
Menjelang sore...
Kini kami sedang di bathtub, berendam di air hangat setelah berenang beberapa jam. Dan Rain masih di belakangku sambil menyisiri rambut ini. Dia amat menyayangkan rambutku yang harus terpotong karena terkena sabetan pedang penyihir itu.
"Sayang, sebenarnya aku lebih suka dengan rambut panjangmu," katanya sambil terus menyisir rambutku.
"Benar, kah?"
"He-em. Kau tampak begitu cantik dengan rambut tergerai. Tapi, digulung pun tak apa." Akhirnya dia selesai juga menyisir rambutku.
"Rain."
"Hm?"
"Menurutmu aku lebih baik tinggal di sini atau di istana?" tanyaku sambil menyandarkan tubuh ke dirinya.
"Kau merasa nyaman di mana?" tanyanya seraya melihatku.
Aku pun melihatnya, kami akhirnya bertatapan. Dan entah mengapa, aku ingin menciumnya. Kucium saja bibirnya itu.
"Mmmuach!" Satu kecupan akhirnya mendarat di bibirnya.
"Ara, kau menginginkannya?" tanyanya yang sontak membuatku malu.
"Pertanyaanmu itu tidak perlu kujawab." Aku menggerutu sendiri.
"Baiklah-baiklah. Aku diam saja." Dia seperti tidak ingin melawan perkataanku.
Haruskah aku yang memulainya?
Entah mengapa hasratku tiba-tiba mendominasi pikiran. Satu-dua detik pun berlalu, namun tidak ada pergerakan sama sekali darinya. Aku jadi kesal sendiri. Dan kulihat Rain masih menunggu sambil terus menatapku dari sisi. Kucium saja lagi bibirnya. Dan kulihat dia tersenyum manis sekali.
"Sayang ...." Dia menarik kedua lenganku agar melingkar di lehernya.
"Rain ...."
"Kau masih seperti dulu, kenapa tidak mencoba jujur padaku?" Jari jemarinya mulai menelusuri lenganku.
"Rain, geli," kataku yang merasa aneh saat jari jemarinya menyusuri lengan dalamku.
"Sini biar tidak geli." Dia lalu meraih bibirku.
Rain menciumku dari samping. Kedua tanganku pun melingkar di lehernya. Dia mulai melakukan pergerakan yang lembut padaku. Dia menciumku, namun ciumannya semakin lama semakin menuntut. Dan akhirnya lidahnya menelusup masuk ke mulutku.
__ADS_1
Rain ... dalam sekali.
Dia semakin berani, mungkin hasratnya juga naik. Dia mengusap-usap lenganku hingga membuat dadaku ini naik-turun, merasakan sensasi yang dia berikan.
"Putar arah, Sayang."
Dia memintaku duduk di atas pangkuannya sambil menghadap ke arahnya. Aku pun menurut dan duduk dengan kedua kaki yang dilebarkan.
"Sayang ... jangan ditahan, ya," pintanya yang membuatku tersipu malu.
Rain kembali menarikku ke dalam ciumannya. Namun, kali ini dia menginginkan yang lebih dari sebelumnya. Dia mengangkat kedua tanganku ke atas lalu mulai menciumi lengan dalamku bergantian. Aku pun merasa amat geli dengan tindakannya. Seluruh saraf tubuhku bereaksi atas ulahnya.
"Rain ... mmmh!"
Kupejamkan kedua mata saat merasakan bibirnya menelusuri lenganku. Tubuhku pun tidak bisa diam begitu saja. Pinggulku bergerak sendiri saat merasakan sensasi darinya. Dan kurasakan sesuatu mulai mengeras di bawah sana.
"Ara ... ah! Lembut sekali."
Kulihat Rain mulai pasrah, dia melepaskan pegangan tangannya pada kedua tanganku. Dia pun memejamkan kedua matanya saat aku terus-menerus memberi penekanan pada perutnya.
"Ahh ... aku milikmu, Ara." Dia membenamkan wajahnya di dadaku.
Entah mengapa kami sama-sama terhanyut dalam permainan ini, seakan lupa dengan situasi yang sedang terjadi. Rain lalu menurunkan kemben yang kupakai sampai ke pertengahan dada. Dia menciumi bagian atas dadaku sambil mencengkram kuat pinggul ini. Dan akhirnya, kami tidak bisa berhenti sebelum hasrat ini tersalurkan sepenuhnya.
Ara dan Rain sama-sama terhanyut dalam permainan yang mereka buat sendiri. Keduanya tak lagi ingat dengan situasi yang sedang terjadi. Saat ini mereka mabuk dalam paduan asmara yang menggebu, setelah beberapa waktu lamanya tidak bertemu. Helaan napas berat pun terdengar dari keduanya. Di dalam bathtub mereka memadu kasih dan cintanya.
Lain keduanya, lain juga dengan Zu. Sang calon raja tampak mengernyitkan dahinya saat menerima kabar dari selembar surat yang ia baca. Ia remas surat tersebut sambil mengepalkan kedua tangannya.
