
Sesampainya di gazebo istana...
Gaun yang kupakai ini tidak terlalu berat, malahan cukup ringan bagiku. Dasarnya yang jatuh, tidak membuat bagian bawah gaun ini terlihat mekar layaknya bunga mawar. Biasanya aku mengenakan yang dari bagian pinggang ke bawah itu mekar. Tapi sepertinya, sekarang tidak perlu mengenakannya lagi.
Aku merasa nyaman dengan gaun ini. Gaun pesta dengan dasar yang jatuh dan lembut.
"Baiklah, saatnya beraksi."
Segera kusiapkan diri untuk memulai pekerjaanku. Kuambil pensil lalu mulai menuangkan isi kepala di atas selembar kertas putih berukuran A4 ini.
"Mungkin kubuat seperti rompi saja."
Aku mulai asik menuangkan semua ide dari kepalaku. Beberapa pelayan pun kemudian datang mengantarkan teh dan kue khas kerajaan ini, kue bulan.
"Terima kasih."
Aku tersenyum kepada mereka yang telah mengantarkan jamuan pagi untukku. Setelahnya, kulanjutkan lagi sisa pekerjaanku ini.
Istana kerajaan ini terlihat begitu luas. Halamannya mungkin ada sekitar dua kali lapangan sepak bola dengan pagar tembok yang begitu tinggi. Mungkin ada sekitar lima meter tingginya. Sedang bangunan istananya sendiri mungkin ada sekitar setengah lapangan sepak bola. Besar bukan?
Jangan sampai Rain memintaku untuk lari mengitarinya. Berjalan pun aku tak sanggup.
Jika pagi hari datang, matahari menyorot dari pintu gerbang depan istana. Bisa dipastikan jika istana ini memang menghadap ke arah timur. Tapi tidak persis di timur, mungkin agak menyerong sedikit. Karena saat matahari tenggelam, posisi matahari berada di barat daya. Dan itu dekat dengan kediaman pribadi Rain.
Dia sedang apa, ya?
Pagi ini aku belum melihatnya. Entah sedang apa dia sekarang. Semalam aku tidur lebih awal sehingga tidak tahu apa yang terjadi. Sehabis makan malam bersama Cloud, aku merasa sangat mengantuk dan langsung tertidur begitu saja.
Biasanya Rain mencariku.
Aku sudah hampir selesai membuat rancangan pertama. Tanpa menunda, segera kulanjutkan pekerjaanku ini.
"Baiklah, tinggal hiasannya. Mungkin ditambah simpul berwarna emas di bagian lengan agar tampak lebih mewah."
Akupun menggambar simpul di bagian lengan rancangan kebayaku ini. Dan tiba-tiba saja bayangan kedua pangeran itu terlintas di benakku.
Rain ... Cloud. Aku harap kalian bisa akur.
Aku ingin sekali memiliki keduanya. Aku tak mampu jika diharuskan memilih salah satunya. Cloud pangeran pertama yang memikat hatiku. Dan Rain yang dari awal sudah diam-diam menjagaku. Aku bingung jika diharuskan memilih.
Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cloud sendiri begitu bersahaja di mataku. Dia juga pengertian, selalu mencoba bernegosiasi dengan lembut jika saran dariku kurang sesuai dengan keinginannya. Akhir-akhir ini saja aku merasa dia sedikit berubah, mungkin karena rasa cemburunya itu.
Dia mempunyai sorot mata yang menundukkan hatiku.
Cloud dengan kepintaran dan jabatan yang dia pegang, membuat para penghuni istana begitu menghormatinya. Tapi di depanku, dia berani melepas semua itu. Dia layaknya pria biasa yang menginginkanku. Aku masih ingat kejadian di taman kecilnya itu.
__ADS_1
Cloud, andai kau tahu jika aku begitu menginginkanmu.
Berbeda dengan kakaknya, Rain terkesan lebih seram dan angkuh. Mungkin karena pembawaannya sebagai panglima tinggi di istana ini. Tapi di depanku, Rain begitu mesum. Dia tanpa malu memperlihatkan semuanya padaku.
Hahaha. Kadang aku ingin tertawa jika mengingat tingkahnya itu. Gara-gara dia juga aku bisa seberani ini. Padahal dulu jangankan untuk bersentuhan dengan lelaki, menatapnya saja aku tidak berani. Tapi semenjak kehadirannya, aku bisa menempatkan posisi.
Rain, kau itu memang nakal.
Rain bersikap melayani. Dari nada bicaranya seolah mengisyaratkan jika dia yang akan memberikan pelayanan untukku. Tidak seperti Cloud yang seolah ingin dilayani. Memakai jubah saja minta aku pakaikan.
