
Esok paginya...
Aku membawa ponsel pagi ini. Kutunggu Cloud belum juga datang ke kamarku, sehingga aku berinisiatif untuk menghampirinya.
Kulihat jam di ponsel masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Tapi terus saja kulangkahkan kaki menuju ruangannya. Tanpa sengaja, di pertengahan jalan aku melihat putri itu bersama seseorang, di sudut koridor ruangan yang ada di selatan istana.
Apakah itu Raja Aksara?
Aku bersembunyi di balik dinding koridor, mencoba untuk melihat apa yang terjadi. Tak lama kudengar sebuah tamparan keras melayang ke pipi putri itu.
Astaga?!
Aku terperanjat melihatnya. Pria tua itu menampar putri seenaknya.
Haruskah aku menghampirinya?
Kulihat putri itu menangis. Dan karena letak mereka berada di sudut koridor, sehingga jauh dari jangkauan orang lewat. Tak ada yang mengetahui apa yang terjadi selain aku sendiri. Pria tua itu kemudian berbicara kasar kepada Putri Aksara.
"Dasar bodoh! Kau benar-benar bodoh, Andelin! Kenapa kau membocorkan hal ini?!" Pria tua itu tampak marah.
"Ayah, aku tidak ingin Ayah terus seperti ini."
Putri itu terlihat kesakitan. Dia memegangi pipinya yang terkena tamparan keras pria tua itu.
Ayah? Berarti pria itu adalah Raja Aksara? Dia di sini?
Aku bertanya-tanya sendiri. Tak habis pikir dengan sikap pria tua itu jika memang benar adalah ayah dari putri tersebut.
"Kau tidak mengerti dengan apa yang terjadi, Andelin! Kau benar-benar tidak berguna!" Pria tua itu semakin marah.
"Ayah, aku juga ingin merasakan kasih sayang. Bukan hanya sebagai alat untuk memuluskan rencana Ayah."
"Andelin!"
Pria tua itu ingin memukul kembali sang putri. Namun, segera aku berlari untuk menahan tangannya agar tidak lagi memukul putri ini.
"Hentikan!"
Aku bertatapan langsung dengan pria tua berwajah muram yang ada di hadapanku. Dia tampak terkejut dengan kedatanganku.
"Siapa kau?!" Pria tua di hadapanku ini menghempaskan tangannya dariku.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, Tuan. Yang Anda perlu tahu adalah perbuatan Anda sangat tidak pantas," kataku tegas.
"Cih! Kau ingin menjadi pahlawan kesiangan, Nona?!" tanyanya sinis.
"Maaf. Aku tidak berniat menjadi seperti yang Anda pikirkan. Tapi jika Anda adalah ayah dari Putri ini, seharusnya Anda menunjukkan martabat Anda sebagai seorang raja."
"Kau!"
Pria tua ini tampak geram dengan ucapanku. Dia juga seperti ingin menamparku. Tapi bersamaan dengan itu, Rain datang lalu menahan tangannya.
Rain?!
Kulihat pangeranku datang menolong. Dan kini dia bertatapan dengan pria tua itu.
__ADS_1
"Pa-pangeran Rain?"
Kulihat pria tua itu tampak gemetar saat melihat kedatangan Rain yang tiba-tiba. Aku bisa merasakan ketakutan yang melanda hatinya.
"Apa yang ingin Anda lakukan, Raja Hell?" tanya Rain tegas.
"Pa-pangeran, sa-saya ...."
Pria tua itu gemetaran berhadapan dengan Rain. Rain mencengkram kuat tangan pria tua itu sehingga tidak dapat bergerak sedikit pun.
"Jangan pernah mencoba untuk menyentuh Araku. Jika Anda tidak mengerti, biarkan pedangku ini yang berbicara." Rain ingin mencabut pedangnya.
"Rain, tunggu!" Akupun segera menahannya.
"Ara?!"
"Rain, aku rasa kita tidak perlu melakukan hal ini. Masih ada yang lebih penting," kataku.
Rain beralih padaku.
"Kau lihat, pipi Putri Andelin berdarah karena terkena tamparan pria ini. Lebih baik kita obati dulu lukanya," kataku meminta.
Pria tua itu tertunduk malu, sedang putri di sampingku ini diam seribu bahasa. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Rain kemudian mengajak kami untuk ke balai pengobatan istana.
"Ayo, Putri." Akupun merangkul putri ini agar mengikuti langkah kaki Rain.
