
Dua jam kemudian, di vila Zu...
Kedua insan ini baru saja menghabiskan waktu bersama di tepi pantai. Dan kini mereka sedang tenggelam dengan apa yang baru saja terjadi. Keduanya tampak gelisah menunggu pagi. Tidak Zu, tidak juga Ara. Mereka mengingat-ingat kembali apa yang telah terlewati. Ara sendiri tersenyum malu saat mengenang kejadian di tepi pantai yang baru saja ia alami.
"Pangeran Zu menciumku. Aku tak percaya dia akan melakukan hal itu."
Hati Ara bak berbunga-bunga setelah mengalami musim kemarau berkepanjangan. Ia akhirnya bisa menikmati perjalanan hidupnya ini. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah, menunggu kedua pangerannya datang untuk menjemputnya.
Maafkan aku Rain, Cloud. Maaf ....
Ia pandangi langit-langit kamar itu, mencoba meraih lampu yang tergantung. Ia teringat dengan semua kenangan yang terjadi di istana Angkasa. Tapi kini di jari manis tangan kirinya telah melingkar cincin emas putih, pemberian dari Zu.
"Aku pakaikan, ya." Zu memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kiri Ara.
Ara hanya terdiam, ia masih kaget dengan hal yang terjadi. Degup jantungnya tidak beraturan saat Zu memakaikan cincin itu. Ia bingung harus melakukan apa.
"Sekarang pakaikan cincin di jariku," pinta Zu padanya.
Laut menjadi saksi kedua insan yang saling berhadapan. Mereka bertukar cincin ditemani malam indah penuh bintang. Deruan ombak pantai pun menemani keduanya, merasakan betapa indah musim semi kali ini. Dan sang gadis pun mau tak mau memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kiri Zu.
"Aduh ... bagaimana ini?"
Gadis itu menutup kepalanya dengan bantal. Ia bingung harus bagaimana sekarang, ia sudah terlanjur bersama Zu. Dan apa yang ditakutkannya kini terjadi. Zu ternyata benar-benar menyukainya setelah melewati sekian hari bersama.
Lain Ara, lain Zu. Pangeran itu kini sedang duduk di dekat perapian. Ia memegang bibirnya sendiri. Waktu pun sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat dua belas menit. Ini adalah hari keempatnya bersama Ara.
Nona, aku begitu bahagia sekali.
Zu memeluk bantal sofa sambil meluruskan kedua kakinya. Ia tersenyum-senyum sendiri saat mengingat momen manis yang baru saja terjadi. Hatinya kini bak taman yang ditumbuhi seribu bunga bermekaran. Pangeran itu menggigit-gigit bibirnya sendiri.
Dia tidak melakukan perlawanan sama sekali. Padahal aku berharap ciumanku dibalas olehnya.
__ADS_1
Zu berharap lebih kepada Ara. Ia telah melakukannya sepenuh hati. Namun ternyata, sang gadis masih terpaku dengan apa yang Zu lakukan tadi.
Hah ... dia memang gadis yang benar-benar membuatku gila.
Zu mengusap kepalanya sendiri. Kini ia dapat merasakan betapa indahnya suasana kala jatuh hati pada seorang gadis. Dan gadis itu adalah Ara.
Senyumnya, tawanya, hangat napasnya, mengunci tubuhku hingga tidak dapat melarikan diri. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?
Zu lantas beranjak, menuju jendela kaca yang tak jauh dari tempat duduknya. Ia kemudian memandangi laut dari balik jendela ruang tamunya.
"Aku tidak mengerti mengapa aku bisa segila ini padanya. Dia punya daya tarik yang begitu besar. Sebenarnya, apakah dia benar-benar seorang Dewi? Aku merasa jika dia bukanlah penduduk bumi ini." Zu mulai berpikir.
"Kedua pangeran Angkasa saja bisa bertekuk lutut di hadapannya. Atau jangan-jangan sejak awal mereka sudah menyukai Ara? Tapi apa mungkin? Hm, tapi itu bisa saja terjadi, aku sendiri dibuatnya begini."
Zu bertanya sendiri, menjawab sendiri. Ia seperti orang yang sedang dimabuk cinta.
"Hah ... nona-nona. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke Angkasa. Jika kau kembali, maka aku akan kehilanganmu. Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi."
