
Di bukit persik...
Aku baru saja tiba di bukit persik. Kulihat tidak ada siapa-siapa di sini. Pohon persik yang begitu besar menutupi sudut pandangku ke depan, sehingga lekas-lekas aku turun dari kuda lalu membiarkannya mencari rumput sendiri. Sedang aku, mulai berjalan mendekati pohon raksasa ini.
Kupanjat satu per satu dahan yang ada, hingga akhirnya tiba di sepertiga tinggi pohon ini. Pohonnya amat rimbun dengan dahan, ranting, buah dan juga daunnya. Sehingga tidak takut jatuh karena dahannya cukup kuat untuk menopang tubuhku.
"Hah ... akhirnya sampai juga."
Aku duduk di salah satu dahan lalu mulai memetik buah persik ini. Katanya sih sulit jika dipetik begitu saja. Tapi anehnya, kok aku bisa ya?
"Pohon persik, aku minta buahmu lagi, ya."
Kupetik satu buah persik lalu kubersihkan menggunakan gaunku. Dan langsung saja aku memakannya sambil menatap pemandangan dari ketinggian. Kakiku juga bergerak-gerak riang, menggantung di dahan pohon ini. Hingga tidak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikanku.
"Aku juga mau buahnya," katanya.
Sontak aku terkejut mendengar suara itu. Buah yang sedang kumakan pun jatuh begitu saja karena kaget. Jantungku berdegup kencang tak menentu. Aku begitu mengenal suaranya.
"Rain?"
Aku mencari ke asal suara, berputar mencari di mana gerangan suara itu. Dan tak lama, kulihat seseorang menggantung di hadapanku.
"Aaaaaaa!!!" Aku pun berteriak.
"Ssst. Ara, ini aku."
Kumundurkan langkah kakiku ke belakang, dekat dengan ujung dahan yang kupijak. Dan lama-kelamaan aku menyadari jika itu memang benar adalah...
"Rain ...." Aku benar-benar melihat Rain menggantung di dahan pohon persik ini.
"Hahaha." Dia segera turun lalu memperhatikanku. "Lama tak bertemu, Ara," katanya seraya berdiri berhadapan denganku.
"Rain ...." Entah mengapa aku jadi ingin menangis melihatnya.
"Apa kau rindu padaku?" tanyanya yang diam di tempat.
Aku tidak menjawab. Aku segera menghambur ke pelukannya. Tapi ... tiba-tiba aku terpleset.
__ADS_1
"Rain!"
Hampir saja aku jatuh ke tanah, namun pangeranku ini dengan sigap menahan tubuhku. Dan kini kami menggantung di dahan pohon.
Rain ....
Tangan kanan Rain memegang dahan pohon, sedang tangan kirinya menahan tubuhku. Lengannya begitu kuat menahan beban berat.
"Rain, aku rindu padamu."
Kupeluk erat tubuh kekarnya. Kukalungkan kedua tanganku di lehernya. Aku pun tak kuasa lagi untuk menahan tangis. Ya, kini air mataku keluar begitu saja, tanpa pamit terlebih dahulu.
"Aku juga merindukanmu, Ara. Tapi bisakah kau naik dulu ke atas pohon. Posisi kita tidak enak sekali." Dia mengingatkanku.
Rasanya ingin tertawa saja saat mendengar ucapannya. Aku sampai tidak menyadari jika masih menggantung di dahan pohon ini. Lantas segera kupanjat tubuhnya lalu mulai naik ke atas pohon.
"Jangan mengintip, ya!" kataku padanya.
Dia tidak menjawab, aku hanya mendengar helaan napasnya yang panjang. Mungkin dia kesal kepadaku.
Setelah aku duduk dengan aman di dahan pohon, Rain segera naik dan duduk di sisi kananku. Kami pun melihat pemandangan dari atas pohon ini.
Kutatap wajahnya, rasanya ingin sekali menciumnya. Tapi aku malu.
"Rain, kau tahu. Aku pikir kau sudah tidak lagi menyayangiku. Kau membiarkanku terlama lama di sini." Aku berbicara dengan suara yang menahan tangis.
"Apa kau bilang?!" Dia menatapku kesal.
"Rain, aku ... aw!"
Tiba-tiba Rain menyentil dahiku dengan jarinya. Aku pun memegangi dahiku ini. Untung saja masih tertutupi poni, jadi tidak terlalu sakit saat disentil jarinya itu.
"Seenaknya saja berkata seperti itu. Aku sudah mencarimu, tahu! Bahkan sudah menyeberangi lautan untuk mencarimu. Tapi aku terlambat, kau sudah dibawa lari olehnya!" Dia membela diri.
"Jadi kau sudah tahu jika Zu yang membawaku?" tanyaku seraya menatapnya.
"Ya, aku sudah tahu. Tapi ayah selalu melarangku untuk ke sini. Hingga akhirnya aku nekat karena sudah tidak mampu lagi untuk menahan rindu."
