Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Can't


__ADS_3

"Tuan Count, terima kasih telah cepat datang." Cloud bergegas mengambil keperluannya.


"Apakah ada pekerjaan untuk saya, Pangeran?" tanya Count sopan.


"Hem, ya. Hari ini aku ingin menenangkan diri di bukit pohon surga. Bisakah kau gantikan aku untuk sementara waktu?" tanya Cloud seraya menyarungkan pedangnya.


"Baik, Pangeran." Count pun menyanggupi.


"Terima kasih. Kalau begitu aku titip ruangan padamu." Cloud bergegas pergi.


Count tampak memperhatikan sang putra mahkota. Ia merasa iba atas apa yang terjadi di istana.


Kasihan pangeran. Hatinya pasti sedih sekali menghadapi hal ini. Untuk kesekian kalinya ia harus kehilangan nona Ara lagi.


Count ikut berduka atas hilangnya gadis itu. Ia tidak menyangka jika penjagaan istana yang sedemikian ketatnya masih bisa membuat Ara hilang tanpa jejak.


Cloud terus saja berjalan. Ia ingin sekali menenangkan dirinya di bukit itu. Namun saat menuruni anak tangga, ia melihat sepupunya sedang berbincang bersama Menteri Pertahanan.


"Cloud!"


"Star?"


Cloud lalu mendekati sepupunya. Sang menteri pun memberi hormat kepadanya.


"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud." Menteri itu membungkukkan badannya.


"Terima kasih." Cloud mengiyakan.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya, Tuan Dave." Star segera menyudahi perbincangannya bersama Menteri Pertahanan.


"Saya permisi, Pangeran Star, Pangeran Cloud." Menteri itu lantas berpamitan.


Star dan Cloud lalu berbincang di lantai satu istana, tepatnya di dekat tangga. Star tampak prihatin atas kejadian yang menimpa sepupunya. Ia juga ikut mencari tahu perihal hilangnya sang gadis.


"Cloud, entah mengapa aku merasa Ara tidak mungkin pergi dari istana seorang diri." Star membuka percakapannya.


"Ya, aku juga merasa begitu. Dia tidak mungkin pergi sendirian dari istana ini. Terlebih kami baik-baik saja sebelumnya." Cloud lekas menanggapi.


"Bagaimana tanggapan paman mengenai hal ini?" tanya Star kepada Cloud.


"Sementara ayah masih menyelidikinya. Dia mengutus pasukan khusus untuk memecahkan masalah ini."


"Tapi, Cloud. Sepertinya ada orang dalam yang ikut campur," terang Star.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Coba kau pikirkan. Bagaimana mungkin Ara bisa berada di ruang bawah tanah? Apakah dia pernah ke ruangan itu sebelumnya?" tanya Star menyelidiki.


"Belum. Ara bahkan tidak tahu sama sekali jika ada ruang bawah tanah di selatan istana."


"Kau yakin?"


"Aku yakin sepenuhnya, Star. Ruang lingkupnya hanya aku dan Rain, tidak ada yang lain."


Star lantas menundukkan kepalanya. "Aku khawatir jika ini—"


"Jika apa, Star?" tanya Cloud segera.


"Sudahlah. Ini hanya spekulasi sementara saja." Star tampak ragu.


"Star, jika kau mengetahui sesuatu, katakanlah. Mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk darinya." Cloud antusias.


"Aku ingin bertemu dulu dengan Rain. Nanti aku akan mengabarkanmu." Star segera berpamitan.


"Baiklah, terima kasih."


Star pergi meninggalkan Cloud, ia bergegas menemui Rain. Sepertinya ada hal yang ingin ia bicarakan kepada putra bungsu kerajaan ini. Sedang Cloud sendiri hanya bisa menunggu setelah berbagai upaya dilakukan untuk menemukan gadisnya.


Sementara itu di ruang kerja Sky...


Sky sedang membaca surat yang ia terima pagi ini. Dahinya berkerut setelah membaca isi surat tersebut. Tak lama, putra bungsunya datang menghadapnya.


Rain datang tergesa-gesa. Pagi ini wajahnya tampak amat serius.


"Ada apa, Rain?" tanya Sky yang menyadari kedatangan putranya.


"Ayah, aku ingin mengajukan cuti panjang kepadamu." Rain berterus terang.


"Cuti panjang?"


"Benar. Aku ingin mencari Ara di perbatasan," lanjut Rain kepada ayahnya.


"Kau ingin mencari dia? Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di istana?" tanya Sky kepada putranya itu.


"Untuk sementara aku akan meliburkan latihanku," jawab Rain cepat.


"Apa?!" Sky terkejut.


