Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Negative Thinking


__ADS_3

Kadang aku merasa senang saat semua saran dan pendapatku diterima dengan baik. Tapi terkadang, aku merasa lelah sendiri mengerjakannya. Apalagi jika suasana hatiku senang tidak baik. Pekerjaan itu terasa berat sekali.


"Baiklah. Nanti akan kukirimkan semua susunan acara beserta daftar keperluannya. Dan ini sisa rancangan busanaku."


Aku menyerahkan dua rancangan kebayaku yang tertinggal. Cloud pun segera melihatnya.


"Apakah harus ada yang ditambah?" tanyaku seraya menatapnya dari sisi.


"Sepertinya tidak, Ara." Dia langsung menandatangi kedua rancanganku.


Syukurlah, akhirnya selesai juga.


"Nanti akan kukirimkan kepada paman Rich."


"Eh, tidak usah. Aku saja yang ke sana," kataku.


"Tapi cukup jauh tempatnya, Ara." Cloud tampak keberatan.


"Tak apa, Sayang. Kebetulan aku ada keperluan lain dengan paman Rich. Sudah, ya. Aku pamit."


Kubelai wajahnya yang mulus lalu segera beranjak pergi dari hadapannya. Tapi ternyata, sentuhanku itu membuatnya menahanku.


"Ara."


Cloud mengejarku, menarik tanganku lalu memutar tubuhku untuk menghadap ke dirinya. Dia pun kemudian...


"Mmh?!"


Dia mencium bibirku. Tangan kanannya memegang tengkuk leherku ini dengan lembut, sedang tangan kirinya menahan tubuhku agar tidak bergeser.


Cloud ....


Dia memijat bibirku dengan bibirnya, membuat tubuhku ini merinding seketika. Semakin lama ciumannya semakin menuntutku. Dia memintaku untuk melakukan perlawanan.


Haruskah aku membalas ciumannya?


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu ruangannya. Kami pun terkejut. Dengan segera Cloud melepaskan ciumannya.


"Masuk!" katanya seraya merapikan diri segera.


Tu kan ....


Aku menahan tawa karena ulahnya ini. Hampir saja kami ketahuan.


"Kakak."


Dan ternyata, Rainlah yang datang.


Astaga!!!


Aku terperanjat kaget melihat kedatangan Rain. Namun, ternyata dia datang bersama seorang perempuan. Seketika itu aku merasa sakit melihatnya, entah mengapa.

__ADS_1


Rain, apakah dia putri itu?


Entah mengapa hatiku tiba-tiba merasa sedih. Pikiran-pikiran negatif seolah mengelilingiku.


"Ara, kau di sini?" Rain pun melihatku.


"Em, iya. Aku sedang membahas acara doa bersama nanti," kataku.


Putri yang di samping kiri Rain itu hanya diam memperhatikan. Sedang Cloud segera mengambil alih situasi.


"Putri Andelin, kau kembali?" tanya Cloud kepada putri itu.


"I-iya, Pangeran. Ada hal yang ingin aku utarakan kepada Anda," jawabnya terbata.


Ap-apa?!


Mendengarnya membuatku menjadi lemas seketika. Kakiku seolah tertarik magnet bumi yang kuat. Kehadirannya membuatku merasa kurang nyaman.


"Hal apa, ya? Sepertinya tidak ada yang harus dibicarakan." Cloud tampak enggan menanggapi gadis itu yang ternyata adalah seorang putri.


"Kak, aku ke sini hanya mengantarkan. Ayo, Ara. Kita keluar." Rain memintaku untuk keluar dari ruangan.


"Tunggu!" Cloud menahanku. "Biarkan Ara tetap di sini. Aku tidak ingin terjadi salah paham," kata Cloud seraya menahanku.


Rain mendengus kesal. Dia seperti menahan amarah. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Rain. Tapi mungkin Rain tidak menyukai cara kakaknya ini.


Bersamaan dengan itu, Menteri Dalam Negeri datang bersama Menteri Pertahanan. Keduanya seperti berniat membicarakan sesuatu.


"Salam bahagia untuk Pangeran Rain, Pangeran Cloud dan juga Nona Ara." Kedua menteri memberi salam kepada kami.


"Maaf, Nona Ara. Ada hal yang ingin kami bicarakan kepada kedua pangeran atas kedatangan Putri Andelin." Menteri Pertahanan mengisyaratkan kepadaku.


"Em, baiklah. Kalau begitu, aku permisi."


Aku mengerti. Segera saja kubungkukkan badan ke arah mereka, membiarkan kedua menteri itu berbicara dengan Rain dan juga Cloud.