Di ruang kerja Zu, di istana Asia...
"Ada apa, Kak?" tanya Shu yang berada di ruang kerja kakaknya.
"Sepertinya aku harus cepat-cepat ke Angkasa, Shu."
"Apa sudah ada kabar tentang keberadaan Ara?" tanya Shu lagi sambil beranjak dari duduknya.
"Belum. Tapi aku merasa Ara disembunyikan, entah di mana?" Zu kesal sendiri.
"Bagaimana kau bisa menarik kesimpulan seperti itu?" tanya Shu lagi.
"Pasukan khusus yang aku kirim mengabarkan tidak melihat tanda-tanda keberadaan Ara di istana. Aku curiga jika dia sengaja disembunyikan. Terlebih Rain sudah kembali dari medan peperangan." Zu menceritakan.
"Hm, kudengar dia juga mengambil alih Aksara." Shu menanggapi.
__ADS_1
"Ya. Sepertinya saingan terberatku bukanlah Cloud, melainkan Rain."
"Kau beranggapan begitu?" tanya Shu lagi.
"Aku rasa seorang wanita lebih menyukai pria dengan sosok kepahlawanan dibanding dengan jabatannya." Zu menarik kesimpulan.
"Hahaha. Kakak-kakak." Shu pun tertawa. "Aku tidak habis pikir denganmu. Jelas-jelas yang menyukaimu itu Jasmine, tapi kenapa kau masih memikirkan Ara?" tanya sang adik.
"Jika itu pertanyaanmu, maka aku tidak bisa menjawabnya."
"Ayolah, Kak. Jika ada yang dekat, kenapa harus yang jauh? Dia sedang sakit beberapa hari ini, tidak inginkah kau menjenguknya?" tanya Shu yang berdiri menyandar di sisi jendela ruangan kakaknya.
"Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan padanya. Aku hanya menginginkan Ara," jawab Zu segera.
"Hm, aku pikir kau tidak benar-benar mencintainya," tukas Shu.
"Maksudmu?"
"Aku merasa kau hanya terobsesi memilikinya. Kau merasa tertantang untuk mendapatkannya dari kedua pangeran Angkasa itu, bukan?"
"Shu, jaga ucapanmu!" Zu pun marah.
"Kakak, aku khawatir. Amat khawatir akan terjadi hal yang lebih buruk lagi jika kau memaksakan kehendak. Ketahuilah hubungan kedua negeri amat baik hingga saat ini. Jangan kau hancurkan karena keinginanmu itu."
"Shu!"
"Aku berkata terus terang karena tidak ingin hal buruk terjadi, bukan karena aku iri padamu. Aku akui jika Ara gadis yang amat menarik. Mungkin saja jika dia berlama-lama di sini, aku juga bisa menyukainya. Apa yang dikatakan oleh tabib Fu itu memang benar adanya." Shu menuturkan.
"Aku tidak bisa melepaskannya, Shu. Semua sudah kuserahkan padanya. Bahkan kehormatanku sebagai pangeran dan calon raja negeri ini."
"Apa?!!" Seketika Shu terkejut bukan main.
"Ya. Aku telah menyerahkan kepadanya. Dia satu-satunya gadis yang bisa membuatku bertekuk lutut tanpa melakukan perlawanan sedikitpun."
"Astaga, Kakak!"
"Jika aku kehilangannya, maka sama saja dengan kehilangan kehormatanku. Lalu mau ditaruh di mana wajahku ini setelah apa yang terjadi?" Zu akhirnya mengungkapkan.
"Kak, aku merasa semuanya belum terlambat. Aku yakin tidak terjadi sesuatu apapun pada kalian yang harus dipertanggungjawabkan. Aku merasa kau akan lebih tenang jika menerima kenyataan. Ara berasal dari Angkasa, dan jika dia sudah kembali ke sana kita tidak mempunyai hak untuk menuntutnya." Shu mencoba mengambil jalan keluar.
"Tidak, Shu. Aku sudah terlanjur terjebak dalam cintanya. Aku tidak bisa melepaskannya. Aku akan berusaha untuk mendapatkannya kembali." Zu bersikeras.
"Hah ...." Shu pun mengembuskan napasnya. "Baiklah. Tapi aku harap kau tidak menggunakan kekuasaanmu untuk mendapatkannya. Kau tahu, perasaannya akan hilang jika kau terlalu memaksanya." Shu menasehati kakaknya.
__ADS_1
Zu terdiam saat mendengar perkataan adiknya. Sang adik pun segera berlalu karena kakaknya masih bersikeras dengan keinginannya. Sebagai adik, Shu sudah memberikan saran yang terbaik. Namun, jika Zu masih nekat, maka Shu berlepas diri darinya. Dan hari ini sang calon raja Asia mengambil keputusan untuk hubungannya. Ia akan segera menjemput Ara ke Angkasa.