
Kulihat Rain tampak berpikir sejenak. Aku sendiri masih memperhatikan percakapan ini.
"Di mana dia?" tanya Rain lagi.
"Putri tersebut sedang menunggu di depan pintu masuk ibu kota, Pangeran. Sesuai dengan perintah Pangeran, ibu kota ditutup untuk sementara waktu. Tapi, putri itu terus memaksa untuk masuk. Kami sudah memberikan penjelasan. Namun, sepertinya sia-sia."
Entah mengapa aku merasa khawatir setelah mendengar informasi ini.
"Rain, kau kenal?" tanyaku kepada Rain.
"Ara, tunggu sebentar. Aku akan memeriksanya." Rain beranjak dari duduknya.
"Tahan putri itu sampai aku tiba!" pinta Rain kepada prajurit itu.
"Baik, Pangeran."
Prajurit itupun segera pergi dari hadapan kami. Kulihat Rain berpikir mengenai informasi ini. Aku pun beranjak berdiri, mendekatinya.
"Rain, ada apa sebenarnya?" Aku mulai khawatir.
"Ara, jika memang benar dia adalah putri dari kerajaan Aksara. Maka aku harus menerimanya masuk, melewati ibu kota."
"Rain, jangan bilang kalau dia—"
"Tenang, Ara. Hati dan ragaku sudah menjadi milikmu. Aku tidak akan berbuat macam-macam." Rain tampak mengerti dengan maksudku.
"Baiklah. Jangan nakal!" kataku kepadanya.
"Laksanakan perintah, Yang Mulia." Rain membungkukan badan seraya meletakkan tangan di dada.
"Dasar!" Akupun tersenyum melihat tingkahnya itu.
"Aku pergi dulu, Ara. Sampai nanti." Rain bergegas pergi dari hadapanku.
Sepertinya dia lupa sesuatu.
Tak ada cium pipi, cium kening, apalagi cium bibir darinya. Rain bergegas pergi tanpa meninggalkan ciuman untukku di pagi ini.
Semoga saja perasaanku salah.
Aku merasa akan terjadi sesuatu setelah mendengar kabar ini. Seketika aku teringat perkataan ratu yang ingin menikahkan Cloud dengan putri dari kerajaan lain. Tapi semoga saja ini hanya pembiasan dari rasa khawatirku.
"Hah..."
Kutarik napas panjang lalu mulai kembali merancang busana kebaya. Targetku sebelum makan siang semua rancangan busana ini harus sudah selesai. Semoga saja sesuai dengan harapan.
Beberapa jam kemudian...
Aku masih menunggu Rain di gazebo istana. Tapi sampai rancanganku selesai, dia belum kembali juga. Hatiku cemas, khawatir memikirkannya. Pikiran-pikiran negatif pun mulai menghantuiku.
"Kenapa Rain lama sekali, ya?"
Aku bertanya sendiri. Berharap mendapatkan jawaban untuk menutupi rasa cemasku ini.
Jujur saja hatiku bertambah cemas di saat mengetahui jika ada seorang putri dari kerajaan lain yang memaksa masuk, melewati ibu kota. Aku kepikiran jadinya.
Jangan-jangan dia salah satu putri yang akan dijodohkan dengan Cloud atau Rain. Astaga ....
__ADS_1
Kuteguk teh yang sudah dingin ini untuk menormalkan pikiranku. Tak lama, seorang pelayan datang memberi kabar kepadaku.
"Salam bahagia untuk Nona Ara."
"Salam bahagia untukmu," balasku segera.
"Maaf, Nona. Saya diminta Pangeran Cloud untuk memanggil Nona," katanya santun.
"Ke ruangannya?"
"Benar, Nona. Nona diminta ke ruangannya sekarang juga."
"Oh, baiklah. Aku akan segera ke sana."
Tanpa menunda, aku segera bergegas merapikan lembaran kertas kerjaku. Dan juga tidak lupa untuk menggulung rambutku yang sudah kering tersapu angin. Setelahnya, aku segera pergi menuju ruang kerja Cloud. Sementara pelayan tadi merapikan bekas makan dan minumku.
Tumben Cloud memanggilku sebelum jam makan siang. Apakah ada hal penting?
Kulangkahkan kaki melewati jalan setapak menuju ruang utama kerajaan. Setelahnya aku menaiki anak tangga yang berkelok indah untuk menuju ruang kerja Cloud.
Sesampainya di ruang kerja Cloud...
"Permisi," kataku seraya tersenyum ke arah sosok pangeran tampan yang semalam membuatku terbuai dalam kasih.
"Ara." Dia juga tersenyum ke arahku.
"Sepertinya ada hal penting untuk kuketahui." Aku segera duduk di depan meja kerjanya.
