Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Graduation


__ADS_3

Hari terus saja berganti. Tanpa terasa Ara kini sudah mau diwisuda. Ia tampak anggun mengenakan kebaya berwarna krim muda dengan batik gelap sebagai roknya.


Rambutnya disanggul, mengenakan make-up yang sedikit tebal namun tidak berlebihan. Terlihat dirinya yang diantar kedua orang tua saat memasuki gedung wisuda.


Aku ingin mereka datang...


Ara tampak bersedih di hari bahagianya ini, ia tidak menemukan kedua pangeran itu bersamanya. Di hadapan kedua orang tuanya, ia mencoba tersenyum menutupi kerinduan dalam hati.


Tak lama acara segera berlangsung. Ara mengikutinya dengan khidmat. Beberapa candaan rektor kampus mampu membuatnya tertawa. Hingga saat penyerahan toga, Ara tak kuasa menahan air mata. Ia menangis terharu karena perjuangannya selama ini. Ara kini resmi bergelar sarjana.


"Selamat, Sayang."


Sang ibu segera mencium putrinya. Tampak linangan air mata yang menetes membasahi kedua pipinya itu. Ibu Ara tampak cantik saat mengenakan kebaya tradisional yang juga berwarna krim.


"Akhirnya anak Ayah mendapat gelar sarjana."


Sang ayah tidak mau ketinggalan. Ia pun segera memeluk putri pertamanya itu. Ingin rasanya air mata itu keluar karena terharu dengan keberhasilan sang putri yang meraih gelar IPK tinggi.


Acara penyerahan terus saja berlangsung hingga selesai dilaksanakan.


Beberapa jam kemudian...


Acara baru saja berakhir. Ara dan kedua orang tuanya segera keluar dari gedung wisuda. Sesampainya di luar, mereka bertemu dengan keluarga Baim. Ara mengucapkan selamat kepada temannya itu.


"Oh, ini yang namanya Ara. Baim sering cerita, lho." Ibu Baim tersenyum kepada Ara dan keluarganya.


Kedua orang tua mereka lalu saling berkenalan. Dan untuk mengabadikan momen, kedua keluarga itu berfoto bersama di depan gedung wisuda.


"Ara, selamat!" Baim juga memberikan selamat kepada temannya.


"Perjuangan belum berakhir, Baim. Semangat!" Ara membalas semangat itu.


"Tentu. Kau juga."


Keduanya foto bersama sambil memegang ijazah kelulusan masing-masing. Tersirat kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dari keduanya.


"Ayah, Ibu. Duluan saja, ya. Baim mau mengobrol sebentar dengan Ara."


Baim meminta kepada kedua orang tuanya untuk masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Sedang dirinya, mengobrol sebentar dengan Ara. Tampak kedua orang tua Ara yang juga menunggu putrinya, tak jauh dari sang gadis berada. Mereka tampak bercakap-cakap dengan orang tua lainnya.


"Ara, sehabis ini kau mau ke sana?" tanya Baim seraya duduk di kursi tamu undangan bersama Ara.


"Sepertinya aku akan segera ke sana. Kau ada pesan?" Ara balik bertanya.


"Tidak. Aku hanya mendoakan yang terbaik untukmu."


"Benar, nih?" tanya Ara lagi.


"Iya. Sampaikan saja salamku kepada kakak-beradik itu. Jangan bertengkar gitu, ya." Baim terkekeh sendiri.


"Kau tidak tahu saja, Baim." Raut wajah Ara tiba-tiba berubah.


"Tahu apa?" tanya Baim lagi.


"Tentang mereka."

__ADS_1


"Memangnya?"


"Nanti sajalah aku ceritakan. Kedua orang tuaku sudah menunggu. Aku tak enak." Ara kemudian berpamitan.


"Baiklah. Sampai nanti." Baim lalu melepas kepergian temannya.


Baim merasakan sesuatu telah terjadi pada temannya itu. Tapi ia belum sempat mengobrol lebih lanjut.


Mungkin lain waktu.


Baim lantas menemui teman-temannya untuk saling mengucapkan selamat. Setelah itu, barulah ia kembali kepada kedua orang tuanya yang sudah menunggu di dalam mobil.


...


Ara segera menemui kedua orang tuanya yang tengah mengobrol. Ia izin masuk ke mobil terlebih dahulu. Ternyata di dalam mobil ada Adit dan Anggi yang sedang bermain ponsel. Keduanya tampak bete menunggu Ara datang.


"Kakak lama sekali," gerutu Anggi dengan pakaian Cinderella-nya yang berwarna putih.


"Maaf, Dek. Acaranya memang lama," sahut Ara seraya masuk ke dalam mobil.


"Itu sudah biasa, Anggi," gerutu Adit yang juga bete.


