
Perjalanan pulang ke istana...
"Ara."
"Hm?"
"Kau senang hari ini?"
"He-em." Aku mengangguk.
"Aku tak percaya kita bisa bersama seharian," katanya lagi.
"Iya. Sampai makanan dan minuman kita habis, baru terasa ingin pulang," sahutku seraya tertawa.
"Hahaha, benar. Mungkin jika aku selalu berada di dekatmu, nafsu makanku akan bertambah."
"Benarkah?"
"Iya, Ara."
Cloud melajukan kuda putihnya. Sedang aku asik merebahkan diri ke tubuhnya ini. Kami menikmati perjalanan pulang ke istana.
"Nanti malam kau ingin pergi lagi?" tanyanya padaku.
"Ke mana?"
"Pasar malam mungkin."
"Ah, iya. Ingin, sih. Tapi aku tidak ada teman," jawabku sedih.
"Aku akan menemanimu." Cloud memberi lampu hijau padaku.
"Benar?! Tapi kau tidak lelah, Cloud?" Aku masih khawatir.
"Tidak, Ara. Saat bersamamu, energiku bertambah," jawabnya.
"Ah, kau ini!"
"Aw! Kau mencubit dadaku."
"Biar saja, Weee!" Aku menjulurkan lidah, mengejeknya.
"Ara, jangan begitu. Nanti aku tidak konsentrasi melajukan kudanya." Cloud tampak resah dengan sikapku.
"Maka itu jangan merayuku." Aku membela diri.
"Eh, aku tidak merayu. Hanya berkata sejujurnya saja." Dia berkilah.
Dia tidak bisa melihat lidahku? Hm ....
Kutatap wajahnya dari sisi. Tersirat kebahagiaan mendalam di hatinya. Cloud tampak bahagia bisa seharian bersamaku. Sejak pagi sampai sore, kami terus bersama tak terpisahkan.
"Ini jam berapa ya, Cloud? Langit masih tampak terang." Aku heran, sehabis gerimis terang kembali datang.
"Mungkin sekitar pukul empat sore," jawabnya seraya terus mengendalikan laju kuda.
"Wah, lama sekali."
"Kau menyesal?" tanyanya, menoleh ke arahku.
"Tidak-tidak. Aku senang sekali. Hanya saja ini waktu terlama kita bisa berjalan bersama. Lebih dari enam jam."
__ADS_1
"Ya, kau benar. Dan aku berharap bisa terus seperti ini," tuturnya.
"Hei, memangnya tidak bekerja?" tanyaku heran.
"Bekerjalah, Sayang. Bagaimana aku menafkahimu dan anak-anak kita jika tidak bekerja?" Cloud mengusap kepalaku.
Cloud ... dia mulai mengembangkan hatiku ini dengan kata-katanya.
"Kau tau, Ara?"
"Hm?"
"Sejak ibu melahirkanku, semua pelayan yang seumuran denganmu dipecat olehnya."
"Hah???"
"Kau bisa lihat sekarang, tidak ada pelayan seusiamu. Apalagi yang bisa menari."
"Mengapa begitu?" tanyaku bingung.
"Mungkin ibu tidak ingin ayah berpaling dengan yang lebih muda."
"Hei, bukannya ratu juga masih muda saat melahirkanmu?"
"Benar. Tapi hati manusia siapa yang tahu, kan?" katanya lagi.
"Tapi, Cloud. Pelayan di kediaman Rain masih muda," kilahku.
"Usia mereka sudah lewat kepala tiga, Ara. Tidak ada pelayan istana yang berusia 20-30 tahun. Semua di bawah atau di atasnya."
"Hm, begitu."
Mungkin ratu khawatir kehadiranku akan menikungnya. Astaga, mengapa bisa ratu berpikiran seperti itu? Sedang aku dengan kedua putranya saja sudah merasa kewalahan.
"Em, ya?"
"Tetaplah bersamaku, aku membutuhkanmu." Cloud mencium kepalaku.
Aku tersenyum, tidak menjawab atau berkata apapun. Aku hanya menikmati perjalanan ini bersamanya. Hutan kecil di sekitar kami seolah menjadi saksi atas cintanya. Cinta Cloud kepadaku.
Kuusap wajahnya perlahan dan Cloud juga segera menciumi tanganku. Aku merasa nyaman dan bahagia hari ini. Aku bisa bersama pujaan hati.
Cloud, andai saja sejak awal seperti ini. Mungkin pilihanku akan jatuh padamu.
Aku masih bingung untuk memilih. Namun, sebisa mungkin aku bersikap adil untuk keduanya. Aku tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka. Aku begitu menyayangi Cloud maupun Rain. Keduanya begitu berarti di hatiku.
Perjalanan pulang kembali diteruskan hingga sampai di pintu gerbang belakang istana. Para prajurit dan pelayan pun menyambut kedatangan kami. Tak terkecuali Mbok Asri, dia segera menagihku. Ya, aku tidak lupa membawa buah tin untuknya dan juga untuk persediaan Cloud beberapa hari ke depan.
Semua ini tidak terlepas dari bantuan White yang sudah menemani perjalanan kami hari ini. Akupun mengusap kepala kuda putih milik Cloud, dia tampak meringkik senang.
Malam harinya...
