
Di bukit persik...
Tidurku terjaga sesaat setelah mendengar suara burung berputar-putar di atasku. Aku lalu mencoba melihat burung jenis apakah yang pagi-pagi sudah ribut ini. Dan ternyata, kulihat jika burung garudalah yang tengah mengepakkan sayapnya sambil mengeluarkan suara memekakkan gendang telinga.
"Bukankah itu burung pengantar surat Angkasa?"
Aku mencoba melambaikan tangan ke arah burung itu. Tapi sepertinya lambaian tanganku kurang berhasil. Aku lalu bergegas menuruni pohon dan berjalan sedikit ke depan agar dia bisa dengan jelas melihatku.
"Garuda! Aku di sini!"
Kulepas rompi gaun tidurku lalu memutar-mutarnya agar burung itu melihat ke arahku. Dan ternyata benar, burung itu menyadari lalu segera terbang menukik ke arahku.
"Eh! Eh! Kenapa aku jadi takut, ya?!"
Kucoba merentangkan kedua tangan seraya menutupi wajahku ini dengan rompi gaun tidur. Dan tak lama, kurasakan jika burung itu hinggap di lengan kananku.
Aduh beratnya ....
Perlahan kucoba membuka mata dan mengintipnya. Kulihat dia juga seperti ikut mengintipku. Aku lalu duduk saja agar bisa lebih rileks.
"Eh, dilehernya ada gulungan?"
Aku melihat ada sebuah gulungan di lehernya. Kuambil saja lalu kubuka. Dan ternyata, berisi sebuah pesan.
Hujan akan turun di bukit surga, membawa buah surga terbang ke angkasa. Tunggu kedatangan hujan yang akan menuai cinta.
"Eh?!" Seketika aku terkejut. "Ini pesan dari Rain?"
Aku mencoba menelaah isi pesan yang dibawa burung ini. Tak lama kusadari jika ini memang benar pesan yang si hujan kirimkan untukku. Siapa lagi kalau bukan Rain.
"Dia sudah mengetahui keberadaanku? Dia ingin menjemputku? Astaga ... ini gawat!"
Aku khawatir saat menyadari makna pesan ini. Aku ingin membalasnya segera, tapi tak kutemukan pena ataupun pensil di sini.
__ADS_1
"Aduh, bagaimana cara membalasnya, ya?" Aku kebingungan sendiri.
Kuperhatikan burung yang ada di depanku ini, kuperhatikan saksama tubuhnya, bulunya, sekujur badannya. Kali-kali saja aku menemukan sesuatu untuk membalas pesan ini. Dan ternyata ... benar.
"Astaga! Hahaha." Aku tertawa sendiri saat melihat pensil kecil yang ada di kaki burung ini.
"Ini pasti ulah Rain. Ya, siapa lagi."
Segera saja kubalas pesan yang kuterima. Aku berharap Rain tidak gegabah jika ingin menjemputku. Hatiku tiba-tiba saja terhibur dengan pesannya ini.
"Garuda, tolong sampaikan kepada pangeranku, ya."
Kuusap kepala burung ini lalu membiarkannya pergi. "Hati-hati di jalan!" Kulambaikan tangan ke arahnya seraya tersenyum. Dan kulihat burung itu melesat jauh ke angkasa.
"Aku jadi heran, bagaimana dia bisa menemukanku di sini?"
Kadang tak habis pikir dengan cara pengantaran surat di dunia ini, medianya masih menggunakan burung. Dan yang lebih menakjubkan, burung-burung itu tidak pernah salah mengantarkan pesan. Aku jadi penasaran bagaimana cara melatihnya.
Rain, semoga kau cepat menerima balasan pesanku. Aku merindukanmu, pangeran mesumku.
Ara khawatir jika akan terjadi sesuatu terhadap Rain dan negeri sang pangeran bilamana ia bertemu secara terang-terangan. Ara tidak ingin hal buruk terjadi karenanya, ia ingin semua berjalan lancar dan baik-baik saja. Tapi, setelah menerima pesan itu, hatinya diselimuti kerinduan dan kebahagiaan. Akhirnya sang pangeran menemukan keberadaannya.
Sementara di istana Angkasa...
