Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Thank You


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Aku duduk di taman kampus, seorang diri. Kulihat lalu-lalang orang lewat di depanku. Aku masih mencoba untuk mencerna syarat dan ketentuan sayembara yang diadakan Wali Kota ini.


"Mungkin kuceritakan saja perjalananku."


Aku mencari inspirasi di taman. Tapi sepertinya, tema Cinderella akan banyak digunakan dalam sayembara nanti.


"Aku coba buat yang lain saja."


Aku mulai menuliskan kisahku sendiri. Dari awal sampai tiba di bukit pohon surga bersama Cloud, hingga akhirnya bertemu dengan Rain. Di naskah, aku menggunakan nama sebenarnya agar pendalaman cerita ini dapat lebih terasa oleh pembaca.


"Pakai sudut pandang orang ke berapa, ya?"


Aku bingung menentukan sudut pandang di cerita ini. Aku butuh bantuan seseorang untuk memberiku pertimbangan.


"Hai, Ara!" Seseorang mengagetkanku dari belakang.


"Baim?!"


"Sepertinya sedang sibuk?"


"Hm, iya. Aku diminta membuatkan naskah," jawabku.


Baim tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Kebetulan dia anak seni di kampus. Jadi mungkin dia didatangkan untuk membantuku memberi solusi.


"Sayembara Wali Kota itu, ya?" tanyanya.


"Iya. Aku jadi bingung, darimana Bu Dosen tahu jika aku bisa menulis?"


Aku masih heran dengan tugasku ini. Kulihat Baim duduk di depanku seraya meletakkan tasnya ke atas kursi taman.


"Aku yang mengajukan," katanya.


"Hah?! Apa?"


"Aku lihat ada kesempatan bagus untukmu. Jadi kuajukan saja kepada Bu Nita." Baim menyebut nama dosen pembimbingku.


"Baim!"


Aku kesal dengannya. Dia tidak bilang terlebih dahulu padaku. Aku tidak punya persiapan sama sekali untuk hal ini.


"Sudah, jangan khawatir. Naskahmu mewakili fakultas tata kota. Masih harus bersaing dengan fakultas yang lain. Nanti kalau lolos, baru lanjut ke puncaknya, sayembara Wali Kota."


"Hufft..."


Aku menghela napas lega. Sepertinya beban di pundakku sedikit berkurang mendengar hal ini.


"Sebagai seorang teman, aku ingin ikut andil dalam kemajuanmu, Ara. Selagi ada kesempatan, mengapa tidak mencoba untuk tumbuh lebih tinggi," katanya lagi.


"Hei! Kau mengejekku?!" tanyaku yang tiba-tiba merasa kesal.

__ADS_1


"Ish! Siapa yang mengejekmu. Aku sedang membicarakan karir, Ara. Bukan tinggi badan."


"Huh! Dasar! Mentang-mentang tinggi," gerutuku.


"Ya, daripada 160cm pun tak sampai," ejeknya.


"Baim!"


Kucoba untuk memukulnya karena mengejek tinggi tubuhku, tapi tak bisa. Baim segera berlari dari hadapanku. Dia berlalu menuju parkiran kampus.


"Kapan-kapan ajak aku jalan-jalan dengan mobil barumu, ya," ucapnya sambil berlalu pergi.


Baim, temanku yang satu ini memang selalu ada untukku. Dia dapat meluangkan waktunya untuk membantu. Kami sudah seperti keluarga. Dia juga satu-satunya teman kampus yang tahu keluargaku. Semoga saja persahabatan kami ini awet sampai beranak cucu.


Satu jam kemudian...


Aku pulang, kembali ke rumah. Kulihat jam di tangan kiri sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Aku memarkirkan mobil merahku di garasi lalu berjalan menuju pintu. Namun ternyata, pintu rumahku terkunci. Aku lalu menggunakan kunci cadangan untuk membukanya.


Setibanya di dalam, kulihat tidak ada orang. Kucek ponsel, ternyata Adit mengabarkan jika sedang ikut ayah dan ibu menjaga toko. Aku jadi seorang diri di rumah.


Kulangkahkan kaki masuk ke dalam kamar lalu kubaringkan tubuhku. Akupun tertidur dalam sekejap. Sepertinya tubuhku sangat lelah dan membutuhkan istirahat.


"Ara ...."


"Ara ...."


Cloud?


"Ara, aku datang menjemputmu."


Rain!!!


"Hah...hah..."


