
"Salam bahagia untuk Nona Ara."
"Salam bahagia."
Aku baru saja tiba di rumah kecantikan istana. Para pelayan segera menyambut kedatanganku.
"Apakah Nona ingin melakukan perawatan mingguan?" tanya salah seorang pelayan perempuan.
"Ya, benar, Mbok. Tapi aku juga ingin me-waxing rambut halus di kakiku," jawabku.
"Me-waxing?"
"Em, maksudku mencabut rambut halus di tubuh dengan menggunakan lilin gula."
"Oh, saya pikir apa, Non."
Aku lupa jika sedang berada di bumi yang lain. Pelayan di sini tentunya tidak tahu apa itu waxing.
"Apakah di bagian inti juga, Nona?" tanyanya lagi.
"Bagian inti?" Aku bergantian bingung.
"Em, maksud kami di bagian kewanitaan Nona Ara," katanya lagi.
Apa?!!!
Sontak aku terkejut dengan pertanyaannya itu. Tiba-tiba saja bulu kudukku merinding seketika. Membayangkannya saja aku tidak sanggup, apalagi untuk melakukannya.
"Nona tampaknya terkejut?"
"Hah, iya. Aku sedikit bergidik saja, Mbok."
Pelayan wanita inipun tertawa. "Maaf, Nona. Di sini sudah menjadi tradisi bagi calon ratu yang akan menikah. Mereka juga harus melakukan terapi lilin di bagian kewanitaan," lanjut pelayan.
Sontak aku menelan ludahku sendiri. Tak habis pikir jika sebelum menikah harus melalui tahap yang menyiksa seperti itu.
"Jadi bagaimana, Nona?" tanyanya lagi.
"Em, bagian kaki dan tangan saja, Mbok. Aku belum siap untuk bagian yang itu. Ya, belum siap." Aku jadi cengengesan sendiri.
"Baiklah. Silakan Nona merebahkan diri."
Aku diminta untuk merebahkan diri di atas pembaringan. Kulepas semua pakaianku lalu menggunakan kain sarung untuk membalut tubuhku ini. Sedang pelayan itu mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Dan tanpa menunggu lama, pelayan itu datang kembali.
"Kita baluri pelembab khusus dulu ya, Non. Biar tidak terlalu sakit."
"Baik, Mbok."
Pelayan itu kemudian membaluri kakiku dengan lotion khusus. Terasa dingin di kulit. Selanjutnya dia mulai me-waxing kakiku.
"Aaaaa!!!"
Akupun berteriak karena merasakan rambut halus kakiku dicabut.
"Tahan sebentar, Nona."
Cloud, ini kulakukan demi dirimu. Aku rela menanggung rasa sakit hanya untuk terlihat cantik di hadapanmu. Masihkah kau berpikir jika aku mempermainkan perasaanmu?
Aku mencoba melewati proses ini agar penampilanku lebih sempurna. Pelayan pun melakukannya dengan selembut mungkin. Kini aku dapat melihat rambut-rambut halus di kakiku sudah hilang terbawa gula lilin itu.
Mulusnya kakiku.
Setelah bagian kaki, kedua tanganku juga ikut di-waxing. Setelahnya barulah bagian ketiak. Awalnya sih memang terasa sakit. Tapi lama kelamaan akan terbiasa juga. Benar apa kata pepatah, bisa karena biasa.
__ADS_1
Aku menjalani perawatan waxing lebih dari satu jam lamanya. Setelahnya, tubuhku diluluri agar terlihat lebih bercahaya. Dan setelah semua selesai, tubuhku kemudian dipijat hingga akupun tertidur. Sebentar, sih. Tapi cukup untuk merelaksasikan tubuhku yang lelah ini.
"Sudah, Non."
"Ah, sudah ya, Mbok."
"Sudah selesai semua, Nona."
"Hah, baiklah." Aku segera mengenakan pakaianku.
"Nona."
"Ya?"
"Kulit Nona itu begitu indah. Kuning langsat bercahaya sehingga membuatnya tampak begitu cantik."
"Terima kasih atas pujiannya, Mbok." Aku jadi tersipu sendiri.
"Semoga nanti jika yang lahir seorang putri akan secantik ibunya."
Hah?!
"Kami mendoakan yang terbaik untuk Nona dan kedua pangeran." Pelayan itu tersenyum padaku.
Aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Sepertinya baru kutinggal satu malam tidur lebih awal, semuanya sudah berubah. Tidak kedua pangeran dan tidak juga penghuni istana yang lain.
Sebenarnya ada apa, sih? Aku jadi penasaran.
"Baiklah, Mbok. Terima kasih, aku permisi," kataku lalu bergegas dari rumah kecantikan istana.
Kulangkahkan kaki keluar dari rumah kecantikan istana sambil menerka-nerka apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Hah, sudahlah. Hari sudah petang. Lebih baik aku segera mandi. Akan ada acara doa bersama nanti malam."
Satu jam kemudian...
"Apa aku terlambat?"
Kini aku sudah tiba di ruangan Cloud, namun tidak ada orang di dalam.
"Apakah dia di kamar?"
Aku lalu mencoba masuk ke dalam kamarnya. Sungguh hatiku berdebar kencang saat mencoba membuka pintu kamarnya itu. Aku takut melihat hal yang tidak kuinginkan lagi.
Pintu kemudian terbuka...
"Cloud, kau di mana?" tanyaku lalu mulai melangkahkan kaki.
"Dia juga tidak ada."
Aku lalu ke kamar mandinya, namun ternyata Cloud pun tidak ada. Entah mengapa jantungku semakin berdegup kencang.
"Apa dia di atas, ya?"
Aku segera menuju taman kecilnya yang berada di atas kamarnya ini.
"Tak ada juga. Mungkin aku terlambat."
Dengan perasaan sedikit kesal, aku segera menuruni anak tangga. Berniat untuk keluar dari kamarnya ini.
"Mungkin dia sudah berangkat lebih dulu."
Kulangkahkan kaki menuruni anak tangga, lalu beranjak keluar dari kamarnya. Tapi, sesuatu kudengar dari balik pintu kamarnya ini. Akupun mencoba mengintipnya.
__ADS_1
Paduka raja dan Cloud?!
Aku terkejut saat melihat raja sudah berada di ruang kerja putranya. Kulihat Cloud tampak mencemaskan sesuatu.
"Cloud, hanya sebentar saja."
"Tapi, Ayah. Aku tidak mampu jika terus berlama-lama seperti ini."
Entah apa yang keduanya bicarakan, aku hanya dapat mengintipnya dari balik pintu kamar. Raja dan putranya itu duduk di sofa yang biasa kududuki bersama Cloud.
"Ini demi kerajaan, kau harus bertahan. Berbaik hatilah dengan Andelin. Tak lama lagi kita akan mengetahui kebenarannya." Raja meyakinkan putranya.
"Ayah, aku selalu kalah cepat dari Rain. Pekerjaanku ini terlalu banyak. Aku sampai tidak punya waktu untuk bersama Ara." Cloud berkeluh kesah.
"Sabar, Nak. Ara akan menjadi milikmu jika memang sudah tiba waktunya. Untuk sekarang, kita selidiki dulu kebenaran hal ini. Baru selanjutnya kita bertindak." Raja menegaskan.
Cloud tampak mengusap kepalanya. Dia begitu mencemaskan keadaan yang tengah terjadi. Aku jadi merasa iba kepadanya.
Jadi Cloud terpaksa mendekati putri itu untuk mendapatkan kebenaran informasi?
Aku berpikir, mencoba mencari cara untuk membantu Cloud.
Astaga, aku tidak tahu jika situasi istana sedang seperti ini. Aku jadi menyesal telah berburuk sangka padanya.
"Baiklah. Sebaiknya kita segera menghadiri acara doa bersama. Kau ingin berangkat bersama Ayah?" tanya raja kepada Cloud.
"Tidak, Yah. Aku menunggu Ara saja."
"Baiklah. Bagaimana dengan Rain, apa dia sudah pergi menuju balai kota?" tanya raja lagi.
"Sepertinya sudah, Yah. Sebelum petang dia sudah berangkat ke sana," jawab Cloud.
"Baik. Kalau begitu Ayah menyusul ibumu dulu."
Cloud mengangguk, dia membiarkan ayahnya keluar dari ruangan.
"Aku harus menenangkannya."
Segera saja setelah raja keluar beberapa saat dari ruangan Cloud, aku bergegas keluar dari kamarnya ini.
"Ara?!" Cloud pun tampak terkejut melihat kehadiranku.
"Em, maaf. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu tadi," kataku mengawali.
Cloud tampak terkesima melihatku. Dia memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Cloud?" Akupun terheran.
"Ara, kau cantik sekali. Gaun ini menambah kesan betapa berharganya dirimu." Dia berjalan mendekatiku.
"Cloud ...."
Dia lantas berdiri di hadapanku, tersenyum manis sekali. Tangannya mulai mengusap pipiku ini.
"Aku akan memperjuangkanmu, Ara. Sekalipun harus bersaing dengan adikku sendiri."
"Cloud ...."
"Aku mencintaimu." Cloud lalu memelukku.
Aku merasa semakin bersalah padanya. Aku pikir Cloud akan mengkhianatiku. Namun nyatanya, itu hanya ketakutanku saja.
"Kita berangkat sekarang, ya?" Aku melepas pelukannya.
__ADS_1
Cloud pun mengangguk. Kami lalu bergegas menuju balai kota untuk menghadiri acara doa bersama malam ini. Di sepanjang jalan Cloud memegang tanganku. Kami layaknya sepasang kekasih yang tidak dapat dipisahkan.