__ADS_1
"Rain ...." Aku terharu, rasanya air mata ini ingin segera tumpah.
"Ara ... kau tahu bagaimana aku. Kita sudah saling mengenal amat dalam. Rasanya tidak perlu kukatakan lagi, kau pun sudah mengetahuinya. Jadi—"
Aku tidak sanggup lagi mendengar kata-katanya. Segera kucium bibirnya itu. Kukalungkan kedua tanganku di lehernya agar bibirku bisa sampai di bibirnya. Dan akhirnya, bibir kami berpadu setelah lama tak bertemu.
Rain, aku sangat merindukanmu ....
Rain akhirnya bisa bertemu dengan sang gadis pujaan. Pohon persik inipun menjadi saksi atas pertemuannya. Sebuah pertemuan yang sudah ia idam-idamkan sejak dulu. Dan kini sang gadis telah berada di pelukannya.
Ara mencium bibir Rain dengan lembut. Sang gadis menyalurkan perasaan rindunya. Rain pun tidak ingin kalah, ia segera membalas ciuman sang gadis. Sapuan-sapuan lembut ia berikan lewat sentuhan bibirnya ke bibir Ara. Dan tak ayal, Ara semakin memberatkan dirinya ke tubuh Rain. Rain pun memeluknya dengan erat.
Ara, aku begitu bahagia. Aku bisa melihatmu lagi. Rasanya ingin menangis saja. Tapi kau pasti tahu jika aku tidak bisa menangis di hadapan orang lain, sekalipun itu di hadapanmu. Sekarang pulanglah bersamaku ke Angkasa. Kita lanjutkan lagi hidup yang sempat tertunda ini.
Rain memperdalam ciumannya hingga benang saliva itupun saling terhubung. Kerinduan yang mendalam akhirnya bisa tersalurkan setelah sekian lama menunggu. Dan sang hujan benar-benar membasahi pohon surga, memberikan cintanya lalu membawanya ke angkasa.
Satu jam kemudian...
Aku dan Rain memutuskan untuk tidak menunda perjalanan ini. Dan sekarang aku menaiki Black bersamanya, menuju sebuah dermaga yang ada di barat Asia. Kami menyusuri jalan setapak yang ada di hutan belantara, sengaja agar kehadiran kami tidak diketahui oleh pihak Asia.
Maafkan aku, pangeran Zu. Aku tidak ingin menganggu hubunganmu dengan Jasmine. Aku kembali ke Angkasa. Di sana memang tempatku yang seharusnya. Tidak seperti di sini. Maafkan aku.
Rasa di hatiku kini berkecamuk menjadi satu. Sungguh penuturan Jasmine membuatku terkejut bukan main. Aku amat sakit dan juga merasa bersalah karena telah bersikap egois untuk dekat dengan Zu. Yang mana ternyata Jasmine tengah mengandung anaknya.
Aku tidak tahu kabar ini benar atau tidak. Pikiranku diselimuti perasaan bersalah jika hal itu memang benar terjadi. Aku tidak ingin merusak hubungan orang lain, apalagi sampai merebut ayah dari bayi yang sedang dikandung. Aku telah memutuskan untuk kembali ke Angkasa. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk tetap tinggal di sini.
"Ara, perjalanan kita masih jauh. Sekitar tiga jam lagi baru sampai. Sekarang beristirahatlah, aku akan menjagamu."
Kucoba menepiskan perasaanku terhadap Zu, mencoba berpikir logis jika kini ada Rain di sisiku. Dia telah jauh-jauh datang hanya untuk menjemputku. Dan aku merasa tidak pantas jika masih memikirkan Zu, karena Rain lah yang jelas-jelas berjuang untukku.
"Apa kau tidak berat jika aku bersandar, Rain?" Aku bertanya padanya.
"Tidak, Sayang. Bersandarlah di dadaku. Aku cukup tangguh untuk menjadi sandaranmu," katanya yang sontak membuat hatiku terenyuh.
Lantas kuusap pipinya lalu memejamkan kedua mata ini, menikmati ritme kuda yang melaju. Kurasakan kenyamanan saat Rain mengusap-usap kepalaku. Ya, kunikmati saja perjalanan ini bersamanya.
Ara memutuskan untuk kembali secepatnya ke Angkasa. Ia merasa tidak lagi mempunyai alasan untuk tetap tinggal di Asia karena kabar yang didengarnya. Ia mencoba logis dalam bertindak dan tidak ingin terlarut lama dalam kepahitan.
__ADS_1
Ara mencoba merelakan Zu untuk Jasmine. Karena dia sadar jika dirinya hanyalah orang baru bagi sang pangeran. Berbeda dengan Jasmine yang sudah amat lama kenal dengan Zu. Ia berusaha berlapang dada dengan semua ini. Ara menerima takdirnya.