Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
The Perfect Prince


__ADS_3

Di istana...


Kini Rain sudah tiba di gazebo istana. Ia menemui ayahnya yang sedang duduk bersama Cloud. Sepertinya ada hal yang ingin dibahas sang ayah.


"Kemarilah, Nak." Sky meminta Rain untuk duduk mendekat.


Rain lalu mendekati keduanya. Ia duduk di sebelah kiri sang ayah, sedang Cloud duduk di sebelah kanannya. Kedua putra mahkota itu duduk berhadapan di depan ayahnya.


Beberapa pelayan kerajaan datang dan membawakan hidangan untuk ketiganya. Mereka tampak sangat hati-hati menyajikannya.


"Silakan, Paduka, Pangeran."


Pelayan kerajaan segera meninggalkan gazebo istana setelah selesai menyajikan hidangan itu. Mereka kembali ke pekerjaannya masing-masing.


Sky lalu mencicipi hidangan itu sambil memperhatikan kedua putranya yang sedari tadi berdiaman. Ia kemudian meneguk secangkir teh hangat sehabis mencicipi kue bulan khas kerajaan ini. Atmosfer terasa begitu hening tanpa ada sepatah kata apapun yang keluar dari kedua putranya.


"Ayah perhatikan beberapa hari ini kalian tidak bertegur sapa. Sebenarnya ada apa?" tanya Sky memulai pembicaraannya.


"Tidak ada apa-apa, Ayah. Semua baik-baik saja," jawab Rain kemudian, seraya tersenyum tipis kepada ayahnya.


"Hm, begitu."


Cloud tampak diam dan tidak menjawab. Ia lebih banyak diam di hadapan para penghuni istana semenjak Rain mengabarinya dengan sesuatu yang tidak pernah ia inginkan.


"Bagaimana denganmu, Cloud?" tanya Sky kepada putra pertamanya.


"Aku masih sibuk dengan urusanku, Yah. Belum ada waktu untuk bersantai," jawab Cloud seraya menoleh ke ayahnya.


Sky merasakan sesuatu tengah terjadi dengan kedua putranya ini. Tapi bukan raja jika tidak mengetahui sesuatu yang tersembunyi. Mata-mata Sky ada di mana-mana.


"Ayah berharap gadis itu tidak membuat kalian saling menumpahkan darah," kata Sky seraya meletakkan kembali cangkir tehnya.


Sontak saja perkataan Sky membuat kedua putranya terkejut bukan main. Baik Rain maupun Cloud terbelalak karena kaget. Mereka tidak menyangka jika sang ayah mengetahui hal ini.


"Ayah sudah tua, Nak. Kalian adalah penerus kerajaan ini. Ayah berharap kalian dapat bekerja sama untuk memajukan negeri. Bukan malah saling menumpahkan darah karena seorang wanita." Sky melanjutkan.


Cloud dan Rain terdiam seribu bahasa.


"Ayah mengerti, tapi Ayah mohon singkirkan ego kalian demi kemajuan negeri ini. Kakek akan sangat bersedih jika mengetahui kalian terus berdiaman. Pihak luar juga akan mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kerajaan jika kedua putra mahkotanya saling bersitegang satu sama lain."


Cloud dan Rain tampak berpikir.


"Baik, Yah."

__ADS_1


Keduanya lalu mengiyakan perkataan sang ayah. Tak ada kata-kata yang bisa keduanya jawab selain kata itu.


"Sesuai dengan peraturan kerajaan yang sudah turun-menurun, Cloud akan diangkat menjadi seorang raja. Sedang Rain, menjadi perdana menterinya. Bagaimana menurut kalian?" tanya Sky lagi.


"Aku tidak keberatan, Yah," jawab Rain segera.


"Lalu bagaimana denganmu, Cloud?" tanya Sky kepada Cloud.


"Aku rasa ... aku belum mampu mengemban tugas sebagai seorang raja, Yah," kata Cloud seraya menunduk.


"Hm, jadi kau mengaku kalah dengan adikmu?"


Cloud terkejut dengan pertanyaan ayahnya. Ia merasa jika ayahnya itu tidak hanya menanyakan tentang pekerjaan, namun juga menyinggung masalah Ara.


Ayah, tolong jangan sudutkan aku. Aku masih belum kalah. Aku akan terus berjuang untuk mendapatkannya.


"Cloud, Ayah berharap kau dapat segera mengambil keputusan. Harus sampai kapan Ayah menunggu? Usia Ayah sudah lima puluh tahun. Ayah ingin menikmati masa tua bersama ibumu tanpa harus repot dengan urusan kerajaan." Sky tampak menghela napasnya.


