Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I'm Telling You


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Cloud akhirnya berpamitan setelah semua keperluan keberangkatannya siap. Dia akan berangkat bersama seratus pasukan khusus ayahnya. Yang mana raja sendiri yang memerintahkan untuk menemani Cloud selama bertugas di sana. Dan kini dia sedang membisikkan sesuatu kepada Rain. Aku bisa mendengar samar-samar apa yang dikatakan olehnya. Dan seketika itu juga aku tertawa sendiri.


"Sudah jangan banyak pesan padaku. Kalau mau pergi ya pergi saja!"


Rain tampak kesal karena Cloud lama berbisik di telinganya. Dia menjauhkan tubuh Cloud segera. Sedang Cloud, dia menatap Rain dengan tatapan yang mengancam. Namun, saat melihatku dia kembali tersenyum.


Hah ... mereka ini.


Aku tak habis pikir akan berada di antara mereka. Yang mana sebentar lagi raja sendiri yang akan menikahkan kami.


"Ara, baik-baik di istana. Jauhi dia, ya." Cloud melirik ke arah Rain.


"Hati-hati di sana. Jangan makan sembarangan. Ingat di sana ada siapa." Aku mencoba mengingatkan Cloud.


"Iya, Sayang," kata Cloud yang membuat Rain seketika ingin muntah.


Cloud tidak menghiraukan adiknya. Ia malah ingin menciumku. Di depan Rain dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sontak Rain menarik tubuhku lalu bertukar tempat. Sehingga terjadilah sesuatu yang membuatku tersentak.


Astaga! Cloud mencium Rain?!


Aku terperanjat saat melihat Cloud mencium Rain. Untung saja tidak kena bibirnya. Kalau kena, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Uwek!" Cloud pun seperti ingin muntah.


"Bagaimana rasanya, hah?!" tanya Rain kepada Cloud dengan intonasi mengejek.


"Pahit sekali! Cuih! Kenapa kau menghalangiku?!" Cloud tidak terima Rain mengantikan aku.


"Kau tidak ingat kata ayah apa? Ayah melarang kita menyentuh Ara sebelum hari pernikahan. Bagaimana sih kau ini?!" Rain membuang pandangannya dari Cloud.


"Kau!" Cloud pun tampak kesal.


"Sudah-sudah. Jangan bertengkar lagi." Aku memisahkan mereka. "Cloud, hati-hati ya." Aku akhirnya melepaskan keberangkatan Cloud.


"Hm, baiklah. Jaga dirimu, Ara." Cloud mengusap kepalaku. "Dan kau!" Cloud melihat ke arah Rain. "Ingat ucapanmu!"


Tiba-tiba roman wajah Cloud berubah saat melihat adiknya. Rain pun tampak memalingkan pandangan, tidak peduli. Aku jadi harus menelan ludah saat melihat perseteruan mereka.


"Sampai nanti, Ara." Cloud menaiki kuda putihnya.


Aku tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah Cloud. Cloud pun membalas lambaian tanganku seraya tersenyum. Ia lalu melajukan kudanya menuju pintu gerbang istana. Di mana telah banyak pasukan khusus yang menunggunya. Di sana juga ada raja dan ratu. Mereka ingin mengantarkan keberangkatan Cloud sampai di depan pintu gerbang istana.


"Hah, dia itu banyak mintanya." Rain menyilangkan kedua tangan di dada.


"Kau kesal, ya?" tanyaku sambil menahan tawa.


"Tentu saja aku kesal. Dia berpesan tidak boleh dekat-dekat denganmu. Tidak boleh menyentuhmu. Tidak boleh ini, itu. Permintaannya banyak sekali." Rain menggerutu.


"Hei, sudah. Doakan Cloud. Dia akan bertugas beberapa hari di sana," kataku menengahi.

__ADS_1


"Iya, aku tetap mendoakannya. Semoga saja dia tidak bodoh seperti kemarin," cetus Rain yang membuat hatiku khawatir seketika.


"Rain, apa Andelin ada di sana?" tanyaku yang mulai cemas.


"Dia itu sudah dinikahi oleh orang yang membunuh ayahnya."


"Hah? Apa?!" Aku terkejut.


"Iya, Ara. Pria yang kau lihat menaruh racun ke dalam kopi raja itu adalah suami Andelin," jelas Rain lagi.


"Astaga!" Kupegang kepala ini karena tiba-tiba merasa pusing.


"Sudah, jangan dipikirkan. Pastinya ayah sudah mengantisipasi Andelin. Kita ke kediamanku saja. Aku ingin mencicipi cemilan yang kau janjikan tadi." Rain tersenyum manja di depanku.


"Hah, ya. Baiklah." Aku pun menurut padanya.


Aku terkejut mendengar kabar Andelin dinikahi pria tua itu. Setelah membunuh ayahnya, pria tua itu malah menikahi anaknya. Sungguh keji perbuatan yang dia lakukan. Aku tak habis pikir ada orang sepicik itu di dunia ini.


