Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Believe Me


__ADS_3

Di gazebo danau...


Aku dan Cloud duduk di gazebo danau. Keadaan sekitar begitu nyaman hingga membuatku tiduran di atas kursinya. Sedang Cloud, dia menyiapkan alat pancingan untuk memancing. Beberapa pelayan kantin danau ini pun datang membawakan banyak makanan. Sepertinya hari ini adalah hari tamasya untuk kami.


"Cloud, kau ingin memancing?" tanyaku seraya bangun dari kursi panjang yang beralasan busa tebal.


"Hm, ya. Lama sudah kita tidak memancing bersama. Terakhir di laut waktu itu, kan?" Dia mengingatkanku.


Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Tapi mungkin saja Cloud mengajak ku bernostalgia dengan masa-masa awal pertemuan kami. Rasanya masih teringat jelas di benak ini.


"Kau ingin menggunakan umpan apa?" tanyaku seraya berjalan mendekatinya yang duduk di tepi gazebo, mengarah ke danau.


"Aku menggunakan undang."


"Hah?!" Sejenak aku berpikir umpan yang akan dia gunakan.


Apa tidak salah menggunakan umpan udang untuk memancing di danau seperti ini. Bukannya udang itu lebih mahal dari ikan, ya?


Aku tak habis pikir Cloud akan menggunakan umpan yang lebih mahal dari harga ikan. Tapi kulihat saja apa yang akan dilakukannya. Lebih baik kunikmati sajian yang sudah tersedia di atas meja ini. Ya, aku sayangan orangnya. Sayang melihat makanan jika dibiarkan begitu saja.


Hm, enaknya...


Rasa gurih bercampur manis pedas ini sungguh aku sukai. Ikan tepung dicampur saus sambal manis pedas memang begitu menggugah selera. Sampai-sampai aku tidak menghiraukan Cloud yang sudah melemparkan kail pancingnya ke danau.


"Kau tidak ingin menemaniku memancing?" tanyanya seraya berjalan mendekatiku.


"Nanti saja, ya. Aku sedang asik mencicipi," jawabku sambil terus menyantap hidangan ini.


Kudengar Cloud tertawa, entah mengapa. Dia lalu duduk di depanku, seolah memintaku agar memperhatikannya. Dia juga mendongakkan kepalanya, seperti minta disuapi.


"Cloud?"


"Manjakan aku, Ara," pintanya yang sontak membuatku menelan bulat-bulat ikan tepung ini ke dalam mulut.


"Sudah lama aku tidak merasakan kasih sayangmu. Apa kau masih ingin menahannya?" tanyanya yang membuat hatiku terenyuh.


"Cloud ...."

__ADS_1


"Ara." Dia lalu berbalik, lebih mendekat kepadaku. Kedua lututnya menempel di lantai keramik gazebo ini. "Aku menyayangimu," katanya yang membuatku kehilangan udara.


"Uhuk-uhuk!" Aku pun terbatuk-batuk.


"Astaga, minumlah." Dia segera memberikanku segelas air minum.


Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Rasanya memang sedikit berbeda saat bersamanya. Aku seperti bertemu dengan kekasih lamaku. Tapi bukan mantan, ya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya, setelah aku menghabiskan minum ini.


"Cloud, aku merasa sedikit aneh. Kita seperti sudah lama tidak bertemu. Aku merasa sedikit kaku." Aku mencoba mengungkapkan isi hatiku.


Kulihat dia tersenyum. "Itu karena kita jarang bersama. Hal itulah yang membuat rasa segan dan sungkan di antara kita." Dia menjelaskan.


Cloud benar, aku memang lebih banyak bersama Rain.


"Maka dari itu, mulai hari ini aku akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu. Aku akan mengusahakannya agar kau tidak lagi merasa sungkan padaku." Dia mencolek hidungku.


Cloud ....


Apa yang harus aku lakukan jika dia sudah berkata seperti ini?


Untuk kesekian kalinya Ara merasa bimbang. Hatinya terombang ambing dalam lautan kasih sayang kedua pangeran. Ia seperti mabuk sendiri menghadapi hal ini. Ia bingung memastikan pilihannya karena takut menyakiti hati salah satunya.


Lain kedua insan yang sedang menghabiskan waktu bersama, lain juga sepasang suami istri yang sedang berseteru di dalam ruang tamu raja. Moon tetap bersikeras menolak rencana pernikahan kedua putranya dengan gadis pemilik nama yang sama dengan pohon surga.


Di ruang tamu raja, lantai tiga istana Angkasa...