Cloud terdiam. Ia seperti kebingungan untuk menjawabnya.


"Hari ini Ayah ingin mengajak kalian berjalan-jalan. Kalian tidak keberatan?" tanya Sky lagi.


"Tidak, Yah," jawab keduanya serempak.


Sky lalu mengajak kedua putranya menuju suatu tempat. Ketiganya menaiki kudanya masing-masing. Tampak kegagahan yang tersirat dari raja dan kedua putra mahkotanya itu.


Sementara itu di Negeri Aksara...


"Kau tidak becus, Andelin!"


Hell memarahi putrinya. Ia tampak begitu kesal karena sang anak tidak berhasil menjebak Cloud.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak bisa."


Andelin meminta maaf kepada Hell karena tidak dapat memenuhi permintaan ayahnya. Hell begitu kesal karena putrinya gagal mengemban tugas.


Ini tidak bisa dibiarkan. Angkasa akan semakin meroket jauh. Aku harus mencari jalan lain.


Hell kemudian pergi meninggalkan putrinya. Ia bergegas menuju ruang utama kerajaan. Sementara Andelin tampak terduduk lemah di kursi kamarnya.


Cloud ...


Ia teringat akan sang pangeran sulung di kerajaan Angkasa. Tersirat perasaan bersalah pada dirinya kala ini.

__ADS_1


Sebelum Andelin kembali ke negerinya...


Andelin datang mengetuk pintu ruangan Cloud. Ia tampak menyesal karena telah melakukan hal yang kurang pantas. Andelin memberanikan diri untuk berpamitan kepada Cloud sebelum kembali ke negerinya. Sesampainya di dalam ruangan, Andelin disambut oleh Cloud.


"Pangeran, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku," pinta Andelin seraya menunduk.


Keduanya tengah berdiri di dalam ruangan. Cloud tampak memandangi putri itu.


"Tak apa, aku mengerti beban yang sedang kau pikul."


Andelin terkejut mendengar perkataan Cloud.


"Pangeran, tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Aku begitu malu di hadapanmu. Rasanya aku tidak layak untuk meneruskan hidup lagi."


Andelin diliputi perasaan bersalahnya.


"Putri ...," Cloud lalu berjalan mendekati Andelin, "kau begitu berharga sebagai seorang wanita. Namun, maaf. Aku bukan pria yang harus kau tuju. Aku sudah mempunyai pilihan hatiku sendiri."


Cloud berterus terang kepada Andelin. Sontak Andelin bertambah malu karena ternyata pangeran sulung ini sudah ada yang memiliki.


"Aku mencintai seorang gadis yang begitu memahamiku. Kami sudah kenal cukup lama. Dan selama itu, dia tidak pernah berani menggodaku. Aku begitu mengaguminya."


"Maafkan aku, Pangeran. Aku salah." Andelin menyesal, ia tidak berani menatap Cloud.


Putra mahkota itu lalu mengusap kepala Andelin. "Carilah seseorang yang mencintaimu dengan tulus. Kau punya hak untuk mendapatkan kebahagiaanmu sendiri," kata Cloud seraya tersenyum.


Kata-kata Cloud begitu membekas di hati Andelin. Iapun segera memeluk pangeran sulung itu dengan linangan air mata yang perlahan menetes.


"Terima kasih, Pangeran Cloud. Akan kuingat kata-kata darimu ini."


Andelin meneteskan air matanya karena terharu dengan ucapan Cloud. Ternyata pangeran sulung ini bukanlah seorang pria yang mudah tergoda dengan gadis lain. Ia begitu berkomitmen dengan hatinya sendiri.


Cloud menepuk punggung Andelin, ia segera melepaskan diri dari pelukan putri itu. Cloud kemudian mengantarkan Andelin pulang sampai di depan pintu gerbang kerajaan dan tanpa bersentuhan sedikit pun.


...


Kini Andelin menyadari sesuatu. Cloud telah memberikan pelajaran berharga baginya. Ia tampak tersenyum saat mengingat pangeran itu.


"Terima kasih karena telah merubah sudut pandangku tentang dunia ini."


Andelin lalu menutup harinya dengan doa. Ia berharap seseorang akan datang dan mau mencintainya dengan tulus. Bukan karena ia seorang putri ataupun karena memiliki paras yang cantik.


Sungguh beruntung gadis yang bernama Ara itu...

__ADS_1


Dedaunan istana kerajaan Aksara menyapa siangnya yang sepi. Andelin akhirnya merubah sudut pandangnya tentang kerajaan. Kini ia tidak mau lagi menuruti perintah sang ayah yang terlalu memaksakan kehendak. Ia punya hak untuk meraih kebahagiaannya sendiri.


__ADS_2