Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
You are Sexy


__ADS_3

Di kamar raja...


Aku bersama Zu mengantarkan ramuan ke kamar raja yang dijaga ketat beberapa pasukan khusus istana. Sesampainya di sana, kulihat Shu masih setia menemani. Jam di dinding pun sudah menunjukkan pukul delapan malam waktu setempat.


Di negeri ini sudah menggunakan jam sebagai penanda waktu. Sedang di Angkasa masih menggunakan jam pasir pelangi. Mungkin saja pihak Angkasa memang sengaja tidak ingin menggantinya. Atau mungkin karena Asia lebih modern dibanding Angkasa. Entahlah, yang jelas aku tidak perlu menunggu lonceng istana berbunyi jika ingin mengetahui waktu sekarang.


"Yang Mulia, ini ramuannya. Silakan diminum, sudah hangat." Aku memberikan ramuan yang kubuat kepada raja.


"Terima kasih, Nak. Semenjak kau ada di sini, keadaanku menjadi lebih baik." Raja membuatku tersipu.


Sontak Zu tersenyum mendengar penuturan ayahnya. Sedang Shu, seperti biasa. Dia kembali ke wajah juteknya.


"Pangeran Zu, besok pagi aku akan ke gunung Fuji untuk mengunjungi tabib Fu." Aku meminta izin.


"Ya, ya. Shu sudah memberitahuku. Aku juga akan ikut besok." Zu tersenyum.


"Tapi, bukannya—"


"Kak, kau di istana saja. Biar aku dan Dewi yang menemani Ayah." Shu tampak keberatan jika Zu ikut.


"Tidak-tidak. Aku tidak rela membiarkan calon istriku pergi tanpaku." Zu tanpa malu menarik dan merangkul tubuhku ini.


"Pangeran!"


Segera kutepiskan tangannya itu. Raja pun tertawa melihat kelakuan kami.


"Sudahlah, kalian cepat menikah. Tidak perlu menunggu apa-apa lagi. Aku khawatir dengan putraku sendiri. Hahaha." Raja tertawa renyah.


Baru kali ini aku melihat raja tertawa. Dan ternyata, tawa raja membuat kedua putranya saling melirik satu sama lain. Sepertinya mereka terperanjat kaget melihat ayahnya ini.


"Ayah, jangan begitu. Aku malu." Zu menunduk malu.


"Hah, kalian ini! Seenaknya saja menikah. Jika Kak Zu menikah, aku akan sendiri di sini." Shu keberatan.


"Kau juga cari pendamping hidupmu, Nak." Raja beralih kepada Shu.


"Malaslah, Yah. Aku bukan seperti Kakak yang suka mencari perhatian." Shu mengejek kakaknya.


"Hei, apa kau bilang?!"


Sontak malam ini kutemui hal langka yang jarang terjadi. Kulihat kakak-beradik itu berkejaran di kamar raja. Kehangatan pun bisa aku rasakan. Aku jadi ikut bahagia karena dapat berada di tengah-tengah mereka.


Apa mungkin aku ditakdirkan untuk menggantikan kasih sayang mendiang ratu di istana ini?


Aku percaya segala sesuatu yang terjadi bukanlah sebuah kebetulan. Namun, Tuhan memang sudah menuliskannya. Walaupun terkadang tidak masuk akal ataupun sulit untuk diterima sekalipun. Tapi lagi-lagi aku bersyukur karena bisa bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya keberadaanku di alam semesta ini tidaklah sia-sia. Dan aku merasa bahagia karenanya.


Gadis yang kini mempunyai tiga hati itu bernapas lega karena dapat membuat raja tertawa. Ia juga bersyukur karena diberi kesempatan untuk berada di tengah-tengah keluarga utama istana. Tak ayal, rasa bersyukurnya itu menambah ketenangan di dalam jiwanya. Dan kini Ara sudah menjadi dirinya sendiri. Dia telah bangkit dari masa lalunya yang pahit.

__ADS_1


Dua jam kemudian...


Aku dan Zu baru saja tiba di kediamannya. Dan kini kami masuk ke ruangan yang sama, kamar pribadinya.


"Lelah sekali. Aku jadi ingin tidur lagi." Aku menuju kamar.


"Ara!"


"Hm?" Aku menoleh.


"Kau tak ingin menungguku selesai mandi?" tanya Zu padaku.


"Eh ...?"


"Apakah tidak ada hal yang ingin kau ceritakan padaku?" tanyanya lagi.


"Pangeran, tumben kau seperti ini." Aku tak percaya jika dia begini.


"Hm, sebagai calon suami, aku harus mendengarkan keluh kesah calon istriku. Apa itu salah?" Zu mendekat lalu mencubit hidungku ini.


"Aw! Sakit, tahu!" Seketika ujung hidungku jadi merah karenanya.


