Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
My Heart


__ADS_3

Aku merasakan atmosfer sekitar berubah menjadi tegang saat Rain dan Cloud saling bertatapan dengan pandangan dingin. Hatiku begitu cemas dengan keadaan ini.


Aduh, jangan bertengkar.


Aku khawatir sendiri melihatnya. Segera saja aku berpamitan kepada Rain untuk masuk ke dalam balai kota agar ketegangan ini tidak terus terjadi.


"Rain, aku masuk dulu. Selamat bertugas, ya," kataku, lalu segera menarik tangan Cloud agar pergi dari hadapan Rain.


Rain hanya mengangguk dan membiarkanku pergi, namun aku tidak tahu apa yang ada di dalam hati dan pikirannya saat ini. Aku hanya berusaha untuk menjalankan tugasku. Kulihat Cloud pun diam saja sampai aku melepaskan pegangan tangan darinya.


Hah, untung saja. Aku masih beruntung saat ini.


Aku khawatir sekali jika terjadi keributan di depan para penduduk ibu kota. Terlebih jika terjadi karena aku. Entah akan kubawa ke mana wajahku ini.


Sesampainya di dalam balai kota...


Banyak sekali penduduk yang masih mengantri untuk mendapatkan pengobatan. Akupun segera memisahkan diri dari Cloud lalu masuk ke dalam ruang pembuatan ramuan. Kulihat para tabib tampak kelelahan saat membuat ramuan obat itu.


"Permisi."


Kulangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan ramuan ini. Tercium akar-akaran berbagai macam tumbuhan yang sedang direbus. Aku lalu menawarkan diri untuk membantu.


"Boleh saya ikut membantu?"


Aku memang tidak mengenakan gaun kali ini, hanya pakaian serba panjang sampai menutupi mata kaki. Jadi tidak terlalu ribet jika ingin ikut membantu.


"Nona Ara?!"


Salah satu tabib tampak terkejut dengan kehadiranku, disusul dengan tabib lainnya. Mereka terperanjat melihat kedatanganku ini.


"Selamat malam, izinkan saya membantu," kataku lagi yang masih berdiri di dekat pintu.


"Nona, bukannya Anda—"


"Nona Ara, bagaimana dengan kondisi kepala Anda?"


"Nona, maafkan kami. Waktu itu tidak bisa—"


"Em, ya. Sudah-sudah. Aku baik-baik saja, kok." Aku mengernyitkan dahi mendengar perkataan mereka.


Aku disambut para tabib dengan sambutan yang membuatku mengernyitkan dahi. Aku jadi bingung mana yang harus kujawab terlebih dahulu.


"Berkat doa kalian, aku baik-baik saja." Aku tersenyum ke arah mereka, berusaha menyudahi percakapan ini.

__ADS_1


"Kami sungguh tidak tahu jika Nona sudah kembali ke istana. Kami mendapatkan kabar dari raja untuk segera ke balai kota dan mengobati penduduk yang terkena wabah."


"Benar, Nona. Tapi kami sedikit heran dengan penyakit ini. Mungkin Nona bisa membantu mencarikan jalan lain."


"Em, maaf. Sebentar. Maksud kalian penyakit ini ...?"


"Ini bukan penyakit medis, Nona. Ini seperti sihir."


"Apa?!" Aku terperanjat mendengarnya.


"Kami sudah melakukan uji coba terhadap tiga penduduk berbeda usia dengan ramuan yang berbeda. Tapi itu hanya meringankan sesaat. Sejam kemudian, mereka merasakan panas di sekujur tubuh dengan bintik merah yang semakin menjalar."


Astaga! Penduduk pasti sangat menderita dengan penyakit ini.


Ketiga tabib yang ada di hadapanku tanpa segan mengutarakan semuanya padaku. Aku merasa jadi orang penting di sini. Mungkin mereka kira kejadian kemarin membuatku mempunyai keahlian lebih yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati para penduduk.


"Apakah sudah dicoba menggunakan buah dari pohon surga?" tanyaku kepada mereka.


Aku segera teringat dengan pohon mistis itu. Perasaanku mengatakan jika buah dari pohon itu dapat membantu menyembuhkan wabah penyakit ini.


"Maafkan kami, Nona. Kami tidak berani berkunjung ke sana."


"Benar, Nona. Tempat itu tertutup untuk umum. Lagipula kami tidak akan dapat mengambil buahnya."


Seketika itu juga aku teringat dengan perkataan Rain...


...


"Tak bisa, Ara. Pohon ini bukan pohon sembarangan. Sekuat apapun kau menarik buahnya, jika pohon ini tidak mengizinkan, kau tidak akan bisa mendapatkan buahnya."


