.
Dia lantas tertawa. "Hahaha. Mungkin saja. Aku merasa jika kita pernah mengenal sebelumnya." Ia menyamakan perasaanku dengan perasaannya.
"Benarkah?"
"He-em." Dia mengangguk. "Nona, apakah aku boleh lebih dekat denganmu?" tanyanya yang sontak membuatku kaget.
"Ma-maksudnya?" Aku merasa arah pembicaraan ini lebih ke urusan pribadi dibandingkan dengan urusan pekerjaan di istana.
"Nona, aku tahu jika kau menjalin hubungan dengan kedua pangeran Angkasa."
Eh?!
"Bolehkah aku menggantikan mereka?" tanyanya lagi.
Seketika aku terdiam, aku merasa dia memang mempunyai maksud lain padaku. Aku khawatir jika ini adalah jebakan. Terlebih politik kerajaan benar-benar membuatku mual.
"Em, aku ...,"
Sambil terus memikirkan apa jawabannya, aku mencoba mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu. Mencoba meneliti lebih jelas apa maksud sebenarnya itu. Tidak mungkin juga aku langsung mengiyakannya begitu saja. Baru juga beberapa hari berpisah dengan kedua pangeranku.
"Em, Pangeran. Sepertinya aku tidak pernah menceritakan jika aku mempunyai hubungan dengan kedua pangeran Angkasa. Bagaimana Pangeran bisa tahu akan hal ini?" tanyaku penasaran.
Dia lantas berdiri, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Dia pandangi ombak yang berkejaran dan membiarkan aku menunggu jawabannya.
Lama-lama aku bisa kesal karena menunggu jawabannya itu.
Zu masih saja membuatku menunggu, sedang dahiku sudah mulai berkerut. Bukannya tidak sabaran, tapi menurutku membuang waktu tanpa ada manfaatnya itu sayang sekali.
"Aku melihatnya sendiri, Nona." Akhirnya dia menjawab pertanyaanku.
"Melihat? Melihat di mana, Pangeran?" tanyaku lagi.
Dia lantas berbalik menghadapku. Dia memperhatikanku yang sedang duduk di hadapannya.
"Aku melihat kau dicium mesra oleh putra sulung Angkasa. Dan aku juga melihat kau dipeluk mesra putra bungsu Angkasa. Bukankah tidak mungkin seorang pria melakukan hal itu tanpa ada rasa cinta?"
__ADS_1
Ap-apa?!
Aku tersentak mendengar jawabannya. Sepertinya dia bukanlah pria sembarangan. Dia seorang pemikir yang bisa dengan tepat menebak sesuatu.
"Em ...." Aku jadi bingung harus menjawab apa.
"Nona." Dia kemudian berlutut di hadapanku.
"Pa-pangeran, jangan begini." Aku merasa risih sendiri.
"Izinkan aku menjagamu, menggantikan mereka. Dan ikutlah bersamaku ke Negeri Asia. Kau mau, kan?" Zu menawarkan.
Entah mengapa aku merasa ini cepat sekali. Dia langsung menawarkan tanpa berpikir dahulu.
Bagaimana bisa dia sebegitu percaya padaku?
Aku merasa heran dengan situasi ini. Dia begitu cepat percaya padaku, padahal kami baru saja hitungan hari berkenalan.
"Nona?" Dia masih menunggu jawabanku.
Ya Tuhan, apa yang harus kukatakan?
Aku jadi bingung sendiri. Haruskah aku menjawabnya sekarang? Namun, saat aku memikirkannya, pesan Rain kembali terbayang di ingatanku.
Para tamu undangan mulai berdatangan ke istana kerajaan Angkasa. Ara melihat banyak hadiah yang dibawa untuk raja dan ratu, ia jadi iri melihatnya.
"Nah, itu raja dari Negeri Bunga."
Ara bersama Rain berdiri sejajar dengan para pejabat istana. Namun, keduanya sengaja berada di barisan paling akhir saat melihat para tamu undangan yang datang.
"Sepertinya istana bakal ramai, Rain," kata Ara kepada Rain.
"Ya, tapi ingat. Jangan nakal!" bisik Rain di telinga kiri Ara.
