Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Making Love


__ADS_3

Selepas berekreasi di waterboom, kamipun segera kembali ke rumah. Di perjalanan, ternyata Adit lah yang mabuk. Dia meminta ayah memberhentikan mobil saat sudah sampai di pertengahan jalan. Ibupun segera memberikan obat anti mabuk kepada Adit.


"Tu, kan. Dia ngomongin orang ternyata malah dia sendiri yang mabuk," celotehku.


"Sudah, Ara. Nanti lagi." Ibu mengingatkanku.


"Baiklah, Bu." Akupun diam.


"Sini, Dit. Biar Kak Rain pijat sebentar."


Kulihat Rain begitu cepat tanggap melihat situasi ini. Dia segera memijat punggung adikku agar rasa mual yang diderita Adit itu berkurang. Dan dalam sekejap, kedua orang tuaku semakin menaruh hati kepadanya.


Sesampainya di rumah...


Setibanya di rumah, aku segera menuju kamar untuk beristirahat. Rasanya tubuhku ini begitu lelah sekali. Belum lagi pikiran yang menumpuk karena skripsi. Lengkap sudah.


Kurebahkan tubuhku di atas kasur sambil mendengarkan lagu All That I Need milik Boyzone. Kulihat jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul tiga sore.


Malam harinya...


Aku terbangun, kulirik jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Akupun mencoba untuk bangkit dari kasur. Namun, ada sesuatu yang mengagetkanku. Saat mencoba bergerak, tubuhku terasa sesak, kasurku juga begitu sempit sekali. Ternyata...


"Astaga, Rain?!"


Aku terkejut kala mendapati Rain tengah tertidur di sampingku. Dia memelukku dari belakang, membuat tubuhku ini kesulitan untuk bangun. Aku kemudian mencoba untuk membalikkan badan, menghadap ke langit-langit kamar.


"Rain, Rain ...."


Aku membangunkannya dengan suara yang pelan, seperti berbisik. Karena tidak mungkin berteriak di larut malam seperti ini.


"Rain, bangun!"


Kucoba untuk menyentuh tangannya lalu mengguncang tubuh atletisnya itu.


"Rain!"


Rain kemudian tersadar. Perlahan dia membuka kelopak matanya dan melihatku.


"Ara ...."


"Rain, mengapa kau tidur di sini?" tanyaku heran.


Jarak pandang kami begitu dekat, mungkin hanya sekitar dua jengkal saja. Secara Rain berada di sampingku saat ini. Dia merebahkan tubuhnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Adit sedang tidak enak badan. Kubiarkan dia tidur sendiri lalu aku tidur di sini."


"Rain, ini mencari mati namanya!" seruku dengan suara tertahan.


"Tenang saja. Ayah dan ibu sudah tidur sejak tadi," bantahnya.


"Bagaimana kalau bangun dan melihat kita?"


"Tak apa, tinggal dinikahkan saja."


"Rain, tidak semudah itu."


"Sudahlah, Ara. Aku masih mengantuk."


Rain malah menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya. Kini jarak kami semakin dekat. Kulihat wajahnya begitu rupawan sekalipun sedang memejamkan kedua mata. Akupun menikmati pemandangan ini.


"Rain ...."


Dia seperti menyadari akan sikapku yang sedang memperhatikannya. Rain mengusap lembut pipiku lalu disingkapkannya rambutku ini ke belakang telinga. Sesaat kurasakan geli di tubuhku.


"Ara ...."

__ADS_1


Dia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mengangkat sedikit kepala lalu mencoba meraih bibir ini.


"Mmh?!"


Dia mengecupnya sambil memegang tengkuk leherku. Kurasakan sensasi merinding di sekujur tubuhku ini. Aku seolah tidak mampu untuk melawan kehendaknya.


Rain ....


Semakin lama ciumannya semakin menuntut. Dia berulang kali menekan bibir ini dengan bibirnya. Dan perlahan tubuhnya mulai naik ke atas tubuhku.


"Rain ... jangan!"


Entah apa yang merasukinya, Rain tidak menggubris perkataanku. Dia kemudian memegang kedua tangan ini sambil tetap berada di atas tubuhku. Bibirnya perlahan merayap ke pipi lalu ke leherku. Sungguh tidak dapat kutahan sensasi ini. Tubuhku bergetar kecil saat bibir lembutnya itu menciumi leherku.


"Rain ... jangan ...."


Aku masih mengenakan baju rajutan lengan panjang berwarna merah muda dan juga celana dasar ketat berwarna hitam. Rain juga masih mengenakan kaus pas badannya berwarna cokelat dan celana gunung hitamnya. Tapi tetap saja walaupun pakaian kami tertutup, atmosfer kamar berubah erotis seperti ini.


