Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
He is...


__ADS_3

"Lalu siapa namamu? Apa masih tidak ingin memperkenalkan diri kepadaku?"


"Ma-maaf, Rain."


Aku merasa bersalah mendengarnya. Selama ini Rain berpikir jika aku telah bersikap acuh tak acuh padanya. Padahal aku merasa jika sikapnya itulah yang sangat menyebalkan. Dia melakukan ini semua hanya untuk mendapat perlakuan khusus dariku.


"Sini kupakaikan kalungnya."


Rain kemudian memutar. Dia kini berada di belakangku. Memakaikan kalung berwarna merah delima berbentuk oval, yang mana rantainya terbuat dari emas murni.


"Pakailah kalung ini selama berada di istana. Aku tidak ingin hanya kakakku saja yang memberimu sebuah hadiah berupa jepit kupu-kupu itu."


Aku tersentak. Sepertinya ada aura persaingan di sini.


Jadi jepit ini dari Cloud? Pantas saja Bibi Rum terlihat begitu berhati-hati memakaikannya kepadaku.


"Kau pasti lapar. Mari kita makan."


Rain menarik sebuah kursi untukku. Dia lalu menghidupkan lilin berwarna merah dengan sebuah korek api dari kayu. Dia membuka sajiannya. Kulihat ada seekor ikan cukup besar yang sudah dibaluri bumbu-bumbu sedap.


Rain sudah mempersiapkan semua ini untukku.


Akupun menyambut ajakannya. Kami lalu makan malam bersama. Tak kusangka Rain bisa berlaku hangat kepadaku setelah apa yang aku alami selama ini. Aku mulai merasakan kenyamanan bersamanya. Kami pun mencoba bertukar pikiran. Bintang-bintang di langit menjadi saksi keakraban kami malam ini.


Terima kasih, Rain.


...


Seusai makan malam, aku diajak olehnya naik ke atas tangga, ke tempat sepetak yang lebih tinggi lagi. Di sana terdapat ayunan yang cukup untuk kami berdua. Kami pun duduk bersama dengan Rain berada di sisi kananku. Dia mengajakku untuk lebih dekat memandangi rembulan.


"Bulan terlihat lebih besar malam ini," kataku membuka percakapan.


"Hm, ya. Bulan sempurna di malam ini," sahut Rain lalu menoleh ke arahku.


Rain memperhatikanku begitu dalam. Dia tidak henti-hentinya memandangiku. Aku merasa menjadi wanita spesial malam ini.


"Jadi, namamu?" tanyanya lagi.


Aku sampai lupa jika belum memperkenalkan diri kepadanya. Aku tersadar lalu segera mengalihkan pandanganku padanya.


"Namaku Ara. Kau bisa memanggilku dengan sebutan itu," jawabku seraya tersenyum.

__ADS_1


Rain pun tersenyum. Kami terus menikmati bulan sempurna malam ini. Namun, tangan kiri Rain tiba-tiba menggenggam tangan kananku.


Rain?!


Aku terkejut, entah apa maksud dari pegangan tangannya. Kulihat dirinya yang mengalihkan pandangannya dariku. Hanya tangannya saja yang memegang erat tanganku. Seolah dia ingin membicarakan sesuatu tapi tertahan di tenggorokannya.


"Hooaamm..."


Rasa kantukku mulai datang. Rain pun segera menyadarinya. Dia kembali mengalihkan pandangannya padaku.


"Kau mengantuk, Ara?" tanyanya.


Aku mengangguk. Dia segera melepas pegangan tangannya padaku. Kupikir ini akan berakhir. Namun ternyata, Rain merangkulku. Dia merebahkan kepalaku di pundak kirinya.


"Tidurlah, Ara. Aku akan menjagamu," katanya lembut.


Kurasakan getaran aneh saat dia memperlakukanku tak biasa malam ini. Aku dapat mendengar detak jantungnya bersamaan dengan hangat napasnya. Aku merasa disayang olehnya.


Kunikmati perlakuannya padaku. Semilir angin malam yang berembus menambah rasa kantukku. Dan sebelum rasa kantuk itu menutup kedua mataku, kurasakan Rain mengusap lembut kepalaku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam tangan kananku. Begitu romantis malam ini, aku tak percaya jika hal ini dapat terjadi pada kami.


"Ara?"


"Hm?"


Tak kusangka dia akhirnya meminta maaf atas sikapnya yang sangat menyebalkan itu. Namun, aku tidak menjawabnya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Entah mengapa aku semakin mengantuk, mataku berat sekali.


Kesadaranku hilang sesaat, entah apa yang terjadi sebelumnya.  Aku tak lagi kuasa menahan rasa kantuk ini. Lelah begitu menerjangku.


