
Satu jam kemudian...
Aku dan Cloud berjalan bersama menuju halaman depan istana. Kami memutuskan untuk pergi ke danau angsa putih dengan menaiki kereta kuda. Jaraknya tidak terlalu jauh dari istana. Mungkin hanya memakan waktu sekitar setengah jam perjalanan saja.
Sesampainya di taman depan istana, aku melihat seorang putri yang kukenal waktu itu. Putri itu mengenakan bando mawar merah di kepalanya. Sontak aku teringat dengan negeri seorang putri yang kutemui di Asia.
Dia kan ...?!
Putri berbando mawar merah itu berjalan mendekat ke arah kami. Dan setibanya di hadapanku dan juga Cloud, putri itu memberikan salamnya.
"Salam Pangeran Cloud. Bukankah ini Nona Ara?" tanyanya kepada Cloud.
"Salam bahagia, Putri Rose." Aku masih ingat jika namanya adalah Rose.
"Wah, senang sekali Nona masih mengingat namaku." Kulihat dia tersenyum semringah.
"Aku juga begitu, Putri. Senang bisa bertemu kembali." Aku mulai berbasa-basi.
Aku tidak tahu ada apa gerangan putri ini mendekati kami. Tapi sepertinya, Cloud akan memberi tahuku nanti.
"Pangeran Cloud, waktuku di sini hanya tinggal esok hari. Apakah pangeran Rain masih sibuk?" tanyanya yang membuatku terkejut.
Rain? Dia menanyakan Rain?
Seketika jantungku berdetak tak karuan saat Rose menanyakan perihal tentang Rain. Entah mengapa aku merasa kesal sekali. Namun, sepertinya tidak dengan Cloud. Kulihat dia tersenyum kepada Rose.
"Rain masih bertugas dan belum diketahui kapan bisa kembali ke istana. Sayang sekali aku tidak bisa menemani hari-hari terakhir Putri di sini. Hari ini aku akan menghabiskan waktu bersama kekasihku." Cloud menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya.
"Cloud?!"
Aku menoleh kepadanya yang sedang tersenyum. Dan kulihat Rose terperanjat kaget dengan pernyataan Cloud tentangku.
__ADS_1
"Oh, jadi Nona Ara—"
"Ya. Dia adalah kekasihku. Dan sebentar lagi kami akan menikah." Cloud dengan yakin mengucapkannya di hadapan Rose.
"Ish, kau ini!" Kucubit saja pinggangnya itu.
"Aw! Sayang." Cloud pun kesakitan.
Aku tidak mengerti mengapa Cloud terang-terangan memperkenalkanku sebagai calon istrinya di hadapan Rose. Entah ada motif apa, tapi sebisa mungkin aku menutupi rasa kesal di hatiku dengan tersenyum ke arah Rose. Ya, aku kesal karena Cloud tidak bilang dulu jika ada Rose di istana ini.
"Wah, senang sekali mendengarnya, Pangeran. Selamat Nona Ara. Semoga segera dikarunia buah hati." Rose tersenyum padaku.
Aku merasa basa-basi ini tidak perlu untuk diteruskan lagi. Toh, pertanyaan Rose telah terjawabkan. Segera saja aku undur diri lalu menuju kereta kuda yang sudah menunggu.
"Em, mohon maaf, Putri Rose. Aku duluan, ya. Kakiku terasa pegal jika lama berdiri." Aku beralasan.
Segera kutinggalkan Rose bersama Cloud. Aku tidak ingin mendengar percakapan yang begitu formal di pagi ini. Aku ingin menyegarkan pikiran sebelum tugas baru kujalankan. Ya, aku merasa akan ada tugas lagi untukku. Entah apa itu.
Perasaan Ara amatlah peka terhadap keadaan sekitarnya. Baru saja ia menyelesaikan tugas untuk melindungi negeri ini, ia merasa tugas baru akan segera datang kepadanya. Walaupun belum tahu tugas apa itu, namun Ara selalu membenarkan apa kata hatinya. Baginya hati adalah satu-satunya jalan penghubung antara dirinya dengan Sang Pencipta. Dan pikirannya yang menghubungkan dengan semesta. Sebisa mungkin ia menyelaraskan keduanya walau di posisi sulit sekalipun.
