
"Kak Ara, sakit tahu!"
Aku sedang sibuk dengan adikku yang satu ini. Kujewer telinganya karena telah berani menyambung perkataan yang membuat ayah dan ibu murka kepadaku. Dia benar-benar membuatku kesal. Aku memarahinya di teras depan rumah.
"Kau ini, ya! Bagaimana kalau Ayah marah, Adit?!" tanyaku kesal.
"Maaf, Kak. Adit hanya meneruskan perkataan Kak Rain tadi pagi."
Adit memegang telinganya yang kujewer. Kasihan juga, sih. Tapi aku hampir pingsan saat mendengar dia menyambung kata-kata tadi. Hampir saja ayah memarahiku.
"Ya, sudah! Jangan lagi-lagi. Kalau masih, nggak Kakak kasih jajan sebulan. Biar tahu rasa!" ancamku.
"Iya, iya. Maaf."
Adit lalu pergi meninggalkanku. Dia melewatiku yang masih terbawa rasa kesal. Kalau bukan adik saja, sudah kuacak-acak pastinya.
"Jangan marah-marah, Sayang."
Rain mengagetkanku dari belakang, akupun segera berbalik melihatnya yang sedang menyandar di sisi pintu. Ternyata aku kepergok dirinya saat marah-marah seperti ini.
"Rain, tadi itu—"
"Aku tidak masalah dengan perkataan Adit, Ara. Malahan aku menunggu respon dari Ayah."
Rain berjalan mendekatiku. Dia terlihat biasa-biasa saja, malahan tersenyum senang.
"Ih! Kau juga sama menyebalkannya!" kataku.
"Ampun, Nona. Jangan masukan daun lagi ke mulut hamba."
Dia memelas, berlaga seperti seorang pelayan kepada tuannya. Melihat hal itu, tiba-tiba saja mood-ku berubah. Aku seperti ingin tertawa.
"Apaan sih, Rain?!"
Aku jadi geli sendiri. Rain pun tertawa melihat roman wajahku yang risih. Dia lalu menggenggam kedua tanganku seraya menatap dalam kedua mata ini.
"Ara ... aku mencintaimu."
Rain ....
Rain mengatakannya. Hatiku seketika berbunga-bunga dibuatnya. Sampai-sampai tidak tahu harus menjawab apa.
Malam ini malam yang indah untukku. Bulan bersinar dengan terang. Cahayanya begitu menghangatkan udara yang dingin. Seperti perkataan Rain yang menghangatkan hati ini.
Dia kemudian merangkulku, menyandarkan kepalaku di bahu kanannya sambil menatap bulan dari teras depan rumah. Bersamaan dengan itu, buah tin-ku jatuh.
"Rain!"
Aku terkejut, Rain pun ikut terkejut. Dia segera mengambil buah tin yang jatuh itu dan aku mengikutinya dari belakang.
"Ara, apakah ini pertanda?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Pertanda? Pertanda apa?" Aku bingung.
"Pertanda hubungan kita direstui Yang Maha Kuasa," jawabnya yakin.
"Rain!"
Kucubit lengan kanannya dan diapun terlihat kesakitan. Segera saja kuambil buah tin yang jatuh untuk pertama kali itu.
Aku memang mencangkok buah tin semenjak kepulanganku ke dunia ini. Dua tahun berlalu, buah tinku kini sudah berbuah dan malam ini untuk yang pertama kalinya buah tin ini jatuh.
Entah mengapa, aku juga tidak mengerti. Kenapa jatuhnya harus menunggu Rain datang? Mungkin benar pertanda hubunganku direstui atau memang sudah waktunya dia untuk masak. Entahlah...
Esok harinya...
Pagi hari aku sudah terbangun. Kali ini aku sudah sibuk membuatkan sarapan untuk ayah dan ibu. Di dapur, ibu menggodaku. Ibu terlihat bahagia sekali hari ini.
"Akhirnya yang ditunggu datang juga, ya."
Ibu melewatiku begitu saja. Kulihat ibu baru saja selesai mandi.
"Dia Rain, Bu. Bukan Cloud."
"Tapi sama saja, kan? Kakak atau adiknya?" goda ibuku.
"Ah, Ibu. Jangan menggodaku."
Perasaanku mulai tak enak. Ayah juga datang lalu segera duduk di depan meja makan. Dia membaca koran sambil menunggu sarapan dariku. Namun, ayah diam saja. Kubuatkan secangkir kopi untuk meredakan ketegangan yang tiba-tiba terasa di antara kami.
