
Menjelang tidur...
Aku dan Cloud habis mandi malam-malam. Sepertinya mulai malam ini aku harus membiasakan diri menganggapnya telah menjadi suamiku. Ancamannya begitu membuatku takut. Dan karena aku juga mencintainya, kuturuti saja kemauannya.
Di dalam kamar mandi kami bercanda sambil bermain busa sabun. Aku yang mengenakan kemben dan leging pendek, sedang dia yang mengenakan celana pendek ketatnya. Rasanya kami sudah tidak mempunyai jarak lagi.
Cloud juga terus menggodaku. Dia menggelitik pinggangku sampai aku tertawa sendiri. Geli sih, tapi mau bagaimana lagi. Sekarang pangeranku ini lebih menuntut dibandingkan sebelumnya. Apalagi menjelang hari-hari pernikahan, dia selalu ingin bersamaku. Katanya sih takut kehilangan lagi.
Malam ini sengaja kupakai gaun tidur yang tertutup untuk menghindari kenakalannya. Dan kini aku sedang berada di pelukannya. Pelukan hangat yang memang sudah lama aku inginkan.
Cloud mengenakan sweter putih berbahan dasar wol tebal. Dia juga mengenakan celana dasar abu-abunya kembali. Kami berpelukan layaknya suami istri yang saling menyayangi dalam kehangatan cinta dan asmara.
"Cloud, aku juga punya kabar untukmu," kataku mengawali pembicaraan.
"Kabar? Tentang apa, Sayang?" tanyanya yang masih merengkuh tubuh ini.
"Kau tahu, Jasmine ternyata berada di Asia," lanjutku segera.
"Jasmine?" Cloud melihat ke arahku.
"He-em." Aku pun mengangguk.
"Berarti dia masih hidup?" Cloud seperti heran.
"Kenapa? Kau merindukannya, ya?" selidikku.
"Eh, tidak. Siapa yang merindukannya, aku hanya terkejut karena dia masih hidup," sanggahnya.
"Benar, nih?" tanyaku lagi.
"Benar, Sayang. Kenapa sih sekarang tidak percayaan padaku."
Cloud gemas, dia menggigit pipiku. Gigitan kecil yang membuat tubuhku seketika terasa aneh. Aku tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Tapi setiap kali mendapat sentuhan darinya, tubuhku langsung saja bereaksi.
"Aw! Sakit, tahu!" Aku gantian mencubit perutnya.
"Aku senang jika dicurigai, itu pertanda jika kau benar-benar sayang padaku. Tapi, aneh rasanya jika kau sampai curiga." Dia menaikkan satu alisnya.
"Eh?"
"Ara." Dia memelukku kembali. "Kau tahu jika pekerjaanku terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Aku juga tidak pernah berinteraksi selain dengan para menteri. Coba kau bayangkan, bagaimana bisa aku mencari gadis lain? Jangankan mencari, memikirkannya saja pun tak sempat." Dia menjelaskan.
__ADS_1
Kuakui apa yang dikatakan olehnya memang benar adanya. Dia tidak mungkin memiliki gadis lain. Pekerjaannya sangat banyak dari pagi sampai sore. Bahkan kadang dia juga harus lembur sampai larut malam. Dia jarang sekali ada waktu untukku.
"Cloud, jika suatu hari kau bertemu dengan Jasmine, apa yang akan kau lakukan?" tanyaku ingin tahu.
"Aku biasa saja. Mungkin hanya sekedar menyapa," jawabnya ringan.
"Tapi ...."
"Tapi apa, Sayang?" Dia melihat wajahku.
"Dia sedang mengandung anaknya Zu," kataku yang sontak membuat Cloud terkejut.
"Apa?!"
"He-em. Dia sendiri yang bilang padaku." Aku menjawabnya dengan serius.
"Astaga ...." Kulihat Cloud mengusap kepalanya.
"Hei, ada apa? Kenapa wajahmu kelihatan panik seperti itu?" tanyaku lagi.
"Sayang, mendengar cerita ini aku semakin khawatir saja."
"Khawatir?"
"Astaga! Kenapa kau bisa sampai berpikiran seperti itu?" Aku jadi ikut kaget.
"Entahlah, aku begitu khawatir." Dia memelukku semakin erat. "Sayang, kau jangan ke mana-mana, ya. Tetap di rumah. Biar aku saja yang ke sini. Jika ada kebutuhan, kau bisa mencatatnya terlebih dahulu, kemudian serahkan kepadaku."
"Cloud ...."
Kulihat dia panik sekali. Seperti ada ketakutan besar di dalam hatinya. Aku mengerti sih jika dia tidak mau kehilanganku lagi. Tapi jika di rumah saja itu berarti aku bersembunyi dari Zu.
Ini terasa aneh sekali.
"Sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu, Ara." Cloud mencium keningku.