"Tunggu aku selesai mandi, ya. Atau kita mau mandi bersama?" tanyanya menggoda.


"Eh! Kau ini semakin menjadi."


Segera saja aku meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar. Aku tak ingin hal ini terus berlanjut karena akan sangat membahayakan.


"Kau tidur di luar saja, Pangeran!" sahutku seraya mengunci pintu dari dalam.


Aku tak habis pikir semua berubah begitu cepat. Aku merasa Zu tidak lagi menjaga jarak denganku. Dia bersikap luwes sekali.


Pangeran, kau sekarang sudah mulai nakal. Aku tidak tahu harus bagaimana selain menghindarimu.


Aku jadi teringat kata-kata raja tadi. Dia bilang khawatir terhadap putranya sendiri dan menyuruh kami untuk segera menikah. Mungkin memang sudah waktunya bagi Zu untuk menikah.


"Memang berapa sih usianya? Bukannya putra mahkota di dunia ini diwajibkan menikah di usia dua puluh tiga tahun, ya?"


Aku mencoba mengingat kembali perkataan Star waktu itu. Namun karena malam semakin larut, aku pun bergegas tidur. Tanpa berganti pakaian lagi kurebahkan diriku di atas kasur. Tapi ternyata, suara air di kamar mandi membuatku tidak bisa tertidur dengan nyenyak.


Mandi saja berisik! Apalagi yang lain!


Kututup tubuhku dengan selimut hingga menutupi kepala agar tidak mendengar suara bising dari samping kamar ini. Aku pun mencoba untuk tidur. Kutarik napas perlahan lalu kuembuskan pelan. Rasa kantuk akhirnya mulai datang menerjang.


Namun, baru beberapa menit aku melayang di antara alam sadar dan bawah sadar, tiba-tiba kudengar bunyi lampu mati. Kubuka selimutku untuk melihat yang sebenarnya terjadi. Dan ternyata ... lampu benar-benar mati. Seketika bulu kudukku jadi merinding.


Astaga ... kenapa begini?

__ADS_1


Aku pun tidak lagi mendengar suara Zu yang mandi. Tiba-tiba rasa khawatir muncul di benakku. Karena takut di kamar sendiri, aku segera beranjak keluar.


"Pangeran ...?!" Aku memanggilnya.


"Pangeran, di mana dirimu? Apa masih di kamar mandi?"


Dalam gelap aku merayap di dinding, menuju kamar mandi yang ada di sebelah kamar tidur ini. Kuketuk seraya terus memanggil namanya, namun tidak ada jawaban.


Ke mana ya dia?


Zu tiba-tiba hilang dari peredaran. Aku pun berbalik untuk melihat sekeliling. Namun...


"Aaaaaaa!!!" Aku melihat wajah yang menyeramkan.


Seketika itu juga kutendang kuat-kuat sosok yang berdiri di hadapanku. Hingga akhirnya dia pun terjatuh. Dan ternyata ... Zu lah yang telah mencoba menakutiku.


"Pangeran!"


Zu menyenter wajahnya dari bawah sehingga terlihat seram. Aku pun reflek menendang perutnya hingga dia terjatuh bersama senternya itu.


"Pangeran!"


Aku mencoba membangunkannya, tapi dia tidak juga bangun. Rambutnya basah dan dia masih mengenakan handuk putihnya sebatas pusar hingga lutut. Tapi kini, dia terbaring di depanku.


"Pangeran, jangan bercanda. Cepat bangun!"


Dalam gelap kepanikanku muncul. Hanya mengandalkan cahaya senter, aku mencoba menyinari wajahnya. Tapi, dia tetap saja tidak bangun. Akhirnya, kudekatkan telingaku ke dadanya.


Masih berdetak.


Aku menepuk-nepuk pipinya agar dia tersadarkan. Tapi dia masih terbujur di depanku.


Ya Tuhan, apa dia mati karena terkena tendanganku?


Aku jadi merasa bersalah padanya. Padahal tendanganku adalah bentuk pembelaan diri. Namun ternyata, malah membuatnya sampai seperti ini.


"Pangeran, maafkan aku."


Aku naik ke atas tubuhnya, mencoba memberi napas buatan. Kutarik napas dalam-dalam lalu kupegang pipinya. Kuembuskan napasku agar dia tersadar.


Astaga.


Lagi dan lagi, ternyata hasilnya masih nihil. Aku sudah memberinya napas buatan, tapi tetap saja dia tidak bangun.


"Aku minta bantuan saja."


Aku beranjak bangun dari tubuhnya. Tapi bersamaan dengan itu, dia menarik kedua tanganku.

__ADS_1


"Pangeran? Kau sudah sadar?!" Aku merasa gembira seketika.


Dia menatapku yang masih berada di atas tubuhnya. Dan entah mengapa aku merasa dia seksi sekali.


__ADS_2