
Sesampainya di ruangan Cloud...
Kabar tak enak kudapatkan.
"Jalan ibu kota masih ditutup sampai satu minggu ke depan, Ara. Kita belum bisa menemuinya."
Cloud memberi tahuku jika sementara waktu belum bisa menemui Paman Mozart yang tinggal di dekat pelabuhan.
"Tapi dia bisa mengiringi tarian pembuka, kan?" tanyaku memastikan.
"Bisa, Ara. Nanti aku yang akan mengantarmu untuk menemuinya."
Aku tahu Cloud masih sibuk dengan rutinitas hariannya. Tapi dia masih sempat untuk menanggapi pembicaraanku.
"Baiklah, aku keluar dulu," kataku berpamitan.
"Kau tidak ingin menungguku?" tanyanya seraya mengantarku ke luar ruangan.
"Aku masih ada tugas untuk merancang busana dansa. Nanti malam saja, ya." Aku mencoba membuat janji.
"Baiklah, sampai nanti." Cloud melepaskan kepergianku.
Tersirat lelah dari wajahnya yang tampan. Tapi dia masih bisa tersenyum kepadaku.
Tetep semangat, Cloud. Doaku selalu menyertai mu!
Aku bergegas meninggalkannya. Sesaat kulihat ke belakang, Cloud masih melihatiku. Dia tersenyum dengan senyuman yang memabukkan itu.
Tuhan, terima kasih telah menetapkan hatinya untukku.
Aku tidak mau kalah darinya. Aku juga ingin memberikan yang terbaik untuk pertunjukan busana nanti. Dengan segera kulangkahkan kaki menuruni anak tangga, berniat menuju gedung konveksi Paman Rich untuk memberi konsep busana tarianku.
...
Banyak prajurit baru yang diturunkan oleh Rain untuk melakukan pembaharuan di istana. Kulihat mereka disibukkan membersihkan bangunan istana ini. Dari mulai atap, plafon, dinding hingga lantainya. Para prajurit itu bahu-membahu membersihkannya.
Para pelayan pria terlihat mengelap kaca jendela istana sampai berkilauan. Hingga tak ada yang menyangka jika ada kaca yang menutupinya. Istana ini sedikit demi sedikit terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
Selama aku tinggal, baru kali ini dilakukan pengecatan ulang. Raja sendiri meminta agar seluruh bagian luar istana dicat berwarna putih susu. Sedang bagian dalamnya, warna biru keunguan-unguan. Sehingga jika malam hari tiba, cahaya lampu membuat istana ini tampak bersinar dari luar.
Selera raja dalam memilih warna boleh juga.
Para koki istana kulihat sibuk memasak untuk para pekerja. Mereka tampak menyajikan hidangan besar ke atas meja yang diletakkan di ruang utama istana. Aroma sedap masakan pun tercium di hidungku.
Ah, jadi lapar.
Jam makan siang sebentar lagi tiba. Kali ini aku ingin makan siang bersama Rain. Namun, saat mencarinya di halaman istana, tanpa sengaja aku bertemu dengan putri itu.
"Nona Ara!"
Dia memanggilku dengan sedikit berteriak. Akupun segera melihat ke belakang, menoleh ke arahnya. Kulihat dia berjalan cepat mendekatiku.
"Akhirnya kita bisa bertatap muka."
Tak ada angin, tak ada hujan. Dia mulai membuka percakapannya.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Putri?" tanyaku sopan.
Putri itu memandangiku dengan tatapan merendahkan. Dia memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku jadi risih sendiri.
"Hm, sepertinya telah terjadi kesalahan," katanya seraya memutariku.
Aku tidak tahu apa maksudnya melakukan hal ini. Aku hanya berusaha bersikap baik padanya. Karena dia adalah tamu kerajaan.
"Maaf, Putri. Saya tidak mengerti apa maksud Anda," sahutku.
Putri itu lalu berdiri di hadapanku sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Dia seperti mengejekku.
"Aku heran kenapa kedua pangeran bisa menyukaimu. Padahal menurutku, kau biasa-biasa saja," ucapnya dengan intonasi merendahkan.
Putri ini benar-benar mengejekku. Secara tidak langsung dia menghinaku.
"Maaf, Putri. Jika tidak ada urusan penting, saya permisi." Aku mencoba untuk tidak menanggapi ucapannya.
"Hei, tunggu!" Dia menahan kepergianku. "Aku pikir ayah menyewa tukang sihir hebat untuk meluluhkan ibu kota. Tapi ternyata, ada wanita penyihir yang lebih hebat kutemui."
