Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't Disturb!


__ADS_3

Suasana terasa kelam saat putra mahkota Asia tiba di hadapan keduanya. Ara pun masih bersembunyi di belakang Rain, ia khawatir sesuatu akan terjadi.


"Selamat sore, Pangeran Rain." Zu menyapa Rain seraya tersenyum. Matanya kemudian melihat ke Ara.


"Ya, selamat sore. Sepertinya tidak ada jadwal kunjungan kerajaan, Pangeran Zu." Rain membalasnya segera.


Jarak antara Rain dan Zu hanya sekitar satu meter. Segala kemungkinan bisa terjadi saat ini. Ara pun mengatur ulang napasnya karena mulai tidak beraturan. Ia takut terjadi sesuatu pada keduanya.


"Ya, benar. Aku memang tidak melakukan kunjungan kerajaan saat ini. Aku hanya ingin menemui Ara," kata Zu sambil melihat ke Ara yang bersembunyi.


"Ada urusan apa kau dengannya?" Sesaat Rain menoleh ke Ara. Ia kemudian menatap tajam pangeran Asia ini.


"Ini lebih ke urusan pribadi, Pangeran Rain. Tidak ada kaitannya denganmu. Aku harap kau tidak menyita waktuku untuk berbicara lebih lama." Zu tersenyum menutupi kekesalan di hatinya.


"Maaf, sesuatu yang berhubungan dengannya aku juga harus mengetahuinya. Dia calon istriku." Rain menekankan intonasi bicaranya di akhir.


"Calon istri? Wah, luar biasa sekali ya Nona. Nona sudah secepat ini berpindah hati." Zu tertawa, padahal hatinya amat kesal sekali.


Ara diam, tidak berkutik. Ia khawatir jika berbicara akan membuat suasana semakin runyam. Terlebih Rain dan Zu beradu kata di hadapannya. Hatinya berdebar bukan main, rasanya ingin melarikan diri saja.


"Apa maksud Anda, Pangeran Zu? Ara memang calon istriku. Kenapa kata-katamu seolah mengisyaratkan jika mempunyai hak atasnya?" Rain mulai kesal.


"Rain, sudah. Kita tinggalkan pembicaraan ini." Ara menyadari jika pangerannya kesal.


"Nona, apakah Nona tidak ingin menyapaku? Aku adalah tamu istana. Apakah keramahtamahan tidak ada lagi untukku?" tanya Zu yang menahan kesalnya.


"Hei, apa maksudmu?!" Rain mendekati Zu.


"Rain, sudah!" Ara segera menahan Rain. "Pangeran Zu, sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jika kunjungan ini bukan urusan kerajaan, sepertinya Pangeran telah keliru." Ara beralih ke Zu.


"Nona, begitu cepat kau berubah. Kau tidak ingat lagi siapa aku?" Zu menatap Ara dengan tatapan yang sendu.


"Pangeran Zu, tolong jaga kata-katamu. Jangan memancing emosiku!" Rain kesal karena ucapan Zu.


"Maaf, Pangeran Rain. Sepertinya ini tidak ada urusannya denganmu. Aku harap kau bisa mengerti." Zu beralih ke Rain, tatapannya berubah tajam.


"Kau!" Rain seperti ingin memukul Zu.

__ADS_1


"Rain!!!"


Seketika itu juga sang raja datang dan meneriaki putranya. Ia melihat hal apa yang sedang terjadi di halaman depan istana. Sky pun lekas-lekas mendekati ketiganya.


"Rupanya Angkasa kedatangan tamu istimewa. Pangeran Zu, Anda datang tanpa memberi kabar dahulu." Sang raja menyapa calon raja Asia.


"Salam untuk Yang Mulia. Maafkan saya yang tidak sempat memberi kabar." Zu membungkukkan badannya.


"Hal apa yang membuat Pangeran sampai repot-repot datang ke sini?" tanya Sky lagi.


"Mohon maaf Yang Mulia. Kedatangan saya kali ini tidak berkaitan dengan urusan kerajaan, melainkan urusan pribadi. Semoga Yang Mulia berkenan." Zu meminta dengan santun.


"Oh, begitu. Mungkin lebih baik jika kita bicarakan di ruang tamu kerajaan. Mari, Pangeran Zu." Sky mengajak Zu menuju ruang tamu istana.


Zu bersedia, ia pun mengikuti langkah kaki raja ke ruang tamu. Sesaat melewati Rain, tatapannya berubah tajam. Rain pun menyadarinya, ia ingin segera memberi pelajaran. Tapi, sang gadis menahannya.


"Rain, sudah."


Akhirnya baik Ara maupun Rain ikut ke ruang tamu istana. Mereka berjalan di belakang sang raja dan Zu.


Beberapa menit kemudian...


"Kabar baru saja aku terima dari perbatasan jika Anda meminta izin masuk ke pelabuhan Angkasa. Sepertinya burung pengantar pesan kami datang terlambat." Sky berbasa-basi.


