
Di ruang kerja Sky...
"Ayah!"
Cloud masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Seketika Sky kaget dan hampir tersedak kopinya sendiri. Sang raja melihat putranya masuk dengan wajah yang berseri-seri.
"Cloud, ada apa?" tanya Sky kepada putra sulungnya.
"Ayah, bacalah. Ini surat yang kita terima." Cloud menyerahkan surat itu kepada ayahnya.
Sky lantas berdiri, ia membaca isi surat tersebut. Dan seketika roman wajahnya pun berubah.
"Rain ...?"
"Benar, Ayah. Rain telah berhasil membawa Ara pulang. Ayah ... aku senang sekali." Cloud memeluk ayahnya.
"Cloud ...." Sang ayah tampak haru dan juga cemas.
"Ayah." Cloud melepaskan pelukannya. "Sesampainya Ara di istana, aku akan segera menikahinya. Aku tidak mau menunggu lagi." Cloud mengungkapkan keinginannya.
Sky tertegun melihat putranya yang begitu gembira akan kabar ini. Tapi, di lain sisi ada kecemasan yang melanda pikirannya. Ia hanya bisa tersenyum menanggapi kegembiraan sang putra, sedang Cloud masih menunggu tanggapan darinya.
"Duduklah, Nak," pinta Sky kepada Cloud.
Keduanya lalu duduk di kursi tamu yang ada di ruangan. Sky lalu meminta teh hangat kepada pelayan yang berjaga. Dan tanpa menunggu lama, teh untuk keduanya pun diantarkan.
"Silakan, Yang Mulia, Pangeran." Pelayan itu menyediakan dengan hati-hati.
"Terima kasih." Sky lalu meminta Cloud untuk meneguk teh bersamanya.
"Ayah, kenapa sepertinya Ayah tidak senang dengan kabar ini?" tanya Cloud yang merasa heran akan sikap ayahnya.
Sky menghela napasnya. "Putraku, bukannya aku tidak senang. Tapi, kau harus melihat kenyataan."
"Maksud Ayah?"
"Nak, adikmu lah yang membawa Ara kembali ke istana. Lalu apa kau pikir dia akan merelakan begitu saja untuk menikahi gadis itu?"
Pertanyaan Sky tiba-tiba membuat detak jantung Cloud melambat. Ia tersadar dari keinginannya sendiri. Wajahnya pun berubah muram seketika.
"Ayah ... aku ...." Cloud sulit berkata-kata.
"Ayah mengerti, sangat mengerti. Tetapi sebagai lelaki kita harus menggunakan logika dibanding perasaan."
"Tapi, Yah—"
"Ayah khawatir karena Rain yang telah membawa Ara kembali, dia yang ingin menikahi Ara. Bukankah—"
"Tidak, Yah. Aku tidak terima. Aku yang menjemputnya dan membawanya ke istana ini. Aku mencintainya, amat mencintainya." Cloud menolak tegas.
__ADS_1
"Ya, ya, ayah mengerti. Tapi kau juga harus tahu jika Rain menggunakan uang pribadinya untuk menjemput gadis itu," kata Sky lagi.
"Aku akan menggantinya, Yah. Aku akan menggantinya berkali lipat. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, aku hanya menginginkan Ara." Cloud berapi-api.
"Cloud, tolong dengarkan ayah," pinta Sky kepada putranya.
Cloud pun diam sambil mencoba mengatur ulang napasnya yang mulai tidak stabil. Pikirannya tiba-tiba kalut karena memikirkan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Rain adikmu juga bukanlah orang yang mempermasalahkan hal itu. Kau harus bersabar saat mereka kembali ke istana. Jangan sampai ada pertengkaran yang malah mengakibatkan gadis itu pergi lagi."
"Maksud Ayah?!" Cloud begitu cemas.
"Beri Ara kenyamanan. Berikan dia kebebasan untuk memilih. Semakin kau memaksa, dia akan semakin lepas. Sifat manusia itu sama seperti pasir dalam genggaman. Semakin kau genggam, semakin hilang. Jadi berikan yang terbaik untuknya dan biarkan dia memilih. Kau harus ikhlas, Cloud." Sky menasehati.
"Ayah—"
"Seperti yang ayah bilang sebelumnya, jika dia memang jodohmu maka sejauh apapun dia pergi, dia akan kembali juga padamu. Jadi bersabarlah."
Sky menenangkan putranya. Dan akhirnya Cloud pun mengerti akan maksud ayahnya itu. Walaupun sejujurnya ia sangat berat untuk mencoba mengikhlaskan Ara. Tapi setidaknya, hatinya dapat sedikit tenang dalam menghadapi kenyataan ini. Ia harus kembali berjuang untuk mendapatkan hati sang gadis.
"Sudah. Sekarang persiapkan dirimu untuk menyambut kedatangannya. Mungkin mereka akan tiba malam hari," tutur Sky lagi.
"Malam?"
"Ya, Cloud. Perjalanan mereka memakan waktu sekitar enam jam. Belum lagi dari pelabuhan ke istana. Kemungkinan mereka akan sampai di istana besok pagi."
