
Keesokan paginya di istana...
Pagi hari ini sedikit mendung. Sepertinya hari ini hujan akan turun. Awan-awan hitam berarak menyapa para penghuni istana kerajaan Angkasa.
Pangeran sulung kerajaan ini tampak sedang merapikan meja kerjanya. Berkas-berkas penting itu ia simpan baik di dalam lemari khusus. Tak lama, terdengar suara pintu ruangannya terketuk dari luar.
"Masuk!" Cloud mempersilakan masuk.
Pria paruh baya mengenakan pakaian kerajaan berwarna hijau, datang menghampirinya. Pria itu tampak memberi hormat kepada putra mahkota ini.
"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud," sapanya seraya membungkukkan badan.
"Terima kasih, Tuan Count."
Ia adalah Menteri Dalam Negeri kerajaan ini. Usianya terbilang hampir sama dengan sang raja. Ia juga merupakan seorang yang handal dan dipercaya oleh Raja Sky, ayah Cloud sendiri.
"Anda memanggilku, Pangeran?" tanyanya sopan.
"Hm, iya. Hari ini aku ingin beristirahat sejenak dari rutinitasku. Bisa bantu menggantikanku untuk sementara waktu?" tanya Cloud seraya memasukan berkas-berkasnya ke dalam lemari.
"Tentu, Pangeran. Dengan senang hati saya akan membantu," jawab Count.
"Terima kasih. Jika ada berkas yang masuk, letakkan saja di atas meja. Nanti aku akan membacanya."
Count mengangguk. Putra mahkota itupun segera berpamitan dan meninggalkan ruangan. Langkah kakinya terdengar di antara lantai keramik istana yang begitu bersih nan berkilauan.
Hari ini Cloud berniat pergi ke bukit pohon surga, ia ingin menenangkan dirinya di sana. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya tampak memberi salam seraya membungkuk hormat. Cloud pun tersenyum membalasnya seraya mengangkat tangan. Ia begitu bersahaja di mata para penghuni istana.
Sesampainya di halaman belakang istana...
Rerumputan yang terhampar bak permadani hijau dan susunan bunga taman yang rapi, membuat istana ini terlihat begitu berkelas. Istana tampak begitu mewah dengan perpaduan warna yang pas dan tidak berlebihan.
Kini Cloud sedang menunggu kudanya datang. Kuda putihnya yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Tak lama, Putri Negeri Aksara datang menghampirinya. Putri cantik itu menyapa pangeran sulung ini.
"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud," sapanya seraya tersenyum.
Cloud menoleh ke arah sang putri. Dilihatnya putri itu seraya tersenyum kecil. Sedang sang putri memberikan senyum terbaiknya untuk sang pangeran.
"Putri Andelin. Anda berada di sini?" tanya Cloud berbasa-basi.
"Iya, Pangeran. Kebetulan hari ini saya ingin melihat keadaan di luar istana. Mungkin Pangeran bisa menemani," harapnya.
"Em, maaf, Putri. Sepertinya saya tidak bisa melakukan itu. Saya harus pergi sekarang," kata Cloud.
Kuda putih Cloud kemudian datang, berjalan mendekati pemiliknya yang sedang bersama seorang gadis. Kuda Cloud itu seolah kebingungan saat melihat Andelin.
__ADS_1
"Pangeran, bolehkah saya ikut? Mungkin saya bisa menemani Pangeran pergi?" tanyanya lagi.
Cloud tampak risih dengan permintaan sang putri. Ia segera naik ke kudanya dan tidak menghiraukan permintaan Andelin.
"Maaf, Putri Andelin. Saya ingin pergi sendiri. Terima kasih," tegas Cloud.
Sontak saja Andelin berkecil hati mendengarnya. Ia merasa tiada berarti di mata pangeran sulung ini. Sedang Cloud segera melajukan kudanya, pergi dari istana menuju bukit pohon surga. Ia sama sekali tidak memberi cela kepada sang putri untuk lebih dekat dengannya.
Sesampainya di bukit pohon surga...
Cloud turun dari kudanya. Ia berjalan menaiki bukit itu bersama White, kuda putihnya yang anggun. Cloud lalu menggulung tali kudanya kemudian membiarkan kudanya itu memakan rerumputan bukit. Ia lalu berjalan mendekati pohon surga itu.
"Ara ...."
Kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah nama sang gadis, bernama sama dengan pohon surga di hadapannya ini. Ia lalu menyandarkan tubuh dengan tangan kirinya sebagai penopang, di batang pohon surga yang kokoh.
"Aku merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?" tanyanya sendiri.
Tersirat kerinduan dari paras wajahnya yang tampan. Cloud tampak menunduk sambil menyandarkan diri di batang pohon surga yang tak lain adalah pohon tin itu. Ia mengenakan jubah kerajaannya yang berwarna putih sebagai lambang jika pekerjaannya bersih dari noda korupsi.