Dibalik sejuta sensasi yang ia rasakan, Zu mempunyai ketakutan jika kehilangan gadis itu. Ia sampai-sampai tidak menyadari jika dirinya adalah seorang pangeran. Di depan Ara, ia berani melakukan apapun demi mendapatkan hati sang gadis. Dan kini, Zu sudah terlanjur basah. Ia berniat untuk terus memperjuangkan cintanya.
Rain sudah tiba di pelabuhan timur negeri ini. Ia lalu menitipkan kudanya kepada penjaga pelabuhan. Ia pun mulai menaiki kapal bersama prajurit-prajuritnya. Ia ingin membuktikan sendiri akan kebenaran yang ia terima saat berada di bukit pohon surga.
Ara, tunggu aku. Malam ini juga aku akan menjemputmu.
Rain merasa yakin jika Ara benar-benar ada di Pulau Hati. Benar atau tidaknya, ia akan mengusahakannya terlebih dahulu. Ia tidak bisa hanya berdiam diri dan menunggu Ara kembali.
Kapal pun mulai dilayarkan. Butuh satu jam lebih untuk sampai ke pulau itu. Rain bersama pasukannya pun segera mempersiapkan diri sebelum melakukan penyergapan.
Lain Rain, lain pula Cloud. Cloud kini tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sehabis mengobati luka di jarinya, ia meratap di teras atap lantai tiga istana. Berdiri seorang diri sambil melihat halaman depan istana. Angin kencang yang berembus pun tidak ia hiraukan sama sekali.
Cloud lantas memegang kalung pemberian dari Ara. Rindu itupun ia rasakan begitu menggebu-gebu di dalam hati.
__ADS_1
Ara ....
Mungkin jika ia tidak memikirkan negerinya, bisa saja Cloud melakukan hal nekat untuk membawa Ara kembali. Tapi Cloud sadar jika masih mempunyai tanggung jawab yang besar kepada negerinya. Tidak mungkin ia melakukan hal-hal aneh dan membiarkan rakyatnya menjadi korban.
"Aku harus tetap berjuang. Aku tidak boleh menyerah."
Cloud berusaha menguatkan hatinya, walaupun hal itu sangat sulit ia lakukan. Ara adalah segala baginya dan hanya Ara yang ia butuhkan. Tak ada hal lain yang ia inginkan selain gadis itu.
"Cepatlah kembali ... Ara. Aku menunggumu di sini."
Angin malam yang berembus kencang menemani kesendiriannya di malam ini. Jubah kerajaannya yang berwarna putih itu pun tampak melayang-layang terkena angin. Dan tanpa Cloud sadari, sang raja melihat dirinya. Ia merasa prihatin dengan keadaan yang menimpa kedua putranya.
Aku mempunyai dua putra yang sangat kucintai. Dan keduanya mencintai gadis yang sama. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menikahkan keduanya?
Sky segera beranjak pergi dari teras atap istana, menuruni anak tangga sambil menggabungkan kedua tangan ke belakang. Ia tidak ingin Cloud mengetahui kehadirannya.
Sky amat berharap gadis itu cepat diketemukan. Karena Sky sadar jika hanya Aralah yang mampu menenangkan hati kedua putranya.
Beberapa saat kemudian...
Zu tanpa sengaja tertidur di sofanya. Ia terlelap sendiri sambil menikmati malam yang indah ini. Tiba-tiba ada suara kapal mendekati vilanya. Suara kapal itu semakin lama semakin mendekat. Zu lantas terbangun karena merasakan bising.
"Kapal?!"
Seketika Zu terkejut saat melihat kapal yang mulai merapat ke tepi pantai. Ia lalu mengambil pedangnya, berjaga-jaga jika ada tamu yang tak diundang datang malam ini.
"I-itu?!"
Ia pun kaget saat melihat beberapa orang turun dari kapal itu dengan cepat. Zu segera melihat bendera yang berkibar di depan kapal itu.
"Ada apa sebenarnya?!"
__ADS_1
Zu segera keluar dari vilanya. Ia menghadapi sendiri apa yang akan terjadi. Sementara sang gadis masih tertidur lelap di kamarnya.
Pangeran Asia itu merasakan sesuatu akan terjadi padanya dan juga sang gadis. Tapi demi cinta yang kini telah bersemi, ia akan terus berjuang, melawan siapa saja yang menghalangi.