Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Love Me Like You Do


__ADS_3

Awal siang di istana Asia...


Aku diberi kepercayaan oleh Zu untuk mencari tahu penyakit apa yang diderita oleh raja. Tentu saja hal ini menimbulkan ketidaksenangan di salah satu pihak istana. Aku juga sadar diri dan telah menolak tugas ini, karena merasa belum pantas. Tapi, Zu telah mengeluarkan titahnya.


Zu adalah putra sulung kerajaan Asia. Kini dia sedang disibukkan dengan urusan serah-terima tugas sebagai seorang raja. Aku pribadi tidak mempermasalahkan dia calon raja atau bukan, aku hanya khawatir penghuni istana menganggapku mengambil kesempatan untuk menjadi ratu negeri ini. Padahal tidak ada niatan sedikitpun di hatiku untuknya.


Di sini juga aku mempunyai banyak nama panggilan. Zu sendiri kadang memanggilku dengan sebutan nama asli, kadang juga nama palsu. Tapi aku berharap perasaannya padaku tidak sepalsu nama panggilanku yang diberikan olehnya.


"Yang Mulia, sepertinya Anda harus menjalani terapi untuk tiga bulan ke depan. Apa Yang Mulia bersedia?" tanyaku santun.


Aku berada di kamar raja ditemani si pangeran menyebalkan. Sedang Zu, dia mulai sibuk dengan aktivitas hariannya yang mulai mengambil alih seluruh pekerjaan raja.


"Terapi seperti apa, Nak? tanya raja padaku seraya bangun dari tempat tidurnya.


Raja kini mulai menghentikan konsumsi obat-obatan yang diberikan oleh pihak tabib istana. Tentu saja hal ini berdasarkan perintah Zu langsung. Memang enak bisa dekat dengan orang yang punya jabatan tinggi, urusan ini dan itu tinggal tunjuk saja.


"Maaf, Yang Mulia. Ada baiknya jika Yang Mulia melakukan terapi bekam untuk mengeluarkan darah kotornya terlebih dahulu. Saya merasa ada penyumbatan pembuluh darah di bagian leher. Mungkin Yang Mulia berminat," tawarku santun.


"Hei! Kau ini jangan sembarangan, ya! Jika bukan karena kakakku, sudah pasti kau kuusir dari sini!" ketus Shu yang menyebalkan.


"Shu, jangan seperti itu. Dewi adalah tamu kehormatan. Berbaik hatilah padanya. Dia juga mau membantu proses penyembuhan Ayah."


"Tapi, Yah—"


"Sekarang diam dan dengarkan apa yang Dewi katakan," pinta sang raja kepada Shu.


Mendengarnya aku segera menoleh ke arah Shu, menyeringai penuh kemenangan. Sontak saja dia bertambah kesal kepadaku.


Pangeran ini mulutnya tidak bisa dijaga. Andai dia Adit, sudah pasti kusumpal cabe merah segar mulutnya itu.


Aku tahu jika Shu kurang menyukai kehadiranku, tapi tak apalah. Di dunia ini kan sudah diatur sedemikian rupa, tidak ada orang yang disukai sepenuhnya dan tidak pula dibenci sepenuhnya.


Setiap manusia mempunyai haters dan lovers masing-masing. Untuk apa memedulikan haters yang hanya menambah beban pikiran. Lebih baik cintai yang mencintaiku. Karena itu baik bagi kesehatan jantung dan juga pikiran. Jadi jalani saja kehidupan ini, percayakan kepada sang pembuat skenario terbaik.


"Maaf, Yang Mulia. Jika Yang Mulia keberatan, kita bisa memakai alternatif lain. Tapi amat saya sarankan untuk berbekam terlebih dahulu," kataku lagi.


Raja pun berpikir sejenak. Dia lalu mengangguk, mengiyakan saran dariku.


"Ayah, jangan—"


"Sudah, Shu. Kita coba dulu. Apa salahnya mencoba? Sudah sepuluh tahun Ayah tidak kunjung sembuh. Tak inginkah kau Ayah sehat kembali?" tanya raja kepada Shu.


"Tapi, Yah. Dia ini orang baru di istana. Apa Ayah tidak khawatir." Shu seperti berusaha menakuti raja.


Hah, dia ini. Belum tentu orang baru itu tidak baik. Pikiranmu saja yang tercemar. Aku membatin.


"Sudah-sudah." Raja menghentikan perkataan Shu. "Dewi, kapan kita bisa mulai terapinya?" tanya raja, beralih padaku.


"Maaf, Yang Mulia. Saya akan menyiapkan alatnya terlebih dahulu. Mungkin lusa kita sudah bisa memulainya," kataku menanggapi.

__ADS_1


"Baiklah. Berarti selama dua hari ini aku harus berpuasa atau bagaimana?" tanya raja lagi.


"Yang Mulia boleh makan nasi, tapi harus berbentuk bubur terlebih dahulu. Nanti akan saya buatkan ramuan penawar agar kondisi tubuh Yang Mulia lebih segar," kataku santun.


"Baik." Raja pun mengangguk seraya tersenyum.


"Kalau begitu, saya permisi. Saya ingin menemui pangeran Zu untuk mempersiapkan alatnya." Aku berpamitan.


Aku tersenyum seraya membungkukkan badan, berpamitan kepada raja. Lalu berjalan melewati Shu begitu saja. Kubiarkan dirinya seolah-olah tidak ada. Bukankah sombong kepada orang sombong itu sedekah?