Napasku terengah-engah. Tiba-tiba saja aku terjaga dari tidurku. Entah berapa lama aku tertidur. Saat kubangun, hari sudah mulai petang. Kulihat langit memerah sebelum gelap datang.


"Tadi itu aku ...?"


Aku seperti bermimpi. Di dalam mimpi aku melihat Cloud membangunkanku dari tidur. Wajahnya terlihat sangat jelas. Dia begitu lembut membangunkanku hingga rasanya aku ingin memeluknya.


Setelah itu, entah mengapa aku melihat Rain di hadapanku. Aku seperti berada di depan kamarku sendiri lalu dia datang dan berkata ingin menjemputku. Aku jadi bingung sendiri memikirkannya.


"Kenapa aku ini? Apa memang aku tidak boleh melupakan mereka?"


Aku bergegas bangun lalu mengambil air minum. Bersamaan dengan itu, ayah, ibu, Adit dan Anggi pulang. Mereka pulang dengan menaiki mobil pick-up. Mobil yang dibeli dari hasil membuka toko di dekat pasar.


"Ara, Ibu bawakan sup sapi untukmu."


Ibu berjalan mendekatiku. Wajahnya yang mulai menua membuatku merasa iba. Tidak seharusnya ibu dilelahkan dengan usaha keluarga ini. Harusnya ayah dan Adit saja yang menjaga toko. Sedang ibu, mengurus Anggi di rumah.


"Ibu tahu saja kalau Ara lapar," kataku padanya.

__ADS_1


"Tahu, dong. Ibu juga tahu apa yang sedang kamu pikirkan, lho."


"Hah? Memangnya apa yang sedang aku pikirkan?" tanyaku.


Ibu mengambil mangkuk lalu menuangkan sup sapi kesukaanku. Dia meletakkannya di atas meja makan. Kulihat Adit sedang bermain bersama Anggi di ruang TV. Sedang ayah, tampak merebahkan diri di kursi bambu yang ada di belakang rumah.


"Pasti sedang memikirkannya, bukan?" goda ibuku.


"Siapa?" tanyaku lagi.


"Nak Cloud."


"Eh, darimana Ibu bisa tahu?"


Aku tak percaya dengan insting ibuku. Ibu menebak dengan tepat. Atau jangan-jangan, ibu bisa membaca pikiran seseorang?


"Ibu merasa sebentar lagi akan ada yang datang."


"Maksud Ibu?"


"Dia akan datang, Sayang."


Ibu mencubit kedua pipiku seraya tersenyum. Perkataan darinya membuat jantungku berdebar tak menentu.


Benarkah apa yang Ibu katakan?


Aku masih berpikir. Dan juga berharap jika yang ibu katakan benar terjadi. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan rindu ini. Aku ingin bertemu keduanya. Atau paling tidak, salah satunya.


"Ayo, Ara. Kita makan dulu." Ibu mengajak ku makan bersama.


"Ayah! Adit! Anggi! Ayo kita makan!" seru ibu kepada yang lain.


Akupun menurut lalu bergegas ke meja makan. Kami lalu makan bersama sebelum malam datang. Kulihat keceriaan di wajah kedua adikku. Aku sangat bahagia melihat mereka tertawa. Rasanya aku telah berhasil menjadi seorang kakak untuk keduanya.


Akan kupastikan masa depan kalian cerah, Adik-adikku.


Aku mempunyai mimpi untuk membahagiakan kedua orang tuaku dengan membiayai kuliah kedua adikku hingga selesai. Entah darimana jalannya, aku yakin aku pasti bisa melakukannya.


Kami kemudian terus bersantap bersama. Di meja makan ini, aku menceritakan aktivitas kuliahku kepada ayah dan ibu. Anggi juga tidak mau ketinggalan, dia ikut menceritakan kesehariannya di sekolah. Sedang Adit, dia tampak lahap menyantap sup sampai tidak peduli lagi dengan percakapan kami.


"Adit, pelan-pelan makannya, Nak."


"Hem, iya, Bu. Sup ini enak sekali. Adit sangat menyukainya."


"Makanlah yang benar, jangan sampai tersedak." Ayah memperingatkan Adit.


"Tahu tuh, Yah. Adit ngeyel sekarang," sambungku.


"Kak Ara bohong, Yah." Adit tidak terima.


"Sudah-sudah, habiskan dulu makanan kalian." Ibu menimpali.

__ADS_1


Kini keluarga kami sangat bahagia dan tidak merasa kekurangan lagi. Semua yang kami impikan, akhirnya bisa terwujud.


Terima kasih, Cloud. Telah memberiku kesempatan.


__ADS_2