"Maksud Anda?!"
Aku segera berbalik ke arahnya. Ucapannya sangat tidak sopan. Secara tidak langsung dia menuduhku sebagai seorang penyihir.
"Kau pasti mengerti akan maksudku, Nona. Tidak mungkin gadis biasa sepertimu disukai kedua pangeran negeri ini. Jika kau tidak menggunakan sihir," katanya yakin.
Astaga, ini tidak bisa dibiarkan. Dia sudah merendahkanku.
"Maaf, Putri. Yang kutahu Anda adalah seorang putri kerajaan. Dan aku percaya seorang putri mempunyai cara berpikir di atas gadis biasa. Tapi ternyata, aku telah salah mengira. Di mana martabat seorang putri yang ada pada diri Anda? Apakah Anda sudah kehilangannya?" tanyaku seraya tersenyum tipis.
"Jika tidak ada hal penting yang berkaitan dengan kerajaan, aku permisi."
Segera saja kutinggalkan putri itu. Aku tidak ingin banyak bicara padanya. Sepertinya ucapanku tadi sudah cukup untuk menampar wajahnya yang cantik namun berbudi pekerti nol itu.
Hah ....
Kuhela napas panjang untuk menormalkan suasana hatiku yang tiba-tiba kurang baik. Akupun terus berjalan cepat untuk mencari Rain. Tak lama, kutemukan Rain di belakang istana sedang mengawasi para tukang kebun menata tanaman hias.
"Ara?"
"Rain, kau ke mana saja? Aku mencarimu!" kataku kesal.
"Aku di sini sejak pagi. Kau sendiri baru kelihatan," sahutnya.
"Aku baru selesai melatih menari!" kataku seraya duduk di tepi pot besar.
Rain memperhatikanku. Dia sepertinya mengerti apa yang sedang terjadi padaku ini.
"Ara, kita ke manshion-ku saja." Dia menarik tanganku.
Aku yang masih terbawa kesal, diam saja dan mengikuti langkah kakinya. Dia rela meninggalkan pekerjaannya untukku.
Sesampainya di manshion Rain...
Kini aku sudah tiba di kediaman pribadinya. Tapi aku memilih untuk duduk di teras belakang. Ada taman kecil dan tempat bersantai untuk berbincang.
__ADS_1
"Ara, kau kenapa? Apa sesuatu terjadi padamu?" tanyanya seraya memberiku segelas air minum.
Aku mengambil air minum pemberiannya. Dengan segera kuteguk air itu sampai habis. Dan kemudian merebahkan punggung di atas sofa panjangnya ini.
"Aku kesal, Rain," kataku.
"Kesal?" Dia duduk di tepi dengan menghadap ke arahku.
"Putri itu bilang aku penyihir."
"Hah?!"
"Dia bilang aku menggunakan sihir untuk memikat hatimu!" gerutuku.
"Astaga, dia berani berkata seperti itu?" tanya Rain heran.
Aku mengangguk.
Rain terdiam sejenak. Dia tampak berpikir.
"Rain, apakah aku seperti seorang penyihir?" Aku beranjak duduk di dekatnya.
"Ara, kau memang penyihir."
"Apa?!!"
Sontak hatiku semakin kesal mendengar Rain berkata seperti itu. Akupun mengambil bantal sofa ini lalu memukulnya.
"Aw! Ara, hentikan!" Rain tampak kesakitan kupukuli.
"Kau ini malah bersekongkol dengannya. Aku kesal!"
Kupukul dia berulang kali dengan bantal sofa ini. Aku melampiaskan rasa kesalku sampai akhirnya aku lelah sendiri.
"Hah ... hah ...."
Napasku begitu memburu, dadaku pun ikut naik-turun. Emosiku akhirnya dapat tersalurkan.
"Sudah?" Rain tiba-tiba bertanya padaku.
"Rain ...?"
"Sudah lega?" tanyanya lagi.
Rain mengajukan pertanyaan yang membuat hatiku tersentak. Dia tidak marah sama sekali dengan hal yang kuperbuat. Rain tampak begitu mengerti diriku.
"Rain, maaf. Aku—"
"Tak apa. Jika kau kesal, lampiaskan saja. Jangan ditahan." Dia kemudian mendudukkan aku ke atas pangkuannya.
"Rain ...."
Aku malu sendiri jadinya. Dia bukannya marah malah memanjakanku.
Ya ampun, hatiku ....
__ADS_1
Aku merasa Rain begitu mencukupi. Dia ternyata bisa bersikap sedewasa ini. Membuat hatiku luluh-lantak karenanya.