
Law of Attraction adalah sebuah hukum tarik-menarik di alam semesta yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Ada tiga pondasi dasar yang harus dimiliki sebelum terjun ke dunia itu dan Ara telah memilikinya.
Ara percaya segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Karenanya ia selalu bersyukur di dalam setiap keadaan.
Ara percaya jika manusia sudah mempunyai kadar dan porsinya masing-masing. Ia percaya penuh jika takdir bukanlah berada di tangan manusia. Alam semesta ini sudah diatur sedemikian rupa dan sistematis sesuai kehendak Tuhan. Tak jarang Ara selalu memberi semangat kepada orang lain karena ia berkeyakinan energi semangat itu akan kembali padanya.
Ya, Law of Attraction adalah sebuah hukum dengan memusatkan pikiran. Jika berpikiran positif, maka akan menarik yang positif. Begitupun sebaliknya. Dan Ara selalu berpikiran positif untuk kehidupannya. Walau terkadang, ia terbawa perasaannya sendiri.
Dua tahun yang lalu...
Ara bersama mahasiswa pecinta alam sedang mengadakan kegiatan di alam terbuka. Dara hadir bersama seorang asistennya kala itu. Mereka duduk melingkar di atas rerumputan, dekat dengan air terjun.
Dara yang diundang oleh organisasi kampus, segera membagi pengetahuan dan pengalaman yang ia punya. Ia tampak sangat akrab dengan para mahasiswa baru tersebut.
"Baiklah. Kita akan mulai mencoba penerapan LOA."
Wanita berblus hitam panjang itu meminta kepada mahasiswa yang ikut serta untuk duduk membuat lingkaran. Ditemani asistennya, Dara meminta kepada yang tidak ikut untuk membantu mengawasi.
"Pejamkan mata kalian. Relaksasikan tubuh dengan mengambil napas perlahan."
Kedua puluh mahasiswa itu kemudian mengikuti instruksi Dara. Mereka memejamkan kedua mata seraya mengambil napas perlahan, merasakan segarnya udara di alam terbuka.
Ara bersama mahasiswa lain duduk bersila seperti bermeditasi dengan kedua tangan di atas lutut yang dibiarkan terbuka. Ia menghirup udara sambil mendengarkan instruksi dari Dara. Tak lama, Ara tenggelam dalam imajinya.
"Senior, lihat gadis berkaus putih itu," kata asisten Dara menunjuk Ara.
Dara melihat dan memperhatikan Ara yang tampak tenang setelah mendengar seluruh instruksi darinya. Gadis itu tampak begitu menikmati perjalanan imajinya itu.
"Kita tunggu saja perkembangannya," sahut Dara kepada asistennya.
Dari dua puluh mahasiswa yang ikut serta, hanya Ara lah yang mampu bertahan lama, lebih dari satu jam. Hal itu membuat Dara terkejut sekaligus takjub. Sedang mahasiswa lain mengalami gejala-gejala ketidakmampuan menerima. Ada beberapa di antaranya yang mengalami sakit kepala bahkan sampai mual dan muntah.
Berbeda dengan Ara, semilir angin yang berembus membuat gadis itu tampak dalam menyusuri perjalanan imajinya. Hanya Ara sendiri yang tahu apa yang terjadi di sana. Sampai tiba di mana waktu pelatihan sudah cukup dilakukan, Dara menyadarkan Ara dari lintas imajinya.
"Ara, dengarkan aku. Pusatkan pikiranmu pada keadaan di mana kau sedang bersama kawanan mahasiswa," bisik Dara di telinga kanan Ara.
__ADS_1
"Tarik napas dalam lalu mulailah membuka kedua mata. Katakan selesai pada alam bawah sadarmu," lanjut Dara.
Tak lama berselang, kedua mata Ara terbuka. Samar-samar ia melihat keadaan di sekelilingnya.
"Ara, kau tak apa?" tanya Dara sambil memberikan segelas air mineral kepada Ara.
Ara kemudian meminumnya. Ia kini sudah tersadarkan. Di hadapan mahasiswa yang lain, Ara menceritakan pengalamannya saat mengaktifkan LOA.
"Kakak."
"Apa yang kau alami tadi? Ceritakan pada kami," pinta Dara.
Mahasiswa lain ikut mendengarkan setiap ucapan dari gadis itu. Banyak dari mereka yang tidak percaya.