"Dia belum bangun, Ara?" Ayah seperti menanyakan Rain.
"Belum, dia terlihat sangat lelah. Maklumlah, perjalanan jauh ke sini, Yah."
Aku berusaha mencairkan suasana. Kulihat ayah mulai meneguk kopinya. Dia lalu melanjutkan membaca koran hari ini.
"Nanti malam, Ayah ingin mengobrol lanjut dengannya. Bisa, kan?"
"Pasti mengenai ucapan Adit."
"Ya, itu juga. Ayah ingin memperjelas saja, Ara."
"Tapi, Yah—"
"Sudah, tenang saja. Ayah tidak akan melewati garis, kok."
Aku sedikit khawatir jika ayah sudah mengambil alih. Terlebih Rain orangnya seperti itu. Aku khawatir ayah meminta Rain untuk melamarku, sedang aku belum siap sama sekali. Walaupun hal ini pasti sangat diinginkan olehnya.
Aduh, bisa gawat jika ini sampai terjadi.
Aku paham benar bagaimana ayah. Terlebih di usiaku yang sudah 21 tahun ini. Pasti ayah meminta ke arah sana. Ya daripada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Sudah selesai, Ara?"
__ADS_1
Ibu lalu datang membantuku untuk membawa sarapan ke meja makan. Kami lalu sarapan bersama. Setelahnya, ayah dan ibu segera pergi ke pasar. Kulihat jam baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi ayah dan ibuku sudah berlalu menjemput rezeki.
"Baiklah, hari ini Anggi di rumah bersamaku."
Aku lalu menuju kamar ayah dan ibu. Kulihat adik bungsuku masih tertidur pulas. Kuusap kepalanya lalu kuselimuti tubuh kecilnya itu. Aku kemudian menuju halaman depan untuk dibersihkan. Hari Minggu ini kuhabiskan waktu di rumah bersama adik-adikku.
Beberapa saat kemudian...
Setelah menyapu halaman depan dan belakang rumah, Kurebahkan sebentar tubuhku di kursi bambu yang ada di teras belakang. Kunikmati sejuk udara pagi ini. Tanpa terasa, akhirnya terlelap dalam mimpi.
"Astaga! Aku ketiduran!"
Kulihat matahari sudah bersinar sangat terang. Rupanya aku benar-benar ketiduran dan entah sudah berapa lama. Aku lalu bergegas ke dalam melihat yang lain, dan kulihat Adit sudah bersama Anggi sedang belajar di ruang TV.
"Anggi sudah mandi?" tanyaku kepada Adit.
"Sudah, Kak Ara. Adit yang mandikan." Adit menyahuti.
"Sudah makan kalian?" tanyaku lagi.
"Sudah, Kak." Keduanya menjawab dengan serempak.
Tak lama, kulihat Rain keluar dari dalam kamar mandi.
"Rain—"
"Kau sudah bangun, Ara?"
"Hem, iya."
"Tadi aku melihatmu masih tertidur. Jadi aku biarkan saja."
Rain berjalan melewatiku. Dia lalu menuju kamar untuk mengenakan pakaian.
"Iya, aku ketiduran tadi."
Mungkin karena terlalu lelah, aku sampai tidak sadar jika ketiduran. Untungnya kompor sudah dimatikan dan pintu depan sudah dikunci. Jadi walaupun ketiduran, masih aman.
Lebih baik aku juga mandi.
Aku bergegas mandi sebelum hari semakin siang. Melepaskan lelah sejenak dengan mendinginkan tubuh yang sudah terasa gerah.
Setengah jam kemudian...
Mengenakan baju rajutan lengan panjang berwarna cokelat muda dengan celana pensil berwarna biru, membuat penampilanku terlihat lebih modis. Tak lupa sandal setinggi tiga senti kupakai agar menambah tinggi tubuhku.
Di sini aku hanya mengenakan tabir surya untuk memoles wajah dan melindungi kulit tubuhku dari paparan sinar matahari. Tidak seperti saat berada di istana, aku harus bermake-up walaupun itu minimalis.
Aku juga selalu menggunakan parfum cokelat kesukaanku. Namun, tidak terlalu banyak, hanya sekedarnya saja. Apalagi untuk di dalam rumah, mungkin hanya satu atau dua semprot.
"Sudah cantik," ucapku saat melihat pantulan diri di cermin.
__ADS_1