Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Comfortable


__ADS_3

Menjelang petang...


Aku baru saja selesai mandi. Tubuhku kini harum dan juga segar. Rambutku kembali ikal, lebih tepatnya sih keriting gantung, dan catnya juga masih berwarna pirang.


Kini aku berada di kamarku. Kamar yang mana menurutku mewah dan juga modern. Fasilitas di sini lebih lengkap jika dibanding Angkasa. Mungkin Negeri Asia lebih maju dari negeri kedua pangeranku. Ah, entahlah. Yang pastinya aku menyukai kamarku yang sekarang.


Dindingnya bercat biru dengan lantai marmer putih, dan ada satu kasur berukuran besar di sini. Seprainya, bantalnya, gulingnya juga berwarna putih. Aku jadi ingat kasur di kamar Rain yang semuanya serba putih.


Rain ....


Ada jendela besar yang juga berfungsi sebagai pintu, menuju teras luar kamar. Dan di terasnya itu ada dua kursi yang mengapit meja bundar berukuran sedang.


Ini benar-benar seperti berada di resort tepi pantai.


Pemandangan di sini sangat indah. Aku bisa melihat pesisir pantai dengan lautan biru yang memanjakan mata. Sepertinya Zu membeli vila ini dengan harga yang sangat mahal.


Apa pulau ini milik Angkasa, ya?


Sempat terbesit saat dia mengatakan jika tempat ini adalah tempat terdekat dari Angkasa. Jangan-jangan dia memang sengaja membeli tempat ini? Aku sih belum tahu kebenarannya, tapi mungkin saja bisa terjadi. Karena seingatku, Negeri Angkasa seluas Pulau Sumatera dengan pulau-pulau kecil yang mengelilingi.


Mungkin aku mengenakan gaun ini saja.


Segera kuambil gaun berwarna ungu polos dari lemari pakaian. Gaun panjang dengan bagian bahu yang terbuka. Mungkin tak apa jika aku mengenakannya. Aku bisa menutupinya dengan rompi lengan pendek yang berwarna hitam.


Kupoleskan pelembab di wajahku lalu menggunakan lipglos pink seperlunya. Kini aku tampak imut seperti bayi. Tak apa memuji diri sendiri, bukan?


Sebenarnya aku merasa aneh saat melihat semua keperluanku sudah tersedia di dalam lemari. Aku jadi heran sendiri.


Jangan-jangan Zu memang sudah mempersiapkannya?


Kutepiskan pikiran yang datang tanpa diundang. Lekas-lekas bergegas keluar kamar dengan memakai sandal plastik yang cukup tinggi. Mungkin ada sekitar tiga atau lima senti.


Aku lalu menuruni anak tangga, menuju ke lantai satu vila ini. Dan kulihat dirinya tengah memakai apron, lagi-lagi dia sedang memasak di dapur.


Astaga. Aku bisa mual lagi.


Entah mengapa tadi pagi aku benar-benar merasa mual. Rasanya aneh, tidak biasanya seperti ini. Mungkin karena bumbu di sini berbeda dengan bumbu di Angkasa. Atau mungkin ... ah, entahlah. Aku tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak.


"Pangeran." Aku menyapanya yang sedang mengorak-arik telur goreng, ia pun menoleh ke arahku. Namun, pandangannya sedikit aneh.


"Nona?"


Dia sepertinya terkesima dengan gaun yang kupakai ini. Atau mungkin dia menyukai warna ungu?


"Pangeran, apa ada yang salah?" tanyaku seraya mengerlipkan mata ke arahnya.


Sontak saja dia tertawa melihat tingkahku ini. Dia lalu mengusap-ngusap kepalaku, entah sadar atau tidak. Dan seketika itu juga aku teringat dengan Cloud.


Waktu itu di balkon teras lantai dua istana...

__ADS_1


Ara duduk di atas pangkuan sang pangeran. Ia tampak bermanja ria dengan sang putra mahkota.


"Aku jadi ingin cepat libur, Ara," kata Cloud seraya tersenyum.


"Memangnya?"


"Aku ingin memanjakanmu seperti ini. Sayang waktunya belum pas." Cloud menggerutu sendiri.


"Hei!" Ara mencolek hidung Cloud yang mancung. "Bagaimana dengan permintaanku?" Ara kembali ke topik.


"Bernyanyi bersama?" tanya Cloud.


Ara mengangguk pelan.


"Tentu saja aku bisa, Ara. Jangankan untuk bernyanyi bersama."


