
"Cloud ...."
Aku mencoba menyapanya. Kulihat pangeranku ini cemas sekali. Mungkin dia sudah berpikir panjang mengenai hal ini.
"Apakah kalian sudah amat dekat?" Cloud bertanya dengan nada yang lemah.
"Hm, entahlah. Aku hanya mencoba mengikuti arusnya saja dan tidak melawannya. Tetua Agung berpesan padaku sebelum kedekatan kami."
"Maksudmu?" tanyanya cemas.
"Tetua Agung berpesan agar aku tidak melawan arus kehidupan karena hal itu dapat membahayakanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi sepertinya, lebih baik kuturuti saja pesannya itu."
Cloud terdiam. Dia tampak memikirkan kata-kataku. Suasana yang romantis tiba-tiba berubah menjadi kecemasan terhadapku. Cloud mencemaskanku. Ya, aku akui itu.
"Ara, sebaiknya kau tetap di sini. Jangan ke istana dulu," pintanya.
"Tapi, Cloud."
"Kumohon, aku khawatir dia mengirimkan mata-mata ke negeri ini. Lebih baik kau di sini saja. Kawasan ini masih baru dan belum ada yang menempati. Para pasukan khusus juga berjaga di setiap penjuru mata angin. Jadi, kemungkinan dia akan mengetahui keberadaanmu amatlah kecil."
"Kau amat mengkhawatirkanku, Cloud." Kuusap pipinya.
"Iya, Ara. Aku amat khawatir dia akan mengambilmu lagi. Kumohon, sementara tinggalah di sini. Biar aku saja yang kemari." Dia memegang tanganku yang mengusap pipinya.
"Iya, Sayang," kataku yang membuatnya terperanjat.
"Kau bilang apa, Ara?" Dia seperti ingin aku mengulanginya.
"Iya, Sayang," kataku lagi dan seketika dia memelukku.
"Aku menyayangimu, Ara." Dia membenamkan wajahnya di pundakku.
"Aku juga menyayangimu, Cloud." Aku menutup pembicaraan tentang ini.
Cloud melepaskan pelukannya, dia lalu menatapku dalam sekali. Aku pun ikut menatapnya, dan kemudian dia mencium bibirku. Ciuman lembut yang semakin lama semakin menuntut. Dia memintaku untuk membalas setiap kecupannya.
Cloud ... aku merasa terikat denganmu. Rasanya aku semakin tidak mampu memilih. Haruskah aku kembali ke Asia agar tidak ada yang tersakiti?
Sungguh hari ini adalah hari yang istimewa bagiku. Sedari pagi aku bersamanya hingga malam ini. Kami menghabiskan waktu bersama, bernostalgia atas kenangan-kenangan indah yang telah tercipta. Dan kembali aku meragukan hatiku sendiri. Aku amat khawatir jika salah satu dari Rain atau Cloud tersakiti.
Ara belum yakin sepenuhnya terhadap langkah yang harus ia ambil. Cinta kedua pangeran begitu membuatnya kebingungan. Ia harus segera mendapatkan pertolongan atas kegundahan hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk kembali ke Asia agar salah satunya tidak ada yang tersakiti. Tapi, benarkah hal itu jalan yang terbaik untuknya?
Malam ini menjadi saksi atas perasaan yang kembali bersemi. Cloud meminta Ara agar tetap tinggal di rumah baru dan tidak kembali ke istana untuk sementara waktu. Ia menyadari jika pelabuhan Angkasa telah dibuka seperti sedia kala. Ia khawatir Zu mengirimkan mata-matanya untuk mencari keberadaan Ara. Cloud amat khawatir jika Ara pergi lagi dari sisinya.
__ADS_1
Keesokan paginya...
Pagi hari yang indah datang. Sang gadis pun terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya berulang kali sambil mencari jam untuk dilihat.
"Ah, iya. Aku lupa jika Angkasa belum menggunakan jam dinding."
Ia bergumam seraya beranjak bangun. Tak lama, keluar sosok tubuh maskulin dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Kau sudah bangun, Sayang?" tanyanya yang sontak membuat Ara terkejut.
"Cloud? Astaga!" Ia terperanjat kaget saat melihat sang pangeran hanya mengenakan handuk putih yang menutupi area pribadinya.