Rain menatap tajam ke arah pria tua itu. Sedang pria tua itu tampak menahan kesalnya. Sepertinya dia belum melampiaskan seluruh amarahnya pada putri ini.
Hah, untung saja ada Rain. Kalau tidak, pipiku juga akan terkena tamparan pria tua itu.
Aku berjalan bersama Rain menuju balai pengobatan istana, sedang putri ini mengikutiku. Terasa sekali kecanggungan di antara kami. Namun, sebisa mungkin aku melupakan apa yang telah terjadi. Tentang perkataannya dahulu terhadapku.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, aku pun belum tahu pasti. Tapi aku rasa akan segera menemukan jawabannya.
"Rain!"
Aku kini berjalan bersama Rain menuju kediamannya. Kebetulan dia baru saja selesai melatih pasukannya.
"Ya, Ara?"
Sebenarnya aku harus menemui Cloud untuk membicarakan acara dansa nanti. Tapi sepertinya, rasa penasaranku tentang hal yang baru saja terjadi begitu besar.
"Aku tidak mengerti dengan pria tua tadi," kataku mengawali.
"Maksudmu raja itu?" tanya Rain.
"Dia raja?" tanyaku balik.
"Iya. Dia Raja Aksara. Dia yang mengumumkan perang dengan kerajaan ini."
"Hah?! Apa?!!" Aku terkejut bukan main. "Lalu bagaimana bisa dia berada di sini?" tanyaku penasaran.
"Ayah mengirimkan surat peringatan kepadanya. Setelah satu minggu lebih menunggu, akhirnya dia datang membayarkan denda."
"Denda atas sihir itu?"
__ADS_1
"Benar, Ara. Tadinya aku ingin mengambil alih hal ini. Tapi ayah melarangku." Rain tampak kesal.
"Mungkin paduka raja punya maksud lain, Rain." Aku berusaha menenangkannya.
"Hah ... entahlah. Kadang aku tidak mengerti dengan cara berpikir ayah," sahutnya lesu.
"Hei, hei! Bukannya kalian sama-sama dari militer, ya?" tanyaku lagi.
"Iya. Tapi terkadang sama itu belum tentu cocok, Ara," jawabnya.
"Ish, apaan sih!" Aku terkekeh mendengar jawabannya itu.
"Kau masih punya utang padaku, ya." Rain mengalihkan pembicaraan.
"Utang?"
"Iya. Bokongku masih sakit karena didorong jatuh olehmu."
"Astaga, Rain! Kan sudah lama!" seruku tak percaya.
"Tapi masih sakit sampai sekarang. Kau harus bertanggung jawab, Ara," pintanya.
Aduh ... mulai, deh. Hari masih pagi tapi dia sudah memberikan kode.
"Bagaimana, Ara?" tanyanya lagi.
"Em, aku masih sibuk, Rain. Kau juga kan harus beristirahat," alasanku.
"Jangan lari dari tanggung jawab, Ara!" Dia mulai mengeluarkan jurusnya.
Ya, ampun. Anak siapa sih ini?
"Enggak, Rain. Aku akan memenuhi janjiku. Tapi tidak sekarang, ya. Oke, Sayang?"
"Kapan?" tanyanya seraya memasang wajah manja.
Astaga, dia ini. Aku jadi gemas melihatnya.
Entah mengapa, sikap Rain tiba-tiba berubah. Dia seperti ingin dimanja olehku.
"Ya, ya, baiklah. Nanti malam saja," kataku mencoba memberi janji.
"Tidak bisa, Ara."
"Hah?!"
"Aku masih harus rapat dua malam ke depan. Lusa juga aku harus mengecek lokasi kedatangan tamu. Aku bisanya pagi seperti ini."
Aduh, pagi itu aku sibuk lagi.
Baru kali ini aku ditagih janji oleh seorang pria. Yang mana pria itu dulunya sangat menyebalkan bagiku.
"Baiklah. Besok pagi saja. Hari ini aku selesaikan urusanku dulu. Oke?" Aku lalu menciumnya.
Rain tampak terkejut dengan sikapku. Tanpa pamit, segera saja aku pergi meninggalkannya. Kulihat Rain terpaku dengan hal yang kulakukan barusan.
__ADS_1
Sabar, ya. Akan ada waktunya.
Tak ingin berlama-lama menyita waktu, kulangkahkan kaki menuju ruangan Cloud segera. Memotong jalan menuju lantai dua ruang kerja. Aku berniat membicarakan acara dansa dengannya.