Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Connected


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Aku baru saja selesai menyapu dalam rumah. Kurapikan seisi rumah agar tetap bersih walau jarang dikunjungi. Sedang Rain, membantuku menyapu halaman depannya. Ia sama sekali tidak keberatan untuk membantuku, membuat hatiku ini merasa seperti berutang kepadanya.


Bersamaan dengan itu, Adit kembali lalu segera membantu Rain membersihkan sampah yang sudah terkumpul. Adit sepertinya tidak enak hati kepada Rain.


"Kak Rain, biar Adit saja yang membuang sampahnya."


Adit lalu pergi ke depan sebentar untuk membuang sampah. Sedang aku mengajak Rain mencuci tangannya.


"Beginilah kehidupanku di desa Rain. Setelah perjalanan ke duniamu, akhirnya aku bisa memiliki rumah baru," kataku sambil memberinya lap untuk mengeringkan tangannya yang basah.


"Aku bersyukur, Ara. Walaupun bukan aku yang datang menjemputmu," katanya yang seketika membuat hatiku tak enak sendiri.


"Kak Ara, ada yang ketinggalan, tidak?!" tanya Adit dari depan rumah, dia tiba-tiba sudah kembali dan mengagetkanku.


"Sudah semua, Dit," jawabku lalu segera keluar rumah, Rain pun mengikuti.


Setelah semuanya selesai, aku mengunci pintu rumahku dari luar. Kami segera bersiap untuk kembali ke rumah yang ada di kota. Perjalanan kami memakan waktu sekitar satu jam lamanya, itu pun kalau tidak terkena macet. Tapi sepertinya, kami tidak langsung pulang siang ini.


Di perjalanan...


Kulihat adikku masih sibuk bermain ponsel pintarnya. Sedang aku, tidak mengobrol sesuatu apapun dengan Rain. Sampai tiba di sebuah butik, Adit bertanya kepadaku.


"Kak Ara, kenapa kita nggak langsung pulang?" tanyanya.


"Kakak mau membelikan Kak Rain pakaian ganti dulu. Kamu tunggu di sini, ya."


Aku melepas sabuk pengamanku. Begitu pun dengan Rain. Kami lalu keluar dari mobil dan meninggalkan Adit sendirian.


"Hah, baiklah. Tapi jangan lama ya, Kak!" serunya.


"Iya, iya," jawabku.


Begitu keluar dari mobil, kami disambut pelayan butik yang biasa aku kunjungi. Rain terlihat diam saja sambil memperhatikan keadaan sekitar. Ia menunjukkan sisi maskulinnya, membuat pelayan perempuan di butik ini terkesima. Terlebih postur tubuhnya yang begitu sempurna, lengkap sudah. Semua mata tertuju padanya.


"Mbak, itu pacarnya?" tanya salah seorang pelayan butik.


"Hm, kenapa memang, Mbak?" tanyaku balik.


"Ganteng banget, Mbak. Dapat darimana?"


Sontak saja pertanyaan itu membuatku mengernyitkan dahi. Pelayan butik ini pikir aku dapatnya darimana? Astaga, Rain...


"Ara, ini—"


Rain tampak memilih pakaiannya sendiri. Kulihat dia memegang baju berwarna abu-abu.


"Pilih saja yang kau suka, Rain," kataku.

__ADS_1


"Hm, tak bisakah dicoba dulu?" tanyanya.


"Boleh, Mas. Mari saya antarkan."


Pelayan butik itu dengan sigap mengantarkan Rain ke ruang ganti. Rain seolah meminta izin kepadaku. Akupun mengangguk kepadanya, memberikan izin.


Sambil menunggu Rain, aku melihat pakaian lain untuk baju gantinya di rumah. Kulihat ada kaus pas badan berbahan dasar katun yang nyaman untuknya.


"Ara."


Tak lama kemudian Rain memanggilku, akupun segera berbalik menghadapnya. Kulihat dia begitu tampan mengenakan baju katun berwarna abu-abu sebatas siku. Ditambah celana gunung berwarna cokelat muda, sempurna sudah.


"Kau menyukainya?" tanyaku.


"Bagaimana menurutmu?"


"Lumayan untuk ukuranmu," kataku yang membuatnya cemberut. "Aku bercanda, Sayang."


Kuusap kedua pipinya dengan kedua tanganku. Seketika itu juga Rain terbelalak mendengar perkataan dan melihat sikapku ini. Bersamaan dengan itu, terdengar bisik-bisik dari sudut butik. Sepertinya para pelayan butik ini sedang membicarakanku.


"Ini, Mbak."


Aku menuju kasir lalu membayar barang belanjaan. Pakaian Rain yang berwarna putih kuminta untuk diplastikan sekalian.


"Kita cari sepatu atau sandal, ya?"