Apa dia melakukan sesuatu padaku semalam?
Sang gadis segera memeriksa tubuhnya. Dan ternyata ia masih mengenakan gaun tidur dan juga kemben di dalamnya.
"Kau kenapa, Ara?" Cloud berjalan mendekat.
"Tu-tunggu! Jangan mendekat." Ara beranjak bangun.
"Eh?"
"Cloud, kau ini apa tidak malu hanya memakai handuk di depanku?" tanya Ara sambil menggulung rambutnya.
"Malu?" Cloud merasa bingung. "Maksudmu aku malu padamu?" tanyanya lagi.
"Tunggu!" Sang pangeran menahannya.
"Cloud?"
"Ara, aku tidak ingin ada jarak lagi. Aku begini karena merasa kita sudah amat dekat. Aku sudah menganggapmu sebagai istriku, Ara." Cloud menatap gadisnya.
"Cloud, tapi aku masih risih." Ara mencoba jujur.
"Jika ini Rain apa kau juga merasa risih?" Cloud menukik Ara dengan pertanyaannya.
"Cloud, apa maksudmu?" Ara mencoba melepaskan tangan Cloud yang menahannya.
"Sayang, aku ini milikmu. Biasakanlah melihat sisi lain dari diriku. Aku pria biasa, Ara. Hanya di mata orang lain aku menjadi pangeran." Cloud meminta sang gadis lebih membiasakan diri dengan hal yang tak biasa dilakukan olehnya.
"Hah ... baiklah." Ara akhirnya menyetujui.
Cloud tersenyum. Ia lalu mendekatkan wajahnya ingin mencium Ara.
__ADS_1
"Cloud, jangan!" Seketika Ara mendorong Cloud hingga jatuh ke kasur.
"Sayang?!" Sang pangeran pun terkejut.
"Masih pagi!" Ara segera berbalik meninggalkan Cloud.
"Tunggu!" Cloud lagi-lagi menahan kepergian Ara dari hadapannya.
"Apa?" Ara menoleh. "Astaga!!!" Seketika Ara terkejut bukan main. "Dasar genit!" Ara segera berlari menuju pintu keluar.
"Hei, kau harus bertanggung jawab! Kau menjatuhkan aku hingga handukku ini terbuka. Kau harus menutupnya kembali, Ara!" teriak Cloud yang masih terbaring di tempat tidur.
"Aku tidak peduli!" jawab sang gadis sambil membuka pintu dengan cepat.
Terdengar pintu ditutup dari luar dan Cloud beranjak bangun. Ia tersenyum-senyum sendiri dengan kejadian di pagi ini.
Dia kaget melihatnya? Padahal kemarin sudah melihatnya. Sayang, kau memang gadis yang baik. Karena itu aku amat menginginkanmu menjadi ibu dari anak-anakku kelak.
Cloud segera bangun dan mengenakan pakaian kerajaannya. Ia terus tersenyum mengingat kejadian tadi. Ia merasa amat bahagia karena bisa sedekat ini dengan gadis yang dicintainya. Sedang Ara...
Arrrghh! Kenapa mereka semua berani seperti ini padaku?! Apa mereka itu tidak tahu malu lagi?! Pagi-pagi sudah melihatnya! Astaga!
Ara kesal sendiri.
Tidak Rain, tidak Zu, tidak Cloud. Ketiganya sudah benar-benar gila. Mudah sekali mereka memperlihatkan apa yang seharusnya tidak dilihat orang lain. Kenapa sih mereka seperti itu?!
Sambil memotong tomat untuk toping nasi goreng, Ara menggerutu sendiri di dalam hatinya. Ia merasa kesal kepada ketiga pangeran yang telah dengan mudahnya memperlihatkan sesuatu yang seharusnya ditutupi. Ara jadi terbayang-bayang sendiri bagaimana bentuknya. Dan pagi ini ia merasa gelisah dengan keadaannya.
Apa yang dikatakan oleh Tabib Fu memang benar terjadi. Sang gadis bisa membuat orang merasa nyaman saat di dekatnya. Dan mungkin karena hal itulah Cloud melakukan hal yang di luar batas kewajarannya. Sang pangeran merasa jika Ara adalah satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya menunjukkan sisi konyol dari dirinya itu.
...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.
Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.
__ADS_1
Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?
Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona...