
"Ara ...."
Rain tersenyum kecil saat mengingat kenangan itu. Ia ambil ponsel Ara yang dibawanya. Ia usap wajah sang gadis yang dijadikan wallpaper ponsel. Ia pun mengecupnya sepenuh hati.
"Saat ini aku sedang belajar bersabar. Bersabar menunggu ketentuan. Aku berharap kau di sana selalu mengingatku, seperti aku yang selalu mengingatmu. Aku menyayangimu, Ara."
Rain memeluk ponsel milik Ara. Ia letakkan di atas dadanya sambil menikmati malam. Ia bayangkan jika sang gadis sedang berada bersamanya. Rain begitu merindukan gadisnya.
Lain Rain, lain juga dengan Cloud. Calon raja Angkasa ini tampak termenung di teras atap istana seorang diri. Ia memegang sesuatu yang dulu selalu dipakai oleh sang gadis, jepit kupu-kupu berwarna hijau zamrud yang ia dapatkan dari Tetua Agung sebelum keberangkatannya menjemput Ara.
"Andai waktu bisa diulang," keluhnya seraya memperhatikan jepit kupu-kupu itu.
Ia menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Wajahnya tampak lelah, hatinya pun penuh dengan gelisah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi agar bisa bertemu dengan gadisnya.
"Apa aku harus pergi ke Asia sendiri? Pihak Asia pastinya akan menutup semua pintu masuk untukku." Cloud berkecil hati.
"Tidak mungkin jika aku datang begitu saja tanpa ada urusan kerajaan. Jikalau aku datang pun, pastinya Ara disembunyikan. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Ia bertanya sendiri.
Cloud merasa rindu menganggu setiap malamnya. Hampir setiap malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan sang gadis. Ia pun tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti titah dari Sky. Pastinya Sky lebih tahu mana yang terbaik untuknya dan juga untuk negeri yang ia cintai ini. Sama seperti Rain yang masih menunggu, keduanya mencoba melatih kesabaran dalam menghadapi ujian ini.
"Ara ... sebenarnya apa yang telah kau lakukan bersama Rain? Kenapa dia mengaku jika lebih mengenalmu dibandingkan aku? Apa kalian sudah ... ah! Kenapa aku malah berpikir yang tidak-tidak di saat seperti ini."
Cloud cemburu, ia cemburu berat jika apa yang dikhawatirkannya itu benar terjadi. Permasalahan ini semakin rumit karena ia harus bersaing dengan adiknya sendiri.
"Aku menyesal kenapa tidak sejak awal bersamamu. Aku tidak menyangka jika jadinya akan begini. Tapi itu bukan berarti aku terlambat untuk mencintaimu. Ingatlah masa-masa awal pertemuan kita, Ara." Cloud mencoba menenangkan hatinya.
Putra sulung kerajaan Angkasa itu merebahkan dirinya di atas teras atap istana. Ia tidak lagi peduli jubahnya akan kotor atau tidak karena terkena lantai atap. Hatinya dilema, diselimuti kegelisahan dan kerinduan yang mendalam. Ara begitu ia inginkan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
"Aku akan menunggumu. Ya, aku akan menunggu. Sama seperti yang kulakukan dulu." Ia berjanji sepenuh hati.
Malam ini Cloud mencoba menenangkan pikirannya sambil menikmati angin kencang yang menerpa tubuhnya. Ia berharap bisa menemukan jalan untuk menjemput sang gadis. Gadis yang selalu terbayang-bayang di ingatannya.
Di kediaman Zu, di waktu bersamaan...
Selepas makan malam, aku segera masuk ke kamar, mencoba menghindari Zu yang seakan memburuku. Tapi sepertinya, aku salah masuk. Kamarku ini ternyata kamarnya. Zu pun ikut masuk ke dalam kamar bersamaku.
"Pa-pangeran, aku mau beristirahat," kataku yang mencoba menahannya masuk ke dalam kamar.
"Ini kamarku, Nona. Apa aku harus meminta izin untuk memasukinya?" tanyanya yang membuatku terdiam seketika.
Aduh, kalau begitu aku ke luar saja.
__ADS_1
Aku pun bergegas keluar, melewatinya. Tapi Zu menahan kepergianku. Dia memegang lengan kananku ini.
"Kau mau ke mana?" tanyanya yang membuatku risih.
"Pangeran, kita tidak mungkin tidur di kasur yang sama. Aku tahu ini kamarmu, maka aku akan mencari kamar yang lain saja. Aku permisi."
