
Pagi ini aku terbangun lebih awal dari biasanya. Dengan segera aku mandi dan membersihkan diri dari sisa-sisa mimpi semalam.
Malam yang indah telah kulalui bersama putra mahkota kerajaan ini, Cloud Sky. Semalam dia mengajakku untuk makan malam bersama di area sekitar kolam pemandian air panas. Aneh memang, tapi ada hal unik yang terjadi.
Cloud begitu romantis padaku. Mungkin karena tempatnya yang jauh dari jangkauan orang lewat, dia semakin menunjukkan perasaan sayangnya. Tanpa malu, tanpa sungkan dan tertahan. Kami pun tertawa bersama, menikmati malam turun salju sambil bercengkrama ria.
Dia menyentuhku, membelaiku.
Jari-jemarinya menari-nari di atas permukaan kulit lenganku. Hampir saja aku kehilangan kendali karena permainannya. Tapi untung saja, hal itu masih bisa tertahan olehku.
Semakin hari, Cloud semakin menunjukkan perasaan sayang dan cintanya.
Aku tidak tahu apakah ini memang cara yang dilakukan semua pria untuk menjadi yang pertama dan satu-satunya di hadapan wanitanya. Karena baru kali ini aku berani berdekatan dengan seorang pria yang bukan dari kalangan keluarga sendiri. Dan ternyata, takdir menuntunku untuk dengannya.
Ya, aku merasa sangat beruntung bisa berada di sini. Terlepas dari banyaknya tugas yang harus segera aku selesaikan. Aku selalu mensyukuri setiap keadaan. Baik sedih ataupun senang. Satu keyakinan di hatiku, tidak selamanya malam dan tidak selamanya siang.
"Hah, segarnya."
Kukeringkan rambutku dengan handuk tebal berwarna putih seraya berjalan menuju kamar ganti. Kubuka lemari pakaian dan ternyata tidak ada gaunku di dalam.
"Eh? Apakah gaunku bersembunyi lagi?"
Aku kebingungan, mencari-cari di lemari bagian bawah pun tak ada. Tak kutemukan satupun gaun di lemariku ini.
"Apakah dicuri?" tanyaku yang bingung.
Tak lama, kudengar Mbok Asri mengetuk pintu.
"Nona!"
Aku segera menuju pintu kamar dengan tubuh yang masih terbalut handuk. Semoga saja Mbok Asri membawa gaun untukku.
"Mbok?"
"Selamat pagi, Non. Saya bawakan gaun untuk Nona."
Mbok membawa banyak gaun untukku. Aku pun membantunya. Kami lalu duduk di kursi tamu dengan pintu kamar yang kututup terlebih dahulu.
"Nona, maaf sebelumnya. Saya diminta Pangeran Rain untuk mengambil semua gaun Nona."
"Hah? Apa?!" Akupun terkejut.
"Pangeran Rain meminta saya untuk membawakan semua gaun ini sebagai pengganti gaun-gaun Nona terdahulu. Sepertinya ini lebih ringan untuk Nona."
Mbok menyerahkan beberapa gaun untukku. Dan ternyata memang benar, gaun yang dibawanya terbuat dari dasar sutra sehingga tidak berat seperti gaunku dulu.
__ADS_1
"Tapi apa ini tidak terlalu tipis, Mbok?"
Aku khawatir dengan semua gaun dari Rain ini. Dasarnya lembut dan jatuh membuatku khawatir jika lekuk tubuhku akan terlihat.
"Tidak, Non. Nona coba saja dulu. Di dalamnya ada pelapis yang cukup tebal. Jika Nona risih, Nona bisa memakai rompi. Saya ambilkan ya, Non."
"Eh, tidak usah, Mbok! Aku pakai dulu saja."
Segera kuambil satu gaun berwarna merah muda untuk kupakai. Gaunnya memang tampak biasa saja, sih. Tapi, setelah aku memakainya...
Astaga, ini cantik sekali.
Kulihat banyak pernak- pernik menghiasi di area pinggang ke atas gaun ini. Mungkin lebih tepatnya jika gaun yang kupakai ini adalah gaun pesta yang biasa dipakai wanita untuk menghadiri undangan pernikahan. Dasarnya jatuh, tidak berat, tapi tampak begitu mewah.
Mungkin Rain kasihan padaku karena mengenakan gaun yang berat.