Aku lalu menarik tangan Rain setelah selesai membayar di kasir. Kuperlihatkan kemesraan kami di depan para pelayan butik ini. Kebetulan butik sedang sepi jadi aku tidak merasa keberatan dengan sikapku yang romantis kepada Rain.


"Hm?"


"Aku butuh penjelasan."


"Nanti saja. Kita beli sepatu dulu."


Rain tampak tidak habis pikir dengan sikapku tadi. Dia hanya bisa menuruti apa kehendakku. Mungkin saja pikirannya sudah menuju ke sana, jika aku sudah menerima cintanya.


Kami pun berjalan melewati beberapa ruko sampai tiba di toko sepatu. Aku lalu meminta Rain untuk memilihnya sendiri. Hari ini kuhabiskan waktu untuk membuatnya tersenyum.


Satu jam kemudian...


Setelah membeli keperluan ganti untuk Rain, aku kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, ayah belum pulang dari pasar. Aku lalu segera menyuruh Rain untuk mandi. Kebetulan kamar mandi di rumahku ada dua, sehingga Adit bisa mandi di kamar mandi satunya.


Tak lama berselang, ayah pulang bersama ibu dan Anggi. Mereka terkejut begitu melihat Rain keluar dari dalam kamar mandi. Seketika itu juga ayah memanggilku yang sedang berada di kamar. Adit juga ikut keluar dari kamar mandi saat mendengar suara ayah yang meninggi. Atmosfer sekeliling berubah mencekam seketika.


Beberapa menit kemudian, aku dan Rain didudukkan bersama di ruang tamu. Ayah minta penjelasan atas keberadaan Rain di rumah ini. Aku lalu berkata terus terang. Kulihat ibu sedari tadi diam saja, mungkin ibu sudah sangat lelah hari ini.


"Maaf, Yah. Ini teman Ara. Dia baru saja datang dari luar negeri tadi pagi."


Aku mencoba untuk menceritakan kepada Ayah. Tersirat raut wajah ayah yang menahan amarah padaku.

__ADS_1


"Rain, ini kedua orang tuaku. Ini Ayah dan Ibu," kataku memperkenalkan mereka kepada Rain.


"Kenapa tidak bilang kepada Ayah sebelumnya, Ara?" tanya ayahku.


"Maaf, Yah. Ara tidak sempat. Karena langsung ke kebun. Ini juga baru beberapa menit yang lalu sampai di rumah," jawabku jujur.


"Maafkan Rain, Yah. Jika kedatangan ini tidak mengabari terlebih dahulu. Rain mengaku salah karena datang tanpa memberi kabar kepada Ara."


Rain?! Dia memanggil ayah kepada ayahku?!!!


Ibu menoleh ke arahku yang duduk di dekatnya. Sedang ayah tampak terkejut dengan panggilan Rain kepada dirinya.


"Yah, Kak Rain ini calon suami Kak Ara."


Adit tiba-tiba menyambung pembicaraan dari dalam, membuat ayah dan ibuku terkejut bukan main.


"Ara?!!"


"Em, bukan—"


"Sudah-sudah. Nanti kita lanjutkan lagi."


Ayahku tampak pusing mendengarnya. Ia seperti ingin beranjak dari hadapan kami.


"Yah, Rain ini adiknya Cloud," lanjutku.


Ayah segera teringat dengan Cloud. Dia lalu tidak jadi beranjak dari duduknya.


"Cloud teman kerjamu?" tanya ayah lagi.


Akupun mengangguk.


"Hm. Baiklah. Sepertinya Ayah sudah cukup mengerti. Nanti kita sambung lagi obrolan ini. Ayah ingin beristirahat sekarang."


"Baik, Yah," jawabku.


"Ara, aku mau minta izin." Rain mengingatkan.


"Sudah bilang sendiri sana," sahutku.


Rain tampak segan berbicara kepada ayahku. Sedang ibu, kulihat tersenyum-senyum sendiri setelah mengetahui jika Rain adalah adik dari Cloud.


"Nak Rain bisa bermalam di sini. Anggap saja rumah sendiri," kata ibuku seraya tersenyum kepada Rain.


"I-ini ... apa tidak apa-apa, Bu?" tanyaku tak percaya karena ibu merespon dengan baik.


"Tidak apa, nanti Ibu yang bilang ke Ayah."


Ibu lalu beranjak dari duduknya, dia mengusap kepalaku sambil tersenyum. Sepertinya ibu mengetahui dengan jelas isi hatiku ini. Sungguh senangnya mempunyai seorang ibu yang pengertian.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu."


Rain juga ikut beranjak berdiri, seolah ingin mengantarkan ibu yang ingin pergi dari hadapan kami. Sedang aku...


__ADS_2