Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
You are Naughty


__ADS_3

"Kau curang!"


Aku bangkit dari dadanya. Lalu duduk memasang ekspresi kesal.


"Ara ...."


Suaranya seperti sedang memohon, lembut sekali. Namun, aku jual mahal. Ya, hitung-hitung ini pembalasanku atas apa yang dia lakukan di awal pertemuan kami.


"Jangan marah ...."


Rain memberatkan kepalanya di pundak kiriku lalu memelukku dari belakang. Hangat napasnya begitu terasa di permukaan kulit pundakku ini.


"Ara, punyamu besar juga, ya?"


Seakan waktu terhenti saat Rain berkata seperti itu. Aku sampai lupa jika mengenakan gaun yang bagian atasnya terbuka. Dia bisa melihat dadaku dari atas dengan jelas.


"Hei!"


Aku mendorongnya dan dia pun terjatuh. Kasihan, sih. Tapi aku cemas akan nasibku sendiri. Pikiran yang aneh-aneh mulai menyelimutiku, membuat pertahanan diri secara otomatis berfungsi.


"Ara. Kau kenapa? Tiba-tiba mendorongku. Sakit tau!"


Aku kasihan juga pada Rain. Dia tidak punya persiapan sama sekali. Aku bergerak begitu cepat tadi. Aku jadi merasa bersalah.


"Ma-maaf, Rain," kataku kepadanya.


Aku menyesal melakukan itu. Aku telah menyakitinya. Tidak seharusnya aku begini. Padahal tadi aku sudah berniat untuk tidak melawan dan mengikuti alurnya saja.


"Rain, kupijat bahumu, ya."


Aku kemudian berjalan memutarinya. Kududuk di belakangnya sambil mulai memijat tubuhnya yang sakit. Rain tidak berkata apapun saat kupijat, aku juga tidak dapat melihat ekspresinya.


"Hei, Ara. Kau tahu pohon apa di belakang kita ini?" tanyanya sambil menikmati pijatanku.


"Aku seperti pernah melihatnya tapi aku lupa," jawabku."


"Ini pohonmu, Ara." Rain melanjutkan.


"Hah? Pohonku?!" Akupun kaget mendengarnya.


Rain kemudian membalikkan tubuhnya menghadapku.


"Iya ini pohon Ara atau pohon Tin."


"Oh, jadi ini adalah pohon yang menghasilkan buah tin itu, ya?" tanyaku lagi.


"He-em." Rain mengangguk. "Buahmu memang tidak sangat besar tapi cukup untukku."


Apa?!!!


Rain lagi-lagi memancingku. Sepertinya aku harus melakukan perlawanan kali ini. Dia berulang kali menggodaku. Rasanya aneh jika aku tidak mencoba untuk melawannya. Walau sedikit vulgar, aku akan mencobanya.


"Maksudmu buah yang ini?"


Aku menurunkan sedikit gaunku di bagian dada dengan jari telunjuk, sehingga terlihatlah belahan dadanya. Rain tampak terkejut. Setelahnya kudorong pelan dirinya agar tidur terlentang.


"Ara ...."


Suara Rain terdengar melemas, aku segera membelai rambutku ke samping kanan lalu mendekatinya.

__ADS_1


"Rain, kau menginginkannya?"


Intonasi pertanyaan sengaja kubuat erotis. Aku menggigit bibirku di depannya. Rain diam dan tidak bergerak sedikit pun. Tersirat dari wajahnya jika dia menginginkan sesuatu.


Aku kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya. Perlahan-lahan, sengaja kulambatkan. Semakin dekat hingga terasa hangat napasnya di pipiku. Rain pun memejamkan kedua matanya, dia terlihat pasrah.


Aku begitu menikmati pemandangan ini. Seusiaku tentunya sudah mengerti akan hal seperti ini. Lucu juga sih melihat ekspresi Rain. Dia pikir aku akan menciumnya, padahal...


...


Kujauhkan diriku segera dengan tanpa suara. Kulihat Rain membuka kedua matanya karena lama tak ada pergerakan dariku. Dan dia melihatku sudah berada jauh dari sisinya.


"Ara!"


Sepertinya aku berhasil membuatnya kesal hari ini. Terlihat dari jauh, raut wajah Rain yang merah padam. Aku pun tertawa.


"Awas kau, ya!"


Rain lalu bangkit, dia segera mengejarku. Aku pun sudah siap untuk dikejarnya.


"Ara!"


Aku berlari memutari pohon tin yang besar itu dengan berlawanan arah jarum jam. Rain kulihat masih berusaha menangkapku dari belakang.


"Ara! Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini!"


Aku tertawa, kujulurkan lidahku ke arahnya pertanda mengejek.


"Nananana. Wee!"


Rain semakin kesal, kami berputar. Aku tidak dapat menahan tawaku. Kami terus berkejaran sampai aku tidak kuat lagi. Aku pun merasa lelah, Rain kemudian segera menangkapku.