Semoga keturunanku tidak ada yang seperti itu.


Aku khawatir, benar-benar khawatir menghadapi orang yang mempunyai penyakit hati. Lebih baik menghadapi orang yang berpenyakit jasmani daripada rohani. Semoga saja di istana ini tidak ada yang seperti itu. Dan jangan sampai ada.


Ara kaget dengan kabar yang didengarnya. Ia tidak menyangka jika Land menikahi Andelin. Karena usia di antara mereka terpaut amat jauh. Ara juga berharap orang-orang di sekelilingnya tidak ada yang mempunyai penyakit hati. Karena menurutnya, penyakit hati justru lebih berbahaya daripada penyakit jasmani. Ara juga berdoa semoga semuanya dilindungi dari penyakit hati tersebut.


Beberapa saat kemudian...


Aku dan Rain berada di ruang tamu kediamannya. Aku duduk di sofa, sedang Rain duduk di lantai menghadapku. Dia tampak asik menikmati cemilan yang kuberikan, namun tidak sebanyak yang kubawakan untuk Cloud.


"Hm, enak sekali. Tapi kenapa cuma lima batang?" Dia menggerutu.


"Ih, kau ini. Syukur-syukur kuberi lima. Bagaimana jika hanya dua?" tanyaku kesal.


"Hei, Sayang. Jangan pelit-pelit padaku. Nanti kuhukum baru tahu!" Dia malah mengancamku.


"Ih, dasar."


Kulihat tinggal satu stik lagi. Aku jadi ingin mencicipinya. Namun, Rainku ini tidak berhenti, dia ingin mengambil sisanya.


"Rain, aku juga mau," kataku saat dia mengambil cemilan yang terakhir.


"Kau mau?" Dia bertanya padaku.


"He-em." Akupun mengangguk.


"Sini." Dia menggigitnya dengan bibir lalu memintaku untuk mengambilnya sendiri.


Dia memancingku.


"Ayo, Sayang. Cepat! Kalau tidak kumakan saja, nih." Dia melepas cemilan dari bibirnya lalu memegang dengan tangannya.


"Harus ya seperti ini?" Aku jadi resah melihat kelakuannya.

__ADS_1


"He-em." Dia menggigit lagi cemilan itu dengan bibirnya.


Mau tak mau aku menurutinya. Kudekatkan wajah ini ke arah cemilan itu lalu aku pun berusaha menggigitnya. Namun...


"Mmhh?!"


Sedikit lagi hampir sampai, Rain mengambil cepat cemilannya. Sehingga bibirku dan bibirnya bertemu.


Rain ....


Entah mengapa hatiku malah merasa senang. Perasaan kali ini amat berbeda dari yang sebelumnya. Dan entah mengapa aku ingin memeluknya. Kukalungkan saja kedua tanganku di lehernya. Rain pun seperti mengerti, dia menarik tubuhku agar lebih mendekat ke tubuhnya.


"Ara."


"Hm?"


Ciuman inipun terhenti saat aku sudah duduk menyamping di atas pangkuannya.


"Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu," katanya seraya menatapku.


"Tentang apa?" tanyaku.


"Tentang kita. Aku, kau dan dia."


"Eh?!"


Aku terkejut saat Rain ingin menceritakan sesuatu. Tapi, belum sempat Rain menceritakannya, Menteri Pertahanan Angkasa datang menemui kami. Segera saja kubangun dari pangkuannya.


"Salam bahagia untuk Pangeran Rain dan Nona Ara." Menteri itu masuk ke ruang tamu setelah mengetuk pintu.


"Ada apa Tuan Dave?" Rain segera berdiri.


"Maaf Pangeran, Yang Mulia menunggu Anda di utara istana. Beliau sedang bersama pangeran Star," tutur menteri itu.


"Ada apa ya?" Rain tampak berpikir. Tiba-tiba raut wajahnya berubah cemas. "Baik, nanti aku ke sana." Rain menyanggupi.


"Kalau begitu saya langsung permisi, Pangeran, Nona. Saya ingin menemui pasukan di belakang istana." Menteri itu berpamitan.


"Baiklah. Terima kasih." Akhirnya percakapan singkat ini ditutup oleh Rain.


Kulihat Menteri Pertahanan itu bergegas keluar dan meninggalkan kami. Entah mengapa mendengar Rain dipanggil, hatiku dag-dig-dug tak karuan.


Ada apa ya? Mengapa sampai seorang menteri yang memanggil Rain? Aku khawatir sendiri.


"Ara, aku mandi dulu, ya. Nanti kita ke utara istana," katanya yang membuyarkan lamunanku.


"Hei, raja minta sekarang. Nanti kena marah kalau lama." Aku mengingatkannya.


"Hah, baiklah." Rain akhirnya menurutiku.


Kami bergegas keluar dari kediaman, melangkahkan kaki menuju utara istana. Kami pun mulai menyusuri taman depan seraya bercakap ringan. Tidak kusangka Rain akan menceritakan sesuatu yang belum pernah kuketahui sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2