"Iya, deh. Maafkan Kak Ara, ya." Ara mengalah kepada kedua adiknya.


"Kak Ara traktir kami, dong," lanjut Adit seraya tersenyum.


"Memangnya mau ditraktir apa?"


"Apa saja, Kak," sambung Anggi.


"Baiklah."


"Ara, biar Ayah saja yang menyetir," kata sang ayah.


Akhirnya, keluarga Ara itu melaju-menuju sebuah restoran untuk makan siang bersama. Tampak Anggi dan Adit kegirangan karena akan ditraktir kakaknya.


Di restoran...


Tampak mereka yang sedang menunggu makanan datang. Di sela-sela itu perbincangan tentang kedua pangeran terjadi.


"Kak Ara, kalau disuruh memilih antara Kak Cloud dan Kak Rain, Kakak pilih siapa?" tanya Adit seraya meminum jus jeruknya.


"Hei, kau ini masih kecil sudah bertanya tentang itu."


"Adit sudah besar, Kak. Adit hanya kepingin tahu saja. Habisnya Adit galau," jelas Adit.


"Lho, kok Adit yang galau?" tanya sang ibu.


"Iya, Bu. Keduanya tampan, tinggi lagi. Tapi kalau Adit sih lebih ke Kak Rain," lanjut Adit.


"Kenapa dengan nak Rain?" Ayahnya ikut bertanya.


"Kak Rain itu asik. Dia mau diajak bercanda. Kalau Kak Cloud, dia lebih banyak diam. Adit jadi bingung memulai pembicaraannya." Adit bercerita.


"Tahu dari mana kalau kak Rain mau diajak bercanda?" tanya Ara yang mulai penasaran.

__ADS_1


"Itu lho, Kak. Waktu baru sampai, kak Rain banyak bertanya sama Adit."


"Bertanya apa?" Perasaan Ara mulai tak enak.


"Jadi ceritanya ...."


Malam hari sebelum tidur...


"Katakan padaku, apa yang kau ketahui tentang kakakmu itu?" tanya Rain seraya duduk menyandar di dinding kamar, di atas kasurnya.


"Kak Rain mau tahu tentang apa?" Adit balik bertanya.


Keduanya tengah mengobrol di dalam kamar. Adit di kasur atas, sedang Rain di kasur bawah. Rain tampak menyelidiki Ara.


"Ara sebenarnya sudah punya pacar belum, Dit?" tanya Rain kemudian.


"Pacar? Mana ada yang mau sama dia, Kak Rain," cetus Adit yakin.


"Hei, Kak Rain mau lho sama Kak Ara. Mau banget malah," balas Rain seraya menahan tawa.


"Kak Rain nggak menyesal?"


"Menyesal untuk?"


"Kak Ara itu bawel banget orangnya. Dia nggak bisa ngelihat rumah berantakan dikit. Adit aja sering banget kena omelannya." Adit mengawali pengakuan.


"Hahaha." Rain tertawa. "Dia seperti itu, ya?" tanya Rain lagi.


"Bukan hanya itu saja, Kak. Kalau dia sudah marah, lebih baik melarikan diri aja, deh."


"Lho, kok?" Rain tampak bingung.


"Kak Ara kalau sudah marah, barang yang ada di dekatnya bakal jadi senjata untuk menyerang. Adit aja pernah kena lempar ember lho, Kak. Dan saat itu tepat masuk dan menutupi kepala Adit." Adit begitu polos menceritakan kisahnya.


"Seram juga, ya." Rain menggaruk kepalanya.


"Tapi walaupun begitu, Kak Ara sayang banget sama kami," lanjut Adit.


"Benarkah?" tanya Rain lagi.


"Dia mau berkorban sekalipun hal itu menyakiti hatinya. Dan Adit begitu menyayangi Kak Ara. Terlepas dari sifatnya yang ganas itu." Adit terkekeh sendiri.


Rain pun ikut tertawa. Ia merasa telah berhasil mencuri informasi penting tentang sang gadis dari adiknya sendiri.


"Lalu, apa kebisaan kakakmu itu, Dit?" tanya Rain lagi.


"Kak Ara mah nggak usah ditanya lagi. Dia bisa apa aja, kecuali ...,"


Ucapan Adit terhenti, membuat Rain menunggu lama. Tersirat wajahnya yang begitu penasaran.


"Kecuali apa, Dit?" tanya Rain yang penasaran.


"Berada di ketinggian."


"Ara takut ketinggian?" Rain tak percaya.

__ADS_1


Adit mengangguk.


Pantas saja Ara takut sekali menaiki kudaku. Rupanya dia benar-benar takut berada di ketinggian. Rain bergumam dalam hati.


__ADS_2