Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
You Broke My Heart


__ADS_3

Di gazebo istana...


Aku benar-benar tidak menyangka jika Zu akan datang ke Angkasa. Harusnya tadi aku bisa bersembunyi dan menghindari pertemuan ini. Tapi, Rain menahanku. Kesal, sih. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Aku juga tidak ingin pusing memikirkannya.


Kini aku tidak bisa lari lagi. Aku harus menghadapinya, menghadapi Zu yang dulu pernah singgah di hatiku. Dan hampir saja dulu aku memberikan hatiku sepenuhnya. Namun, suatu pernyataan membuatku memutuskan untuk kembali ke Angkasa, tempat di mana cerita ini dimulai. Entah bagaimana nantinya, aku mencoba menjalaninya saja. Toh, apa dayaku melawan kehendak takdir.


"Pangeran, sebaiknya kita langsung menuju inti pembicaraan. Aku tidak ingin berlama-lama di sini."


Aku berbicara kepadanya yang duduk di depanku. Kulihat dia menyandarkan punggung di kursi sambil terus menatapku dalam senyuman. Mungkin dia rindu padaku atau semua kenangan tentang kami sedang teringat di benaknya.


"Ara." Dia kemudian mendekat. "Kau tahu, sikapmu sangat menyakitkan. Kau meninggalkanku tanpa pesan dan membiarkanku terlarut dalam kesedihan. Apa hal itu pantas dilakukan seorang gadis kepada calon suaminya?" tanyanya sambil menatapku.


"Pangeran, maaf. Sepertinya aku bukanlah gadis yang kau maksud. Kau salah orang," kataku.


"Salah orang?" Dia memalingkan pandangannya lalu menatapku kembali. "Ara, kau tahu bagaimana perasaanku padamu. Tapi kenapa kau pergi meninggalkanku? Apakah aku kurang baik padamu?" tanyanya lagi.


"Pangeran, aku amat menghargai kebaikanmu. Tapi maaf, aku tidak bisa bersamamu. Tolong jangan memperkeruh suasana. Aku tidak ingin terjadi keributan di sini," kataku lagi.


"Kau takut terjadi keributan?" tanyanya padaku. "Tapi kau tidak takut dampak yang kau lakukan ini?" Dia kembali bertanya seperti mengancamku.


"Pangeran, kita tidak mempunyai hubungan apapun. Tolong kembalilah ke Asia. Di sana banyak yang membutuhkanmu."


Aku mencoba tenang menghadapinya, aku tidak ingin terjadi keributan yang memancing penghuni istana datang. Terlebih raja meminta untuk membicarakan hal ini di gazebo istana, tempat terbuka. Yang siapa saja bisa melihatnya, mendengarnya, bahkan mengetahui pembicaraan kami jika suara kami meninggi.


"Ara ...."


Kulihat dia menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum tipis lalu menatapku kembali.


"Banyak orang membutuhkanku di Asia. Ya, kau benar. Tapi sayangnya, aku membutuhkanmu. Jadi, pulanglah bersamaku," pintanya lalu mencoba meraih tangan ini.


"Pangeran, tolong jaga sikapmu." Aku segera menghindarinya.


"Ara, apa yang terjadi padamu? Disentuhku pun tak mau?" Dia kecewa, ya aku bisa merasakan jika dia kecewa dengan sikapku.


"Pangeran, tolong. Aku sebentar lagi akan menikah. Tolong hargai statusku sekarang," pintaku padanya.


Dia seketika berdiri di hadapanku. Aku pun terkejut dengan gerakan cepatnya. Hampir-hampir saja aku ingin berlari. Aku takut jika dia macam-macam di sini. Aku takut Rain melihatnya dan apa yang kutakutkan terjadi.


"Ara, kita sudah sangat dekat. Kau sudah melihat semuanya, mengetahui semuanya. Sekarang kau bilang akan menikah, dan itu bukan denganku!" Dia mulai menaikkan nada bicaranya.


"Pangeran, tolong. Kau harusnya lebih mementingkan putri Mine ketimbang aku. Aku akan menikah." Aku menjelaskan lagi padanya.

__ADS_1


"Mine? Ada apa dengan Mine? Mengapa aku harus memikirkannya?" Dia bertanya padaku.


Aku tidak tahu dia pura-pura atau tidak. Tapi sepertinya dia kebingungan saat aku menyebut nama Mine.


"Pangeran, putri Mine sedang mengandung anakmu. Pulanglah, jangan buat dia menunggu."


"Apa?!!" Seketika dia terkejut.


"Pangeran, tolong. Aku tidak ingin menjadi orang ke tiga di hubungan kalian. Pulanglah, kumohon." Aku terus meminta padanya.


"Ara, jadi ini alasanmu meninggalkanku?!" Dia seperti kesal.


"Pangeran—"


"Tidak! Jika ini alasanmu, sungguh tidak masuk akal sekali. Jangan mengalihkan pembicaraan dengan menyebut nama Mine di sini!" Dia berseru padaku.


"Pangeran, putri Mine memang sedang mengandung anakmu. Kau harus mengakuinya." Aku memaksa.


"Ara, apa kau sudah gila?! Satu-satunya wanita yang kusentuh itu adalah dirimu. Mana mungkin dia mengandung anakku!"


Kulihat wajah Zu memerah. Dia benar-benar marah padaku. Intonasi bicaranya juga mulai meninggi. Aku khawatir jika ada yang mendengar pembicaraan ini.


