
Seusai mandi...
Ara mandi air hangat dan kini telah mendapatkan kesegaran tubuhnya. Ia lantas mengambil pakaian dari dalam lemari. Sambil terbalut handuk kimono, ia memilih-milih gaun yang akan dipakai.
"Mungkin warna ini saja."
Ia lantas mengambil gaun berwarna merah muda dengan corak bunga mawar di bagian dada kanan. Gaun itu berlengan panjang dengan bagian bahu terbuka dan sebatas lutut. Ia sangat imut saat berdiri di depan cermin. Ara lantas mengambil pelembab dan lipglos yang tersedia di dalam lemari.
Aku heran, mengapa aku bisa di sini? Sepertinya aku harus menanyakan hal ini kepada pangeran Zu.
Tak lama, Zu pun mengetuk pintu. Ara kemudian mempersilakannya masuk.
"Nona, kau sudah selesai mandi? Ini kubawakan teh."
Zu masuk ke dalam kamar dengan membawa dua cangkir teh hangat dan juga beberapa lembar daun mint.
"Pangeran, apakah kita bisa mengobrol sebentar? Ada hal yang ingin aku tanyakan." Ara mengajukan permintaannya.
"Kebetulan sekali, Nona. Ada sesuatu hal yang juga ingin kukatakan padamu."
Keduanya bersepakat untuk mengobrol. Mereka lalu menuju teras luar kamar ini. Duduk di kursi seraya melihat pemandangan luar kamar.
"Pangeran, kita ini ...?"
Ara tampak bingung saat melihat pemandangan pesisir pantai di hadapannya. Ia seperti pernah merasakan tempat ini sebelumnya.
"Kita sedang berada di vilaku, Nona. Tempat ini tempat terdekat dari Angkasa." Zu menuturkan.
Ara lalu melihat jam yang ada di dinding kamar. Dan ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Pasti Rain dan Cloud sedang mengkhawatirkan aku saat ini.
"Nona, apa kau ingat sesuatu sebelum ini?" tanya Zu kemudian.
"Maksud Pangeran?"
Ara tampak kurang mengerti dengan pertanyaan Zu karena di dalam hatinya sedang memikirkan kedua pangeran Angkasa. Zu pun seperti menyadarinya.
"Aku menemukanmu tergeletak di lantai ruang bawah tanah Angkasa. Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa berada di sana?" tanya Zu penuh perhatian.
"Aku ...." Ara tampak sungkan menjawabnya.
"Aku hanya ingin mendengar jawaban langsung darimu, Nona. Walaupun aku sudah mengetahuinya."
"Ap-apa?!" Ara terkejut.
"Kau ingat sebelum itu kita bertemu?" tanya Zu lagi.
Ara mengangguk.
"Aku mengikutimu, Nona. Dan kau tahu apa yang kudapatkan?" Zu kembali bertanya.
"Aku tidak tahu, Pangeran." Ara menjawabnya dengan sendu.
__ADS_1
"Aku akan menceritakannya padamu. Dan apa yang aku ketahui setelahnya. Malam itu..."
...
Zu melihat Ara didatangi mantan asistennya. Ia lantas bersembunyi untuk menguping pembicaraan yang sedang terjadi.
"Selamat malam, Nona." Asisten itu menyapa Ara.
"Selamat malam."
Ara menjawabnya dengan kaku. Ia terkejut dengan kedatangan mantan asistennya itu.
"Maaf, Nona Ara. Saya diminta untuk menyampaikan pesan raja," kata asisten itu lagi.
"Pesan? Apakah ada hal penting untukku?" tanya Ara kepada asisten itu.
"Benar, Nona. Raja ingin membicarakan hal penting kepada Nona," lanjut asisten itu.
"Baiklah, apakah aku harus menemuinya sekarang?" tanya Ara segera.
"Tidak, Nona. Nona diminta menunggu di ruangan. Mari saya antarkan."
Asisten itu lalu mengajak Ara ke sebuah tempat. Zu pun diam-diam mengikutinya. Ia bersembunyi di setiap cela dinding agar tidak ketahuan.
Ke mana mereka?
Entah mengapa Zu diliputi rasa penasaran. Hatinya digerakkan agar mengikuti ke mana Ara pergi. Sampai tiba di salah satu tempat yang berada di selatan istana, Zu pun berhenti. Ia melihat Ara menuruni anak tangga, menuju ke ruangan bawah tanah.