"Entahlah, Kak. Aku juga tidak mengerti. Sesaat setelah aku menarik napas dalam, aku melihat sebuah dataran hijau di balik awan. Sepertinya itu sebuah negeri dengan satu pohon besar di tengahnya." Ara mengawali.
"Pohon besar?" tanya Dara.
Ara mengangguk.
"Apa kau tahu pohon apa itu?" tanya Dara lagi.
"Lalu?"
"Lalu tiba-tiba keadaan berubah dan aku bertemu dengan seseorang. Tapi, aku tidak kenal siapa dia?" ungkapnya lagi.
"Hanya itu?"
"Tidak, Kak. Aku juga diajaknya masuk ke dalam sebuah gedung besar. Gedung itu berwarna putih, namun sangat kuno. Setelahnya aku mendengar suara Kakak."
Dara menghela napasnya. Ia kemudian beranjak dari hadapan Ara. Semenjak saat itulah Dara mulai mendekatkan diri kepada Ara. Pertemanan di antara keduanya terjalin erat. Bahkan Ara sering mengikuti pelatihan yang Dara lakukan.
Dia mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki orang lain.
Dara mengkhususkan Ara menjadi peserta didiknya. Sering kali mereka berpergian bersama untuk melakukan seminar. Dan karena hal itu Ara sering mendapat uang saku tambahan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Ara duduk sendiri di depan meja makan, ia terdiam sambil memikirkan kejadian tadi.
"Kenapa aku memimpikan Cloud?" tanyanya seraya menopang kepala dengan tangan kanannya.
"Apakah sesuatu terjadi padanya?" tanyanya lagi.
"Aduh, bulan depan aku harus siap menghadapi sidang skripsi. Pikiranku tidak boleh terpecah," katanya kepada diri sendiri.
"Tapi tadi itu ... wajah Cloud terlihat sendu. Sebenarnya ... apa yang terjadi padanya, ya?" tanyanya.
Ara meneguk segelas air hangat untuk meredakan pikirannya yang mulai kalut. Ia bermimpi melihat Cloud meminta tolong kepadanya agar segera datang ke istana. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukan karena bulan depan ia harus menghadapi sidang skripsi.
Cloud, bersabarlah. Aku akan datang ke sana setelah urusanku ini selesai.
Ara mencoba memfokuskan diri menjelang sidang skripsinya. Ia ingin memusatkan pikiran untuk akhir pembelajaran di kampusnya itu.
Jika setelah berjuang penuh hasil yang didapatkan kurang dari harapan, maka Ara akan menerimanya dengan lapang dada.
Bagaimanapun Ara adalah gadis pejuang yang tidak mudah menyerah dengan keadaan. Ia percaya segala sesuatunya akan indah pada waktunya.
Sementara itu...
Hujan deras membasahi seluruh rerumputan yang ada di sekeliling pangeran sulung ini. Ia duduk di gazebo istana seorang diri sambil melihat hasil sketsa dan rancangan busana yang Ara buat.
"Begitu indah karyamu."
Ia berucap lirih di antara derasnya air hujan yang turun. Dipandanginya satu persatu sketsa rancangan Ara itu.
"Kami masih beruntung karena seluruh rancanganmu ini tidak jadi dicuri malam itu. Hasil jadinya begitu menakjubkan. Aku jadi bingung sendiri menentukan harga yang pas untuk busana-busana itu." Cloud berbicara sendiri.
Cloud lalu meletakkan hasil rancangan Ara ke atas meja gazebo. Ia kemudian mengambil biolanya. Menarik napas panjang lalu memejamkan kedua mata. Jari-jemarinya mulai menekan senar biola.
Alunan rindu itu kemudian terdengar dari biolanya, yang menggaung di antara derasnya air hujan. Cloud begitu menikmati alunan rindunya hingga tak menyadari jika sang ibu memperhatikannya dari jauh. Moon melihat anak sulungnya sedang melantunkan melodi cinta yang indah.
__ADS_1
"Tumben dia memainkan biola?" tanya Moon, ditemani beberapa pelayan dan pengawalnya.
Sebagai seorang ibu, Moon mempunyai naluri keibuan yang mendalam. Ia merasa sesuatu telah terjadi kepada putra sulungnya itu. Namun, untuk saat ini Moon memilih untuk membiarkannya.