"Hah? Apa?!" Seketika pikiran Cloud ke mana-mana.
"Astaga ...." Cloud mengusap kepalanya sendiri.
"Sudah, jangan dipikirkan. Yakinlah kepada adikmu sendiri."
Sky merasakan kecemasan yang melanda putranya. Ia mengerti bagaimana perasaan Cloud saat mengetahui sang gadis bersama adiknya sendiri. Tapi, sebisa mungkin sang raja meyakinkan putra sulungnya.
Cloud cemas, takut, khawatir, dan cemburu jika adiknya itu melakukan hal yang tidak-tidak kepada Ara. Ia tidak rela jika hal itu sampai terjadi. Cloud ingin Ara hanya menjadi miliknya.
Ya Tuhan, tolong jaga Araku. Walaupun dia bersama adikku sendiri, tetapi tetap saja hatiku ini tidak tenang. Cloud cemas sekali.
Astaga ... kenapa aku bisa sampai seperti ini? Ia mengusap wajahnya sendiri.
Cloud diliputi kecemasaan akan sang gadis, namun sebisa mungkin ia tepiskan perasaan itu. Ia mencoba percaya kepada sang adik yang telah melakukan perjalanan jauh dan penuh risiko hanya demi gadisnya seorang.
Sementara di Asia...
Jam di dinding ruangan telah menunjukkan pukul setengah lima sore waktu sekitarnya. Dan kini Zu tengah bersiap untuk kembali ke kediamannya. Ia merindukan Ara.
Aku pulang cepat hari ini, Sayang. Kau sedang apa di sana?
Ia segera merapikan meja kerjanya lalu bergegas keluar dari ruangan. Setibanya di depan pintu, ia melihat Jasmine sudah menunggu.
__ADS_1
"Putri Mine?" Zu terkejut dengan kehadiran Jasmine.
"Pangeran, apakah Pangeran sudah senggang?" tanya Jasmine kepada Zu dengan lembut dan malu-malu.
"Hem, ya. Aku sebenarnya masih sibuk, tapi ingin beristirahat sebentar." Zu menjelaskan.
"Bolehkah saya menemani Pangeran?" tanya Jasmine lagi.
"Hah?!" Zu tersentak, ia teringat akan Ara. "Maaf, Putri. Aku harus segera kembali ke kediaman." Zu menolak.
"Pangeran." Jasmine menahan kepergian Zu dengan memegang tangannya.
Zu pun berhenti, ia melihat Jasmine memegang tangannya. "Putri?"
"Pangeran."
Jasmine segera berlari ke pelukan Zu, ia tidak ingin Zu kembali ke kediamannya. Sedang Zu sendiri tampak kaget akan sikap Jasmine yang seperti ini.
"Putri Mine, tolong jangan bersikap seperti ini. Nanti Dewi melihat." Zu melepaskan pelukan Jasmine.
"Pangeran, apakah kau benar-benar mencintainya?" tanya Jasmine dengan raut wajah yang sendu.
Zu menghela napasnya. "Ya, aku akan segera menikahinya," jawab Zu singkat.
Seketika itu juga Mine terkejut. Hatinya seperti tercabik-cabik mendengar hal ini langsung dari Zu. Air matanya pun berlinang, siap jatuh membasahi pipi.
"Pangeran ... apakah Pangeran tidak mempunyai sedikit rasa pun untukku?" tanya Mine pelan.
Zu diam saja.
"Pangeran, selama tujuh tahun ini apakah Pangeran merasa biasa-biasa saja denganku?" tanya Mine lagi.
"Putri, aku sudah mempunyai kekasih." Zu menjelaskan.
"Dia baru saja datang ke kehidupanmu, Pangeran. Sedang aku ... tujuh tahun ini aku menunggu." Mine benar-benar bersedih, ia meneteskan air matanya.
"Putri, maaf. Aku tidak bisa. Aku hanya mencintainya." Zu bergegas meninggalkan.
"Pangeran! Apa yang harus aku lakukan agar kau mencintaiku?!" tanya Mine sedikit berteriak, tak lagi peduli dengan prajurit yang berjaga di sekitar.
Zu memberhentikan langkah kakinya, ia pun menoleh ke belakang. "Tidak ada." Ia lalu segera meninggalkan Mine.
Pangeran ....
Seketika itu juga air mata jatuh membasahi pipi, tidak mampu terbendung lagi. Mine benar-benar sakit akan hal yang didengarnya. Ia seperti tidak mempunyai semangat untuk hidup, sedang Zu mencoba menormalkan suasana hatinya, ia menyesal karena telah membuat Mine menangis.
Ibu, maafkan aku. Aku tidak ada maksud untuk menyakiti hati seorang wanita. Aku hanya berusaha jujur dengan hatiku sendiri, jika aku hanya mencintai Ara. Maafkan aku, Bu.
Zu bergegas menuruni anak tangga, menuju lantai satu istana. Ia meminta kudanya diantarkan kepadanya. Dan setelah kudanya datang, Zu segera kembali ke kediamannya, ia ingin menemui Ara dan memadu kasih kembali.
__ADS_1
...
Bagian Ketujuh Tamat