"Cloud?!"


"Mengangkatmu juga aku bisa." Cloud tiba-tiba menggendong Ara ala pengantin.


"Cloud turunkan aku!" Ara takut jatuh.


"Tidak mau."


"Nanti ada yang lihat!"


"Biar saja."


"Tunggu aku, ya." Cloud berkata dengan riangnya.


"Siap, Pangeran!" Ara pun berlagak seperti seorang prajurit di depan Cloud.


"Dasar!" Cloud kemudian mengusap-usap kepala Ara.


Mereka akhirnya berpisah karena Cloud masih mempunyai banyak pekerjaan. Mau tak mau, Ara pun merelakan kepergian pangerannya untuk bekerja.


...


"Nona, kau baik-baik saja?"


Zu bertanya padaku, namun aku masih diam menahan kristal bening yang ingin keluar. Dia juga seperti menyadarinya.


"Nona, sudah. Jangan menangis, ya." Zu memegang kedua lenganku.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Kenangan itu selalu terngiang-ngiang di pikiranku. Tidak mudah bagiku untuk melupakan semuanya. Aku masih berusaha menepiskan rasa sedih ini dengan mulai menerima Zu sebagai seorang teman baru bagiku. Ya, sementara ini aku hanya bisa menganggapnya sebagai teman.


"Maaf, Pangeran. Mungkin lebih baik jika aku saja yang mengerjakannya."


Segera kuambil alih pekerjaan Zu lalu mulai membuat sandwich untuk makan malamnya. Sepertinya aku belum bisa makan nasi untuk sementara waktu ini.

__ADS_1


Aku buat bubur lagi saja.


Kuambil beras lalu kucuci bersih. Zu pun membantuku. Dia tampak memperhatikanku dari sisi.


"Perutmu masih tidak enak?" tanya Zu saat membantuku membuat bubur.


"Aku baik-baik saja, Pangeran. Mungkin hanya butuh penyesuaian saja," jawabku seraya menuang beras ke dalam panci.


"Rasanya pasti menyiksa sekali ya, Nona."


Hah?!


"Bersabarlah, aku akan selalu menemani," katanya lagi seraya tersenyum padaku.


Aku tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Aku merasa aneh dengan perkataannya. Tapi untuk sementara waktu, lebih baik kutepiskan saja agar tidak menimbulkan masalah baru.


"Pangeran, kau bisa membuat bubur ternyata."


Aku memujinya, sesaat setelah melihatnya meracik bumbu untuk bubur yang sedang kumasak ini. Zu pun tersenyum menanggapi, dia lagi-lagi mengusap kepalaku. Dan entah mengapa aku merasa nyaman diperlakukan seperti ini olehnya.


Sementara di istana Angkasa...


Rain baru saja kembali ke istana setelah mencari jejak sang gadis bersama Star. Ia lantas menemukan sesuatu yang janggal.


"Star, apa kau berpikir sama denganku?" Rain menunggangi kudanya dengan pelan, bersama Star masuk ke halaman istana.


"Aku rasa masalah ini ada hubungannya dengan pihak luar. Tapi siapa?" Star berpikir.


"Aku juga berpikir demikian." Rain menambahkan.


"Lantas bagaimana menurutmu?" tanya Star kepada Rain.


"Bisa saja awalnya Ara disekap di ruang bawah tanah lalu ada seseorang yang mengetahuinya. Sehingga dia membawa Ara pergi dari istana."


"Maksudmu?"


"Aku curiga jika Ara ditolong karena alasan buruk akan menimpanya."


"Rain?"


"Star, entah mengapa aku merasa jika pihak istana telah melakukan hal ini kepada Ara. Ada yang berniat tak baik padanya."


"Kau mencurigai seseorang?" tanya Star lagi.


"Aku curiga pada satu orang di istana ini. Tapi, aku tidak ingin langsung menuduh tanpa bukti. Aku harus menemukan buktinya terlebih dahulu."


"Ya, kau benar. Setidaknya kau bisa bernapas lega setelah mendengar penuturan penjaga pasar malam itu." Star meneruskan.


"Ya, aku berharap Ara baik-baik saja."

__ADS_1


Keduanya lalu meneruskan perjalanan ke belakang istana. Mereka berniat mengantarkan kudanya.


Star dan Rain mendapat informasi jika ada salah satu penjaga pasar malam yang seperti melihat Ara sedang tertidur, di dalam kereta kuda pada waktu fajar menjelang.


__ADS_2