
Cloud berjalan menuju kamarnya. Malam yang dingin membuat Cloud ingin segera beristirahat. Tersirat kelelahan dari wajah tampannya itu.
Sesampainya di kamar, Cloud segera melepas jubahnya. Dia kemudian merebahkan diri di atas kasur, mencoba menutup kedua matanya sambil menarik napas panjang.
"Ara ... aku rindu padamu."
Dalam helaan napasnya, ia teringat akan seorang gadis yang pernah menemaninya tidur di atas kasurnya ini. Ia lalu menarik tirai penutup langit-langit atapnya seraya mengambil sesuatu dari laci meja kecil yang berada di samping kasurnya itu.
"Entah mengapa, aku tidak bisa melupakanmu, Ara. Di setiap malam sebelum tidur, aku selalu mengingat dirimu."
Ia berkata seraya memperhatikan jepit kupu-kupu berwarna hijau zamrud yang biasa Ara pakai saat di istana.
"Sedang apa kau di sana? Apakah Rain berhasil membawamu kembali ke sini?" tanyanya sendiri.
Cloud kembali memejamkan kedua mata hingga rasa kantuk itu mulai memaksanya untuk segera terlarut dalam mimpi. Sambil memegangi jepit itu, iapun tertidur di tengah keheningan malam ini.
"Selamat tidur, Ara," ucapnya sebelum terlelap dalam mimpi.
Beberapa waktu yang lalu...
Cloud berlari ke perpustakaan istana. Ia tampak tergesa-gesa mencari sesuatu.
"Di mana buku itu?"
Wajahnya tampak panik, napasnya kian memburu. Sepertinya ia harus cepat menemukan buku yang dimaksud.
"Dapat!"
Buku tebal berwarna hitam itu akhirnya ditemukan. Cloud lantas membawa buku itu ke meja baca. Ia segera membuka lalu membacanya.
"Penjaga bukit pohon surga?"
Sesaat ia termenung, napasnya kini mulai stabil. Ia tidak lagi panik setelah mendapatkan buku itu. Cloud pun terus membaca cepat isi dari buku berwarna hitam yang ada di hadapannya. Terlihat matanya melirik ke kanan dan kiri saat membaca isi buku itu. Dan beberapa saat kemudian, ia bergegas meninggalkan perpustakaan istana.
Cloud berjalan menuju halaman belakang istana sambil membawa buku hitam itu. Beberapa pengawal membungkukkan badannya, memberi hormat kepada putra mahkota kerajaan ini.
"Siapkan kuda putihku," pintanya kepada seorang prajurit.
Tak lama, kuda putihnya datang dan dengan segera Cloud menaiki kudanya untuk menuju suatu tempat.
Aku harus cepat, ucapnya dalam hati.
Cloud melajukan kudanya menuju sebuah bukit yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk. Ia melewati hutan seorang diri, tanpa pengawalan apapun. Hatinya seperti tergesa-gesa untuk menemui sesuatu.
Sesampainya di bukit, Cloud segera turun dari kudanya lalu berjalan mendekati pohon besar yang ada di bukit itu. Sebuah pohon yang selalu menjadi tempatnya bermain sewaktu kecil. Cloud lantas melihat ke sekeliling.
"Tetua Agung! Aku datang untuk menemuimu!"
__ADS_1
Cloud memanggil seseorang sambil memegang buku hitam itu dengan tangan kirinya. Namun, tidak ada respon apapun yang terjadi. Cloud lalu membuka bukunya kembali.
"Meditasi? Hah, Baiklah."
Dia kemudian duduk di depan pohon besar itu sambil mengikuti semua langkah dari buku yang ia baca.
Perlahan-lahan sesuatu kemudian terjadi, keadaan sekitar berubah menjadi gelap. Cloud seperti berada di tempat lain. Di ruang dan waktu yang berbeda...
Beberapa saat kemudian...
"Kau memanggilku, Anak Muda?"
Sosok berambut putih muncul di hadapan Cloud sambil memegang sebuah tongkat kayu. Cloud lalu membuka kedua matanya dan ia melihat sekeliling seperti berkabut tebal.
"Apakah Engkau Tetua Agung yang diceritakan dalam buku ini?" tanya Cloud kepada sosok berambut putih itu."
"Ya, benar. Aku datang memenuhi panggilan hatimu. Ada apa?" tanya sosok itu.
"Tetua Agung. Jika benar ini adalah dirimu, sepertinya aku tidak perlu menyebutkan apa tujuanku ke mari." Cloud memastikan.
"Kau anak muda yang pintar. Aku memang sudah tahu akan maksud tujuanmu datang kemari. Tapi lebih baik aku menanyakannya agar mendengar jawaban langsung darimu."