Segera saja aku menyisir rambut, mengenakan make-up minimalis dengan blash on pink di pipiku. Aku jadi tampak lebih muda lima tahun dari usiaku sebenarnya. Apalagi ditambah polesan lipglos merah muda ini, aku seperti seorang gadis yang masih remaja.
Selera Rain boleh juga.
Setelah memakai sepatu berwarna perak setinggi lima senti, aku keluar dari ruang ganti dan memperlihatkan kepada Mbok Asri penampilanku ini. Tentunya tanpa lupa menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh terlebih dahulu.
"Nona?!"
"Bagaimana, Mbok?" tanyaku seraya memutar badan di hadapannya.
"Ah, si Mbok. Bisa saja." Aku tertawa malu di hadapannya.
"Nona, saya yakin kedua pangeran akan takjub melihat penampilan baru Nona seperti ini," kata Mbok sambil memperhatikan pernak-pernik pada gaunku.
"Benarkah, Mbok?" tanyaku penasaran.
"Benar, Non. Rasanya persaingan akan semakin sengit," jawabnya.
"Hahahaha."
Tiba-tiba saja aku tertawa kala mendengar Mbok Asri berkata seperti itu. Ini lucu sekali bagiku.
"Nona, maafkan jika saya telah lancang kepada Nona." Mbok tertunduk menyesal.
"Tidak, Mbok. Tidak apa-apa," kataku seraya menahan tawa. "Aku hanya merasa beruntung bisa berada di sini," lanjutku.
Mbok tersenyum mendengarku. Tatapan matanya menyiratkan keibuan yang mendalam. Mbok memang seperti ibuku. Kehadirannya mengobati kerinduanku kepada ibu.
"Baiklah, Non. Saya letakkan gaun yang lain ke dalam lemari ya, Non."
__ADS_1
Mbok segera membawa gaun lainnya ke dalam ruang ganti. Aku sendiri menuju meja kerjaku, mengambil lembaran kertas putih untuk menggambar rancangan busana kebaya yang belum sempat terselesaikan.
Rencananya aku akan membuat lima rancangan busana hari ini. Dua rancangan utama yang belum sempat selesai, dan tiga lainnya untuk memenuhi janjiku.
Aku masih ingat dengan janjiku kepada dua prajurit yang berjaga di depan kamarku waktu itu. Aku berjanji akan membuatkan mereka kebaya jika mau mengajariku bermain pedang. Dan kini saatnya untuk melunasi utang itu. Sedang satunya, akan kuberikan kepada Mbok Asri.
"Nona, apakah Nona ingin sarapan di kamar?" tanya mbok setelah selesai memasukan semua gaunku ke dalam lemari.
"Em, sepertinya tidak, Mbok. Aku ingin ke gazebo saja. Mungkin di sana aku akan sarapan pagi," jawabku.
"Baiklah, Non. Kalau begitu saya permisi." Mbok berpamitan kepadaku.
"Eh, Mbok!"
Sebelum Mbok meninggalkanku, aku kembali memanggilnya. Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
"Ya, Non?" Mbok Asri berbalik ke arahku.
"Mbok, aku punya utang sama Mbok, kan?"
"Utang?" Mbok tampak bingung.
"Iya, Mbok. Waktu kita pergi beli parfum terus ada ibu-ibu yang meminta tolong itu."
Aku mencoba mengingatkan akan utangku. Tapi sepertinya, Mbok sudah lupa.
"Oh, iya. Saya ingat, Non. Tapi Nona tidak usah khawatir. Pangeran Cloud sudah membayarnya."
"Benarkah, Mbok?"
"Iya, Non. Malahan pangeran membayarnya dua kali lipat."
Aku senang mendengarnya. Ternyata Cloud telah membayarkan utangku.
"Syukurlah kalau begitu." Aku tersenyum kepada Mbok Asri.
"Apakah ada lagi, Non?" tanyanya.
"Sepertinya tidak, Mbok. Aku ke gazebo saja sekarang," kataku sambil mengambil semua peralatan gambar.
"Baiklah, Non. Nanti saya antarkan sarapannya."
"Terima kasih, Mbok."
Kamipun menutup perbincangan di pagi ini. Dengan segera, aku melangkahkan kaki menuju gazebo istana, tempat favoritku.
__ADS_1
Aku memang sangat suka berada di gazebo. Tempatnya terbuka dengan harum semerbak bunga taman yang menghiasi. Ditambah suara merdu pancuran air kolam. Rasanya begitu nyaman sekali.