Kami kini sudah berada di pasar malam ibu kota. Di sini terlihat begitu ramai, banyak para pedagang dan juga pengunjung yang datang silih berganti. Lampu-lampu pasar juga terlihat tergantung di langit-langit, menambah kemeriahan malam ibu kota. Baru kali ini ibu kota dibuka setelah terserang wabah penyakit kemarin.
Aku dan Cloud sengaja menyamar, tidak mengenakan pakaian kerajaan. Pakaian kami seperti rakyat biasa. Ya, anggap saja ini sedang blusukan. Melihat dengan jelas bagaimana keadaan penduduk yang sebenarnya.
Cloud menggenggam tanganku, dia mengenakan batik biasa dengan celana dasar hitam pendek dan juga sandal gunung. Sedang aku, mengenakan kebaya merah muda dengan rok batik selutut. Rambutku sengaja dibiarkan tergerai karena Cloud menyukainya.
"Kenyangnya."
Kami baru saja selesai makan di warung bakso sapi yang ada di pasar malam ini. Cloud yang mengenakan topi wayang, tidak mampu dikenali oleh para penduduk. Aku juga begitu, tak ada yang menyangka jika aku adalah gadis pembawa buah surga itu.
__ADS_1
Kami lalu meneruskan langkah untuk melihat-lihat barang yang dijual di sini. Beberapa saat kemudian, pandanganku tertuju pada seorang pengrajin aksesoris. Bersamaan dengan itu, Rain datang bersama pasukannya.
"Ara, tunggu sebentar. Ada Rain."
Cloud berpamitan, memintaku untuk menunggu. Akupun mengiyakannya lalu lekas menuju pengrajin tersebut.
Aku ke sana saja.
Entah mengapa langkah kakiku tertuju ke arah pengrajin itu. Kulihat banyak kerajinan tangan yang dijual. Ada kalung, gelang, cincin dan lainnya. Aku jadi kepikiran untuk membelikan keduanya kalung. Kupilh satu per satu dan ternyata ada dua kalung yang kutaksir.
"Ini berapa harganya, Pak?" tanyaku pada pengrajin aksesoris.
"Satu kalung harganya satu koin emas, Nona," jawab pengrajin itu.
Satu koin emas. Tapi ini kan terbuat dari perak. Aku bergumam dalam hati.
"Saya menggunakan sepuluh perak untuk membuatnya, Nona," lanjut pengrajin itu.
Kurogoh saku kembenku dan ternyata hanya ada dua koin emas pemberian dari Cloud. Aku tidak memintanya banyak tadi.
Jika aku beli dua, aku tidak punya uang lagi untuk membeli yang lain. Tapi ... tidak apa-apalah.
Akhirnya aku menyetujui pembelian dua kalung tanpa menawarnya. Kupikir pastinya sangat sulit untuk membuat kalung ini. Jadi anggap saja sebagai apresiasi atas kerja keras pengrajin itu.
"Baiklah, Pak. Saya ambil yang bermata awan dan hujan."
Kebetulan ada kalung yang gantungannya berupa awan dan hujan. Cocok sekali melambangkan Rain dan juga Cloud.
"Nona, Anda tidak berniat menawar kalungnya?" Pengrajin itu tampak bingung.
"Em, tidak, Pak. Bapak pasti sudah bekerja keras untuk membuat kalung ini. Ini uangnya."
Kuserahkan dua koin emas kepada pengrajin tersebut. Aku pun menerima kalung pembelianku. Yang awan di kantong kain berwarna biru, dan yang hujan di kantong merah. Dengan gembira aku menerimanya.
"Terima kasih, Pak."
Aku berbalik setelah mendapatkan kedua kalungnya. Tapi, tiba-tiba pengrajin itu memanggilku.
"Nona, tunggu!"
"Ya, Pak. Apakah uang saya kurang?" tanyaku yang bingung karena dipanggil lagi.
"Tidak, Non. Saya ingin memberi ini." Pengrajin itu memberiku sebuah gelang bergantung awan dan hujan.
"Eh, ini ...?"
"Anggap saja itu bonus dari pembelian kedua kalung, Non."
"Benar, Pak?" Aku tak percaya.
"Nona sudah berbaik hati kepada saya. Maka tolong diterima pemberian ini."
Seketika aku terharu. Aku jadi teringat saat ayah berjualan sayuran di pasar. Ayah juga tidak sungkan memberi bonus kepada pembelinya.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Non."
Segera kupakai gelangnya di tangan kiriku. Aku merasa sangat senang kala memakainya. Seolah gelang ini memberi tanda jika aku dapat memiliki keduanya, baik awan maupun hujan.
Gelang dengan gantungan awan dan hujan ini membuat hatiku sangat terhibur. Entah mengapa pikiranku terasa ringan sekali. Aku seperti mendapat tanda dari alam semesta jika bisa memiliki keduanya. Semoga saja ini benar.
__ADS_1
Tak lama berselang, Cloud menghampiriku. Dia mengajakku pulang karena Rain khawatir pada kami. Ya, aku mengerti sih maksudnya. Malam hari tidak baik keluar berdua tanpa pengawalan. Terlebih Cloud baru saja mengalami sesuatu di luar logika. Percaya atau tidak, itu tergantung sudut pandang masing-masing.