Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
You are Nothing


__ADS_3

Di istana Asia...


Pagi yang cerah telah datang. Kicauan burung pun terdengar menghiasi pagi ini. Tak terasa semakin lama waktu semakin berlalu. Dan kini para pekerja istana sudah mulai berdatangan.


Jam di dinding ruang utama istana telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sang calon raja Asia pun tengah berkumpul dengan para pasukannya. Terlihat dahinya berkerut, sesaat setelah kabar ia dapatkan.


Ara dinyatakan hilang dari istana. Para pasukan yang telah mencarinya semalam pun tidak juga menemukan jejak keberadaannya. Tentunya kabar ini mau tidak mau harus diterima oleh sang pangeran.


Ara ....


Perasaannya berkecamuk di dalam dada. Napasnya tidak beraturan, seakan harus segera meluapkan kekesalannya. Sang adik, Shu pun datang saat mendengar kabar ini. Ia ikut prihatin atas apa yang menimpa kakaknya.


"Kakak ...."


Shu mencoba menenangkan hati kakaknya dan segera membubarkan pasukan. Ia kemudian mengajak Zu masuk ke dalam ruang kerjanya untuk membicarakan hal ini. Ia ingin sang kakak dapat lebih tenang dalam menghadapi permasalahan yang ada.


Di ruang kerja Shu...


Shu adalah bakal calon perdana menteri Asia setelah kakaknya dilantik menjadi raja. Tugasnya saat ini masih mengkoordinir segala sesuatu yang berkaitan dengan istana. Ia belum banyak dipenuhi tugas, tidak seperti kakaknya yang mempunyai segudang kesibukan. Sehingga Shu bisa lebih leluasa ke sana dan kemari.


Kini kakak-beradik itu tengah duduk di kursi tamu ruang kerja Shu. Yang mana sang kakak terlihat muram semuram-muramnya. Ia berulang kali mengusap kepalanya sendiri, sedang sang adik mencoba mendinginkan keadaan dengan memberikan secangkir teh hangat kepada kakaknya itu.


"Minumlah, Kak. Dinginkan dulu hatimu." Shu mulai meneguk cangkir tehnya.


Zu menghela napas panjang dan kemudian meneguk habis tehnya. Ia seperti tidak ingin berlama-lama membuang waktu. Hal ini pun disadari oleh sang adik. Shu segera memulai pembicaraannya.


"Kudengar kau menemukan bekas kayu pembakaran di belakang pohon persik. Apa itu benar?" tanya Shu mengawali.


"Ya, aku menemukannya. Dan aku telah meminta pasukan khusus menyelidiki hal ini," sahut Zu seraya menyandarkan kepalanya di kursi tamu.


"Tadi pagi aku mendengar jika semua pengamanan istana telah dijalankan dengan baik. Sepertinya tidak ada tanda-tanda jika dia diculik," tambah Shu lagi.


"Aku juga berpikir begitu. Tidak mungkin jika dia diculik. Tidak ada penduduk luar istana yang mengetahui siapa dirinya. Aku pun merahasiakan pernikahan ini dari para penduduk." Zu tampak lemas.


"Berarti Ara pergi sendiri dari istana. Dan kemungkinan memang ada yang menjemputnya." Shu berucap serius.


"Apa aku harus Angkasa?" tanya Zu segera.

__ADS_1


"Tunggu, Kakak. Kau tidak bisa sembarangan bertindak. Kita mempunyai hubungan dagang dan diplomatik yang baik dengan negeri itu. Jika kau datang dan menanyakan langsung perihal gadis itu, kau bisa memicu perang dingin antar kedua negeri." Shu menjelaskan.


"Tapi, Shu. Tidak ada pihak lain selain Angkasa yang menjemputnya. Aku tidak bisa berlama-lama seperti ini." Zu kesal sendiri.


"Ya, ya. Aku mengerti. Tapi ada baiknya jika kita menyelidiki dari pihak dalam istana terlebih dahulu."


"Maksudmu?" Zu amat antusias.


"Aku curiga jika Ara pergi bukan tanpa alasan. Mungkin ada sesuatu yang memaksanya pergi dari istana. Aku sendiri tidak tahu hal apa itu. Tapi sepertinya, apa yang aku temukan kemarin bisa menjadi petunjuk."


"Apa itu, Shu?!" tanya Zu cepat.


"Aku curiga jika hal ini berkaitan dengan ibu ratu."


"Hah, maksudmu?!" tanya Zu lagi.


"Kemarin siang aku menemukannya seperti ingin menampar Ara."


"Apa?!" Seketika Zu berdiri dari duduknya saat mendengar penuturan sang adik.


"Ini sudah cukup menjadi bukti bagiku, Shu. Aku akan menemuinya." Zu bergegas keluar dari ruangan.


