
Malam kemudian tiba. Namun, rasa kantuk belum datang kepadaku. Padahal kedua mataku sudah lelah karena membaca seluruh isi dari berkas berwarna biru.
Kuambil segelas teh hangat yang tersedia di meja, kupandangi terang bulan dari balik jendela kamarku. Rasanya ada sebuah rindu yang tertahan. Tapi bukan untuk Cloud, melainkan untuk keluargaku yang jauh di sana.
Rasa rindu ini muncul begitu saja. Aku rindu ibu, ayah dan juga kedua adikku. Kala berjauhan seperti ini, rasa rindu ini begitu besar. Namun, jika sudah berada dekat, pasti ada saja bahan untuk bertengkar.
"Aku berharap semuanya baik-baik saja."
Kututup malamku dengan sebuah doa dan harapan bersamaan dengan kututup jendela kamarku. Esok adalah hari pertamaku bekerja di sini. Aku harus memberikan yang terbaik. Sudah terlanjur tiba negeri ini. Tidak ada kata mundur lagi. Aku harus bersungguh-sungguh. Aku yakin aku mampu. Semangat!!!
Beberapa menit kemudian...
Setelah mencoba memejamkan kedua mata, rasa kantukku pun mulai datang. Namun, aku masih belum dapat tertidur. Entah mengapa malam ini aku gelisah tak menentu. Seperti ada yang kurang.
Kucoba keluar kamar, kuhirup udara malam, kulihat ada beberapa prajurit kerajaan yang berjaga tak jauh dari kamarku. Aku kemudian duduk di teras kamar sambil menatap langit, menghitung bintang agar dapat tertidur.
"Nona, Anda belum tidur?"
Seorang pelayan menghampiriku sambil membawa rantang makanan untuk prajurit yang berjaga. Dia tampak masih muda, mungkin hanya berbeda lima tahun dariku.
"Belum, Mbok. Aku tidak bisa tidur," kataku seraya tersenyum kepadanya.
"Baiklah, Non. Nanti jika sudah mengantuk, lekaslah tidur. Saya pamit dulu untuk mengantarkan makanan kepada prajurit yang berjaga. Permisi, Non."
Aku mengangguk. Pelayan itu kemudian pergi untuk memberikan makanan kepada prajurit yang berjaga di dekat kamarku.
Pikiranku tak menentu. Sesosok pemuda terlintas di benakku. Entah mengapa aku tiba-tiba merindukan Cloud. Merindukan seyumnya, tawanya, harum tubuhnya. Semua yang ada di diri Cloud, aku merindukannya. Mungkin ini yang dinamakan dengan jatuh cinta.
Perlakuan-perlakuan yang Cloud berikan padaku membuatku merasa semakin ingin dimiliki. Rasanya ingin berduaan lama dengannya dan mencurahkan perasaan ini.
__ADS_1
Ah! Aku terlalu banyak berimajinasi. Mana mungkin gadis desa sepertiku dicintai pangeran bersahaja seperti Cloud. Terlebih dia rupawan dan mempunyai pengaruh besar di negeri ini.
Kadang aku bertanya, mengapa harus aku yang diajak Cloud? Pertanyaan itu kadang menyelinap di antara kesibukanku. Selama bersama Cloud, aku tidak pernah merasa risih ataupun khawatir. Yang ada, aku ingin selalu melihatnya, menemaninya, dan kalau boleh aku ingin selalu bermanjaan dengannya di setiap kesempatan.
Hatiku tenang saat bersamanya. Dia bagai kobaran api yang membakar semangatku. Kalau bukan dia yang mengajakku ke sini, mungkin aku masih menetap di desa.
Bukan karena wajahnya yang seperti bule dan postur tubuhnya yang maskulin. Aku menyukai bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita. Dia tidak pernah berkata kasar ataupun bernada mengancam kepadaku. Tidak seperti Rain.
Huh! Kalau ingat Rain, hatiku kesal lagi. Sudah beberapa kali dia membuat ulah. Berani-beraninya dia berlaku tidak sopan kepadaku. Kata-kata yang terlontar dari mulutnya, sungguh menyakitkan. Dia begitu menyombongkan diri. Ingin rasanya aku memberinya pelajaran. Tapi sayang, kesempatan belum berpihak padaku.
Kalau dipikir-dipikir, terlepas dari kesombongannya, Rain juga menawan. Postur tubuhnya sangat atletis. Namun, warna kulitnya terlihat lebih gelap dari Cloud. Katanya sih Rain lebih banyak keluar istana dibanding Cloud.