Oh, ya ampun. Mereka itu ....
Tapi yang kurang kusukai dari Rain itu saat kemauannya tidak dituruti. Kedua telingaku ini harus siap-siap mendengarkan pidato panjangnya. Dia akan terus berbicara sampai aku menuruti apa kemauannya. Mengesalkan, bukan?
Rain sebenarnya manja, tapi karena jabatan yang dia pegang, dia bersikap seperti ini. Terlihat angkuh dan egois. Padahal aslinya, dia hello kitty.
Di mana kau, Rain?
Lain dengan Cloud, Cloud terlihat bersahaja dan begitu memukau pandangan siapapun yang melihatnya. Tapi jika sedang bersamaku, dia memaksa, minta dilayani. Dan tidak ada yang tahu jika Cloud seperti itu.
Astaga, aku malah menggambar wajah mereka.
Tanpa kusadari, aku menggambar kedua wajah pangeran di kebaya yang kubuat. Alhasil model kebayaku itu adalah mereka.
"Astaga, mengapa bisa seperti ini?"
"Hapus tidak, ya?" Aku berpikir sejenak. "Sepertinya kusimpan saja."
Kulipat rancangan busana kebayaku, kusimpan dalam map yang kubawa. Ya, anggap saja kenang-kenangan yang tercipta tanpa sengaja.
"Hei, kau kenapa? Tersenyum-senyum sendiri."
Baru saja aku memasukkannya ke dalam map, tiba-tiba kudengar suara menyapaku. Tapi aku diamkan sajalah.
"Ara, kau ini ditanya bukannya menjawab." Dia tampak kesal lalu segera duduk di depanku.
"Kau ke mana saja, Rain?" tanyaku berlaga ngambek di depannya.
"Aku tidak ke mana-mana, Ara. Kemarin sehabis makan siang aku sibuk. Tepatnya disibukkan oleh ayahku."
"Paduka raja?"
"Hm, iya. Ayah memintaku menjelaskan tentang pengamanan acara nanti. Setelahnya aku beraktivitas seperti biasa. Tapi malamnya kembali rapat dengan para menteri membahas hal ini." Rain menuturkan.
"Eh, aku tidak diundang?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Kau kan tidur. Aku tidak tega untuk membangunkannya."
"Kau datang ke kamarku?"
Rain mengangguk.
Astaga, untung saja dia tidak tahu jika aku makan malam bersama Cloud di kolam pemandian air panas.
"Ara, kau yakin dengan acara pertunjukan busana ini?" tanya Rain tiba-tiba.
"Eh, kok bertanya seperti itu?" tanyaku balik.
"Aku hanya khawatir," jawabnya.
"Khawatir?"
"Iya. Para pangeran dan putri dari kerajaan lain akan datang. Aku khawatir jika kau akan berpindah hati."
"Astaga, Rain. Aku pikir apaan."
"Ara, bisakah kita menikah secepatnya? Aku takut kau diambil orang." Rain memegang tanganku.
"Rain, kau kan tahu tugasku banyak. Jika menikah sekarang, pasti dirimu itu tidak akan terurus," jawabku segera.
"Hah, lama sekali kalau menunggu semua tugasmu itu selesai. Aku sudah tidak kuat."
Rain membenamkan wajahnya ke atas meja. Dia tampak letih menungguku. Kuusap saja kepalanya itu, kumainkan rambutnya dengan memberi penekanan sedikit. Rain kembali mengangkat wajahnya.
"Ara, kita telah bersama-sama melewati waktu yang panjang ini. Jangan minta aku untuk menunggunya lagi." Rain memelas seraya menggenggam tangan kiriku.
"Rain, sabar ya. Akan tiba masa itu. Untuk sementara ... izinkan aku menyelesaikan tugasku terlebih dahulu." Aku mencoba menenangkan kegundahan hatinya.
"Hah, baiklah. Apalah dayaku yang tidak ingin memaksa."
Rain melepaskan genggamannya. Dia menyandarkan punggung di kursi gazebo.
"Salam bahagia untuk Pangeran Rain, Nona Ara."
Kami asik mengobrol hingga tidak menyadari jika ada seorang prajurit mendekati.
"Ada apa?!" tanya Rain ketus.
"Maafkan saya, Pangeran. Saya ingin memberi kabar jika ada seorang putri yang ingin memasuki wilayah ibu kota."
"Putri?" Rain tampak bingung.
__ADS_1
"Benar, Pangeran. Putri itu dari kerajaan Aksara."