Cloud terdiam sejenak. Dia kemudian mengutarakan maksud hatinya ke sini.
"Tetua Agung. Tanpa mengurangi rasa hormat, aku ingin bertanya kepadamu."
"Aku ... bermimpi buruk. Istana diserang dan terjadi pertumpahan darah di sana. Ayah dan ibuku juga menjadi korban. Apakah mimpi itu benar?" tanya Cloud memastikan.
"Jadi ... semesta telah memberi tahumu?"
"Tetua Agung, tolong beri tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin mimpi itu terus-menerus menggangguku." Cloud memohon.
Sosok berambut putih itu kemudian berjalan membelakangi Cloud. Cloud pun segera berdiri untuk menahan. Ia pikir sosok itu akan pergi.
"Mimpimu benar, Nak. Mimpi yang terjadi berulang kali itu mengisyaratkan jika semesta menginginkan kau merubahnya," jawab sosok itu seraya membelakangi Cloud.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Cloud lagi.
"Semua yang kau lakukan mempunyai resiko tersendiri. Apa kau siap menerimanya?"
"Maksudmu?" tanya Cloud lagi.
"Ada dua pilihan yang dapat kau jalani. Yaitu ...."
Tiba-tiba saja kabut di sekeliling menghilang. Dan kini Cloud seperti berada di atas langit. Iapun berpegangan pada pohon di bukit itu karena takut terjatuh.
Apakah pilihan yang dimaksud?
__ADS_1
Cloud tidak sabar menunggu sosok itu menjelaskan. Ingin rasanya ia berteriak karena ingin menyudahi pertemuan ini. Namun, hatinya membutuhkan kepastian dari sosok itu agar ketenangan batin ia dapatkan.
Cloud bermimpi buruk tentang kerajaannya. Ternyata mimpi itu sudah dituliskan di dalam sebuah buku yang tersimpan di perpustakaan istana. Sebuah ramalan akan masa depan yang begitu mencemaskannya. Sehingga ia memberanikan diri untuk menemui penjaga bukit pohon surga seorang diri.
"Pilihan pertama, kau menghadapinya. Namun, mimpimu akan menjadi kenyataan." Sosok itu meneruskan.
"Tidak! Aku tidak mau itu terjadi," kata Cloud.
"Jika kau tidak ingin hal itu terjadi, maka kau harus memilih yang kedua."
"Apa itu, cepat katakan kepadaku, Tetua Agung!"
Cloud sudah tidak sabar menunggu. Sosok itupun berbalik menghadap Cloud.
"Kau harus menemui seorang gadis yang memiliki nama yang sama dengan pohon ini," lanjut sosok itu.
"Pohon ini? Tin atau Ara?" tanya Cloud lagi.
"Ara. Dia berada di tempat yang jauh dari negeri ini."
"Lalu bagaimana aku bisa ke sana?"
"Jika kau ingin, aku bisa mengantarkannya. Tapi ada risiko yang harus kau ambil," lanjutnya.
"Risiko apa? Aku tidak peduli risiko itu selama dapat menyelamatkan negeriku ini," kata Cloud berapi-api.
Sosok itu kemudian tersenyum. Dia melihat kesungguhan yang tersirat dari wajah Cloud. Sosok itu lalu memberikan sesuatu kepada Cloud.
"I-ini ...?"
Cloud tidak percaya dengan apa yang diterima olehnya. Sebuah jepit kupu-kupu ia terima dari sosok yang disebutnya sebagai Tetua Agung itu. Ia tampak tertegun.
"Pakaikan jepit ini pada gadis yang kau temui nanti. Tapi jangan tanganmu langsung yang memakaikannya. Mintalah bantuan orang lain. Jika memang benar gadis itu yang dimaksud, maka jepit ini akan selalu bersamanya. Tidak akan terlepas kecuali keadaan mendesak."
Cloud tampak tidak mengerti.
"Ak-aku ...,"
"Datanglah kemari pada Jumat pagi sebelum bintang fajar menghilang. Aku akan mengantarkanmu untuk menemuinya."
"Ba-baik."
"Gunakan pakaian serba putih untuk menandakan jika kau adalah tamu di dunianya. Namun, harus kau ingat. Ada risiko di balik semua ini."
Sosok itu kemudian pergi meninggalkan Cloud. Tiba-tiba penglihatannya menjadi kabur. Dan iapun tersadar dari alam bawah sadarnya.
"Ini sungguhan?"
__ADS_1
Cloud tak percaya. Saat ia tersadar, dilihatnya jepit kupu-kupu itu sudah berada di tangan kanannya.