Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Loser


__ADS_3

Jam makan siang di istana Angkasa...


Cloud mencari Ara untuk makan siang bersama, namun ia tidak menemukannya di halaman depan. Lantas ia bergegas menuju kediaman Rain untuk mencari gadis itu. Dan benar saja, ternyata sang gadis masih tertidur di atas kasurnya.


Ia ingin membangunkan, tapi hatinya tidak tega. Ara tampak begitu lelah di pandangan matanya.


Mungkin lebih baik aku tunggu di sini saja.


Cloud lantas keluar dari kamar menuju lantai bawah kediaman Rain. Ia lalu masuk ke dalam kamar adiknya untuk melihat sang adik. Dan ternyata, Rain sedang tidur mendengkur. Tiba-tiba saja rasa iba itu datang padanya.


Mengapa kisah cintaku serumit ini? Aku harus bersaing dengan adikku sendiri. Tapi aku juga tidak bisa merelakan Ara untuknya. Kalau saja aku bisa memilih, aku ingin keduanya tetap mendampingiku membangun negeri ini. Tapi apa mungkin Rain mau merelakan Ara untukku? Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi?


Cloud menutup pintu kamar adiknya. Ia lalu duduk di dekat perapian, memikirkan bagaimana sebaiknya nanti. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga menyayangi Rain sebagai adik. Namun, di sisi lain ia begitu mencintai Ara dan menginginkan gadis itu untuk menjadi istrinya.


"Pangeran Cloud."


Seorang pelayan tiba-tiba datang menghadapnya.


"Ya, ada apa?" tanyanya sesaat setelah tersadar dari lamunannya itu.


"Yang Mulia mencari Anda, Pangeran." Pelayan itu menuturkan.


"Baik, aku segera menemuinya."


Cloud bergegas meninggalkan kediaman Rain untuk menemui ayahnya. Sepertinya ada hal penting yang ingin raja katakan kepadanya. Ia pun menepiskan perasaannya untuk sementara waktu.


...


Menit demi menit terlewati, jam demi jam berlalu. Dan kini sudah memasuki awal sore, sekitar pukul tiga waktu sekitar.


Ara bergegas menuju halaman selatan istana untuk menemui para penari latarnya. Mereka pun latihan menari sejenak, sebelum pertunjukan busana dimulai malam ini. Tampak sang gadis yang begitu luwes saat menggerakkan tubuh langsingnya itu.


Semua persiapan telah selesai. Dan kini tinggal menunggu hitungan jam, acara pertunjukan busana itu akan segera diselenggarakan. Ara tampak deg-degan karena ini kali pertamanya tampil di hadapan para pejabat besar negeri. Ia lantas mencoba bermeditasi sebentar setelah selesai melakukan sesi latihan menarinya.


Ia menarik napas dalam untuk menenangkan pikiran. Mencoba rileks dan melepaskan beban dari pundaknya. Namun, tiba-tiba ia melihat wajah Zu di alam pikirannya itu.


Pangeran Zu?


Ia melihat Zu tersenyum, tertawa ke arahnya. Senyuman manis nan menggetarkan hati. Entah kenapa tiba-tiba suasana hatinya berubah.

__ADS_1


Apakah ini sebuah pertanda untukku?


Tak lama, terdengar suara burung-burung berterbangan di langit istana. Menyadarkan Ara dari meditasinya itu.


"Hah ... kenapa perasaanku jadi aneh seperti ini?" Ara bingung sendiri.


Di lain tempat, Zu juga sedang memikirkan Ara. Makan siang tadi ia sama sekali tidak melihat gadis itu. Ia ingin bertanya, tapi juga khawatir jika pertanyaannya nanti akan menimbulkan masalah di istana ini. Zu sangat berhati-hati.


Aku ingin sekali bertemu dengannya. Kenapa perasaan ini begitu memaksaku?


Zu tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya. Ia selalu saja terbayang-bayang wajah Ara. Ia seperti sedang melawan dirinya sendiri.


Haruskah aku nekat untuk menemuinya? Tapi sebentar lagi pertunjukan akan dimulai. Aku tidak mungkin melewatkannya.


Zu dilanda kebimbangan, namun hatinya terus mendorong untuk menemui sang gadis. Zu dilema dengan dirinya sendiri.


Sementara itu di Negeri Aksara...


Andelin tampak menangis di dalam kamarnya. Ia belum juga berhenti sejak pulang dari pemakaman tadi. Ia menyesal karena tidak dapat menyelamatkan ayahnya.


