
Keesokan paginya...
Aku bangun pagi sekali. Kubuka jendela dan kuhirup udara yang segar. Kulihat butiran salju menumpuk di dedaunan, menghiasi pagi yang indah ini.
Bintang fajar pun masih terlihat, namun sang mentari sudah menampakkan cahayanya. Sepertinya dia ingin segera menyinari dunia dan memberikan kehangatan kepada setiap manusia di muka bumi.
"Lebih baik aku berkemas sekarang."
Aku pun segera mandi untuk menjalankan misiku. Hari ini aku mempunyai misi untuk mengambil buah tin dari bukit pohon surga.
Beberapa menit kemudian...
Setelah mandi dan mengenakan pakaian, aku bergegas keluar kamar dan berjalan menuju halaman belakang istana. Rambut sengaja kubiarkan tergerai dengan simpul yang tergabung di tengahnya. Sehingga walaupun terkena angin, rambutku tidak acak-acakan.
Hari ini aku hanya mengenakan tabir surya tanpa make-up, namun tetap mengenakan parfum di bagian tertentu. Aku juga mengenakan kebaya hijau hasil rancanganku sendiri. Dengan celana dasar hitam panjang agar lebih leluasa bergerak.
"Salam bahagia untuk Nona Ara."
Para prajurit yang sedang berjaga memberi penghormatan padaku. Mereka lalu menanyakan keperluanku yang pagi-pagi sudah berada di halaman belakang istana.
Apa aku harus bicara jujur jika ingin pergi ke bukit pohon surga?
Aku masih bingung alasan apa yang akan kukatakan kepada para prajurit penjaga ini. Tidak mungkin aku meminta mereka untuk menemaniku ke bukit pohon surga. Aku juga tidak enak hati jika harus meminta Rain atau Cloud menemani. Pastinya mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Terlebih, mereka juga harus turun langsung ke balai kota untuk membantu penduduk.
Aduh, kuda siapa yang harus kupinjam, ya?
Aku tidak ingin merepotkan Rain ataupun Cloud. Aku juga tidak ingin prajurit yang menemani ke sana. Raja berpesan jika aku hanya boleh dekat dengan kedua putranya, tidak dengan yang lain.
"Nona, adakah yang bisa kami bantu?"
Prajurit itu bertanya lagi. Mereka tampak menunggu jawabanku.
Di sela-sela kebingunganku, tiba-tiba saja kuda hijau itu datang seolah ingin memberi tumpangan padaku.
Ini aneh, tapi nyata.
__ADS_1
Aku lalu meminta kepada prajurit agar membawakan dua karung besar yang terikat untuk buah tin nanti. Dan tanpa banyak bertanya, prajurit itu memenuhi permintaanku. Akupun segera naik ke kuda hijau setelah mendapatkan dua karung besar sebagai tempat buah tin nantinya.
"Nona, Anda mau ke mana?" tanya prajurit yang tampak khawatir.
"Aku titip pesan. Jika ada yang menanyakanku, jawab saja aku pergi ke bukit pohon surga. Aku ada keperluan di sana."
Para prajurit tampak terkejut mendengar perkataanku, namun aku tidak menghiraukannya. Segera saja kulajukan kuda hijau ini menuju bukit pohon surga. Melewati pemukiman penduduk lalu hutan yang ada di samping kanan dan kirinya.
Sejujurnya aku takut pergi sendirian, tapi rasa peduliku lebih tinggi dari rasa takut itu sendiri. Sehingga hal itulah yang memacu keberanianku. Kuda hijau ini pun seolah mengerti maksud hatiku. Kami bersama-sama menuju bukit pohon surga untuk meminta buahnya.
Sesampainya di bukit pohon surga...
Kuda hijau menuruniku di depan pohon tin. Kulihat pohon ini semakin hari semakin membesar saja. Daunnya begitu rimbun hingga hampir menyentuh tanah. Buahnya juga sangat banyak lagi masak.
Kubawa dua karung lalu meletakkannya di samping kananku. Aku kemudian memandangi pohon tin ini. Kutarik napas perlahan lalu kuembuskan kuat agar hatiku bisa tenang saat meminta izin. Aku mulai menghayati.
Ini demi para penduduk...