Baiknya memang aku lekas-lekas tidur agar bisa berpikiran jernih esok hari. Hari ini aku sudah amat lelah meladeni ulah Cloud yang nakal. Rasa kantukku pun mulai menjalar ke seluruh saraf tubuh. Dan akhirnya, kucoba memejamkan kedua mata. Tertidur dalam hangat pelukan cinta pangeranku, Cloud Sky.
Sementara itu...
Rain bersama pasukan telah memasuki ibu kota kerajaan. Tak lama lagi ia akan segera tiba di istana. Membawa kabar gembira untuk negerinya dan juga Ara. Sang pangeran ingin lekas-lekas bertemu dengan dewinya.
__ADS_1
Langkah kaki kuda yang bergemuruh mewarnai malam ini. Mereka melewati sepanjang jalan ibu kota menuju istana. Membawa bendera kebangsaan sambil terus melajukan kudanya. Dan tak beberapa lama, Rain bersama pasukan sudah tiba di dekat istana.
Ara ... aku pulang.
Senyum sang pangeran mengembang saat melihat istana besar dari kejauhan. Tempat di mana ia memulai kisah cintanya dengan sang gadis. Teringat jelas bagaimana Ara melakukan perlawanan setelah berulang kali dijahili olehnya. Dan entah mengapa keberanian sang gadis membuatnya semakin membulatkan tekad untuk menyatakan perasaan. Dan tepat di hari ulang tahunnya, Rain meminta Ara untuk menjadi kekasihnya.
Rain lahir di awal musim hujan. Maka dari itu ia dinamakan dengan Rain. Berbeda dengan Cloud yang lahir di awal musim panas. Keduanya mempunyai sifat yang bertolak belakang. Namun, keduanya sama-sama manja di hadapan Ara. Hanya Ara seorang yang tahu bagaimana tabiat asli kedua pangeran ini.
Rain sebelumnya tidak pernah bermimpi untuk jatuh cinta. Di pikirannya hanya fokus menjaga negeri dari tangan-tangan asing yang berusaha menggerogoti. Tapi, semenjak kedatangan Ara malam itu, semuanya menjadi berubah. Ia bahkan berani memberikan kalung permata delima kepada sang gadis tanpa ragu. Yang mana kini kalung pemberian darinya sudah dilepas oleh Ara.
"Selamat datang, Pangeran Rain."
Para penjaga istana menyambut kedatangan panglima tinggi negeri ini. Laju kuda pun mulai melambat saat memasuki halaman istana. Mereka kemudian menuju ke tempat pelatihan militer yang ada di belakang istana, dekat dengan kediaman Rain. Setelah semua prajurit masuk, pintu gerbang istana pun ditutup kembali.
Halaman istana Angkasa mampu menampung ribuan prajurit. Hal ini membuktikan jika halaman istana ini sangatlah besar. Tak ayal sang gadis tidak sanggup jika diminta Rain untuk berlari mengelilinginya. Jangankan berlari, berjalan mengitarinya pun Ara tak sanggup.
"Kalian beristirahat saja dulu. Besok pagi kita akan upacara." Rain memerintahkan pasukannya.
Para pasukannya pun menuruti perintah dari sang pangeran. Rain sendiri segera turun dari kudanya lalu berjalan menuju kediamannya untuk beristirahat. Ia juga ingin menemui gadisnya di sana.
"Rain!"
Baru beberapa langkah berjalan, Star memanggil-manggil namanya dari kejauhan. Seketika Rain menoleh dan melihat Star yang berjalan cepat ke arahnya.
"Rain, selamat atas keberhasilanmu."
Orang pertama yang mengucapkan selamat kepadanya adalah Star, sepupunya sendiri. Rain pun tersenyum menanggapi, namun ia segera melepas jabatan tangan dari sepupunya itu.
"Aku ada kabar gembira untukmu, Saudaraku." Star mengajak berbincang.
Rain mengernyitkan dahinya, ia tidak ingin mendengar apapun dari Star malam ini. "Aku ingin beristirahat, Star. Lain kali saja jika kau ingin menceritakannya." Rain menolak tanpa basa-basi.
"Hei, tapi ini berkenaan dengan ibumu," tahan Star.
"Ibu?" Seketika Rain jadi tertarik.
"Ibumu sudah sehat, Rain. Dia sepenuhnya pulih dari sakitnya," tutur Star lagi.
"Hah, benarkah?" Rain tak percaya.
Star mengangguk. Kabar ini tentunya membawa kebahagiaan tersendiri bagi Rain. Ya walaupun ada rasa kesal di hatinya terhadap sikap sang ibu.
__ADS_1
"Baiklah. Aku ingin melihatnya."
Rain lalu melangkahkan kakinya menuju lantai tiga istana. Ia ingin menemui ibunya terlebih dahulu.