Moon bertolak pinggang kepada Sky. Ia menolak mentah-mentah rencana pernikahan kedua putranya dengan Ara. Moon sampai mengancam akan meminta cerai jika Sky berani menggelar pesta pernikahan ini.


"Moon, tolong sadarlah. Apa yang kau dengar dari Andelin itu tidaklah benar." Sky menjelaskan.


"Aku tidak peduli. Aku tidak menyukai gadis itu. Aku tidak rela penerus kerajaan ini terlahir dari rahim seorang gadis biasa." Moon sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari suaminya.


Sky memutar otak, mencari cara agar kata-katanya bisa diterima oleh sang istri.


"Kalau begitu, mengapa kau menerimaku?" tanya Sky yang duduk di kursi tamunya.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Bukankah aku juga terlahir dari rahim seorang gadis biasa, bukan dari kalangan bangsawan. Kenapa kau mau menerimaku? Melahirkan kedua putraku?" tanya Sky yang mulai menyerah dengan kekerasan hati istrinya.


Seketika itu Moon terdiam kala mendengar pertanyaan suaminya. Ia tidak lagi berbicara, seolah kehilangan seribu kata dari pikirannya.


"Kedua orang tuaku hanya seorang petani di negeri ini. Namun, cita-cita keduanya amatlah besar. Mereka ingin menjadikanku seorang militer yang handal." Sky mulai berkisah tentang hidupnya.


Moon terdiam.


"Aku masuk angkatan militer negeri ini pada usia dua belas tahun. Aku belajar dengan sungguh-sungguh di asrama prajurit selama bertahun-tahun, melewati berbagai ujian kesetiaan kepada negeri. Dan akhirnya, aku lulus dengan predikat terbaik." Sky menghela napasnya.


Moon tidak dapat membantah perkataan suaminya. Ia kemudian ikut duduk di kursi tamu ini.


"Mendiang ayahmu terpukau dengan segala prestasiku hingga akhirnya dia mengangkatku sebagai panglima negeri ini. Dia mengajarkanku bagaimana cara bernegosiasi yang baik hingga membuka seluruh rahasia negeri kepadaku. Padahal aku bukanlah dari kalangan bangsawan. Tapi mengapa mendiang ayahmu percaya padaku?" tanya Sky seraya menoleh ke arah Moon yang duduk di seberangnya.


"Aku ...."


"Setelah melewati hari-hari yang panjang, aku mendapat tugas besar darinya untuk menyatukan bagian lain negeri ini. Yang mana saat itu Hell juga menginginkannya. Dan kau tahu, aku berhasil meyakinkan rakyat untuk bergabung bersama Angkasa tanpa pertumpahan darah. Negoisasiku diterima baik oleh mereka. Dan aku ... bukanlah anak bangsawan."


Moon membisu. Ia tertunduk malu.


"Pada akhirnya, mendiang ayah menjodohkanku denganmu. Padahal aku bukanlah dari kalangan bangsawan. Beliau mempercayakan tanggung jawabnya kepadaku. Dan sampai saat ini aku telah mengembannya dengan baik. Lagi-lagi aku bukanlah dari kalangan bangsawan." Sky melihat istrinya menunduk sedih.


"Jika kau menganggap harta, tahta dan jabatan bisa membeli semuanya, maka selama ini kau telah salah langkah, Moon. Kau telah hidup berpuluh-puluh tahun dengan orang yang salah."


"Sky ... aku hanya ingin melindungi kedua putraku." Moon akhirnya mengakui.


"Ara adalah gadis yang baik. Dia bisa menjaga martabat dan kehormatannya. Tidak mungkin kedua putra kita mencintainya jika tidak ada sesuatu yang spesial dari dirinya." Sky merasa sedikit lega karena Moon dapat mulai menerima ucapannya.


"Istriku, kau adalah ratu negeri ini. Tidak sepantasnya kau melakukan hal buruk kepada orang lain, apalagi dia adalah calon menantumu sendiri."


"Sky—"


"Aku akan tetap menggelar pesta pernikahan setelah kepulangan Rain ke istana. Perbaiki hatimu, maka jiwa dan ragamu akan ikut membaik. Aku masih berharap kita dapat menghabiskan masa tua bersama." Sky beranjak pergi meninggalkan Moon.


Kata-kata dari Sky akhirnya mampu menembus relung hati Moon yang terdalam. Moon tanpa sadar menitikkan air matanya. Hatinya pun perlahan melunak setelah mendengar semua perkataan suaminya. Rasa bersalah pun tiba-tiba muncul di benaknya.

__ADS_1


__ADS_2