
"Pangeran, aku ingin melihat kebun melati, boleh?" tanyaku yang mulai manja padanya.
"Kebun melati?" Zu seperti heran.
"Iya, tadi aku melihat ada banyak bunga melati di depan ruang tamu istana. Boleh, ya?" pintaku lagi seraya menggembungkan pipi.
"Hahaha. Baiklah-baiklah. Kau ini."
Zu lalu mengusap-usap kepalaku. Sepertinya dia terhibur dengan tingkahku ini.
"Ayo!" Aku pun menarik tangan kiri Zu agar mengikutiku ke luar ruangan.
Kami baru saja tiba di ruangan tapi kini aku mengajaknya keluar lagi. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Tapi sepertinya, bermanja kepadanya bisa sedikit menghibur hatinya itu. Aku masih mencoba pelan-pelan untuk lebih dekat lagi. Ya, walaupun ada sedikit rasa khawatir di hatiku ini.
Rain dan Cloud apa tidak tahu jika aku berada di sini? Apa mereka tidak ada niat untuk menjemputku?
Hatiku masih bertanya-tanya. Kenapa kedua pangeranku tidak ada kabarnya.
Mereka sebenarnya mencariku tidak, sih?
Sebenarnya aku tidak ingin berlama-lama di sini. Aku khawatir jika Zu akan semakin berharap padaku. Ya, walaupun sekarang aku mulai menerimanya. Tapi tetap saja mempertahankan itu lebih baik daripada harus memulai dari awal.
Hah ....
Aku dan Zu akhirnya keluar dari ruangan, menuju kebun melati yang kulihat tadi. Tanpa malu, aku menggandeng mesra tangan kirinya, mencoba membiasakan diri saat bersamanya. Zu pun seperti tidak keberatan, dia malah lebih senang dengan sikapku yang sekarang.
Sesampainya di kebun melati...
Istana Asia ini begitu luas, arsitektur bangunannya bergaya Eropa. Tiang-tiang penyangga atapnya pun begitu tinggi, dengan warna emas mendominasi.
Di istana ini banyak sekali lukisan naga merah. Bisa dipastikan jika memang warna merah emas mendominasi bangunannya. Tapi jika dilihat dari luar, istana ini bercat putih susu. Mungkin memang setiap istana diharuskan untuk bercat putih. Entahlah, aku belum tahu pasti. Yang jelas sinar merah akan mewarnai istana ini jika dilihat dari luar.
"Pangeran, banyak sekali bunga melati di sini. Apakah pihak istana sengaja menanamnya?"
Kupetik beberapa bunga melati, kucium perlahan hingga merasakan harumnya. Zu pun menemaniku di sisi. Dia ikut menciumi bunga melati ini.
"Kami menggunakan bunga melati sebagai bahan campuran teh, Nona." Zu menjelaskan padaku.
"Sudah lama menggunakan melati sebagai campurannya, Pangeran?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Hm, mungkin ada sekitar sepuluh tahun."
"Hah?! Sepuluh tahun?!" Aku terkejut.
"Iya. Sejak aku remaja ayah sudah menggunakan campuran bunga ini untuk tehnya. Rasanya memang enak." Zu melanjutkan.
Kebetulan sekali, aku memang menyukai teh melati. Sepertinya aku bisa minum teh sepuasnya di sini. Apalagi jika disandingkan dengan sup sapi. Wuihhh ....
Pikiranku mulai terlintas makanan dan minuman. Rasanya aku jadi lapar. Jarang-jarang bisa menikmati makan gratis. Jadi tak ada salahnya jika aku mencicipi sebanyak mungkin.
"Pangeran."
Di saat pikiranku melayang bersama makanan dan minuman, tiba-tiba ada suara seseorang memanggil Zu. Aku pun menoleh ke asal suara. Dan kulihat ada seorang gadis cantik berjalan mendekati Zu. Kulitnya putih bersih dengan mata yang sipit.
"Putri Mine?" Zu menyahuti sapaan gadis itu.
"Pangeran, kau sudah kembali?" tanyanya seraya tersenyum kepada Zu.
"Hm, ya. Aku baru saja kembali. Bagaimana kondisimu?" tanya Zu kepada gadis itu yang ternyata adalah seorang putri.
Aku memperhatikan percakapan mereka. Semakin lama entah mengapa aku merasa seperti orang ke-tiga. Aku bagai obat nyamuk di sini.
Aku tersenyum kepada putri itu lalu menjulurkan tangan, mengajaknya berjabatan. Tapi entah mengapa, aku merasa jika dia kurang menyukai kehadiranku. Dia tersenyum tipis dan seperti ragu untuk membalas jabatan tanganku ini.