"Pangeran Zu, putri Jasmine sendiri yang bilang padaku. Tolong jangan memperumit masalah."


"Astaga ... Ara. Dan kau percaya begitu saja padanya?"


Nada suaranya mulai melemah. Kulihat dia juga mengusap kepalanya, seperti depresi.


"Pangeran—"


"Ara, perlu kau ketahui. Aku hanya menyentuhmu. Sungguh." Dia ingin memegang kedua lenganku. "Jika Jasmine sedang mengandung, itu bukan anakku, Ara. Sejak awal aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya selain rasa kasihan karena dia dibuang. Tidak lebih dari itu." Dia akhirnya melembutkan nada suaranya.


Pangeran, maaf. Nasi telah menjadi bubur.


Dia menatapku, kedua tangannya bergerak ingin memegang lenganku. Tapi, segera kutepiskan. Aku tidak ingin disentuh olehnya. Aku sudah akan menjadi istri pangeran Angkasaku.


"Pangeran, maaf. Jika kedatanganmu ke sini untuk menjemputku, aku tidak bisa." Kutegaskan kepadanya.


"Ara ...."


"Pangeran, pulanglah. Kumohon. Aku tidak bisa bersamamu." Kuulangi lagi perkataanku.

__ADS_1


"Tidak, Ara. Aku tidak akan pulang jika tidak bersamamu." Dia tetap bersikeras.


Sungguh hati ini seperti terombang-ambing dalam badai lautan yang besar. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang bersedih, seperti ingin meneteskan air mata. Bagaimanapun dia pernah mengisi hari-hariku. Dan aku sangat menghargai hal itu. Dia juga telah menyelamatkanku. Tak pantas rasanya jika aku tidak tahu terima kasih.


"Ara, kumohon kembalilah ke Asia bersamaku." Dia memintaku lagi.


Aku terdiam, kutatap wajahnya. Wajah seorang pangeran yang dulu pernah mengisi hatiku. Kulihat dia menelan ludahnya berulang kali karena berharap aku dapat mewujudkan keinginannya. Tapi ... aku tak bisa.


"Maaf, Pangeran. Aku tak bisa."


Kembali kutegaskan padanya lalu berbalik membelakanginya. Aku berniat menyudahi pembicaraan ini.


"Ara." Dia pun menahanku. "Apa kau ingin menghancurkanku? Atau kau ingin membuktikan ucapanku waktu itu?" tanyanya yang membuatku menghentikan langkah kaki ini.


"Apa kau ingin mengubur semua kenangan kita? Apa kau akan terus membiarkan kesalahpahaman ini?" Dia terus bertanya padaku.


Sungguh aku amat khawatir dengan kata-katanya waktu itu.


"Ara, sesampainya di Asia aku akan meminta Jasmine untuk mempertanggungjawabkan ucapannya. Sungguh, aku tidak pernah melakukan apapun padanya. Hanya dirimu seorang yang bisa menjamahku."


Aku diam, tak tahu apa yang harus kukatakan. Tapi mungkin ini yang dinamakan cobaan pernikahan. Zu datang ke istana seminggu sebelum pernikahanku dilangsungkan.


"Maaf, Pangeran. Aku tak bisa." Aku beranjak pergi.


"Ara." Dia kembali menahanku, dan kini kedua tangannya memegang lenganku dari belakang. "Aku mencintaimu," katanya lagi yang membuatku ingin menangis.


Aku tidak bisa berlama-lama di situasi seperti ini. Aku khawatir hatiku goyah karena selalu mendengar permohonannya.


"Maaf, Pangeran."


Perlahan aku pun melepaskan pegangan tangannya pada lenganku. Aku ingin mengakhiri semua ini.


"Aku ... tidak mencintaimu," kataku lalu segera pergi.


Aku berlalu dari hadapannya tanpa melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Setelah mengucapkan kata-kata itu, tak kudengar sedikitpun suara darinya. Entah apa yang terjadi, aku tidak tahu. Aku terus saja berlalu dan berusaha tidak peduli.


Ara ....


Zu diam seribu bahasa saat Ara mengatakan tidak mencintainya. Dia terpaku di tempatnya. Tangannya yang ingin meraih sang gadis pun tidak bergerak sedikit pun. Semilir angin sore ini menemaninya dalam menerima pernyataan sang gadis. Sebuah pernyataan yang amat membuat hatinya hancur berkeping-keping dan tak berbentuk lagi.


Diam-diam Rain menguping pembicaraan mereka dari balik pohon zaitun. Pohon yang berada paling dekat dengan gazebo istana. Ia kini menyadari jika Zu juga amat mencintai gadisnya. Tapi untungnya Ara bisa menegaskan jika tidak bisa kembali ke Asia. Dan Rain amat menghargai keberanian Ara.

__ADS_1


Sayang, ternyata kau amat berharga. Dia sampai datang ke sini hanya untuk menjemputmu. Tapi, kau memintanya pulang setelah perjalanan panjangnya. Kau hebat, Sayang. Aku menyukai keberanianmu. Tetaplah menjadi Ara yang tangguh. Di mataku dan juga di mata anak-anak kita kelak.


Rain kemudian bergegas meninggalkan tempatnya menguping pembicaraan. Ia memutar arah dan ingin segera menemui Ara. Ia ingin melihat keadaan Ara pasca pembicaraan dengan Zu. Dan kembali cinta sang gadis begitu berharga di matanya.


__ADS_2