Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
And Then...


__ADS_3

"Duduklah kalian. Tidak sopan berbicara kepada orang tua sambil berdiri."


Raja meminta kami untuk duduk. Aku pun kembali duduk di antara keduanya. Rain dan Cloud mengikuti. Mereka kembali duduk dengan tenang di hadapan ayahnya.


"Nona." Raja beralih padaku. "Sepertinya keputusanmu tidak disukai oleh kedua putraku. Maka dari itu, aku akan menikahkan kedua putraku denganmu." Akhirnya raja mengatakan langsung padaku.


"Yang Mulia, maafkan saya." Aku jadi merasa bersalah.


"Ya, ya. Aku mengerti kekhawatiranmu. Dan mungkin apa yang kau khawatirkan sama dengan yang kupikirkan selama ini. Seminggu lagi pesta pernikahan akan segera digelar. Jadi segera persiapan diri kalian." Raja memberi tahu kami.


"Ayah, seminggu lagi pesta akan digelar dan Ayah menyuruhku untuk merapikan administrasi Aksara? Apa maksudnya, Yah?" Cloud menolak tugas dari ayahnya.


"Cloud, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk merapikan administrasi negeri itu?" tanya raja kepada Cloud.


"Paling cepat tiga hari, paling lama seminggu," jawab Cloud singkat seraya tertunduk.


"Baik, tiga hari. Bukankah masih ada empat hari tersisa sebelum pernikahan?" tanya sang raja.


"Tapi, Yah. Selama tiga hari itu aku harus meninggalkan Ara di istana. Aku tidak bisa membiarkannya bersama Rain." Cloud masih menolak.


"Jadi kau ingin membawa Ara ikut serta?" tanya raja lagi.


"Ya, jika harus ke Aksara, maka aku akan membawa Ara ikut bersamaku." Cloud menegaskan.


"Hei, kau gila, ya?!" cetus Rain dari samping kiriku.


"Rain, sudah." Aku menahan Rain agar tidak mengomentari apa yang Cloud katakan.


"Ayah, Ayah bisa lihat bagaimana manjanya pria bodoh ini. Selama ini Ayah selalu menuruti apa kemauannya. Dan sekarang dia ingin mengajak Ara pergi ke Aksara. Calon raja macam apa dia itu?!" Rain kesal sendiri.


"Rain, sudah!" Kuremas tangan Rain agar tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Hah ...," Kudengar raja mengembuskan napasnya. "Nona, kedua putraku mempunyai sifat yang berlawanan. Aku titip keduanya padamu. Kepalaku sudah tidak dapat meladeninya lagi. Rasanya pusing sekali." Raja memijat dahinya.


"Yang Mulia, maaf. Jika diharuskan mengurus keduanya, saya tidak keberatan. Namun, ada sesuatu hal yang mengganjal di hati saya." Aku mencoba mengajukan pertanyaan.


"Katakan saja selagi keduanya masih berada di sini." Raja menanggapiku.


"Yang Mulia, jika saya menjadi istri dari kedua putra Anda. Bagaimana cara mengatur kebersamaan kami? Apakah ada peraturan khusus untuk hal itu?"


Sungguh gila pertanyaan yang kuajukan ini. Tapi aku merasa harus menanyakannya langsung karena takut salah bertindak. Terlebih ini adalah pernikahan dalam kerajaan, pastinya ada aturan khusus yang boleh dan tidak boleh kulakukan.


"Hm, ya. Kita bisa membagi waktunya. Mungkin di bulan pertama kau bisa bercampur dengan Cloud. Dan di bulan berikutnya, bisa bersama Rain. Namun, sediakan waktu satu minggu dalam bulan tersebut untuk menentukan sudah ada hasilnya atau belum. Jika sudah ada hasil, maka bulan-bulan berikutnya milik penghasil pertama." Raja menuturkan.


"Ayah, ini benar-benar gila!" Rain menyela, mungkin dia tidak habis pikir dengan perkataan ayahnya.


"Ayah melakukan hal ini bukan tanpa alasan, Rain. Kau tahu sendiri apa alasan ayah. Mulai sekarang belajarlah menerima. Kalian harus saling berbagi. Mungkin semua yang dituliskan di dalam buku ini memang benar adanya." Raja mengeluarkan buku hitam dari saku jubahnya.


I-itu kan ...?! Buku yang kucari!


"Cloud, berangkatlah ke Aksara. Segera rapikan administrasi negerinya lalu laporkan kepada ayah. Kibarkan bendera Angkasa di sana!" perintah raja kepada Cloud.


"Ta-tapi Yah—"


"Tidak ada tapi. Rain pergi berperang pun tidak membawa Ara. Mengapa kau yang hanya ingin merapikan administrasi ingin membawa Ara ke sana?" Raja menolak permintaan Cloud.


Kulihat Cloud pasrah setelah raja mengatakan dengan tegas perintahnya. Aku pun menoleh ke arah Rain yang duduk di sampingku. Kulihat dia tersenyum kecil, seperti merasa menang dari kakaknya.