"Hm, ya. Ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan bersamamu." Cloud segera merapikan meja kerjanya yang tampak penuh dokumen.
"Apakah tentang pertunjukan busana nanti?" tanyaku menerka.
Apakah dia akan ...?
"Ara, bangunlah. Kita duduk di sofa saja."
Cloud memegang kedua lenganku lalu mengajakku untuk duduk di sofa bersamanya. Dia kemudian duduk dekat sekali denganku.
"Ara, sejujurnya aku menyukai jika rambutmu dibiarkan tergerai begitu saja." Cloud melepas gulungan rambutku.
Oh, jadi ini alasannya. Pantas saja bibi Rum tidak protes saat aku membiarkan rambutku tergerai.
"Hari ini kau tampak begitu cantik, Ara," katanya lagi.
"Terima kasih atas pujiannya. Tapi aku ke sini karena urusan pekerjaan, Pangeran."
Sontak Cloud terkekeh mendengar ucapanku. Dia menepuk dahinya sendiri, menggelengkan kepala lalu menatapku segera.
"Ara, aku merasa tersindir dengan ucapanmu," katanya.
"Hah?" Aku berlaga polos.
"Kau seperti mengejekku. Mengingatkanku yang membatasimu saat berada dalam jam kerja istana."
Itu kau mengerti, gerutuku dalam hati.
"Maafkan aku, ya. Aku terbawa cemburu kemarin. Sebenarnya maksudku bukan seperti itu."
__ADS_1
Tu kan benar. Akhir-akhir ini sikapnya berubah karena rasa cemburunya. Bukan karena membatasiku di istana ini.
Aku hanya tersenyum palsu di hadapannya. Bersamaan dengan itu, dia membelai wajahku.
"Kau ini imut sekali. Pipi tembam, senyum manis dan gigi kelinci. Setiap malam aku selalu terbayang wajahmu, Ara."
Cloud semakin menjadi-jadi. Dia membelai rambutku dari pangkal hingga ujungnya.
"Maaf, Pangeran. Sebenarnya kita akan membahas hal apa, ya? Kok, dari tadi malah merayuku?" tanyaku yang bingung.
"Hahaha, Ara-ara." Dia tertawa, sedang aku masih menunggunya.
"Hm, baiklah. Nanti akan kita lanjutkan hal ini di kamarku saja," katanya lalu mulai serius.
Entah mengapa, aku merasa Cloud menjadi seperti Rain.
"Bagaimana acara doa bersama nanti. Apa kau sudah mempersiapkannya?" tanyanya yang mulai serius.
"Sudah. Aku sudah menyusun daftar semua keperluan untuk acara doa bersama. Tinggal pendanaannya saja," jawabku segera.
"Baiklah kalau begitu. Nanti malam antarkan daftar itu kepadaku ya, Ara."
"Eh, kenapa harus nanti malam? Kenapa tidak sekarang saja?" tanyaku.
"Hm, itu ... kau pasti tahu alasannya."
"Ih, dasar!"
Kucubit saja lengannya itu. Aku tidak dapat menahan kesal lebih lama. Cloud seperti memperlambat pekerjaanku.
"Sakit, Ara." Dia pun memegang lengannya.
"Biarkan saja!" gerutuku.
"Ara ...."
Cloud menarikku, dia mendudukkan aku di atas pangkuannya. Dia berani sekali berbuat seperti ini di jam kerja istana.
"Aku tak bisa tanpamu," katanya lalu mulai mendekatkan wajahnya.
Astaga, dia ini merasa memiliki aku sekali. "Cloud, jangan!" Aku menolak untuk dicium olehnya.
"Ara?"
Seketika roman wajah Cloud berubah. Kedua tangannya yang melingkar di tubuhku pun segera kulepaskan.
"Cloud, ini jam kerja. Bagaimana kalau ada yang melihat? tanyaku seraya bangkit dari pangkuannya.
Dia tampak berpikir. Sepertinya Cloud mengiyakan perkataanku.
"Baiklah. Tidak lagi. Kita bahas hal yang lain saja," katanya.
"Serius?" tanyaku memastikan.
"Serius, Ara. Bidadariku." Dia kembali menarikku.
Hah, sudahlah. Sejauh apapun aku menghindar, tetap saja dia akan menarikku kembali. Lebih baik kuturuti saja kemauannya.
__ADS_1
Kami lalu mulai membahas tentang pertunjukan busana yang akan segera diadakan, setelah acara doa bersama ini. Aku pun memberikan pendapat dan saranku untuk acara-acara yang akan diadakan sebelum acara inti. Dan ternyata, Cloud menyetujuinya. Dia menyerahkan semua urusan ini kepadaku.