Kugabungkan kedua tangan, seolah meminta kepada pohon tin. Kupejamkan kedua mata seraya mendalami ucapanku. Aku kemudian mengutarakan niatanku ke sini.
Aku berdoa kepada Tuhan, meminta dengan sungguh-sungguh agar makhluk ciptaannya ini memberiku buah dan juga daunnya. Tak lama, aku merasakan bumi bergetar. Kuda hijau pun meringkik seolah menyambut kedatangan. Pohon tin lalu menggugurkan dedaunnya. Bersamaan dengan itu, buahnya ikut berjatuhan.
Syukurlah...
Aku begitu bahagia. Dengan sekali ucap, pohon tin ini mau memberikan buah dan juga daunnya. Segera saja kupunguti buah dan daun yang jatuh ke tanah.
Berat sekali.
Setelah mengumpulkan semua buah dan daunnya, aku lalu mengangkat karung-karung ini ke atas kuda. Karung yang berisi buah dan juga daun-daunnya.
Aku kewalahan, tubuhku terasa lemas sekali. Untungnya kuda hijau ini mengerti. Dia merendahkan badannya agar aku tidak mengangkat karung-karung ini terlalu tinggi.
"Terima kasih, Green. Kau telah membantuku."
Aku memberi nama kuda ini Green karena warna bulunya yang hijau. Kuda ini tampak tersenyum ke arahku. Dia lalu menggerakkan kepalanya seolah memintaku untuk segera naik. Akupun lekas-lekas naik ke atasnya.
__ADS_1
"Terima kasih pohon surga. Semoga Tuhan memberkahimu."
Aku segera beranjak meninggalkan bukit pohon surga bersama Green. Aku langsung menuju balai kota untuk segera membagikan buah dan membuat ramuan menggunakan daun tin ini. Semoga saja misiku berhasil, sehingga para penduduk bisa lekas sembuh dari penyakit yang diderita.
Sementara itu di istana...
Rain tampak mencari gadisnya. Ia tidak menemukan sang gadis di dalam kamar. Hanya ada jubah merahnya yang tergeletak di atas kasur. Rain kemudian segera menanyakan Ara kepada para pengawal yang berjaga di sekitaran kamar.
"Mohon maaf, Pangeran Rain. Kami tidak tahu Nona Ara ke mana. Namun sepertinya, penjaga gerbang di belakang istana mengetahuinya."
Mendengar jawaban dari pengawal yang berjaga seperti itu, Rain lekas-lekas pergi ke belakang istana untuk menanyakan hal ini kepada penjaga gerbang. Sontak saja Rain terkejut di kala mengetahui sang gadis pergi ke bukit pohon surga seorang diri.
Astaga, Ara!
Ia segera memanggil kuda hitamnya untuk menjemput sang gadis. Rain sangat khawatir dengan gadisnya itu. Terlebih perjalanan menuju bukit pohon surga melewati hutan yang gelap.
Aku harap semuanya baik-baik saja.
Rain segera menaiki kuda hitamnya. Ia menuju bukit pohon surga untuk menjemput sang gadis.
Kuda hijau itu yang mengantarnya? Ini aneh sekali.
Rain tidak habis pikir saat mengetahui kuda hijaulah yang mengantarkan Ara ke bukit pohon surga. Ia kemudian ingin membuktikan sendiri akan kebenarannya.
Lain Rain, lain juga dengan Cloud. Cloud tampak berdiskusi dengan sesepuh tabib mengenai obat penawar dari wabah penyakit tersebut. Dan diketahui jika dedaunan dan buah pohon surga dapat menyembuhkannya.
Bagaimana cara mendapatkan keduanya?
Cloud bingung untuk mendapatkan daun dan buah tin itu secara cepat. Karena sepengetahuannya, pohon surga tidak mudah memberikan daun apalagi buahnya. Ia kemudian berinisiatif untuk menemui Ara.
Langkah kaki Cloud terdengar cepat saat menuju kamar sang gadis. Namun sayang, ternyata Ara tidak berada di dalam kamarnya.
"Di mana dia?"
Cloud tampak khawatir. Ia bergegas menanyakan Ara kepada para penjaga. Dan jawaban yang didapatkannya sama, jika Ara sedang pergi ke bukit pohon surga. Cloud pun berniat untuk menjemputnya.
__ADS_1