"Keputusan sudah ayah tetapkan. Jangan lagi ada keributan. Segera selesaikan pekerjaan kalian sebelum hari pernikahan tiba. Dan kau, Rain. Cepat beri keputusan atas apa yang ayah tawarkan." Raja beralih kepada Rain.


"Baik, Yah." Rain pun mengiyakan.


"Nona, sebentar lagi kau akan menjadi istri dari kedua putraku. Pergilah mempercantik diri dan tunjukkan yang terbaik pada keduanya. Aku merestui pernikahan kalian." Raja tersenyum padaku.

__ADS_1


Astaga ... ini seperti mimpi.


Aku merasa bahagia sekali. Amat bahagia karena akhirnya bisa mendengar langsung keputusan raja tentang pernikahan kami. Raja merestui pernikahan kedua putranya denganku, benar-benar hal yang amat langka terjadi. Entah mengapa aku ingin menghambur ke pelukannya, seperti menghambur ke pelukan ayahku sendiri. Sore ini tidak akan terlupakan bagi kami. Terutama bagiku yang hanya seorang gadis desa di istana ini.


Tuhan, terima kasih telah mengizinkanku untuk memiliki keduanya. Semampuku akan menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Terima kasih, Tuhan. Aku benar-benar bahagia.


Rasa syukur tak henti-hentinya terucap di dalam hati ini. Baik Rain maupun Cloud seperti menerima keputusan ayahnya. Segera kupegang tangan keduanya, kugenggam erat seolah tidak ingin kulepaskan. Senyumku mengembang di hadapan sang raja yang sebentar lagi akan menjadi mertuaku. Rasa bahagia ini seperti tidak bisa kuungkapkan lewat kata-kata. Aku bahagia sekali.


Petang hari di Angkasa...


Udara menjelang malam terasa dingin menusuk kulit. Aku lalu memutuskan untuk berendam sejenak di pemandian kolam air panas milik istana. Rasanya sudah lama tidak ke sini, menghirup dalam-dalam aroma semak mawar dan menikmati pancuran air kolam yang menenangkan. Aku tidak menyangka jika akan ke sini dengan kondisi yang berbeda.


Raja telah memutuskan untuk menikahkan kedua putranya denganku. Dan pernikahan kami hanya tinggal menghitung hari. Seminggu lagi aku akan menjadi ratu keduanya. Entah sih bagaimana nanti pesta pernikahannya, yang jelas raja sudah mempersiapkan semuanya.


Raja banyak memaparkan padaku tentang aturan yang ada di istana jika aku sudah sah menjadi istri kedua putranya. Dan aku merasa tidak keberatan untuk memenuhi semua aturan itu. Aku sih bawa santai saja selama hal itu tidak membebaniku.


Raja juga menjelaskan bagaimana pembagian waktu untuk kami. Di bulan pertama aku akan bersama Cloud terlebih dahulu. Di bulan keduanya baru bersama Rain. Yang mana aku harus menyediakan waktu satu minggu untuk menunggu hasil bercocok tanam pangeranku. Jika berhasil, maka bulan selanjutnya akan selalu bersama si penanam. Sampai bayiku berusia tiga bulan, aku baru boleh bersama dengan penanam yang ke dua. Gila memang, tapi ini keputusan yang telah ditetapkan raja.


Raja juga tadi memberikan banyak dokumen kepada Rain. Aku tidak tahu apa isi dokumen itu. Tapi sepertinya, amat penting bagi kelangsungan kerajaan. Cloud juga diberikan dokumen oleh raja, namun tidak sebanyak Rain. Mereka kemudian diminta untuk menyelesaikan pekerjaan, sedang aku masih meneruskan pembicaraan bersama raja.


Raja bilang padaku akan kekhawatiran yang ternyata sama persis dengan hal yang aku khawatirkan. Sepertinya aku dan raja satu frekuensi. Senang rasanya mempunyai calon mertua yang selaras. Aku merasa beruntung sekali.


"Tinggal bagaimana mengabarkan hal ini kepada ayah dan ibu."


Aku masih bingung bagaimana cara memberi kabar kedua orang tuaku atas hal ini. Pastinya mereka kaget jika mengetahui aku akan menikah dengan kakak-beradik itu. Tapi, semoga saja ayah dan ibu bisa menerimanya.


"Rain belum datang juga? Tadi katanya cuma sebentar."


Sebelum berendam di kolam air panas, Rain berpesan akan menjemputku setelah pekerjaannya selesai. Tapi langit perlahan gelap, dia belum juga datang.


"Mungkin dia sangat sibuk."

__ADS_1


Sambil menunggu kedatangannya, kuhirup dalam-dalam aroma semak mawar yang membangkitkan gairah. Kupandangi langit yang mulai gelap. Rasanya aku ingin tetap di sini bersama dengan kedua pangeranku.


__ADS_2