Rain berdiri di sisi kiri sang gadis. Ia berada di pojok barisan agar lebih cepat bertindak jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pandangan matanya begitu tajam melihat ke segala arah.
"Cantik sekali putri itu."
Ara melihat seorang putri berbando mawar merah turun dari kereta kuda. Ia tampak begitu mewah dengan busananya yang glamor. Ara pun jadi iri melihatnya. Ia juga melihat Cloud menyambut di muka teras ruang tamu istana. Cloud tersenyum semringah menyambut kedatangan para undangan.
Setelah para putri turun dan masuk ke dalam ruang tamu kerajaan, kini giliran para pangeran yang memasuki halaman istana. Mereka semuanya menunggangi kuda. Spontan Ara mengagumi ketampanan para pangeran itu hingga tidak menyadari jika sedari tadi Rain memasang wajah kesal kepadanya. Ia kemudian menutup kedua mata Ara dengan tangannya itu.
"Hei, Rain. Apa-apaan, sih?!" Ara mencoba melepaskan tangan Rain yang menutupi kedua matanya.
__ADS_1
"Kau ini, sudah kubilang jangan nakal. Tapi masih saja!" gerutu Rain kepada gadisnya itu.
"Rain, gunanya mata itukan untuk melihat. Apa salahnya jika aku melihat para pangeran itu?" Ara membela diri.
"Iya, tapi jangan seperti itu melihatnya. Kau tidak memandangku apa yang sedari tadi berada di sampingmu?!" Rain marah.
Ara pun kesal dengan sikap Rain yang sekarang. Dengan terpaksa ia menggigit tangan Rain agar lepas dan tidak menutupi matanya lagi.
"Aw!" Rain tampak kesakitan. "Kau ini mainnya gigitan, Ara." Rain menghempas-hempaskan tangannya.
"Biar saja, kau terlalu protektif tahu!" gerutu Ara menahan kesalnya.
"Ini juga kan demi kebaikanmu!" Rain membela diri.
Para pejabat istana tampak menahan tawa saat melihat keduanya. Hingga mereka pun tidak fokus melakukan penyambutan.
...
Aku tertawa sendiri saat mengingat pesan dari Rain, hingga tak menyadari jika Zu masih menunggu jawaban dariku.
"Nona? Apa ada yang lucu?" tanyanya yang sontak menyadarkanku dari kenangan indah itu.
"Em, maaf, Pangeran. Aku sedang teringat istana," jawabku pada Zu.
"Istana ...?" Zu seketika berubah roman wajah.
"Pangeran, maaf. Aku akan memikirkannya, tapi untuk sekarang aku ingin menikmati pemandangan di pesisir pantai ini. Boleh, kan?" Aku mencoba menghibur hatinya.
Dia lantas tersenyum, tidak lagi bermuram wajah. Aku tahu dia merasa sedih jika aku membicarakan Angkasa. Tapi bagaimanapun negeri itu telah banyak mengukir kisah hidupku. Sebuah kisah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Terutama di istana, tempat di mana hati dan cinta aku tinggalkan.
"Baiklah. Aku akan menunggunya, Nona. Sekarang bergegaslah mandi. Kita akan segera makan malam bersama," katanya lagi.
"He-em." Aku pun mengangguk.
Lekas-lekas aku pergi dari hadapannya. Zu pun tampak membiarkanku pergi. Namun, sesaat aku melihat ke belakang, dia masih memperhatikanku. Dan saat aku melihatnya, dia segera memalingkan pandangannya.
Mungkin dia benar-benar menyukaiku. Aku menghibur diriku sendiri.
Segera kulangkahkan kaki menuju kamarku yang berada di lantai dua vila ini. Aku pun bergegas mandi untuk membersihkan diri. Dan lantas menyambut malam bersama sang pangeran Asia, Zu tentunya. Walaupun jujur di hatiku merindukan kedua pangeran itu.
Rain, Cloud. Aku rindu kalian. Apa kalian rindu padaku?
Sambil terus membersihkan diri, aku mengenang kembali keduanya. Rasanya ingin sekali bertemu. Tapi ... bagaimana caranya? Aku sendiri pun tidak tahu.
__ADS_1