Rain pergi tanpa pamit kepada ayahnya. Hal itu membuat Sky amat kesal. Sang putra mahkota hanya menitipkan pesan melalui Star. Star pun mencoba membela sepupunya itu. Kini sang raja, Cloud dan Star sedang berada di balkon istana lantai tiga. Mereka membahas kenekatan Rain yang pergi ke Asia.
"Hah ... aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi putra bungsuku. Dia kini pergi meninggalkan istana tanpa pamit. Apakah dia tidak berpikir jika hal ini akan berdampak buruk?" Sky pusing sendiri.
"Paman, Rain mengatakan jika sudah menyusun strategi untuk menjemput Ara. Paman jangan khawatir. Mungkin sudah saatnya kita bertindak. Terlebih bibi memang membutuhkan pertolongan Ara." Star mencoba menenangkan.
"Ya, aku tahu jika hanya gadis itu yang bisa mengambil buah surga. Tapi ... aku cemas sekali. Hubungan baik kedua negeri bisa putus begitu saja jika kita melakukan kesalahan. Terlebih putra mahkotanya tinggal menghitung hari untuk dilantik." Sky semakin pusing.
"Ayah, maksudnya Zu akan segera dilantik menjadi raja?" tanya Cloud seraya menoleh ke ayahnya.
__ADS_1
"Ya. Dia akan menggantikan raja Asia secepatnya. Mungkin dalam waktu dekat." Sky menghela napas panjang.
"Cloud, apakah tidak ada cara lain untuk mengambil buah surga itu?" Star bertanya kepada sepupunya.
"Aku sudah mencobanya, Star. Tapi ternyata aku hanya bisa sekali bertemu dengan Tetua Agung."
"Astaga." Star memijat dahinya sendiri.
"Ayah, jika memang keadaannya seperti ini. Aku akan pergi ke Asia untuk menjemput Ara. Jika Ayah khawatir Rain yang ke sana." Cloud meminta izin.
"Tidak-tidak. Cukup Rain saja. Kau tetap di sini, Cloud."
"Tapi, Yah. Aku juga ingin menemui Ara. Aku ingin semua permasalahan ini cepat selesai. Dan biar Zu juga tahu jika aku adalah calon suaminya." Cloud bertekad untuk menemui sang gadis.
"Cloud, tidak semudah yang kau bayangkan. Saat ini kendali kekuasaan dipegang oleh putra mahkota itu. Kau tidak bisa sembarang bertindak." Ayahnya menjelaskan.
"Lalu apakah aku harus tetap diam seperti ini? Seolah-olah tidak melakukan apapun untuknya. Sedang Rain selalu berada di garda terdepan. Bagaimana jika hati Ara lebih condong ke Rain, Yah. Dan aku ditinggalkannya begitu saja. Aku—"
"Sudah, Cloud. Ayah mengerti maksudmu. Tapi untuk sementara, kita tunggu kabar dari Rain. Semoga ada jalan terbaik untuk semuanya." Sky beranjak berdiri.
"Star, untuk sementara tolong bantu Cloud mengkoordinir pasukan. Paman akan segera menghadiri rapat setelah ini." Sky berpesan.
"Baik, Paman."
Sky bergegas pergi dari balkon istana menuju ruang rapatnya. Ia akan membahas penyatuan wilayah kekuasaan bersama Negeri Bunga. Sedang Cloud sendiri masih ditenangkan oleh Star.
"Bersabarlah, Cloud. Ara juga pasti tahu jika kau ikut mencemaskannya." Star menepuk pundak Cloud.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku merasa pekerjaanku ini terlalu mengekangku. Aku tidak bisa ke mana-mana."
"Ya, ya. Aku mengerti. Kau jangan terlalu khawatir. Aku yakin Rain bisa membawa Ara kembali." Star menenangkan.
Cloud mengangguk. Ia berusaha yakin jika Rain mampu membawa Ara kembali ke istana. Walaupun ia tahu persis jika Rain membawa Ara bukan untuknya.
__ADS_1
Tetua Agung, kini aku mengerti risiko yang kau katakan waktu itu. Aku merasa kesulitan menghadapinya. Tak kusangka semuanya akan serumit ini. Andai kutahu jadinya seperti ini, pastinya sejak awal sudah kunikahi.
Cloud dilema sendiri. Cinta Ara begitu ia inginkan. Gadis itu benar-benar membuat Cloud menderita. Dan kini ia harus merelakan Rain yang menjemputnya.