Entah apa yang akan mereka bicarakan. Rain berpesan kepadaku saat berjalan melewatinya.


"Nanti aku akan menyusulmu," katanya seraya masuk ke dalam ruangan Cloud.


Cloud sendiri tampak tidak berkutik saat kedua menteri itu menyampaikan maksud dan tujuannya. Dia tidak lagi menahanku. Mungkin karena urusan ini tampak sangat penting, dia mengabaikan perasaannya sementara waktu.


Akupun bergegas meninggalkan ruangan kerja Cloud. Melangkahkan kaki menuju dapur istana untuk bersantap siang seorang diri. Ya, tak apalah sekali-kali sendiri. Mungkin ini waktu yang diberikan Tuhan agar aku dapat beristirahat sejenak dari tugas-tugasku yang menumpuk.


Sesampainya di dapur istana...


Para koki menyambut kedatanganku, mereka terperanjat melihat penampilanku ini. Memuji dan juga takjub sendiri.


Mungkin kugulung lagi saja rambutku.


Rambutku yang mulai panjang membuatku kerepotan. Dan agar lebih leluasa bergerak, kugulung kembali rambutku ini. Biasanya karena masih basah saja kubiarkan tergerai. Tapi karena sudah kering, lebih baik kugulung kembali agar tampak lebih rapi.

__ADS_1


"Nona, gaun ini membuat tampilan Anda semakin mempesona. Luwes dan juga lincah."


"Benar, Nona. Kami yang melihatnya juga ikut merasa ringan. Tidak seperti gaun-gaun sebelumnya."


Para koki masih memujiku, sedang perutku sudah mulai keroncongan.


"Em, terima kasih. Pangeran Rain yang memberikannya padaku."


"Apa?!" Mereka terperanjat. "Pangeran Rain?!"


"Hm, iya. Benar. Apa ada yang salah?" tanyaku.


"Em, tidak, Nona. Mungkin hanya kami saja yang merasa ...,"


"Merasa?"


"Merasa persaingan ini akan semakin sengit."


"Hahaha. Kalian bisa saja."


Aku pikir mereka akan berkata lain. Tapi ternyata ... sama seperti yang mbok katakan.


"Em, baiklah. Apakah ada sup sapi? Aku ingin yang hangat-hangat," kataku.


"Ada, Nona. Kami akan segera mempersiapkannya. Tapi sebaiknya Nona tidak makan di dapur. Kami khawatir raja akan melihatnya dan akan memarahi kami karena membiarkan Nona makan di sini."


"Jadi ...?"


"Nona bisa makan di taman yang ada di samping dapur ini."


"Em, baiklah. Bisa antarkan aku?"


"Tentu, Nona. Mari."


Salah satu koki kemudian mengantarkanku ke taman yang dimaksud. Sesampainya di sana, kulihat banyak pohon zaitun yang belum dipanen. Tidak banyak, tapi cukup untuk konsumsi para penghuni istana.


"Silakan duduk, Nona. Mohon ditunggu makan siangnya."


"Terima kasih," sahutku.


Aku lalu duduk di teras samping dapur yang mengarah ke kebun zaitun ini. Aku duduk seraya memandangi pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bersamaan dengan itu, pikiran-pikiran negatifku datang. Tiba-tiba aku merasa jadi kurang percaya diri.


"Entah mengapa aku merasa akan mempunyai saingan. Putri itu begitu cantik, sedangkan aku ...."


Putri bermata lavender dan berambut biru itu membuat rasa percaya diriku turun. Aku merasa akan kalah jika harus bersaing dengannya. Mungkin kalau Rain akan tetap setia denganku. Tapi bagaimana dengan Cloud? Apakah dia mampu bertahan untukku? Terlebih perkataan ratu seperti mengarahkan jika putri itu yang akan menikah dengannya.


"Aku merasa suasana hatiku sedang menurun."


Kuusap wajahku, mencoba menetralkan pikiran negatif. Salah satu koki pun kemudian datang mengantarkan makan siang untukku.


"Silakan, Nona. Jika ada yang kurang, Nona bisa memanggil saya."

__ADS_1


"Em, terima kasih," sahutku seraya tersenyum.


Tak ingin lama tenggelam dalam pikiran yang belum pasti, akupun segera menyantap makan siang ini. Sepertinya tempat ini akan menjadi tempat favoritku selanjutnya. Pohon-pohon zaitun yang ada di hadapanku seolah merayu, agar aku tertidur di atas kursi bambu panjang yang sedang kududuki.


__ADS_2