"Eh, tidak! Kau tetap di sini!" pintanya seraya menarikku kembali agar masuk ke dalam kamar.
"Hah?" Aku pun tertarik olehnya.
"Ini kamarmu juga. Jadi kita tidur di sini," katanya lagi sambil mengunci pintu kamar.
"Pangeran!" Seketika aku terperangah mendengarnya.
"Nona, tolong biasakan bersamaku. Jangan mencoba lari," pintanya lagi.
"Tapi, Pangeran. Kita belum menikah. Tidak pantas tidur dalam satu kasur yang sama." Aku menjelaskan.
"Nona, aku ingin kau tidak membeda-bedakan aku dengan kedua pangeran itu," katanya dengan raut wajah yang kesal.
"Hei, apa maksudmu?!" Segera kuhempaskan tangannya yang memegang lenganku.
"Aku akan menikahimu."
"Aku akan menikahimu setelah urusan kerajaan ini selesai."
"Pangeran?"
"Aku serius. Untuk saat ini aku masih bertahap mengambil alih pekerjaan ayahku. Jika semuanya sudah kukuasai, aku akan segera menikahimu." Zu tampak serius.
"Pangeran, kau bercanda." Aku beranjak pergi.
"Ara!"
Entah mengapa tubuhku seperti terpaku saat dia memanggilku dengan sebutan Ara. Dan kini dia mendekapku dari belakang, menahan kepergianku.
"Aku serius. Tidak bisakah kau mengerti?" tanyanya lagi.
"Pangeran, aku ...."
"Aku yakin bisa membahagiakanmu. Aku akan membuktikannya."
__ADS_1
Pangeran ....
Hatiku cenat-cenut dibuatnya. Kedua tangannya melingkar di perutku dan dia merebahkan kepalanya di pundak kananku. Aku jadi sampai bisa merasakan hangat napasnya itu. Tubuhku pun seketika merinding dibuat olehnya.
Duh, jantungku ini.
Jantungku berdegup kencang, hampir saja tidak bisa dikendalikan. Tubuhnya begitu dekat dengan tubuhku. Rasanya aku ingin berteriak saja karena getaran yang sedang kurasakan ini.
"Pangeran, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan." Aku menyerah.
Dia lalu membalikkan tubuhku menghadapnya. Dan kini kami bertatapan dengan jarak yang dekat sekali.
"Kau tidak perlu mengatakan apapun. Hanya harus bilang iya, itu saja sudah cukup bagiku."
Dia memegang pipi kiriku dengan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya memegang lengan kananku ini.
"Pangeran—"
"Ssst. Aku tidak menerima penolakan. Aku hanya ingin kau berkata iya," katanya seraya menatap dalam kedua mataku.
Entah mengapa suasana tiba-tiba menjadi hening, hanya suara desiran angin dan detik jam di dinding yang terdengar. Zu pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Astaga ... aku harus bagaimana?
Semakin lama, wajahnya semakin mendekat. Hangat napasnya pun mulai terasa di pipiku ini. Aku khawatir, benar-benar khawatir. Akankah malam ini menjadi malam pertama bagiku dengannya?
Kedua matanya pun mulai terpejam. Tangan kirinya perlahan menyusuri lengan lalu memegang tengkuk leherku. Dan semakin lama bibir kami semakin dekat. Dia menginginkanku.
"KAKAK!!!"
Tiba-tiba suara seruan terdengar dari luar. Suara itu memanggil Zu seraya mengetuk-ngetuk pintu dengan kerasnya.
"Shu?" Seketika Zu pun tersadar, dia segera keluar dari kamar.
"Ada apa?" tanya Zu kepada pangeran menyebalkan itu.
Aku mendengar percakapan mereka dari balik pintu kamar. Dan seketika aku terkejut mendengarnya.
"Apa?! Raja mengalami kejang-kejang?"
Tak kusangka aku akan mendengar kabar buruk ini. Zu lantas keluar dan meninggalkanku sendiri. Dia bersama adiknya menuju istana segera.
__ADS_1
Sepertinya ada yang tidak beres.
Aku mencoba mengingat kembali apa yang kulihat saat bertemu dengan raja siang tadi. Dan entah mengapa, hatiku seperti digerakkan untuk mengikuti Zu dan juga adiknya itu. Aku pun segera mengambil mantel lalu meminjam kuda prajurit yang berjaga di kediamannya. Aku bergegas menuju istana Asia seorang diri.