Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Shape of You


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Hari sudah memasuki petang, aku pun ingin kembali ke kediaman Zu. Tapi sepertinya, Zu keberatan dengan keinginanku ini.


"Kau tidak ingin menemaniku sampai selesai, Nona?" tanyanya dengan raut wajah yang sedih.


"Maaf, Pangeran. Aku ingin beristirahat. Aku tunggu saja di kediamanmu, ya." Aku tersenyum padanya.


Aku tahu Zu khawatir padaku jika aku sendirian di kediamannya. Tapi, aku memang mengantuk selepas makan banyak tadi. Terlebih aku ingin membiarkan Zu bersama putri itu dahulu. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan kepada Zu. Tapi karena ada aku, putri itu menahannya.


"Kau ingin kuantar?" tanyanya seraya berjalan bersamaku keluar dari gazebo ini.


"Tidak usah, Pangeran. Aku bisa menaiki kuda. Boleh kupinjam kudamu?" tanyaku sambil menadahkan tangan.


Zu pun mengangguk. Dia meminta kepada prajurit berjaga terdekat untuk mengambilkan kudanya. Aku sendiri berpamitan kepada putri itu.


"Maaf, Putri Mine. Saya permisi." Aku berpamitan seraya tersenyum kepada putri itu.


Putri itu tersenyum tipis, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Tapi sebagai wanita, aku bisa cukup merasakan apa yang sedang dia rasakan. Aku mencoba mengerti situasi ini.


Apa benar putri itu menyukai Zu? Perasaanku yang terlalu peka atau terbawa perasaan sendiri? Hah ... kalau benar, tidak seharusnya aku menganggu hubungan mereka. Tapi ... Zu sendiri yang mengajakku ke sini.


Aku masih berpikir apakah perasaanku itu benar? Tapi karena tidak ingin ambil pusing, ya sudah kujalani saja semuanya. Lebih baik membahagiakan diri sendiri daripada memikirkan hal yang belum pasti kebenarannya.


"Nona, naiklah."


Tak lama kuda putih Zu pun datang dan aku diminta menaiki olehnya. Zu lalu berbisik kepada kuda itu, mungkin meminta mengantarkanku sampai ke kediamannya. Aku pun segera berpamitan.


"Sampai nanti, Pangeran."


Aku segera menunggangi kuda, kembali ke kediaman Zu seorang diri. Kulihat pangeran itu melambaikan tangannya padaku, sedang putri itu menunduk saja.


Di perjalanan...


Jarak istana - kediaman Zu sedikit jauh. Mungkin ada sekitar satu kilometer perjalanan. Tapi karena menggunakan kuda, tidak begitu terasa. Di sini juga aku harus membiasakan diri menunggangi kuda jika ingin berpergian ke mana-mana. Termasuk mengelilingi istana yang luas ini.


Istana Zu tampak begitu sepi tadi, atau memang akunya saja yang salah waktu berkunjung. Jarang sekali penghuninya terlihat. Mungkin karena baru sebagian saja yang kujejaki, jadi belum tahu keseluruhan istana ini.


"Akhirnya sampai juga."


Tak lama aku sampai di kediaman Zu. Pelayan kediaman Zu pun menyambut kedatanganku. Aku diperlakukan seperti ratu di sini.


"Terima kasih, ya."

__ADS_1


Aku mengusap kepala kuda Zu setelah mengantarkanku sampai di kediaman tuannya ini. Bagaimanapun dia makhluk ciptaan-NYA, jadi tak ada salahnya jika berlaku baik pada kuda Zu.


"Putri, Anda sudah kembali. Ada yang perlu kami sediakan?" tanya salah satu pelayan kediaman Zu.


"Hm ...." Aku berpikir sejenak.


Tadi aku sempat melihat sungai buatan yang ada di kediaman Zu. Mungkin sore-sore seperti ini cocok untuk mandi di sungai itu.


"Aku ingin mandi di sungai, apakah boleh?" tanyaku pada pelayan.


"Nona ingin mandi di sana?" tanya pelayan memastikan.


"He-em." Aku hanya mengangguk.


"Em, baiklah. Saya akan mempersiapkan keperluannya. Mohon ditunggu, Putri." Pelayan itu beranjak pergi.


Aku pun menunggu pelayan itu menyiapkan keperluan mandiku. Dan tanpa menunggu lama, pelayan itu kembali dengan membawakan perlengkapan mandi.


"Nona bisa gunakan kain ini sebagai basahannya." Pelayan memberiku kain.


"Terima kasih. Tolong antarkan aku ke sana, ya."