...


Jadi pohon tin ini memang bukan pohon sembarangan. Kalau begitu, aku yang akan mencoba untuk mengambil buahnya.


Aku bertekad membantu meringankan penderitaan penduduk karena serangan wabah penyakit ini. Untuk sementara waktu, aku hanya dapat membantu sekedarnya saja. Memasukan ramuan ke dalam plastik dan membagikan kepada para penduduk yang mengantri. Semoga saja besok dapat membantu lebih dari ini.


Beberapa jam kemudian...


Hari semakin larut. Akhirnya semua penduduk mendapatkan pertolongan pertama. Tampak Ara yang kelelahan karena ikut membantu mengemasi ramuan. Ia kini tertidur di dalam kereta kuda milik istana.


Tak lama Rain datang menjenguk gadisnya. Dilepas jubah kebesarannya itu untuk menyelimuti sang gadis yang tengah tertidur. Rain kemudian mengusap pelan kepala Ara.


"Maafkan kami, Ara. Kami harus merepotkanmu malam ini."

__ADS_1


Rain mengecup mesra kening gadis itu. Namun tanpa Rain sadari, Cloud melihatnya dari seberang jalan.


Ara ....


Cloud yang saat itu sedang berjalan menuju kereta kuda, tampak menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik, membuang pandangan karena tidak ingin melihat hal itu. Napasnya terdengar memburu seketika, dadanya pun naik-turun menahan amarah yang tengah berkecamuk di dalam hatinya.


Inikah yang harus kurasakan?


Cloud merasa sakit dengan apa yang dilihatnya. Ia mengepalkan tangan, menahan amarah yang muncul secara tiba-tiba. Rasanya jika bukan sedang berada di tempat umum, ia akan segera bertindak atas sikap adiknya itu. Bagaimana pun Cloud mencintai Ara.


Aku sudah berusaha untuk merelakan, namun mengapa hatiku terasa sakit melihat hal ini?


Cloud diam sambil menunggu Rain keluar dari kereta. Selama ia menunggu, selama itu pula emosi menyelimuti pikiran dan hatinya. Cloud cemburu.


"Persiapkan penjagaan di sekitar balai kota!"


Tak lama, terdengar Rain memerintahkan kepada para prajurit untuk berjaga di sekitar balai kota. Dan saat itulah Cloud segera menuju ke kereta kudanya. Ia berniat untuk kembali ke istana.


Sepanjang perjalanan, Cloud berdiam saja. Sesekali ia melihat ke arah gadisnya yang sedang tertidur di samping kirinya. Hingga saat melewati jalan berkerikil, membuat Ara tak sengaja bersandar di pundaknya. Cloud lalu memberikan dadanya sebagai sandaran tidur sang gadis.


Sesampainya di istana...


Cloud mengangkat Ara dari kereta hingga masuk ke dalam kamar. Ia rebahkan gadis itu dan segera menyingkirkan jubah milik Rain yang menyelimuti tubuh Ara. Cloud lalu duduk di pinggir kasur seraya memegang tangan kanan si gadis yang sedang terlelap dalam mimpi.


"Ara ...."


Cloud mencium tangan itu lalu digenggamnya erat. Ia arahkan tangan Ara ke jantungnya agar Ara merasakan perasaannya saat ini.


"Aku cemburu melihatmu dikecup olehnya. Aku tidak rela, Ara." Cloud bersedih, menahan sakit.


"Aku mohon pilihlah aku. Aku tidak ingin membagimu dengannya."


Ia berkata lirih. Tanpa terasa kristal bening itu menetes dari mata indahnya. Putra mahkota ini mempunyai hati yang begitu lembut, membuatnya tidak dapat menahan perasaan yang bersemayam di hati.


Cloud segera menyelimuti Ara dengan selimut tebal bercorak mawar merah. Ia mengecup kening gadisnya lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


Selamat tidur, Ara ....


Ia kemudian mencari sesuatu di dalam lemari sang gadis, mengambil ponsel Ara yang tersimpan di dalam tas.


"Entah mengapa, aku begitu menyukai lagu ini."


Cloud ikut merebahkan tubuhnya di samping Ara sambil menyetel lagu All That I Need berulang kali. Ia merasa lagu itu mencerminkan perasaannya kepada Ara. Cloud begitu menginginkan gadis itu.

__ADS_1


Aku mencintaimu, dulu, sekarang dan selamanya.


Ia berkata dalam hati seraya tersenyum dan memeluk tubuh Ara dari samping. Cloud berharap dapat berumah tangga dan mempunyai banyak anak yang lucu dari gadisnya itu.


__ADS_2