Lima belas menit kemudian...
Perjalanan menuju danau angsa putih atau yang biasa orang-orang sebut sebagai danau cinta telah dimulai. Kini kedua insan berada di dalam kereta kuda yang mana tirai jendelanya dibiarkan terbuka. Sudah lama keduanya tidak berjalan bersama melihat pemandangan alam yang menenangkan.
Cloud duduk di sisi kanan sang gadis yang masih diam sedari tadi. Cloud lalu mencoba mengajak Ara untuk berbincang, tapi Ara seperti enggan menanggapinya. Kedua tangannya menyilang di depan dada pertanda kesal. Cloud pun segera menyadarinya.
"Kau marah karena menunggu atau karena aku berbicara dengan putri itu?" selidik Cloud sambil melihat ke Ara.
"Aku kesal karena kau tidak bilang jika Rose ada di istana," jawab sang gadis.
Cloud mengusap rambutnya. "Astaga, Ara. Aku mana sempat. Kemarin-kemarin fokus mengantisipasi penyerangan. Barulah hari ini bisa keluar setelah keadaan istana aman." Cloud menjelaskan.
__ADS_1
"Ya, baiklah." Ara menjawabnya dengan jutek.
"Hei!" Cloud memiringkan tubuhnya menghadap ke Ara.
"Apa?" jawab Ara ketus.
"Kau semakin cantik, Ara."
Cloud memuji Ara. Seketika Ara tersipu malu lalu segera memalingkan pandangannya dari Cloud. Sang pangeran pun tersenyum sendiri.
"Baiklah. Aku minta maaf. Kita berdamai, ya?" Cloud mengajak Ara untuk berdamai, yang mana membuat Ara tersenyum-senyum sendiri.
Dia bisa membuatku menyerah seperti ini. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Dia seperti mengunci pintu hatiku, tidak menyediakan ruang bagi gadis lain.
Cloud menyerah karena Ara masih memalingkan pandangan darinya. Ia lalu melihat ke arah luar jendela. Dilihatnya pemandangan jalanan menuju danau cinta. Ara pun akhirnya membalikkan pandangannya, ia mengintip Cloud dari ekor matanya. Namun, sesaat ia merasakan sesuatu. Tangan kiri Cloud bergerak pelan meraih tangan kanannya, seperti malu-malu untuk meraihnya.
Cloud ... aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Aku pasrah sajalah.
Ara pun dibuat pusing dengan kisah cintanya ini. Ia seperti mabuk dalam kasih sayang kedua pangeran Angkasa.
Sesampainya di danau...
Pagi ini cuaca amat mendukung sepasang insan yang sedang ingin menyegarkan pikiran. Keduanya menuruni kereta kuda. Namun, karena gaun yang Ara pakai sedikit terbuka, sang gadis harus berhati-hati saat turun dari kereta kuda. Cloud pun membantunya. Ia tersenyum sendiri, melihat Ara menutupi bagian dadanya saat turun dari kereta.
"Aku merasa dejavu jika ke sini, Cloud." Ara melihat pemandangan sekitar.
"Benarkah?" Cloud memperhatikan gadisnya.
"He-em." Ara mengangguk.
Keduanya berjalan bersama menuju gazebo danau. Di mana jalan menuju ke sana seperti altar pernikahan yang indah. Dan untuk yang kedua kalinya mereka melangkahkan kaki menuju gazebo yang ada di danau ini.
__ADS_1
Keadaan danau angsa putih tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Danau ini masih tertata rapi dan juga asri. Pepohonan rindang banyak mengelilingi sekitaran jalan menuju danau. Angsa putih pun dibiarkan berkeliaran dengan bebasnya. Suara-suara indah mereka mewarnai pagi, bersama burung-burung yang berterbangan mencari ikan di danau.
Banyak bunga-bunga tersusun rapi di sekitaran danau. Bunga yang berwarna-warni menambah kesan indah akan tempat yang sudah dijadikan destinasi wisata negeri ini. Namun, hari ini sepertinya ditutup untuk umum karena sang calon raja sedang berkunjung bersama calon ratunya. Keduanya pun kini telah sampai di depan gazebo danau yang indah.