Rain kemudian membalikkan tubuhku. Tubuhku kini telengkup di bawahnya. Dia kemudian menciumi tengkuk leherku dari belakang sambil menggenggam kedua tanganku.


"Rain, hentikan, ah!"


Sensasi yang kurasakan sungguh luar biasa. Sekujur tubuhku merinding dibuatnya. Zat kimia dari dalam tubuhku pun ikut bereaksi.


"Ara, lepaskanlah. Jangan ditahan."


Suaranya berbisik di telinga kiriku. Dia kemudian mengembuskan napasnya ke telingaku ini.


"Aaah!"


Aku tidak mampu untuk menahan hasrat ini. Nafsuku mulai mengendalikan pikiran. Tubuhku pun seakan tidak dapat dikendalikan.


"Rain, sudah! Hentikan, kumohon," kataku, sambil menahan hasrat yang menggelora.


"Rain, kau ini, ya!"


Aku kesal dan juga tidak mampu untuk menahan hasrat ini lagi. Kudorong dirinya lalu segera duduk di atas perutnya itu.


"Ara ...."


Rain tampak terkejut dengan pembalasanku. Namun, dia juga seperti menginginkannya. Tersirat dari wajahnya yang mesum itu.


"Kau nakal, Rain!"


Aku mulai beraksi, membalasnya dengan balasan yang setimpal. Kubuat Rain melenguh hebat namun tertahan di bibirnya.


"Ara, mmmhh!"


Kulihat Rain memejamkan kedua mata. Lenguhan-lenguhan kecil itupun terdengar dari bibir manisnya.


"Ara, mmmmh. Aku mau ...," ucapnya tertahan lalu terasa getaran kecil dari tubuhnya itu.


Dia sudah sampai di puncak?


Aku tak percaya jika secepat ini tubuhnya merespon. Mungkin karena baru pertama kali sehingga dia belum bisa mengendalikan diri.


Rasakan! gerutuku dalam hati.


Setelah melakukan pembalasan, kulihat Rain terbaring lemas tak berdaya. Dadanya terlihat naik-turun seolah kehabisan udara. Rain berulang kali menelan ludahnya.


Ekspresinya begitu lucu.


Tak ingin berlama di dalam kamar bersamanya, aku kemudian keluar menuju dapur untuk mengambil cemilan. Namun ternyata, Rain mengikutiku sambil berjalan terpincang-pincang. Dia kelihatan lemas sekali.


"Ara."

__ADS_1


"Apa? Mau lagi?" tanyaku.


Rain menggelengkan kepalanya. "Beri aku waktu sejenak."


"Dasar mesum!" kataku.


"Tidak apa. Asal bersamamu, aku mau," jawabnya yang sontak membuatku menyumpal mulutnya itu dengan kerupuk yang kupegang.


Pagi harinya...


"Selamat pagi, Sayang."


Rain datang memelukku dari belakang lalu mengecup bahuku ini. Kedua tangannya pun ikut melingkar di perutku.


"Rain, singkirkan tanganmu itu cepat!" pintaku.


"Tidak mau," sahutnya.


"Rain, ayah bisa membunuhku karena ulahmu ini," sergahku.


"Hah, baiklah. Tapi berikan aku satu kecupan di bibir."


"Rain!"


Aku berusaha menolak, tapi Rain dengan cepat mengecup bibirku ini.


Dia itu benar-benar, ya!


Semakin hari, Rain semakin berani saja. Dia benar-benar pria yang mesum.


"Ara, aku mau cerita."


Rain lalu menjauh setelah mendapatkan bibirku ini. Dia mengambil kursi dan duduk di dekatku. Aku yang sedang menggoreng telor untuk sarapan, otomatis membelakangi dirinya.


"Cerita tentang apa?" tanyaku.


"Tapi ini terlalu vulgar," jawabnya.


"Hah, Rain. Bagaimana, sih? Mau cerita, tidak?" tanyaku lagi.


"Iya, iya. Aku cerita."


Rain berkata sambil menarikku untuk duduk di pangkuannya. Dia mendekapku dari belakang.


"Lepaskan, Rain!"


Rain tidak henti-hentinya menggodaku. Dia seperti haus akan sentuhanku ini.


"Ara, kita menikah saja, yuk!" ajaknya.


"Belum bisa, Rain. Bersabarlah."


"Aku tidak dapat menahan hal ini lebih lama lagi, Ara."


Rain curhat. Aku jadi bingung harus menjawab apa kepadanya.


"Mau, ya?"


"Ehem!"


Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang berdehem. Rain kemudian melepaskan dekapannya.


Astaga ... matilah aku jika itu adalah suara ayah.


Jantungku berdetak kencang saat mendengar suara itu. Tubuhku pun terasa berat untuk berbalik, melihat siapa gerangan yang datang dan berdehem kepada kami.

__ADS_1


__ADS_2