Mungkin latihan militer yang membuat badannya terbentuk. Tingginya pun melebihi Cloud, berbeda sekitar 3-5cm. Tapi aku tidak mau memedulikannya. Dia saja berlaku kejam padaku. Buat apa aku berbaik hati kepadanya? Sepertinya jika aku berbaik hati hanya akan membuang-buang energiku saja. Baginya tak ada bedanya, aku bersikap cuek ataupun merendahkan diri di hadapannya.
"Hoaamm...."
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali aku bangun. Rasanya sudah cukup tidur semalam. Aku segera beranjak menuju kamar mandi. Air di pagi hari begitu segar di tubuhku. Tidak di sini, tidak di desaku.
Saat berjalan, kulihat di meja sudah tersedia hidangan untuk sarapan pagi ini. Ada semangkuk sup jamur kuping, nasi dan juga segelas teh hangat.
"Pasti ini dari Cloud."
Tidak ada nama pengirim atas hidangan yang kuterima. Aku hanya senyum-senyum sendiri, yakin jika Cloud lah yang mengirimkannya. Segera saja aku beranjak mandi untuk menyegarkan tubuhku.
...
Selepas mandi masih dengan memakai handuk, aku ke ruang ganti pakaian. Di dalam lemari pakaian terlihat masih ada empat gaun yang belum terpakai. Ada warna hitam, putih, merah dan hijau.
__ADS_1
Aku ingin memakai yang merah. Namun, sepertinya ini terlihat selaras dengan baju yang Rain kenakan. Tidak mungkin aku mengenakan pakaian yang selaras dengannya. Mau pakai warna putih pun sepertinya kurang pantas. Karena biasanya gaun warna putih digunakan untuk acara-acara suci. Pernikahan misalnya.
"Jadi aku pakai warna hijau saja. Ini selaras dengan jepit kupu-kupu yang kupakai."
Aku memilih gaun berwarna hijau muda untuk kukenakan hari ini. Seperti biasa, aku harus menggulung rambutku agar tidak acak-acakan saat terkena angin, karena peraturan di istana mengharuskan rambut seorang wanita itu disanggul agar terlihat lebih rapi. Rambutku pun tidak terlalu panjang, hanya sepunggung. Namun, warna pirang terang ini membuatku merasa menjadi seperti orang lain.
Setelah bersiap, memakai gaun, menyanggul rambut sebisanya, mengenakan make-up minimalis dan menyemprotkan parfum yang kupilih sendiri, aku merasa sudah siap untuk menjalani rutinitas di pagi ini. Tentunya tidak lupa menghabiskan sarapan terlebih dahulu. Setelahnya barulah aku menuju istana.
Pekerjaanku dimulai dari ruang utama istana. Kali ini aku ditemani Mbok Asri. Seorang pelayan senior di kerjaan ini. Tentunya Mbok Asri mendapat perintah langsung dari Cloud, siapa lagi kalau bukan darinya.
Aku membuat sketsa kasar tentang ruang utama istana dan mulai berimajinasi. Sepertinya memang perlu pembaharuan di ruangan ini. Cat-cat istana sudah memudar dan harus segera diganti agar terlihat lebih segar. Begitu pun dengan tirai kacanya, warnanya terlalu kuno menurutku.
Beberapa saat kemudian...
Setelah selesai membuat skestsa kasar ruangan utama, aku beralih ke ruangan lain. Aku pikir ruangannya sedikit, eh! ternyata aku salah. Banyak sekali ruangan di sini. Satu persatu kumasuki ruangan itu dan membuat skestanya sampai tanganku pegal.
"Istana ini luas sekali."
Aku tidak menyangka berkeliling dalam istana memakan waktu yang cukup lama. Jika dihitung, aku sudah memulainya dari pukul tujuh pagi. Namun sampai jam makan siang, aku belum juga menyelesaikan semuanya.
"Ara ...."
Kudengar suara memanggilku dari arah samping. Mbok Asri pun pamit kepadaku saat mengetahui siapa yang datang.
"Cloud? Em, maksudku ... Pangeran Cloud," ucapku sambil tersenyum menutupi kesalahan dalam penyebutan nama.
Ini kan di ruangan terbuka. Banyak pelayan istana dan pejabat yang mondar-mandir. Kenapa aku sampai keceplosan tidak menyertai kata pangeran dalam memanggil Cloud?
Cloud hanya tersenyum melihat sikapku. Dia seperti memahamiĀ apa yang sedang aku pikirkan.
__ADS_1