"Apa benar yang dikatakan oleh Rain, Ara?" tanyanya dengan suara pelan.
Cloud lalu mengangkat wajahnya. Ia berbicara kepada pohon itu.
Suaranya terdengar lirih, seperti menyimpan kesedihan yang mendalam. Cloud tampak menelan ludahnya. Napasnya terdengar berat karena menahan kesedihan.
"Andai itu bukan adikku, maka akan kusingkirkan dia dari hadapanmu. Tapi ini ... ini adikku sendiri, Ara!"
Cloud berteriak. Ia mulai melampiaskan perasaan kesal dari dalam hatinya.
"Kau adalah wanita pertama yang kucintai. Wanita pertama yang kupercayai. Wanita pertama dalam kehidupanku."
Cloud berusaha mengatur ulang napasnya. Ia seperti tidak dapat menahan emosi dirinya itu.
"Ara, mengapa ... mengapa kau melakukan hal ini. Mengapa Ara?!" tanyanya lagi dengan intonasi tinggi.
"Apakah ini yang dimaksud risiko itu? Hatiku tersayat mendengar kabar darinya. Aku ...."
Perlahan Cloud menjatuhkan diri di depan pohon tin. Ia duduk bersandar di bawah rindangnya pohon. Semilir angin yang berembus, menyapu helaian rambutnya yang tipis. Cloud tampak lemah saat ini.
Di bukit itu hanya ada Cloud seorang. Ia tampak tidak dapat menahan kesedihannya lagi. Bulir-bulir air mata berlinangan lalu menetes, membasahi pipinya. Cloud lemah menghadapi situasi yang sedang terjadi. Pikirannya kalut karena mendengar Ara telah menjalin hubungan khusus dengan adiknya sendiri. Padahal Cloud berharap jika itu adalah dirinya.
Ia menekuk satu lututnya lalu meletakkan tangan di atas lututnya itu. Pandangannya kosong, ia hanya menatap lurus ke depan sambil menikmati kepiluan di hatinya. Kenangan indah itupun terlintas di benaknya.
Di danau, beberapa waktu yang lalu...
__ADS_1
"Kau bisa bermain biola?" tanya Ara kepada Cloud.
"Sedikit," jawab Cloud singkat.
"Ajari aku, ya?" pinta sang gadis kemudian.
"Boleh saja. Tapi ada syaratnya."
Cloud menjawab sambil mendayung perahu ke tepian. Saat itu keduanya baru saja selesai melihat matahari terbenam dari atas sampan.
"Apa itu?" tanya Ara yang penasaran.
Cloud tidak menjawabnya. Ia hanya menepikan perahu lalu mengajak Ara berjalan bersama menuju kereta kuda.
"Cloud, kau ini kebiasaan!"
Ara tampak ngambek di hadapan Cloud. Namun, Cloud tidak menggubris sikap sang gadis yang seolah minta dimanjakan olehnya. Ia terus saja berjalan hingga masuk ke dalam kereta kuda. Mereka bersiap kembali ke istana.
Di dalam kereta, Ara tampak diam. Ia menunjukkan sisi manjanya saat duduk bersama Cloud. Cloud menyadari tingkah gadis itu, ia segera menyandarkan kepalanya di bahu kanan sang gadis.
"Sudah, jangan ngambek." Cloud bergantian manja kepada Ara.
"Aku kesal, kau tidak menjawab pertanyaanku," gerutu Ara.
"Memangnya kau bisa memenuhi syaratnya?" tanya Cloud, seolah menantang.
"Memang apa syaratnya?" Ara begitu penasaran.
"Syaratnya ...."
Cloud kemudian mengangkat kepalanya dari bahu sang gadis. Ia memegang lembut kedua lengan gadis itu seraya menatap dalam kedua matanya. Tampak Ara yang kikuk saat Cloud bersikap seperti itu kepadanya.
Cloud lantas memiringkan kepalanya. Wajah keduanya berhadapan begitu dekat sekali. Ia lalu mencoba untuk menyalurkan perasaan yang ada di dalam hati.
Cloud mencium sudut bibir Ara dengan lembut. Ara pun terkejut dengan sikapnya itu. Tampak kedua bola mata sang gadis berkelap-kelip karena sikap Cloud.
Ara ... balaslah.
Cloud berkata di dalam hati. Ia berharap ciumannya itu terbalas. Deru napasnya terasa begitu hangat. Ia mencium Ara dengan sepenuh hati, mencoba menyalurkan perasaan yang ada di dalam hatinya. Cloud mencintai Ara.
...
"Hah!!!"
Cloud melempar kosong. Ia kesal dengan dirinya sendiri. Napasnya memburu seperti ingin beradu. Detak jantungnya pun tidak stabil saat kenangan itu terlintas di benaknya. Cloud tidak menyangka jika akan mengalami hal ini. Ia terlarut dalam emosinya sendiri.
__ADS_1