"Sampai kapan kau akan menangis, Putri."


"Minumlah agar tangisanmu mereda," bujuk pria itu.


"Jangan pura-pura baik padaku!"


Gelas itu Andelin hempaskan hingga jatuh, yang mana membuat pria itu marah kepadanya.


"Kau berani melakukan ini padaku, Andelin!" Pria itu tampak marah.


"Cih! Kau hanyalah pembantu ayahku. Kau tidak layak mengenakan mahkota itu!" Andelin meludahi pria itu.


Sontak saja sebuah tamparan keras melayang ke wajahnya. Pria itu menampar Andelin hingga Andelin mengeluarkan darah dari sela bibirnya.


"Harusnya kau memohon padaku, Andelin! Ayahmu telah mati dan kau tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Bersyukurlah jika aku masih mau mengurusmu!" Pria itu berbicara keras di dekat Andelin.


"Bajingan! Kau telah membunuh ayahku!" Andelin mencoba melawan.


"Ikat dia! Gadis ini sangat tidak tahu diuntung."

__ADS_1


Pria itu lalu menyuruh pengawalnya untuk mengikat Andelin. Ia benar-benar kesal.


"Baik, Paduka!"


Kedua tangan Andelin lalu diikat ke belakang. Ia lantas dijatuhkan ke atas kasurnya. Kedua tangannya kini tidak dapat lagi bergerak. Pria itu lalu menghidupkan cerutunya.


"Kau sama seperti ayahmu. Kuakui jika kalian itu bodoh." Pria itu melanjutkan.


"Keparat kau, Land!" Andelin geram.


Pria itu adalah Land, tangan kanan Hell. Namun, Hell harus berakhir di tangan orang kepercayaannya sendiri. Ia tidak lagi dapat berbicara untuk selamanya setelah meneguk secangkir kopi pemberian dari Land.


"Hahahaha. Kau gadis yang polos, tidak tahu apa-apa. Hanya bisa menjadi boneka ayahmu. Tapi kau beruntung. Kini ayahmu telah mati, sehingga kau bebas melakukan apa saja." Land beranjak dari duduknya.


"Kau tahu, Andelin. Angan-angan ayahmu itu terlalu jauh. Ia ingin menundukkan Angkasa karena dendam masa lalunya kepada Sky. Tapi sayangnya, dia tidak tahu betapa kuat pertahanan negeri itu. Bahkan rakyatnya siap mengorbankan nyawa demi tanah airnya itu."


Land tampak mengenang. Ia memandang halaman istana Aksara dari balik jendela kamar Andelin.


"Aku tidak butuh penjelasanmu!" seru Andelin yang terikat.


"Aku juga sebenarnya tidak ingin menceritakannya padamu. Tapi aku hanya ingin memberi tahu jika dendam itu hanya akan menghancurkan diri sendiri," kata Land lagi.


"Cih! Pembunuh sepertimu tidak layak berbicara seperti itu!" Lagi-lagi Andelin meludah ke arah Land.


"Hahahaha. Harusnya kau belajar dari ayahmu, Andelin. Tidak baik bersikap seperti itu padaku. Aku adalah raja Aksara sekarang. Hahahaha."


Land tertawa bangga karena berhasil menjadi raja Aksara. Ia kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Mulai sekarang, persiapkan dirimu untuk menjadi selirku, Andelin."


Land kembali tertawa. Ia lalu melempar selembar kertas yang telah ditandatangani oleh Hell. Andelin pun berusaha mengambil kertas itu dengan kakinya yang tidak terikat. Namun, saat membaca isinya, Andelin menjadi lemas hingga hampir kehilangan kesadaran.


Ayah ... mengapa kau terlalu percaya padanya.


Andelin pun tak sadarkan diri setelah membaca isi dari selembar kertas tersebut. Ia merasa tidak berguna sama sekali.


Hell ternyata menandatangani surat yang menjelaskan jika ia telah menyerahkan kekuasaan Aksara kepada Land. Dan mengaku bunuh diri karena sudah frustrasi dengan kehidupannya. Di surat itu juga Hell merestui pernikahan putrinya dengan Land sebagai balas jasa, tanda terima kasih.


Penjahat hanya akan berkumpul dengan para penjahat. Dan suatu saat mereka akan saling mengkhianati. Cepat atau lambat, hukum semesta akan terus bekerja. Menanam kebaikan pasti akan menuai kebaikan. Begitupun sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2