
"Ara ...."
Kulihat Cloud sudah menunggu. Dia menatapku dalam, seolah memberi isyarat padaku untuk segera memulainya. Cloud tampak terhanyut dalam permainannya sendiri. Kulihat dirinya memejamkan mata seraya menyebut-nyebut namaku. Bibirnya itu seakan menunggu untuk kukecup.
"Cloud ...."
Tak ingin menyia-nyiakan momen ini. Akupun segera melakukan pembalasan. Kuraih bibir peach miliknya dengan bibirku. Kusapu dengan perlahan agar dia menikmatinya. Cloud mencengkram kuat pinggulku.
"Ara ...."
Kupijat lembut bibir bawahnya dengan bibirku sambil mencoba membuka mulutnya. Cloud tampak mengerti maksudku. Dia kemudian mengeluarkan lidah manisnya untuk mengajakku beradu.
Lidah kami akhirnya berpadu, saling beradu di antara benang-benang saliva yang terhubung. Akupun menekan lembut perutnya itu dengan pinggulku, sedang kedua tanganku melingkar di lehernya. Kami menikmati momen ini bersama.
"Ara ... shh."
Deru napas Cloud begitu memburu. Dia seperti menginginkan aku untuk melakukan lebih dari ini. Dia kemudian membalas ciumanku. Bibirku kini menjadi sasarannya. Sesaat kemudian, tubuhnya mulai terasa menegang.
"Ara ... Ara."
Cloud lebih menurunkan gaunku. Gaunku diturunkannya hingga kemben yang kukenakan terlihat. Cloud lalu menciumi dadaku ini.
"Cloud,"
"Ara,"
Kami saling menikmati. Beberapa gigitan pun mendarat di dadaku. Bersamaan dengan itu, tubuh Cloud bergetar kecil, terasa sekali di tubuhku. Sepertinya dia sudah mencapai puncaknya.
"Hah ... hah ...."
Kedua matanya masih terpejam. Bibirnya bergetar merasakan sensasi yang dia rasakan. Cloud melepaskan hasratnya.
"Cloud ...."
Kutatap wajah itu. Kuusap pelan pipinya lalu kukecup kembali bibirnya. Cloud pun membalasnya.
"Ara ... hanya dirimu yang kubutuhkan."
Cloud terbata. Dia mencoba menormalkan laju napasnya yang memburu.
"Tolong ... jangan pernah tinggalkan aku. Aku benar-benar membutuhkanmu," katanya lagi.
"Cloud ...."
Aku segera memeluknya. Kusandarkan kepalanya di dadaku ini. Kubiarkan Cloud menikmati lembutnya dadaku.
"Aku menyayangimu, Ara. Aku mencintaimu," katanya, menutup siang yang indah ini.
Kami kemudian berpelukan, mencoba melepaskan hasrat yang telah lama terpendam. Setelah kejadian ini aku merasa jika telah benar-benar menjadi miliknya.
Beberapa menit kemudian...
Lonceng istana kembali berbunyi, menyadarkan kami yang sedang dimabuk asmara.
"Cloud."
"Ara, kita tidak sempat untuk makan siang bersama."
"Tak apa. Nanti aku bisa makan sehabis ini."
__ADS_1
Aku segera bangkit dari tubuh Cloud lalu merapikan gaunku. Cloud juga tampak merapikan dirinya. Kami jadi sibuk sendiri.
"Sepertinya aku harus mandi terlebih dahulu," katanya seraya membantuku merapikan gaun.
"Mandi?"
"Iya, mandi. Ada sesuatu yang terasa lengket."
Aku terbelalak mendengar kata-kata itu. Entah mengapa Cloud jadi semakin berani sekarang.
"Kita ke bawah, ya."
"E-eh?!"
Cloud tiba-tiba menggendongku lagi. Tapi kali ini bukan menghadapnya, melainkan aku digendong seperti pengantinnya.
"Cloud?"
Dia hanya tersenyum kepadaku sambil menuruni anak tangga. Kulihat wajahnya begitu berseri-seri. Cloud tampak sangat bahagia.
"Sudah sampai. Aku mandi dulu. Tunggu sebentar."
Cloud lalu menurunkanku di atas kasurnya. Diapun masuk ke dalam kamar mandi.
Sepertinya Cloud risih dengan sesuatu yang lengket itu. Aduh ... aku benci pikiranku sendiri.
Selama menunggu, aku melihat-lihat isi lemari Cloud yang tidak terkunci. Dan ternyata, semua gaunku berada di dalamnya.
Astaga. Jadi dia yang menyembunyikannya?
Kuambil saja semua gaunku itu. Selang beberapa menit kemudian, Cloud keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk putih yang menutupi area pribadinya.
"Cloud, lepaskan!"
Aku mencoba berontak, tapi Cloud bertahan. Sepertinya dia senang sekali. Tubuhku pun lalu dibalikkan menghadapnya.