Kulihat Shu mengepalkan kedua tangannya. Dia sepertinya benar-benar kesal padaku. Aku sih biasa saja. Tapi lama-kelamaan, kasihan juga membuat tekanan darahnya naik. Hahaha.


Beberapa saat kemudian...


Aku diantarkan pelayan istana menuju ruang kerja Zu. Sesampainya di depan pintu, aku pun mengetuknya terlebih dahulu.


"Masuk!"


Setelah mendapat izin dari si empu ruangan, aku segera masuk seraya tersenyum kepadanya. Dan ternyata di ruangannya itu sedang dipenuhi banyak pria paruh baya. Sepertinya menteri-menteri kerajaan ini.


"Dewi? Kemarilah." Zu memintaku untuk mendekatinya.


Seraya menebarkan senyuman, aku mendekati Zu. Aku pun berdiri di sisi kanannya. Zu lantas memperkenalkanku kepada menteri-menterinya itu.


"Kenalkan, ini Dewi. Dia adalah kekasihku. Tolong perlakuan dia sebagimana kalian memperlakukan seorang ratu." Zu memberikan titah kepada kesepuluh menterinya.


Eh? Dia ini terlalu mencolok sekali. Apa tidak bisa berbasi-basi terlebih dahulu?


Dia ini benar-benar, ya. Aduh, astaga ... aku harus bagaimana sekarang?


Jujur aku jadi khawatir sendiri. Aku takut kedua pangeranku tahu tentang hal ini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Apalagi Rain, dia itu benar-benar nekat sekali.


Semoga saja ini hanya pembiasan dari rasa khawatirku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada mereka, ataupun salah satunya. Bagaimanapun aku pendatang baru di negeri ini, harusnya lebih tahu menempatkan diri.


"Selamat datang, Putri. Senang mendengar jika Pangeran Zu telah mempunyai seorang kekasih." Menteri pertama berbicara padaku.


"Benar. Selama ini Pangeran Zu disibukkan dengan urusan kerajaan. Tapi sepulang dari Angkasa, dia mendapatkan gadis secantik Putri. Semoga hubungan kalian berjalan lancar." Menteri kedua mendoakan.


"Semoga abadi hingga akhir waktu memisahkan." Kesepuluh menteri Zu serempak mendoakan kami.


Astaga, apa-apaan ini?!


Seketika aku malu dibuatnya. Pipiku entah sudah semerah apa sekarang. Zu pun merangkul pinggangku di hadapan para menterinya. Dan tak lama, menteri-menterinya itu berpamitan kepada kami.


"Pangeran, tadi itu terlalu berlebihan," kataku, setelah para menteri keluar dari ruangannya.


"Benarkah?" Zu seperti berpura-pura tidak menyadari.


"Pangeran jangan seperti ini." Aku mulai ngambek di hadapannya.

__ADS_1


Sontak sikapku membuat Zu gemas lalu mencubit kedua pipi ini. "Sekarang tinggal kita di sini," katanya dengan tatapan mencurigakan.


"Ma-maksud Pangeran?" tanyaku seraya memundurkan langkah kaki ke belakang.


"Hm ... apa iya kau tidak mengerti maksudku?" tanyanya menggoda.


"Pangeran, tolong. Jangan, ya," pintaku, sambil menahan dadanya yang semakin mendekat.


"Aku tidak bisa, Ara. Aku menginginkannya."


"Pangeran!"


Akupun segera berbalik, menuju ke arah pintu. Sepertinya aku salah waktu datang ke ruangannya ini.


"Jangan mencoba lari, karena itu hanya akan menyusahkanmu," bisiknya, saat aku mencoba menarik gagang pintu.


Zu berjalan cepat ke arahku dan kini dia berada di belakangku. Entah mengapa dia manja sekali, mengunci pintu ruangannya lalu memelukku dari belakang. Napasnya pun membuatku bergidik seketika.


Zu membenamkan wajahnya di bahu kananku. Kedua tangannya pun melingkar di perutku ini. Entah apa yang ada di pikirannya, aku merasa dia sedang menyalurkan energi cintanya untukku. Entahlah, kunikmati saja jalan cerita ini.


Ara masih mencoba membiasakan diri bersama pangeran sulung kerajaan ini. Tapi sayangnya, Zu sudah mulai mencurahkan seluruh kasih sayang yang dimilikinya kepada Ara. Dengan harapan akan mendapatkan kasih sayang yang sama dari gadis itu. Zu merasa jika Ara bisa memenuhi semua yang ia impikan selama ini.


Nona, berjanjilah untuk setia mendampingiku. Aku begitu ingin memperistrimu. Aku tidak mau merasa sakit karena kehilangan. Aku ingin mengikatmu dalam pernikahan yang suci. Maka terimalah aku dengan segala kekuranganku.


Cinta Zu kepada Ara mulai bermekaran bak bunga mawar yang sedang merekah indah. Harumnya semerbak, rupanya menawan pandangan. Tapi, Zu ingin pastikan jika cintanya tidak akan pernah layu. Karena Ara adalah belahan jiwanya saat ini, esok dan selamanya.


...


Sama seperti istana pasir.


Gadis, aku hampir saja membiarkan cinta jatuh dari tanganku.


Dan sama seperti sebuah bunga yang membutuhkan hujan.


Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit.


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.


Gadis, kau segalanya bagiku.


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona.

__ADS_1


...


Bagian Keenam Tamat


__ADS_2