Mengapa asisten itu mengajaknya ke sana? Apakah ada sesuatu yang ingin disembunyikan?
Sepertinya ada yang tak beres. Mengapa dia keluar ruangan sendiri? Ke mana nona itu?
Zu terus mengikuti hingga sampai di sebuah teras dekat taman. Ia lalu melihat asisten itu bertemu dengan ratu.
...
"Pangeran, apa yang Anda dengar dari ratu saat itu?" Ara mencoba bertanya.
"Nona, kau akan sangat terkejut jika aku menceritakan yang sebenarnya."
"Tak apa, Pangeran. Aku ingin tahu. Aku merasa jika bukan raja yang benar-benar memintaku untuk menemuinya. Tapi saat itu, aku coba tepiskan prasangka burukku tentangnya."
"Dan karenanya kau terjebak dalam perangkap ratu."
"Maksud Pangeran?"
Zu lantas meneruskan ceritanya.
...
"Yang Mulia, saya sudah mengerjakan apa yang diperintahkan," kata asisten itu.
"Bagus. Ini upah awal untukmu. Segera laksanakan misi kedua. Buang gadis itu ke dalam hutan dan buat dia hilang ingatan. Kau mengerti?!" tanya Moon kepada asisten itu.
__ADS_1
"Tapi, Yang Mulia. Apa ini tidak terlalu berlebihan? Nona Ara sudah sangat banyak menyumbang tenaga dan pikirannya untuk kerajaan. Rasanya keterlaluan jika—"
"Jangan mencoba mendikteku! Lakukan saja tugasmu! Pukul empat pagi aku sudah dengar jika dia tidak berada lagi di istana. Lakukan!" ucap Moon tegas.
"Baik, Yang Mulia." Asisten itu menyanggupi.
Zu yang mendengarnya tampak tak percaya. Ia menelan ludahnya sendiri. Ia melihat ratu begitu senang dengan hal yang dia lakukan sendiri. Zu lalu bergegas pergi dari tempat persembunyiannya.
...
Ara tampak tak percaya dengan apa yang Zu ceritakan. Tiba-tiba saja air mata itu berlinang di mata bulatnya.
"Maka dari itu aku menanyakan apakah kau mengingat sesuatu sebelumnya? Karena aku khawatir jika asisten itu benar-benar menghilangkan ingatanmu." Zu tampak khawatir.
Ara termenung, ia menundukkan wajahnya. Masih tak percaya dengan apa yang Zu ceritakan padanya.
"Malam itu aku hanya diminta menunggu. Asisten itu tidak melakukan apa-apa padaku." Ara mulai bercerita.
"Lalu?"
"Aku kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja. Aku menunggu raja menemuiku. Namun, karena merasa sangat lelah, aku ketiduran. Dan saat aku bangun, pintu ruangan sudah terkunci dari luar."
"Lantas apa yang kau lakukan?" tanya Zu lagi.
"Aku mencoba berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang menjawabnya. Aku lalu terus berteriak sampai suaraku serak dan tidak dapat lagi bersuara."
Zu tampak iba kepada Ara.
"Mungkin karena malam semakin larut, aku merasa udara begitu dingin. Aku pun kedinginan. Semakin lama aku merasa tubuhku membeku. Dan ...,"
"Dan?"
"Dan aku tidak sadarkan diri," tutur Ara kemudian.
Syukurlah jika hal yang diminta ratu tidak benar-benar terjadi padanya.
Zu masih bersyukur karena Ara masih bisa mengingat semuanya. Sepertinya asisten itu tidak tega melakukan apa yang diperintahkan ratu padanya.
"Pangeran."
"Ya?"
"Bagaimana bisa kau membawaku ke sini?" tanya Ara lagi.
Zu tersenyum. Ia kemudian meneguk tehnya.
"Kau benar-benar ingin tahu, Nona?" tanya Zu memastikan.
Ara pun mengangguk.
"Minumlah tehmu. Udara semakin dingin." Zu lantas menawarkan.
Pangeran itu tampak memperhatikan sang gadis dari sisinya. Ia merasa bahagia karena bisa berduaan dengan Ara. Walaupun jalannya ini tidak ia inginkan sama sekali.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menceritakannya."
Zu lalu menceritakan bagaimana bisa ia membawa Ara sampai ke sini. Ara pun mendengarkannya dengan saksama.