Sebelum benar-benar tertidur, kulihat dari balik kelopak mata yang berat, Rain menggendongku masuk ke dalam kamar.


"Selamat tidur, Ara."


Dia kemudian merebahkanku di atas kasur lalu menyelimuti tubuhku dengan selimut yang lembut. Dan sebelum kedua mataku benar-benar terpejam, kulihat Rain menutup pintu dari luar. Aku tidak tahu sedang berada di mana dan aku juga tidak memedulikannya. Rasa kantukku begitu berat, membuatku tertidur begitu saja.


Keesokan harinya...


Aku terbangun dari tidurku. Ternyata, aku bukan tidur di kamarku sendiri melainkan di kamar Rain. Dengan masih mengenakan gaun berwarna merah tanpa terbuka sedikit pun.


Sepertinya semua baik-baik saja.


Aku lalu keluar kamar dan mencari Rain, namun tak kudapati dirinya. Aku kemudian menuju taman istana untuk mencarinya. Tak lupa dengan menggulung rambutku terlebih dahulu dan menguncinya dengan sebuah hiasan kepala agar gulungan rambutku tidak terlepas.

__ADS_1


Ternyata, di taman istana Rain sedang sibuk mengawasi tukang kebun melakukan tugas yang sudah kuarahkan. Dia pun tidak enggan menurunkan personilnya untuk membantu menebangi pohon-pohon tinggi yang menutupi bangunan istana kerajaan ini.


Aku hanya dapat melihatnya dari jauh. Hatiku begitu tersentuh dengan sikapnya kali ini. Aku jadi senyum-senyum sendiri dibuatnya.


Pekerjaan yang dilakukan bahu-membahu ini tidak memakan waktu yang lama. Tidak sampai sore hari, pekerjaan sudah selesai. Dan kini istana terlihat begitu mewah karena tidak ada lagi pohon tinggi yang menutupi.


Nyaris sempurna di mataku. Aku begitu bangga kepada Rain. Dia mau turun tangan langsung membantuku. Sedangkan aku dibiarkan tertidur pulas olehnya.


Aku lalu meninggalkannya karena harus bertemu Cloud hari ini untuk menanyakan tugas di berkas berwarna putih. Aku memang belum sempat membacanya sampai dengan selesai. Berkas itu masih tersimpan rapi di bawah tempat tidurku.


Aku kemudian berjalan menuju kamarku. Para penghuni istana membungkukkan tubuhnya saat melihatku melewati mereka, entah mengapa. Tapi aku hanya membalas sikap mereka dengan senyuman. Hampir-hampir saja otot-otot wajahku kaku karena terlalu sering tersenyum.


Siang menjelang sore...


Kini dengan mengenakan gaun berwarna biru, aku memasuki ruangan Cloud. Namun sayang, Cloud tidak berada di tempat. Seorang pelayan pria datang dan memberi tahuku jika Cloud sedang mengantarkan tamu pulang.


Terbesit rasa penasaran bagaimana Cloud memperlakukan tamunya. Aku meminta untuk diantarkan kepadanya. Namun, pelayan itu menolak dengan halus. Getaran cemas itu kurasakan saat mengetahui jika tamu Cloud adalah seorang wanita. Dan karena khawatir melanggar aturan, aku hanya meminta diberi tahu akan lokasi di mana Cloud sekarang ini berada.


"Pelabuhan?"


Aku termenung sejenak setelah mendengar jawaban dari pelayan pria ini. Tidak mungkin aku mengajak Rain untuk menemui Cloud.  Sepertinya aku memang harus menunggunya di sini.


"Ara, kau di sini rupanya."


Panjang umur buat Rain. Baru saja aku memikirkannya, dia sudah datang. Seperti sebuah telepati level dewa yang terhubung di antara kami.


"Nona, saya permisi."


Pelayan pria berpamitan kepadaku setelah melihat kedatangan Rain. Dia juga memberi hormat kepada Rain sebelum berlalu pergi.


"Rain, kau tahu jadwal Cloud hari ini?" tanyaku menyelidik.


"Hm, kenapa kau menanyakannya padaku?"


"Aku ada urusan pekerjaan dengannya," jawabku seraya berjalan.


Para pelayan yang kebetulan berpapasan melihat kami, tampak begitu santun hingga membuatku harus tersenyum sambil berbicara kepada Rain.


"Cloud sedang mencoba bernegosiasi dengan penguasa negeri seberang. Kami berencana untuk menyatukan daerah kekuasaan kami," jawab Rain padat.


"Hm, begitu, ya?"

__ADS_1


"Kau ingin menemuinya?"


Rain seperti menawarkan diri untuk menemaniku menemui Cloud. Sedangkan aku masih berpikir.


__ADS_2