Rain menangkapku dari belakang sementara aku masih tertawa.


"Ma-maaf," kataku lalu tertawa lagi.


"Tidak ada kata maaf hari ini."


Rain kemudian membalikkan tubuhku menghadapnya.


"Kau ini, nakal sekali. Sudah membuat celanaku sempit, tahu!" ucapnya pelan sambil melirik ke arah kanan dan kiri.


"Iya. Aku janji tidak lagi."


Pipiku ditekan oleh kedua tangannya, kemudian Rain mencubit hidungku pelan.


"Sakit, Rain!"


"Pelan, Ara."


"Sakit kalau mencubitnya di hidung maksudku." Aku terkekeh kecil.


"Kau ingin dicubit di bagian mana?" tanyanya.


"Di mana, ya ...?" Kedua bola mataku berputar seolah-olah berpikir.


Rain kemudian menarik tubuhku. Dia mendekapku. Dia sandarkan kepalaku di dadanya. Kurasakan hangat tubuhnya membakar hasratku.


"Ara, berjanjilah untuk bersamaku. Hari ini aku tidak ingin membohongi perasaanku lagi."

__ADS_1


"Rain ...."


"Aku membutuhkanmu, Ara."


Ucapan itu membuatku tersenyum bahagia. Haruskah aku menjawabnya?


Rain mengecup kepalaku lagi. Dia menyalurkan semua perasaannya kepadaku. Kedua tanganku kemudian melingkar di pinggangnya. Aku membalas pelukan Rain dan memeluknya dengan erat. Seakan-akan aku juga tidak ingin kehilangan dirinya.


Perjalanan hati bersamanya membuatku merasa betah tinggal di dunia ini. Apakah setelah pekerjaanku selesai nantinya, aku diharuskan kembali ke duniaku? Rasanya aku begitu takut kehilangan Rain. Dia selalu ada untukku semenjak awal pertemuan kami. Walaupun dia menjagaku dalam sikapnya yang menyebalkan, namun rasa itu mulai tumbuh dan merekah, menaiki langit-langit hati.


Rain... Andai bisa kubilang bahwa aku menyayangimu.


Kupejamkan kedua mata, kunikmati saat berada di dalam pelukannya. Rasanya begitu bahagia. Seolah-olah dunia ini hanya ada kami berdua.


Rain tidaklah seburuk yang kukira. Di balik keangkuhannya tersimpan rasa sayang yang begitu besar. Dan aku menyukainya.


Beberapa menit kemudian...


Kami semakin dekat satu sama lain. Aku mulai membuka lebar-lebar pintu hatiku untuknya. Tak terasa jika kami sudah berada cukup lama di atas bukit ini. Mungkin sudah dua atau tiga jam berlalu. Akupun merasa lapar.


"Rain, aku lapar," kataku padanya tanpa malu.


"Kau belum makan, Ara?"


Aku menggelengkan kepala. Sedari pagi aku belum sempat makan. Kedua tanganku memegangi perutku yang kosong.


"Ara, aku juga tidak membawa makanan. Bagaimana, ya?" Rain bingung.


"Kalau air minum, bawa?" tanyaku memelas.


"Air minum selalu kubawa, tapi entah mengapa aku lupa hari ini."


"Rain!!!"


"Ja-jangan masukkan daun ke mulutku lagi, Ara. Tolong ...."


Rain membuatku tertawa. Ternyata dia masih ingat akan kejadian waktu itu. Rasanya aku mulai suka mempermainkan ekspresi wajahnya ini.


"Terus gimana? Bisa kau ambilkan aku satu buah dari pohon ini?" tanyaku sambil menunjuk pohon tin itu.


"Em, aku tidak berani."


"Kenapa?"


Terlihat raut wajah Rain yang cemas. Aku pun ikut khawatir, jangan-jangan ada sesuatu yang tersembunyi di sini.


"Lancang bagiku mengambil buah tanpa izin, Ara."


"Oh. Jadi begitu. Lalu kepada siapa kita harus minta izin?" tanyaku penasaran.


"Kepada pohonnya sendiri," jawab Rain.


"Hah?! Kau serius?"


"Aku serius. Kakek selalu mengingatkanku untuk tidak memetik buah dari pohon ini sembarangan. Biarkan buahnya jatuh sendiri, baru boleh dimakan."


"Kelamaan, Rain."


"Tapi kakek sudah memperingatkanku sedari kecil, aku tidak berani melakukannya. Jika buah ini jatuh sendiri, maka berarti dia tulus memberikannya kepada kita. Tapi kalau kita yang ambil, berarti kita mengambil sesuatu darinya tanpa izin. Dan hal itu bisa membuat pohon ini marah."

__ADS_1


Rain mulai menceritakan kisah mistik kepadaku. Aku baru tahu jika di sini seperti itu. Rasanya aku harus lebih banyak belajar lagi tentang duna ini.


__ADS_2