
Di gazebo kampus...
Kami duduk bersama. Tak lama, sebuah nada pesan terdengar dari ponselku. Akupun membuka pesan itu dan segera membalasnya.
"Dari siapa, Ara?" tanya Rain yang duduk berhadapan denganku.
"Dari Baim," jawabku singkat.
"Sini ponselnya!"
Rain tanpa persetujuan segera mengambil paksa ponselku. Dia melihat isi obrolanku bersama Baim. Tampak wajahnya yang berubah masam.
Mulai deh ....
Aku jadi parno sendiri kalau sudah melihatnya cemburu. Khawatir jika dia akan meledak-ledak. Terlebih sifatnya seperti itu.
"Aku beli minum dulu. Tunggu di sini, ya."
Kutinggalkan saja dirinya bersama ponselku lalu menuju kantin yang tak jauh dari gazebo kampus. Sesampainya di kantin, aku malah bertemu Baim.
"Lho, Ara?"
"Baim?"
"Kau di sini?"
"Hm, iya." Aku mengangguk.
Pria berbatik biru itu tampak bingung melihat kehadiranku di hadapannya. Dia tampak menggaruk kepalanya sendiri.
"Bukannya kita sedang mengobrol lewat chat?" tanyanya.
"Mengobrol?!" tanyaku kaget.
"Ini."
Baim lalu menunjukkan ponselnya kepadaku dan kulihat isi obrolan kami. Dahiku berkerut melihat isi obrolan itu. Untung saja Baim tidak terpancing.
"Astaga ...."
"Kenapa, Ara?"
"Baim, ini Rain yang menge-chatmu."
"Rain?"
"Iya, dia itu—"
"Oh, jadi sedang di sini rupanya."
Suara itu tiba-tiba kudengar dari arah belakang. Sontak saja tubuhku seolah kaku seketika. Bahkan untuk menoleh ke asal suara pun terasa sangat sulit.
"R-rain—"
"Tadi bilangnya mau beli minum. Tapi ternyata sedang bersama seorang pria," gerutunya.
"Em, Rain. Ini Baim, temanku. Baim, ini yang namanya Rain."
__ADS_1
Aku lalu mengenalkan mereka. Kulihat Baim mengajak berjabat tangan dan Rain pun membalasnya. Namun, seketika wajah Baim tampak meringis. Dia pun segera melepaskan jabatan tangannya itu.
"Ara, peliharaanmu ganas juga, ya."
Baim berbisik kepadaku. Kebetulan dia memang berada di sisi kiriku. Atmosfer suasana berubah mencekam seketika saat kulihat sorot mata yang tajam dari Rain.
"Hush! Jangan bicara sembarangan!" kataku pada Baim.
Baim pun terdiam. Aku segera mencari cara untuk mencairkan suasana ini. Kedua pria yang berarti dalam hidupku kini sedang bertatap muka. Namun, sorot tajam dari mata Rain membuatku bergidik takut.
"Em, kita ke gazebo aja, yuk," ajakku kepada keduanya.
"Baiklah. Aku ikut saja, Ara," sahut Baim.
Aku lalu menarik tangan kanan Rain dengan tangan kiriku. Aku berjalan di tengah dengan Baim di sisi kananku. Aku sangat khawatir jika akan terjadi keributan di antara kami. Aku tahu benar bagaimana Rain, cukup lama aku bersamanya.
Melihat aku bersama Cloud saja dia sudah berani melukai dirinya sendiri karena kesal. Apalagi melihatku bersama orang lain. Hah, entahlah. Aku tidak sanggup membayangkannya. Aku begitu parno dengan pikiranku sendiri.
Kamipun terus berjalan bersama menuju gazebo kampus dengan berdiaman sepanjang jalan. Di depan Baim, Rain merangkul mesra diriku. Seolah menunjukkan jika aku adalah miliknya.
Dasar Rain ....
Kadang aku ingin tertawa dengan sikapnya ini. Namun, kadang juga kesal sendiri. Tapi walaupun begitu, aku tetap menyayanginya. Bahkan semakin hari rasa sayang ini semakin bertambah.
Beberapa menit kemudian...
Aku dan Baim masih mengobrol tentang penulisan, sedang Rain tampak menjaga jarak kami. Sesekali kuteguk teh botol ini untuk meredakan ketegangan yang terjadi.
"Kadang teknik bagus juga tidak terlalu mempengaruhi penilaian, Ara. Biasanya platform menilai dari banyaknya jumlah views dan like suatu karya."