"Aku tidak bisa berdiam diri, Yah. Aku harus mencarinya." Rain amat khawatir.


"Kau tidak bisa mengorbankan banyak orang hanya demi satu orang, Rain." Sky keberatan dengan cuti yang diajukan oleh putra bungsunya itu.

__ADS_1


"Yah, dia memang satu. Tapi dia sangat berarti untukku. Tidak bisakah Ayah mengerti?" tanya Rain kepada ayahnya.


"Ayah lebih tahu apa yang harus Ayah lakukan. Sekarang kembalilah bertugas. Kerjakan tugasmu," pinta Sky, menyudahi percakapan ini.


"Aku tidak bisa, Yah. Aku tidak bisa tinggal diam di istana sementara aku tidak tahu di mana Ara berada. Apakah Ayah tidak mempunyai sedikit perasaan pun untuk hal ini?!" Rain mulai mengeluarkan kekesalan di hatinya.


"Cukup, Rain! Kau sudah keterlaluan. Lakukan apa yang Ayah perintahkan!" Sky berseru tegas.


"Aku mundur dari jabatan panglima. Aku ingin mencari Ara."


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri sang putra mahkota, sesaat setelah ia mengajukan pengunduran dirinya dari jabatan yang dipegang. Sky menampar Rain hingga darah terlihat keluar dari sela bibirnya itu.


"Ayah sudah peringatkan, tapi kau masih juga tidak menurut. Ayah rasa tamparan tadi cukup untuk menyadarkanmu." Sky berkata tegas.


Ayah, kau selalu pilih kasih padaku. Rain tampak menahan kesedihannya.


"Kita sama-sama berasal dari militer. Saat menjalankan tugas, singkirkan perasaanmu. Gunakan logikamu untuk menyelesaikan misi. Fokus hanya kepada satu tujuan. Jika kau masih ingin menggunakan perasaanmu, maka kau akan mati dibunuh lawan." Sky menuturkan.


Rain diam saja. Ia hanya mengelap darah yang keluar dari sela bibirnya dengan lengan jubahnya.


"Ayah juga tidak tinggal diam dengan masalah ini. Dan kau pikir Ayah tidak punya perasaan? Rain, kau adalah putra yang Ayah banggakan. Ayah bersikap keras kepadamu karena tidak ingin kau lemah. Kau penerus kerajaan ini. Kau akan mendampingi kakakmu memimpin negeri. Sekarang pergilah! Biarkan Ayah menyelesaikannya." Sky meminta putranya pergi.


Rain terus diam setelah tamparan itu diterima olehnya. Ia tidak dapat melakukan apapun untuk melawan kehendak sang ayah. Ia lantas pergi dari ruangan itu, tanpa menyadari jika Star telah mendengar perbincangannya.


Ini gawat! Jika Rain sampai benar-benar mundur dari jabatannya, bisa-bisa Angkasa diserang negeri musuh. Ya Tuhan, hanya gadis itu yang bisa menenangkan hati Rain. Tolong kembalikan Ara ke Angkasa.


Star tidak habis pikir jika seorang Rain berani mengatakan pengunduran dirinya hanya demi Ara seorang. Yang mana Star tahu benar siapa sepupunya itu.


Selama ini tidak ada yang berani mengusik Angkasa secara terang-terangan karena kinerja Rain yang begitu besar menjaga keamanan negeri. Star amat prihatin dengan hal ini.


Sementara di belakang istana...


Cloud sedang menunggu kudanya datang. Tak lama kudanya pun datang, berjalan cepat ke arahnya. Cloud lantas merentangkan kedua tangannya, seolah menyambut kedatangan kudanya itu.


Kuda Cloud meringkik. Ia mendekati tuannya lalu merebahkan kepala di pundak Cloud, seolah ingin mengajak berkomunikasi.


"Hei, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" Cloud mengusap-usap kepala kudanya.


"Ya, ya. Aku tahu kau mencemaskanku. Sudahlah. Mari kita pergi hari ini. Antarkan aku ke bukit pohon surga," pinta Cloud kepada kudanya.


Kuda putihnya seakan mengerti apa yang Cloud katakan. Ia lantas merendahkan kepalanya. Cloud pun segera menaiki kuda putihnya itu.


"Hari ini temani aku berjalan-jalan, ya. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa menemaniku."

__ADS_1


Cloud berucap sambil menahan kesedihannya. Para prajurit yang berjaga di belakang istana pun tampak menundukkan kepala. Mereka turut bersedih atas hal yang menimpa pangerannya.


Cloud lantas melajukan kudanya menuju bukit pohon surga. Di suatu tempat yang telah menjadi saksi atas cintanya kepada sang gadis.


__ADS_2