"Mohon maaf Yang Mulia, saya tidak ada maksud kurang baik atas kedatangan ini. Saya hanya ingin menyelesaikan masalah yang sempat tertunda." Zu menuturkan kembali.


"Hm, ya. Tapi sepertinya aku melihat ada pertengkaran tadi. Apakah putraku ini membuat Pangeran kesal?" selidik raja sambil menatap Zu yang duduk di sebelah kirinya.


Zu tersenyum, ia kemudian menatap tajam ke arah Rain yang duduk tepat di seberangnya. Ia juga melihat Ara yang duduk di tengah-tengah raja dan Rain. Namun, sang gadis tertunduk saat Zu melihatnya.


"Kedatangan saya ke sini untuk masa depan Asia, Yang Mulia. Saya ingin meminta Ara ke Asia." Zu membuka inti kedatangannya.


Seketika Rain kesal. "Seenaknya kau berkata seperti itu!" Rain menunjukkan kekesalannya.


"Rain, tunggu sebentar. Dengarkan dulu apa kata tamu kita. Sopanlah sedikit." Sang ayah memperingatkan.


Ara masih diam dan tertunduk. Ia tidak berani menatap Zu. Ia ingin semua ini cepat berakhir. Namun, ia juga tidak kuasa saat Zu sudah melihat keberadaannya di Angkasa.

__ADS_1


"Jadi maksud Pangeran ingin menjemput Ara, begitu?" tanya raja lagi sambil menggabungkan kedua jemari tangannya.


"Benar, Yang Mulia. Saya mempunyai urusan yang penting dengannya. Apakah saya boleh membawanya?" tanya Zu segera.


Rain menggertakan giginya, ia kesal setengah mati mendengar perkataan Zu. Emosinya hampir saja meluap jika tidak ada sang ayah.


"Begini, Pangeran Zu. Gadis yang Anda maksud akan segera melangsungkan pernikahan dengan putraku. Mohon maaf jika dengan amat terpaksa pihak istana menolaknya. Anda tidak keberatan, bukan?" tanya Sky yang mulai serius.


Seketika hati Zu tercabik-cabik. Ia menelan ludahnya, menahan kesal yang melanda pikiran. Ia tidak menyangka jika akan mendengarnya langsung dari sang raja Angkasa.


"Yang Mulia, Ara juga sudah berjanji untuk menikah denganku. Bahkan pernikahan kami sudah dipersiapkan. Bukan begitu, Nona?" tanya Zu kepada Ara.


"Kau!" Rain berdiri dari duduknya.


"Rain, sudah." Ara segera menahan Rain.


"Ayah, dia keterlaluan!" Rain menunjuk Zu. "Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depanku. Jika istana tidak mengusirnya, maka aku sendiri yang akan mengusirnya!" Rain benar-benar kesal.


"Rain, sudah. Kumohon jangan gegabah." Ara memohon.


"Ara, kau dengar sendiri apa katanya?! Dia seenaknya bilang jika kau telah berjanji untuk menikah dengannya. Katakan padaku jika dia memfitnahmu!" Rain ingin mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.


Seketika Ara terdiam. Ketakutan pun mulai memenuhi seluruh relung hati dan pikirannya. Ia takut atas ancaman Zu waktu itu. Raja juga seperti menyadarinya, ia kemudian mengambil alih pembicaraan.


"Begini, Pangeran Zu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terutama pada Anda dan juga Ara. Jika memang ada urusan yang belum sempat terselesaikan, maka Anda bisa membicarakan hal ini di gazebo istana. Tapi jika Anda meminta Ara untuk kembali ke Asia, aku rasa Anda sangat menuntut tanpa ada alasan yang pantas. Kecuali jika Ara sendiri yang ingin ke sana, aku sebagai raja tidak dapat menahan keinginannya."


Sky mengerti akan maksud Zu, tapi ia juga tidak dapat membiarkan Ara kembali ke Asia. Karena bagaimanapun ia sudah mempersiapkan pesta pernikahan untuk kedua putranya, terlebih seluruh penghuni istana sudah mengetahuinya. Ia tidak akan tinggal diam jika Zu tetap memaksa untuk membawa Ara ke Asia.


"Baiklah. Terima kasih atas izinnya, Yang Mulia. Saya akan membicarakan hal ini kepada Ara segera." Zu akhirnya menerima tawaran sang raja.


"Ayah!" Rain menolaknya.


"Biarkan Ara dan Pangeran Zu menyelesaikan urusannya. Kita tinggal menunggu kabarnya." Sky memperingatkan Rain.


"Ara." Rain beralih ke Ara.


"Rain, tunggu sebentar ya. Aku harus menyelesaikannya." Ara kemudian berjalan melewati Rain.

__ADS_1


Ara ....


Ada rasa kesal di hati Rain saat melihat Zu tersenyum kepada gadisnya. Kedua tangan Rain mengepal, melihat kepergian keduanya menuju gazebo istana. Rain pun melihat ke arah sang ayah yang sedang menghidupkan cerutunya. Sepertinya sang raja juga harus menenangkan pikiran atas kedatangan Zu kali ini.


__ADS_2