Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Enough


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Aku sedang asik bersenandung sambil membasuh tubuhku dengan air pancuran. Dan tak lama kemudian Rain mendatangiku, dia langsung masuk ke kolam dengan hanya mengenakan celana pendek ketatnya.


"Rain?"


"Maaf, Ara. Aku sedikit terlambat," katanya lalu duduk di sampingku.


"Tak apa, kau pasti sangat sibuk." Aku tersenyum.


"Tadi kak Cloud menceritakan tentangmu dengan Zu," katanya lagi.


"Lalu?" Aku amat antusias.


"Aku tidak terlalu terkejut jika ternyata dia menyukaimu," cetusnya.


"Benarkah?"


"He-em, mungkin seperti itu," katanya lagi.


"Ish, dasar! Aku menyenggol lengan kekarnya.


"Ara."


"Hm?"


"Kau masih ingat pertama kali kita bertemu di sini?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.


"Tentu. Kejadian itu akan selalu teringat dalam benakku, Rain," jawabku.


"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah berbeda dengan waktu itu?" tanyanya lagi.


"Apa ini sebuah jebakan?" Aku balik bertanya.


"Hahaha." Dia tertawa sambil menekuk kaki kanannya. "Aku hanya ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya. Apakah sama atau tidak dengan saat itu?" tanyanya lagi.


"Hm, aku harus jujur?" Aku masih bertanya.


"He-em. Jujurlah padaku, karena aku ... penasaran." Dia berbisik di telingaku.

__ADS_1


"Ih, geli tahu!" Seketika aku merasa geli saat dia berbisik di telingaku ini.


"Sayang."


"Hm?"


"Waktu itu aku bingung bagaimana cara untuk mendekatimu. Aku belum pernah mendekati wanita manapun. Kau yang pertama," katanya yang membuatku tersipu.


"Kau juga yang pertama bagiku, Rain. Ciuman pertamaku ada di sini." Aku menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk.


"Hah." Dia tersenyum sendiri, begitu tampan sekali. "Inginnya aku juga yang menjadi pertama malam pengantin nanti. Tapi, keputusan ayah tidak bisa diganggu gugat lagi." Rain tiba-tiba berubah roman wajahnya.


"Rain ... maaf." Seketika aku merasa bersalah.


"Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku, Ara. Toh, kita juga akan bersama." Dia lalu memelukku.


Rasanya begitu hangat saat tubuh ini berdekatan dengan tubuhnya. Aku lalu menciumnya dengan sebuah kecupan yang lembut. Setelahnya kudekatkan dahiku di wajahnya.


"Rain, setiap detik manusia bisa berubah pikiran. Kau pasti tahu itu," kataku sambil merasakan hangat napas yang keluar dari rongga hidungnya.


"Ya, aku tahu. Tapi apapun keadaannya, aku tetap mencintaimu, Ara." Dia meyakinkanku.


"Terima kasih, Rain. Andai situasi tidak seperti ini, mungkin aku tidak kesulitan untuk memilih." Aku tatap bola mata biru gelapnya.


Entah bagaimana mengungkapkannya, aku merasa Rain sudah bisa menerima keputusan raja. Walau kutahu hatinya terluka, tapi sebisa mungkin aku tidak menyebut-nyebut nama Cloud di depannya.


"Ara."


"Hm?"


"Apa yang kau lakukan selama berada di Asia?" tanyanya tiba-tiba.


"Kau ingin mengetahuinya?" tanyaku.


"Tentu. Aku hanya ingin memastikan semua baik-baik saja," katanya lagi.


Kuhela napasku lalu mengembuskannya perlahan. Sepertinya Rain sedang menyelidiki hubunganku dengan Zu.


"Di sana aku hanya sebatas membantu proses penyembuhan ayahnya," kataku.

__ADS_1


"Ayah Zu?"


"He-em. Ayahnya terkena penyakit yang tidak biasa dan aku mencoba untuk membantu meringankan rasa sakitnya."


"Lalu, kau tinggal di mana?" tanyanya lagi.


"Aku tinggal di kediaman Zu."


"Apa?!" Seketika Rain terkejut, dia seperti cemas. "Kak Cloud juga bilang jika dia menginginkanmu. Ara, sebenarnya apa yang telah terjadi di antara kalian?"


"Rain?" Kulihat Rain mencemaskan sesuatu.