Aku segera meminta kepada pelayan itu untuk mengantarkanku ke sungai yang ada di kediaman Zu ini. Aku kemudian berjalan bersama pelayan itu hingga sampai ke sebuah ruangan luas dengan penyekat mengelilingi. Dan segera saja kulepas gaunku, menggantinya dengan kain.


"Terima kasih, Bi." Aku tersenyum padanya.


Aku lalu segera masuk ke sungai buatan ini. Kain yang kupakai juga sepertinya tidak terlalu pendek untuk kukenakan mandi. Sedikit di atas lutut dan menutupi bagian dada. Lantas saja kuinjakkan kaki masuk ke dalam sungai buatan ini. Mandi sore dengan pemandangan langit yang terbuka.


Sementara itu...


Entah mengapa Zu merasa tidak tenang karena membiarkan Ara kembali sendiri ke kediamannya. Ia lantas bergegas untuk menemui sang gadis.


"Putri Mine, maaf. Sepertinya aku harus kembali ke kediamanku." Zu berpamitan.


"Pangeran, bolehkah saya ikut?" tanya Mine penuh harap.


"Em, maaf. Aku ada urusan mendadak. Lain kali saja, ya. Jangan lupa jaga kondisi kesehatanmu." Zu mengusap pelan kepala Mine.


Putri berkulit putih itu tampak meresapi sentuhan dari sang pangeran. Ia diam saja dan membiarkan Zu mengusap kepalanya. Zu lalu bergegas meninggalkan gazebo. Tak lama kudanya pun datang. Dengan segera ia menaiki kudanya itu.


Entah kenapa hatiku gelisah membiarkannya sendiri. Aku harus menemuinya.


Zu segera kembali ke kediamannya dengan menaiki kuda putihnya. Hatinya gelisah saat membiarkan Ara seorang diri di rumahnya. Ia diselimuti rasa khawatir terhadap gadis itu. Sedang Mine tampak diam, membiarkan Zu berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


Siapakah gadis yang dibawa oleh pangeran? Apakah gadis itu mempunyai hubungan spesial dengan pangeran?


Mine bertanya-tanya sendiri.


Matahari mulai menampakan cahaya merahnya. Cahaya petang itu memberi tanda jika jam kerja istana sudah selesai. Seluruh pejabat istana pun mulai keluar dari ruang kerjanya. Jam pulang istana akhirnya dibunyikan.


Mereka kembali ke kediaman masing-masing yang berada di kawasan selatan istana. Istana pun berangsur-angsur sepi, hanya tinggal para pelayan dan prajurit yang berjaga saja.


Beberapa menit kemudian...


Zu telah sampai di kediamannya, ia pun segera mencari sang gadis.


"Di mana Dewi?" tanyanya pada salah satu pelayan yang ada di pintu masuk kediamannya.


"Putri sedang mandi di sungai, Pangeran," jawab pelayan itu.


"Sendiri?" tanya Zu lagi.


"Sepertinya sendiri, Pangeran." Pelayan itu menundukkan kepalanya.


"Baik. Siapkan makan malam untuk kami." Zu bergegas menuju sungai buatan yang ada di kediamannya ini.


Zu tampak terburu-buru, langkah kakinya tergesa menuju sungai buatan itu. Ia khawatir jika Ara hanya sendirian di sana. Dan ternyata benar, saat ia sampai di pintu masuk tidak ada yang berjaga di sana. Zu pun segera masuk ke dalam area sungai buatan itu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Ara sedang bermain air dengan riangnya.


Astaga ....


Zu melihat dengan jelas betapa cantiknya gadis itu. Ara menyandarkan tubuhnya ke belakang lalu menyiram tubuhnya dengan air sungai. Pemandangan itu benar-benar membuat Zu menelan ludahnya.


Nona ....


Jantung Zu berdegup kencang saat melihat kedua kaki Ara bermain percikan air sungai. Ditambah Ara mengusap rambutnya yang panjang itu. Zu kembali menelan ludahnya sendiri.


Tubuhku ....


Tiba-tiba saja sekujur tubuhnya terasa aneh kala melihat pemandangan itu, tubuhnya beranjak panas. Terlihat jelas air yang Ara siramkan mengalir, dari wajah turun ke leher lalu ke bagian dada. Sang pangeran tak henti-hentinya menelan ludahnya sendiri.


Ini tidak baik untukku.


Zu berbalik, membelakangi sang gadis yang sedang bermain air. Ia lalu segera pergi, meninggalkan Ara sendiri. Tak lama ia pun melihat salah seorang pelayan datang membawakan gaun ganti untuk Ara.


"Pangeran."


Pelayan itu membungkukkan badan melihat Zu, namun Zu diam saja. Ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar. Zu butuh istirahat sejenak atas apa yang telah ia lihat tadi.

__ADS_1


__ADS_2