"Ara ... aku tahu hal yang kita lakukan itu di luar batasan. Tapi aku melakukannya sebagai bukti jika aku benar-benar menyayangimu. Hanya dirimu seorang yang kubutuhkan."
"Cloud—"
"Aku serahkan hati dan ragaku kepadamu. Jadi jangan sungkan jika ingin bermanja denganku."
"Tap-tapi—"
"Aku milikmu."
Cloud lalu mencium keningku. Dia sama sekali tidak risih hanya memakai handuk di depanku. Aku juga sudah mencoba untuk menyela perkataannya, tapi Cloud tidak memberinya cela sama sekali. Dia ingin aku menuruti apa katanya.
Benar kata Baim, lelaki itu mempunyai ego yang tinggi. Yang ingin selalu dituruti apa keinginannya.
Hah, belum saja kudapat keduanya, menghadapi Cloud sudah seperti ini. Belum jika ditambah Rain.
Entah mengapa kepalaku tiba-tiba terasa pusing sendiri. Bersamaan dengan itu, Cloud memintaku untuk mengambilkan pakaiannya yang lain. Dan yang membuatku kaget, dia memintaku untuk memakaikannya.
"Belajarlah dari sekarang sebelum menjadi ratuku," katanya lalu mencium pipiku.
Cloud ... kau ini.
Aku merasa Cloud bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Aku dapat merasakan jika apa yang dikatakannya itu adalah benar. Ya, terlepas dari apa yang telah kami lakukan hari ini.
__ADS_1
Setelah membantunya mengenakan pakaian, kami keluar dari kamar lalu membahas rancangan busanaku. Cloud lalu memberi saran dan masukannya untuk rancangan lainnya. Aku memperhatikan dengan cermat setiap apa yang diucapkannya.
"Jangan terlalu dipaksakan harus selesai hari ini. Aku tidak mau kau sakit, Ara," katanya seraya mengantarkanku keluar dari ruangannya.
"Siap, Pangeran!" jawabku bersemangat.
Saat kami membuka pintu, kulihat seorang wanita paruh baya sedang berjalan menuju ke arah kami. Dia mengenakan mahkota kerajaan.
"Ibu?"
"Cloud?! Dari mana saja dirimu?! Ibu sedari tadi mencarimu!" kata wanita itu.
Sepertinya itu adalah ... ratu? Astaga!
"Salam bahagia untuk Yang Mulia Ratu," kataku seraya membungkukan badan ke arahnya.
Wanita itu lalu menoleh ke arahku dan kembali ke Cloud. " Siapa gadis ini, Cloud?" tanyanya.
Tatapan matanya membuatku bergidik takut. Sepertinya ratu kurang menyukaiku.
"Ibu, ini adalah Ara. Dia adalah—"
"Saya asisten Pangeran Cloud, Yang Mulia," kataku menyela.
"Asisten? Sejak kapan kau mempunyai asisten?" tanya ibunya kepada Cloud.
"Maaf, Yang Mulia Ratu. Ada baiknya saya pamit. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Aku kemudian berpamitan kepada ratu seraya membungkukan badan ke arahnya dan juga ke arah Cloud.
"Ada apa Ibu mencariku?" tanya Cloud yang terdengar suaranya semakin lama semakin mengecil.
Hah, untung saja tadi tidak ketahuan. Bisa tamat riwayatku jika ratu tahu apa yang kami lakukan.
Aku tidak menghiraukan apa yang sedang keduanya bicarakan. Aku meneruskan saja langkah kakiku ke kamar, berniat menyelesaikan rancangan busana ini secepatnya. Ya, lebih cepat lebih baik.
Sementara di ruangan Cloud...
"Ibu tadi kemari dan kata kedua penjaga itu kau sedang keluar istana." Moon mencecar anaknya.
"Iya, Bu. Ada sesuatu yang harus kubeli." Cloud beralasan.
"Mengapa tidak meminta pelayan saja?" tanya ibunya lagi.
"Tidak bisa, Bu. Hanya aku yang tahu bagaimana bentuk dan rasanya." Cloud beralibi.
"Hah, baiklah. Ibu hanya ingin memberi tahu jika sepupumu itu sudah menuju kemari." Moon memberi kabar kepada Cloud.
"Secepat itu?" tanya Cloud yang kaget.
"Iya, mereka sedang dalam perjalanan kemari. Ibu harap kau dapat mempersiapkan perayaan untuk menyambut kedatangan mereka."
"Baik, Bu."
"Dan satu lagi. Cepat menikah!" Moon lalu bergegas meninggalkan putra sulungnya itu.
Cloud tampak menelan ludahnya sendiri. Perkataan sang ibu seperti titah yang tidak dapat dibantah olehnya.
"Aku pun menginginkannya, Bu. Tapi masalahnya, sainganku ini adikku sendiri." Cloud tampak mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Moon menginginkan agar putra sulungnya itu segera menikah dan memberikannya cucu. Namun, Moon tidak tahu jika gadis yang dicintai Cloud juga dicintai oleh Rain. Kedua putranya itu mencintai gadis yang sama.