"Apa yang telah dia lakukan padamu? Mengapa dia sampai menuntutmu untuk tinggal bersamanya? Apa kalian telah melakukan sesuatu?"


Entah mengapa suasana bahagia ini berubah kelam saat dia menanyakan hal yang terjadi di antara aku dan Zu. Sontak kutelan ludahku berulang kali sambil membuang pandangan darinya.


"Ara, kau tahu. Sebagai seorang pangeran dan putra mahkota, kami mempunyai kehormatan dan harga diri yang tinggi. Jika sampai memberikannya kepada seorang gadis dengan penuh kerelaan, itu berarti kami amat mencintainya. Apa dia telah menyerahkan kepadamu sebagaimana yang telah kulakukan?" Rain seperti menuntutku untuk menjawabnya.


"Rain, aku merasa pembicaraan ini tidak baik untuk dilanjutkan." Aku beranjak berdiri.


"Ara, tunggu. Aku ingin semuanya jelas. Aku khawatir terjadi sesuatu di antara kedua negeri jika dia melakukan apa yang kulakukan. Tidak mungkin bagi seorang pangeran menyerahkan kehormatan dan harga dirinya jika hanya main-main. Terlalu banyak pelayan cantik yang bisa memenuhi hasrat kami. Kami juga tidak mungkin melakukannya jika hanya berdasarkan nafsu semata. Ara, tolong—"


"Cukup, Rain! Aku tidak ingin membahasnya. Yang sudah biarlah berlalu. Aku akui jika dia ingin menikahiku, bahkan pernikahan kami sudah dipersiapkan olehnya. Tapi aku tetap memilihmu. Aku harap hal ini menjadi bukti kepada siapa hatiku berpihak." Aku segera keluar dari kolam.


"Ara!" Rain memanggilku, dia lantas mengejarku. "Sayang, tunggu. Maafkan aku, maaf." Rain menahanku lalu menarikku ke dalam pelukannya.


"Aku tidak ingin mendengar apapun tentangnya," kataku yang menolak pembicaraan tentang Zu.


"Ya, ya, baiklah. Aku hanya khawatir, Ara. Aku khawatir tidak dapat menahan emosi jika suatu saat dia datang ke sini dan memaksamu untuk kembali ke sana dengan alasan yang seperti itu. Cukup sudah aku bersaing dengan kakakku sendiri. Aku tidak mampu jika harus bersaing dengannya. Terlebih dia masih berada di atasku."


Rain ... dia bisa merasakan apa yang kutakutkan.


"Kau tahu, kekuatan militer Asia masih berada di atas Angkasa. Aku harus menyatukan sepuluh negeri jika ingin mengimbangi kekuatan militernya. Dan hal itu tidaklah memakan waktu yang sebentar, Ara." Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya.


Aku merasa masalah ini belum selesai. Ketakutan akan kedatangannya mulai menghantui alam pikiranku. Aku takut jika dia membuka aib yang telah kusimpan rapat-rapat dan menjadikannya senjata untuk memaksaku kembali ke Asia. Tiba-tiba saja pikiranku ini diselimuti ketakutan akan dirinya.


Astaga ... apa yang harus kulakukan jika dia benar-benar datang menjemputku?


Ara diselimuti ketakutan setelah Rain memaparkan apa yang dikhawatirkannya. Rain amat khawatir jika Zu datang dan memaksa Ara untuk kembali ke Asia dengan alasan yang tidak mau didengarnya. Rain khawatir tidak dapat menahan emosi.

__ADS_1


Rain ingin menjaga Ara dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pengorbanan Ara di awal-awal kedekatan membuat Rain terikat penuh dengan sang gadis. Hanya Ara lah gadis yang berani mengorbankan diri untuk menyelamatkannya dari bahaya. Dan sejak saat itu, Rain amat menyadari bagaimana perasaan yang sesungguhnya terhadap Ara. Ara adalah calon istri idaman baginya.


Lain Rain, lain pula Ara. Sang gadis yang kini berada di pelukan pangerannya tampak menggelengkan kepala karena tidak ingin mengingat kenangan bersama Zu. Ara sudah memutuskan untuk menetap di Angkasa dan tidak ingin kembali ke Asia. Baginya yang sudah berlalu biarlah berlalu. Segala kenangan indah bersama Zu pun telah ia kubur dalam-dalam di palung hati yang terdalam. Ara tidak ingin mengingatnya kembali.


__ADS_2