"Pangeran, apa hari ini kau mempunyai waktu luang?" tanya putri itu.
Zu melirik ke arahku, aku pun diam saja. Dia lantas menanggapi pertanyaan putri itu.
"Maaf, hari ini aku banyak pekerjaan, Putri. Mungkin lain kali," jawab Zu kepada putri itu.
Sejenak aku merasa tidak enak. Mungkin Zu menolak ajakan putri itu karenaku. Kulihat wajah putri itu pun kecewa dengan jawaban Zu. Seketika aku mempunyai ide karenanya.
"Pangeran, aku ingin minum teh melati," pintaku kepada Zu.
"Kau ingin minum teh?" tanya Zu memastikan.
"He-em." Aku mengangguk.
"Baiklah, kita ke gazebo sekarang. Mari." Zu ingin merangkulku.
__ADS_1
"Pangeran, kita minum bertiga saja," pintaku seraya menolak rangkulan tangannya.
Tersirat raut kesedihan di wajah putri itu saat Zu melupakannya. Tapi akhirnya, dia bisa tersenyum saat aku meminta Zu untuk ikut mengajaknya juga.
"Baiklah. Mari."
Zu akhirnya mengajak putri itu menuju gazebo istana, mereka berjalan bersama. Sedang aku, sedikit menyingkir dari Zu karena merasa tidak enak hati sendiri. Sepertinya putri itu mempunyai perasaan lebih kepada Zu. Jadi aku berusaha untuk menjaga perasaannya.
"Dewi, kemari."
Zu pun menyadari cepat sikapku yang menjauh ini. Dia memanggilku lalu memegang tanganku. Dan kini aku berjalan di sisi kanannya dengan amat dekat. Sedang putri itu, dia biarkan saja berjalan bersama di sisi kirinya.
Apakah dia menyukai Zu? Aku merasa tidak enak hati dengan situasi ini.
Aku mencoba bersikap biasa saja di hadapan putri itu. Ya, kutunjukkan saja jika aku menghargai perasaannya. Karena bagaimanapun aku perempuan, perasaanku lebih peka dari seorang pria.
Ya, sudahlah. Ikuti saja alurnya.
Kami akhirnya berjalan bersama menuju gazebo istana. Dan sesampainya di sana, ternyata ukuran gazebonya lebih besar. Gazebo ini dikelilingi kolam ikan koi yang besar-besar. Indah sekali. Kursi-kursi dan meja-mejanya juga terbuat dari kayu gaharu. Harum semerbak menenangkan hati.
"Silakan."
Zu menarikkan kursi untukku dan juga untuk putri itu. Tak lama pelayan pun datang menanyakan apa yang kami inginkan. Lantas saja aku meminta sesuatu yang kuidam-idamkan. Aku minta satu teko teh melati dan semangkuk sup sapi. Alhasil, Zu tertawa mendengar permintaanku. Dia tanpa malu mengusap-usap perutku ini.
"Dia sangat lapar, ya."
Zu menahan tawa saat mengucapkan kalimat itu. Sedang Putri Mine diam saja tidak bersuara. Kulihat dia memalingkan pandangannya dariku. Entah apa yang ada di pikirannya, sepertinya dia cemburu dengan apa yang Zu lakukan ini.
Aku sendiri merasa aneh dengan sikap Zu yang seperti mengira jika aku sedang mengandung. Apa benar aku mengandung? Aku pun bingung sendiri. Mungkin ada baiknya jika segera memeriksakan perutku ini. Tak baik berlama-lama membuat orang lain berpikiran yang tidak-tidak tentangku. Tapi jika benar, bagaimana?
Aduh ... aku pusing! Apa iya aku hamil?
Aku mencoba mengingat-ngingat kembali dosaku. Aku merasa tidak melakukan hal-hal yang kelewat batas, aku masih bisa menjaganya. Tapi jika benar aku hamil, aku harus meminta pertanggungjawaban siapa?
Astaga! Kenapa malah begini jadinya?!
Ara diselimuti kebimbangan akan keadaannya sendiri. Ia merasa tidak melakukan hal-hal yang melebihi batasan, tapi Zu meyakini jika dirinya tengah mengandung. Hal itulah yang membuat Ara merasa harus segera mengecek keadaannya.
Selama ini ia masih berada dalam batasan. Tapi jika benar ia sampai hamil, tentunya hal ini akan membuatnya histeris. Ia merasa belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun. Termasuk dengan Rain atau Cloud sekalipun.
__ADS_1