"Tidak juga, sih. Tergantung platform itu sendiri. Kadang ada yang mendisiplinkan penulisnya agar sesuai dengan teknik penulisan yang berlaku. Kadang ada juga yang hanya sekedar melihat jumlah views dan like-nya. Tapi biasanya, platform besar hanya mengontrak karya yang bagus. Baik dari segi teknik penulisan maupun dari segi jumlah views dan like-nya.
Baim menjelaskan pendapatnya tentang banyaknya platform menulis yang sedang berkembang di negara ini.
"Aku berharap teknik menulis bisa lebih dikedepankan daripada sekedar jumlah views dan like."
"Ya, semoga saja. Biar tulisannya juga kelihatan rapi. Gunanya teknik itukan untuk menyamaratakan tata cara menulis. Sedang konsep, alur dan plot cerita, diserahkan sepenuhnya kepada si penulis."
Rain tampak sedikit bingung dengan hal yang kami obrolkan. Tapi dia masih memperhatikan kami.
"Jika ada waktu senggang, datang saja ke pentas seni di balai kota. Kau akan melihat bagaimana naskah dijadikan sebuah drama," lanjut Baim.
"Kau ada di situ?"
"Ya, bersama anak-anak seni tentunya."
Aku menoleh ke arah Rain di depanku, seolah meminta izin kepadanya. Rain pun tampak mengerti.
"Nanti biar Ara pergi bersamaku ke sana."
Jawaban darinya seolah memberiku ruang gerak untuk melangkah. Ya, walaupun dia selalu mengikutiku ke mana saja.
Tiba-tiba dering ponsel Baim berbunyi.
"Sebentar, Ara."
Baim lalu mengangkat telepon itu seraya menjauh dari kami. Kulihat dia begitu serius menyahuti panggilan teleponnya. Sedang aku, beralih kepada Rain.
__ADS_1
"Rain, habis ini kita ke supermarket sebentar. Kau mau, kan?" tanyaku seraya menyentuh tangan kirinya dengan tangan kananku.
Rain mengangguk.
"Jangan diam saja, bicaralah. Lagipula memang tidak ada apa-apa di antara kami."
"Tapi tetap saja aku cemburu, Ara."
"Sayang ...."
Mendengar kata itu seketika wajah Rain berubah. Dia menghela napasnya lalu kemudian mengiyakan permintaanku.
"Baiklah. Aku akan mencoba untuk mengobrol dengan temanmu itu."
Akupun tersenyum mendengar kata-katanya. Tak lama, Baim datang lalu meneruskan obrolan kami. Dan kini Rain tampak mulai berbincang dengan teman seperjuanganku itu.
Begitu dong dari tadi. Aku jadi gak perlu was-was begini.
Aku sangat menyukai sikap Rain yang cemburu. Itu membuktikan jika dia benar-benar menyayangiku. Aku pun merasa jadi berarti baginya. Mungkin seiring berjalannya hari, aku dapat menentukan kepada siapa hatiku ini lebih berpihak. Rain atau Cloud.
Selepas mengobrol, akupun berpamitan kepada Baim karena ingin berbelanja kebutuhan bulanan. Rain tampak mengajak berjabat tangan. Dia kini sepertinya tidak cemburu lagi.
Akupun berjalan bersama Rain menuju gerbang kampus sambil memesan taksi online. Di tengah perjalanan, kami dicegat mahasiswi cantik yang ingin berfoto bersamanya. Dan aku hanya bisa pasrah karena mereka adalah teman setingkatku.
Menang banyak si Rain, gerutuku dalam hati.
Selepas itu, kami segera pergi ke supermarket terdekat. Rain merangkul mesra diriku di hadapan teman-teman kampus. Mereka hanya bisa menggigit jari seraya melambaikan tangan ke arahku.
"Nyusul, ya!" kataku kepada mereka.
"Ara?"
"Hm?"
"Boleh aku meminta sesuatu?"
"Katakan saja, Rain."
"Aku ingin merasakan yang tadi lagi."
"Yang mana?"
"Cumbuanmu tadi."
"Hei! Ini lagi di luar, Rain. Malu, tahu!"
"Ya, nanti di mobil saja."
"Hush! Kita kan naik taksi bukan mobil sendiri."
"Ya, sudah di mana saja kalau sempat."
"Dasar!"
Kucubit pinggang kirinya dengan tanganku. Aku gemas dengan permintaan putra mahkota ini yang tidak lagi memandang tempat.
Tak lama, taksi kamipun datang. Aku segera menaikinya bersama Rain. Dia membukakan pintu mobil untukku, layaknya seorang putri yang dijaga pangerannya.
__ADS_1