"Kakak!"


Shu pun ingin menahan kepergian kakaknya, tapi Zu terus saja berlalu. Ia tidak lagi peduli dengan panggilan sang adik. Langkah kakinya terdengar cepat menuju ke salah satu ruangan yang ada di istana megah ini. Zu melangkahkan kakinya menuju ruang khusus bagi ratu.


Di ruang ratu...


Sesampainya Zu segera masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sang ratu pun yang sedang sarapan pagi bersama putrinya itu terkejut atas kedatangannya.


"Aku tidak ingin berbasa-basi. Cepat katakan apa maksudmu ingin menampar calon istriku?" tanya Zu yang sontak membuat seisi ruangan kaget. Ia segera menanyakan kebenaran kabar yang didengarnya dari Shu.


"Zu, apa yang kau katakan? Ibu tidak mengerti." Ratu menjawabnya.


"Jangan sebut dirimu sebagai ibu! Kau bukanlah ibuku! Aku hanya ingin penjelasan darimu!" Zu berapi-api.


"Kakak pertama, kita bisa membicarakan hal ini baik-baik." Putri bergaun merah itu menengahi.

__ADS_1


"Kau tidak ada urusan dengan hal ini, Young. Pergi dan tinggalkan kami segera!"


Zu meminta kepada saudara tirinya untuk segera pergi. Seketika putri itu pun pergi meninggalkan ibunya. Dan kini sang ratu hanya ditemani pelayan pribadinya, sedang Zu masih menunggu jawaban darinya.


"Kau keterlaluan, Zu! Kau mengusir adikmu sendiri, padahal dia sedang sarapan bersamaku." Ratu itu kesal.


"Aku tidak peduli dengannya. Saat ini aku hanya ingin penjelasan darimu. Cepat katakan apa maksudmu ingin menampar calon istriku?!" tanya Zu lagi.


Ratu pun menghela napasnya. Ia beranjak berdiri lalu menjauh dari Zu. Kedua tangannya menyilang di depan dada, wajahnya pun tampak menunjukkan sisi kesombongannya.


"Aku tidak ada maksud apapun dengannya. Aku hanya tidak suka ada pendatang baru di istana ini," cetus ratu sambil melihat pemandangan luar istana dari balik jendela ruangan.


"Kau tidak berhak mengatur siapapun yang boleh tinggal di istana ini. Terlebih dia adalah calon istriku." Zu menatap tajam ke arah ratu.


"Oh, ya? Tapi aku adalah ratu negeri ini. Dan seantero Asia sudah mengetahuinya." Ratu berucap sombong.


"Jika kau merasa seperti itu, maka secepatnya gelar itu akan hilang darimu." Zu mulai bernada dingin.


"Apa maksudmu?" Ratu berbalik menghadap Zu.


"Ya. Saat aku menjadi raja, kupastikan kau tidak akan mendapatkan apapun dari istana. Dan jika suatu hari aku menemukan keterkaitanmu dengan hilangnya calon istriku, maka aku tidak akan segan untuk mengusirmu dari istana ini." Zu berucap tegas, ia lalu beranjak pergi.


"Tunggu!" Ratu menahan kepergian Zu. "Kau mengancamku?" tanya ratu kepada Zu.


"Kau merasa ini sebuah ancaman?" Zu balik bertanya. "Baguslah, berarti kau sudah tahu apa kesalahanmu." Zu segera keluar dari ruangan ratu.


"Zu!"


Ratu itu tampak kesal dengan ucapan Zu. Ia merasa jika anak tirinya sudah semakin berani kepadanya. Zu ingin mengusirnya jika menemukan keterkaitan dirinya dengan hilangnya Ara dari istana, yang mana hal ini sontak menjadi pukulan baginya.


Dia ingin mengusirku dari istana? Cih! Kalau bukan karena memandang ayahnya, pastinya dia sudah kuracun sejak kecil! Ratu berbicara sendiri.


Perseteruan pagi ini membuat pelayan pribadi ratu menelan ludahnya. Ia tidak menyangka jika calon raja Asia dan majikannya itu mempunyai permasalahan yang pelik. Sebagai seorang pelayan tentunya hanya bisa diam dan mendengarkan, walaupun rasa khawatir semakin menjadi-jadi di hatinya.


Sebenarnya ada masalah apa antara ratu dan pangeran? Pelayan itu bertanya sendiri.


Pagi ini Zu dapat sedikit lega karena dapat melampiaskan rasa kesalnya. Ia telah memberi peringatan kepada ibu tirinya tanpa peduli lagi dengan hal yang terjadi ke depannya. Baginya hanya Ara lah yang terpenting. Zu menginginkan Ara kembali ke istana.

__ADS_1


__ADS_2